SELAMA TIGA TAHUN AKU SELALU MENJADI JUARA KELAS BERKAT SAHABATKU YANG

Tanda tangan itu milik ibuku.

Aku mengenalinya dengan sangat baik. Sejak kecil, Ibu selalu menandatangani buku penghubung sekolah, surat izin kegiatan, dan raporku dengan bentuk huruf yang sama.

Namun, mengapa tanda tangannya berada di dokumen rekening sebuah yayasan pendidikan yang selama ini tidak pernah kudengar?

Aku menatap Bu Ratna dengan tangan gemetar.

“Ibu saya terlibat?”

Bu Ratna memejamkan mata.

“Alya, ada hal-hal yang tidak sesederhana kelihatannya.”

“Jangan mengatakan itu lagi, Bu! Saya cuma ingin tahu kenapa selama tiga tahun Nabila harus mencuri soal untuk saya, sementara uang beasiswa saya masuk ke rekening orang lain!”

Bu Ratna terdiam.

Aku segera mengirim seluruh foto dokumen kepada alamat surel pribadiku, kemudian memasukkan buku catatan Nabila ke dalam tas.

“Kalau Ibu nggak mau menjelaskan, saya akan mencari jawabannya sendiri.”

Kali ini Bu Ratna tidak menghalangiku.

Namun, ketika aku membuka pintu, beliau mengatakan sesuatu yang membuat langkahku terhenti.

“Nabila tidak mencuri soal-soal itu sendirian.”

Aku menoleh.

“Siapa yang membantunya?”

Bu Ratna menunduk.

“Saya.”

Dadaku terasa seperti dihantam sesuatu.

Selama tiga tahun, perempuan yang kupanggil sebagai guru terbaik ternyata ikut mengatur kebohongan yang membuatku menerima penghargaan demi penghargaan.

Aku ingin marah, tetapi suara yang keluar dari mulutku justru terdengar lirih.

“Kenapa, Bu?”

Bu Ratna mulai menangis.

“Karena saya terjebak dalam keputusan yang salah. Dan setiap kali ingin berhenti, saya takut semuanya terbongkar.”

Aku meninggalkan ruangan tanpa menjawab.

Di halaman sekolah, aku kembali menelepon Nabila.

Ponselnya masih tidak aktif.

Aku kemudian menghubungi ayahnya, Pak Hasan.

“Alya?” Suaranya terdengar terkejut. “Nabila belum pulang?”

“Belum, Pak. Saya mau tanya, Bapak tahu dia pergi ke mana?”

Pak Hasan terdiam beberapa saat.

“Tadi pagi dia bilang mau ke rumah bibinya di Yogyakarta.”

“Kenapa nggak ikut ujian?”

Suara Pak Hasan berubah berat.

“Dia bilang harus menyelesaikan sesuatu yang sudah terlalu lama ditutup-tutupi.”

Aku menutup mata.

“Pak, boleh saya minta nomor bibinya?”

Pak Hasan memberikannya.

Setelah memastikan Nabila memang tiba dengan selamat di rumah bibinya, aku merasa sedikit lega.

Namun, Nabila masih menolak menerima telepon dariku.

Dia hanya mengirimkan sebuah pesan.

“Alya, pulang dan tanyakan kepada ibumu tentang Yayasan Cakrawala Bangsa. Jangan biarkan siapa pun mengalihkan pertanyaanmu.”

Aku langsung pulang.

Ketika tiba, Ibu sedang duduk di ruang keluarga sambil melipat pakaian.

Begitu melihat wajahku, beliau langsung berdiri.

“Ujiannya bagaimana, Nak?”

Aku tidak menjawab.

Aku hanya meletakkan foto dokumen rekening di hadapannya.

“Ibu kenal yayasan ini?”

Wajah Ibu seketika memucat.

“Alya, kamu dapat dari mana?”

“Jawab dulu.”

Ibu memandangi layar ponselku cukup lama.

Kemudian perlahan duduk kembali.

“Ibu memang pernah menandatangani beberapa dokumen.”

“Dokumen beasiswa atas namaku?”

