Aku menatap tangkapan layar itu sampai mataku terasa perih. Di layar ponsel, Keisha tersenyum sambil memperlihatkan kotak cincin berwarna merah tua. Bayangan Reza tampak jelas pada kaca etalase toko perhiasan di belakangnya.
Kalimat yang ditulis Keisha hanya enam kata.

Akhirnya, setelah menunggu begitu lama.
Aku tidak tahu apakah cincin itu untuknya, untukku, atau sekadar bagian dari proyek yang sedang mereka kerjakan. Namun, setelah semua kejadian beberapa hari terakhir, aku tidak lagi sanggup menerima penjelasan tanpa bukti.
Aku mengirim pesan kepada Nisa.
“Jangan bilang siapa-siapa dulu. Aku mau mendengar penjelasan Reza langsung.”
Nisa segera membalas.
“Kamu yakin masih mau bertemu dia?”
“Aku butuh kejelasan, bukan untuk mempertahankannya, tapi supaya bisa menutup semuanya dengan tenang.”
Keesokan sore, Reza tiba di apartemenku di Bandung sambil membawa dua kantong belanja. Wajahnya terlihat cerah. Dia langsung mendekat untuk memelukku, tetapi aku mundur selangkah.
“Kamu kenapa?” tanyanya.
“Kita perlu bicara.”
Reza menghela napas, lalu meletakkan belanjaannya di meja.
“Alia, aku capek baru pulang dari Surabaya. Bisa nanti saja?”
“Tidak. Kali ini aku tidak mau menunggu lagi.”
Dia menatapku dengan heran.
Aku memperlihatkan tangkapan layar Keisha.
“Cincin ini untuk siapa?”
Wajah Reza berubah. Dia memandangi foto tersebut cukup lama sebelum mengusap rambutnya dengan gelisah.
“Kamu dapat dari mana?”
“Itu tidak penting.”
“Alia, jangan langsung berpikir macam-macam.”
“Kalau begitu, jelaskan.”
Reza membuka salah satu kantong belanja dan mengeluarkan kotak perhiasan kecil yang dibungkus pita putih.
“Aku sebenarnya mau memberikan ini besok.”
Dia membuka kotaknya.
Di dalamnya ada kalung emas dengan liontin berbentuk kamera kecil.
“Aku pesan khusus buat kamu. Untuk merayakan kelulusanmu.”
Aku menatap kalung itu tanpa menyentuhnya.
“Bagus,” kataku pelan. “Tapi aku bertanya tentang cincin di foto Keisha.”
Senyum Reza menghilang.
“Itu urusan pribadi Keisha.”
“Kenapa kamu ikut ke toko perhiasan dengannya?”
“Dia minta ditemani memilih cincin.”
“Untuk siapa?”
Reza tidak menjawab.
Aku mengangguk perlahan.
“Baik. Aku mengerti.”
“Tidak, kamu tidak mengerti!” Reza tiba-tiba meninggikan suara. “Kamu selalu terlalu sensitif kalau menyangkut Keisha.”
Aku menatapnya.
“Selama dua tahun, kamu bahkan tidak bersedia menatap kameraku selama lima menit. Tapi di videonya kamu bisa bercanda, bergaya, bahkan meminta pengambilan ulang. Menurutmu aku tidak berhak merasa terluka?”
Reza terdiam.
“Kenapa kamu selalu menghindari kameraku?” tanyaku lagi.
Dia duduk di sofa dan menundukkan kepala.
“Karena aku tidak nyaman.”
“Dengan kamera atau dengan aku?”
Pertanyaan itu membuatnya menegang.
“Alia, jangan mempersulit semuanya.”
Aku mengambil napas panjang.
“Aku sudah menghapus seluruh rekaman tentangmu.”
Kepalanya langsung terangkat.
“Apa?”
“Dokumenter kita tidak ada lagi.”
“Kamu bercanda?”
“Tidak.”
Reza berdiri begitu cepat hingga lututnya membentur meja.
“Alia, kamu tahu berapa lama kita membangun cerita itu?”
Aku hampir tertawa mendengarnya.
“Kita?”
“Iya, kita!”
“Reza, aku yang mengambil gambar, menyunting rekaman, mencari lokasi, dan berkali-kali memohon supaya kamu mau diwawancara. Kamu bahkan tidak pernah menonton satu versi pun yang kuselesaikan.”
Dia membuka mulut, tetapi tidak menemukan jawaban.
“Aku tidak menghapusnya karena marah melihat satu video Keisha,” lanjutku. “Aku menghapusnya karena akhirnya sadar aku sedang membuat film tentang hubungan yang hanya indah dari sudut pandangku sendiri.”
Reza memandangku dengan wajah pucat.
Saat itulah ponselnya berdering.
Nama Keisha muncul di layar.
Reza buru-buru mematikan panggilan.
Namun beberapa detik kemudian, pesan masuk.
Aku sudah bicara dengan Mama. Kamu harus jujur kepada Alia sebelum semuanya terlambat.
Aku tidak sengaja membaca kalimat itu ketika layar ponselnya menyala di atas meja.
“Jujur tentang apa?” tanyaku.
Reza membeku.
Aku tidak meninggikan suara. Justru ketenanganku sepertinya membuatnya semakin gelisah.
“Apa yang belum kamu ceritakan?”
Dia duduk kembali. Lama sekali dia menunduk sebelum akhirnya berbicara.
“Aku dan Keisha pernah pacaran.”
Aku menatapnya.
“Kapan?”
“Sebelum mengenalmu.”
“Lalu?”
“Kami putus karena keluarganya tidak menyetujui hubungan kami. Setelah itu aku bertemu kamu.”
Aku menunggu.
Reza menarik napas panjang.
“Enam bulan lalu, Keisha kembali menghubungiku. Kami mulai sering bekerja bersama.”
“Dan kalian kembali dekat?”
Dia mengangguk sangat pelan.
Dadaku terasa sesak.
“Apa kalian masih saling mencintai?”
Reza menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Aku tidak tahu.”
Jawaban itu lebih menyakitkan daripada pengakuan apa pun.
Aku berdiri dan berjalan menuju jendela. Di luar, hujan mulai turun membasahi jalanan Bandung.
“Kamu tidak tahu,” ulangku lirih. “Tapi dua minggu lagi keluargamu akan datang membicarakan tanggal pernikahan kita.”
“Aku tidak pernah berniat menyakitimu.”
“Tapi kamu tetap melakukannya.”
Reza mendekat.
“Alia, aku butuh waktu untuk memahami perasaanku.”
Aku berbalik.
“Ambil waktu sebanyak yang kamu butuhkan. Tapi jangan gunakan hidupku sebagai tempat menunggu keputusanmu.”
Aku mengambil kotak berisi cincin pertunangan kami dari laci.
“Pertunangan kita selesai.”
Wajah Reza langsung berubah.
“Jangan, Alia. Kita sudah bersama hampir empat tahun.”
“Justru karena itulah aku tidak mau menghabiskan empat tahun berikutnya untuk seseorang yang belum yakin memilihku.”
Dia menangis.
Selama mengenalnya, aku hampir tidak pernah melihat Reza menangis.
Namun anehnya, air matanya tidak membuatku ingin membatalkan keputusan.
Aku hanya merasa sedih karena kami akhirnya menjadi dua orang asing yang berdiri di antara kenangan sendiri.
Setelah Reza pergi, aku menelepon ibuku dan menjelaskan semuanya. Malam itu juga, kedua keluarga sepakat menunda pertemuan hingga aku siap membicarakan pembatalan secara langsung.
Tiga hari kemudian, aku menjalani sidang proyek akhir.
Dokumenter baruku berjudul Perempuan yang Tetap Menyalakan Lampu.
Film itu mengikuti kehidupan tiga perempuan pemilik usaha kecil di Bandung yang kehilangan suami, tetapi tetap berjuang mempertahankan pekerjaan dan kehidupan keluarga.
Ada Bu Ratih yang mengelola warung soto peninggalan suaminya. Ada Bu Lilis yang mempertahankan bengkel jahit meskipun hampir bangkrut. Dan ada Bu Marni, penjual bunga di pasar, yang setiap pagi tetap membuka kios meski putrinya berkali-kali memintanya berhenti bekerja.
Ketika film selesai diputar, ruang presentasi hening beberapa saat.
Pak Arman membuka kacamatanya.
“Alia, saya tahu kamu mengganti proyek dalam waktu sangat singkat. Tetapi film ini memiliki sesuatu yang tidak bisa diajarkan hanya melalui teknik pengambilan gambar.”
“Apa itu, Pak?”
“Kejujuran.”
Aku menundukkan kepala.
Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa perlu membela seseorang atau menjelaskan mengapa subjek filmku tidak bersedia muncul di depan kamera.
Aku hanya menjadi diriku sendiri.
Seminggu kemudian, film tersebut mendapat penghargaan proyek dokumenter terbaik di fakultasku.
Pada hari yang sama, aku menerima kepastian jadwal keberangkatan ke Makassar.
Namun sebelum pergi, Keisha menghubungiku.
Dia meminta bertemu di sebuah kedai kopi dekat kampus.
Awalnya aku menolak. Aku tidak merasa perlu mendengar penjelasan dari perempuan yang selama ini berada di antara aku dan Reza.
Tetapi Keisha mengirim satu pesan yang membuatku berubah pikiran.
Ada sesuatu tentang cincin itu yang perlu kamu ketahui.
Kami bertemu keesokan siang.
Keisha datang tanpa riasan mencolok seperti biasanya. Dia terlihat lelah.
“Aku tidak datang untuk meminta kamu memaafkanku,” katanya setelah kami duduk.
“Lalu untuk apa?”
Dia mengeluarkan kotak cincin merah tua dari tas.
“Aku ingin menunjukkan ini.”
Di dalamnya terdapat cincin berlian sederhana.
Aku mengenalinya dari foto yang dikirim Nisa.
“Reza membelinya?” tanyaku.
Keisha mengangguk.
“Tiga minggu lalu.”
Aku menatapnya tanpa bicara.
“Dia bilang ingin memberikannya kepada perempuan yang akhirnya akan dia pilih.”
Aku merasakan sesuatu mencengkeram dadaku.
“Dan kamu mengira perempuan itu adalah kamu?”
Keisha menunduk.
“Iya.”
Aku menarik napas panjang.
“Lalu kenapa kamu datang menemuiku?”
“Karena ketika Reza pulang dari Bandung, dia memberikan cincin itu kepadaku.”
Aku terdiam.
Keisha membuka ponselnya dan memperlihatkan sebuah pesan.
Aku sudah kehilangan Alia. Aku tidak ingin kehilanganmu juga. Kita mulai lagi dari awal, ya?
Aku membaca pesan tersebut sekali.
Lalu sekali lagi.
Ada rasa sakit yang muncul, tetapi tidak sedalam yang kubayangkan.
Mungkin karena aku sudah berhenti berharap.
“Jadi kalian bersama sekarang?”
Keisha menggeleng.
“Aku menolaknya.”
Aku menatapnya heran.
“Kenapa?”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Karena aku sadar dia tidak memilihku ketika masih bisa memilih dengan jujur. Dia datang setelah kamu pergi. Aku tidak ingin menjadi pilihan yang tersisa.”
Aku terdiam cukup lama.
Keisha menyeka sudut matanya.
“Aku juga salah karena membiarkan hubungan kami melewati batas. Aku tahu kalian akan menikah, tapi aku tetap berharap dia kembali kepadaku.”
“Setidaknya sekarang kamu mengakuinya.”
“Aku minta maaf, Alia.”
Aku memandangi perempuan di hadapanku.
Dulu aku mungkin akan menyalahkannya atas seluruh kehancuran hubungan kami.
Namun sekarang aku mengerti bahwa orang yang paling bertanggung jawab atas janji kepadaku adalah Reza sendiri.
“Aku tidak bisa langsung memaafkanmu,” kataku. “Tapi aku menghargai kamu datang dan mengatakan yang sebenarnya.”
Keisha mengangguk.
Kami berpisah tanpa pelukan, tanpa janji menjadi teman.
Dan menurutku, itu sudah cukup.
Dua bulan kemudian, aku mulai bekerja di Makassar.
Pekerjaan pertamaku adalah mendokumentasikan kehidupan para perempuan pembuat perahu dan pengrajin di kawasan pesisir Sulawesi Selatan.
Setiap pagi aku berangkat membawa kamera, tripod, dan buku catatan kecil.
Aku bertemu orang-orang baru, mendengar cerita yang belum pernah kudengar, dan menemukan keberanian untuk berbicara dengan orang asing tanpa merasa takut salah.
Suatu sore, ketika sedang menyunting video di studio, aku menerima sebuah paket dari Bandung.
Pengirimnya Reza.
Di dalamnya ada hard disk eksternal dan sepucuk surat.
Aku membuka surat tersebut terlebih dahulu.
Alia, aku tahu semuanya sudah berakhir. Aku tidak mengirim ini untuk memintamu kembali. Setelah kamu pergi, aku menemukan salinan beberapa video lama yang pernah kamu kirimkan kepadaku. Aku baru menontonnya sekarang.
Selama ini kupikir kameramu selalu menuntutku menjadi seseorang yang sempurna. Ternyata kamu hanya ingin menyimpan bagian-bagian kecil dari hidup kita.
Aku takut terlihat gagal di hadapanmu. Keisha mengenalku sebelum aku memiliki pekerjaan tetap, sebelum aku merasa harus membuktikan sesuatu. Bersamanya aku merasa tidak perlu menjaga citra. Tapi seharusnya aku membicarakan ketakutan itu kepadamu, bukan menjadikannya alasan untuk berbohong.
Aku kehilanganmu bukan karena kamera. Aku kehilanganmu karena tidak berani jujur.
Terima kasih pernah melihat sesuatu yang baik dalam diriku, bahkan ketika aku sendiri belum bisa melihatnya.
Aku melipat surat itu.
Lalu aku menghubungkan hard disk ke laptop.
Ada tujuh video di dalamnya.
Rekaman Reza sedang memperbaiki motor ayahnya.
Rekaman saat kami memasak mi instan di dapur apartemen kecil.
Rekaman ketika dia tertidur di meja kerja.
Dan satu video terakhir yang belum pernah kulihat.
Aku membukanya.
Di layar, Reza duduk sendirian di depan kamera, mengenakan kaus abu-abu.
Wajahnya tampak gugup.
“Halo, Alia. Aku enggak tahu kamu bakal nonton ini atau enggak.”
Dia menarik napas.
“Aku merekam ini setelah kamu pergi. Dulu kamu selalu minta aku bicara di depan kamera, tapi aku enggak pernah mau.”
Reza terdiam beberapa detik.
“Aku cuma ingin bilang, kamu benar. Aku terlalu sibuk memikirkan bagaimana orang lain melihatku sampai lupa menghargai orang yang benar-benar melihatku.”
Aku menutup video sebelum selesai.
Bukan karena marah.
Melainkan karena aku tidak lagi membutuhkan pengakuannya untuk melanjutkan hidup.
Aku menyimpan hard disk tersebut di dalam laci.
Keesokan paginya, aku berangkat menuju sebuah desa pesisir untuk pengambilan gambar.
Di sana, aku bertemu seorang perempuan tua bernama Daeng Ramlah yang telah membuat anyaman sejak masih remaja.
Ketika kamera mulai merekam, beliau tiba-tiba bertanya kepadaku.
“Nak, kenapa kamu suka sekali merekam orang lain?”
Aku tersenyum.
“Karena setiap orang punya cerita yang layak didengar.”
Daeng Ramlah tertawa kecil.
“Kalau begitu, siapa yang merekam ceritamu?”
Pertanyaan itu membuatku terdiam.
Selama bertahun-tahun, aku selalu berdiri di belakang kamera.
Aku merekam impian Reza, perjuangannya, keberhasilannya, dan segala hal yang menurutku penting untuk dikenang.
Namun hampir tidak ada rekaman tentang diriku sendiri.
Aku selalu menganggap hidupku hanya menarik ketika menjadi bagian dari cerita orang lain.
Sore itu, setelah pekerjaan selesai, aku memasang kamera di atas tripod.
Aku mengatur fokus, menyalakan perekam, kemudian berjalan ke depan lensa.
Untuk pertama kalinya, aku menjadi subjek filmku sendiri.
Angin laut meniup rambutku. Matahari mulai turun di cakrawala, membuat langit Makassar berwarna keemasan.
Aku menatap langsung ke arah kamera.
“Namaku Alia. Dulu aku membuat film tentang seseorang yang kukira akan menjadi rumahku selamanya.”
Aku berhenti sejenak.
“Tapi ternyata, rumah bukan selalu seseorang yang kita cintai. Kadang rumah adalah keberanian untuk menerima diri sendiri, bahkan ketika semua rencana berubah.”
Mataku terasa panas, tetapi aku tersenyum.
“Aku pernah menghapus hampir dua tahun kenangan karena merasa semuanya sia-sia.”
Aku menatap cahaya merah di kamera yang menandakan proses perekaman masih berlangsung.
“Sekarang aku tahu, dua tahun itu tidak sia-sia. Aku belajar mencintai, kehilangan, dan akhirnya memilih jalan hidupku sendiri.”
Beberapa bulan kemudian, film pendek tersebut kutampilkan dalam sebuah acara pemutaran dokumenter independen.
Judulnya sederhana.
Di Depan Kamera.
Film itu bukan tentang Reza, Keisha, atau hubungan yang gagal.
Film itu tentang seorang perempuan muda yang selama bertahun-tahun merekam kehidupan orang lain, sampai akhirnya menemukan keberanian untuk menceritakan kehidupannya sendiri.
Setelah pemutaran selesai, seorang mahasiswa menghampiriku.
“Kak, kenapa di akhir film Kakak tidak memperlihatkan siapa laki-laki yang membuat Kakak patah hati?”
Aku tersenyum.
“Karena dia bukan tokoh utama.”
“Lalu siapa tokoh utamanya?”
Aku menunjuk layar yang masih menampilkan wajahku sedang tersenyum di tepi laut.
“Perempuan itu.”
Malam itu, saat kembali ke apartemen, aku membuka laptop dan membuat sebuah folder baru.
Dulu aku pernah memiliki folder bernama RUMAH yang berisi hampir seluruh kenangan tentang Reza.
Sekarang aku membuat folder dengan nama yang sama.
Tetapi kali ini, isinya berbeda.
Ada rekaman pertamaku di Makassar, suara ombak, wajah orang-orang yang kutemui, tawa sahabat-sahabat baru, dan video diriku sendiri yang sedang berbicara di depan kamera.
Aku memandangi folder itu dengan senyum kecil.
Ternyata, rumah yang selama ini kucari tidak pernah benar-benar hilang ketika Reza pergi.
Aku hanya terlalu lama mencarinya di dalam diri orang lain.
Dan untuk pertama kalinya, ketika menekan tombol simpan, aku tahu bahwa cerita ini tidak perlu menunggu siapa pun untuk menjadi lengkap.