Ibu mengangguk.

“Kenapa?”

Air matanya mulai jatuh.

“Tiga tahun lalu, waktu Ayah kehilangan pekerjaan, kita benar-benar kesulitan. Kamu masih ingat?”

Aku mengangguk.

Saat itu Ayah bekerja sebagai pengawas gudang sebuah perusahaan distribusi. Setelah perusahaan melakukan pengurangan karyawan, beliau menganggur hampir delapan bulan.

Kami bahkan pernah menunggak pembayaran listrik.

Namun, aku tidak pernah mengetahui bahwa keadaan kami sampai membuat Ibu mengurus bantuan pendidikan secara diam-diam.

“Bu Ratna bilang ada yayasan yang bersedia membantu biaya sekolahmu,” lanjut Ibu.

Aku menatapnya.

“Berapa jumlah bantuannya?”

Ibu terdiam.

“Bu?”

“Awalnya lima juta rupiah.”

Aku menggeleng.

“Dokumen yang kutemukan menunjukkan nilai bantuan puluhan juta setiap semester.”

Ibu langsung mengangkat kepala.

“Apa?”

Aku memperlihatkan foto halaman berikutnya.

Di sana tercantum beberapa kali pencairan dana dengan total lebih dari dua ratus juta rupiah selama tiga tahun.

Ibu menutup mulutnya.

“Ya Allah…”

Aku memperhatikan wajahnya.

“Ibu nggak tahu?”

“Ibu cuma menerima bantuan sebanyak dua kali. Totalnya sepuluh juta. Setelah itu Bu Ratna bilang pengajuan berikutnya tidak disetujui.”

Aku terdiam.

“Terus kenapa tanda tangan Ibu ada di dokumen rekening?”

Ibu menarik napas tersendat.

“Waktu itu ada seorang pria dari yayasan datang bersama Bu Ratna. Dia meminta Ibu menandatangani surat kuasa untuk pengurusan bantuan.”

“Namanya siapa?”

“Bambang Santoso.”

Aku langsung teringat nama asing yang tercantum pada dokumen.

Bambang Santoso.

Orang yang disebut sebagai wali murid sekaligus penerima kuasa.

Aku duduk perlahan.

“Ibu tahu dia bukan wali muridku, kan?”

Ibu mengangguk sambil menangis.

“Ibu pikir itu cuma kesalahan pengisian formulir. Mereka bilang akan memperbaikinya.”

Aku memejamkan mata.

Untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa Ibu mungkin memang pernah membuat keputusan ceroboh, tetapi dia juga tidak memahami keseluruhan rencana tersebut.

Malam itu, Ayah pulang dan mendengarkan cerita kami.

Beliau terlihat sangat terpukul.

“Kenapa kamu nggak pernah bilang ada bantuan sebesar itu?” tanyanya kepada Ibu.

Ibu menunduk.

“Aku takut kamu merasa gagal menafkahi keluarga.”

Ayah mengusap wajahnya.

“Kalau kita sedang kesulitan, seharusnya kita hadapi bersama. Bukan menyimpan rahasia seperti ini.”

Aku memandangi kedua orang tuaku.

Selama ini, aku selalu mengira mereka mengetahui semua hal tentang hidupku.

Ternyata masing-masing menyimpan ketakutan sendiri.

Namun, masih ada pertanyaan yang lebih besar.

Mengapa pihak yayasan membutuhkan aku tetap berada di peringkat pertama?

Dan mengapa Nabila bersedia membantu mereka selama tiga tahun?

Keesokan paginya, aku menghubungi Nabila lagi.

Kali ini dia menjawab.

Begitu mendengar suaranya, tangisku langsung pecah.

“Bil, kamu ke mana saja? Aku takut sesuatu terjadi sama kamu!”

Di seberang sana, Nabila juga menangis.

“Maaf, Alya.”

“Kenapa kamu melakukan semua ini?”

Nabila terdiam cukup lama.

Kemudian dia berkata pelan.

“Karena waktu kelas sepuluh, ayahku hampir masuk penjara gara-gara utang.”

Aku membeku.

Pak Hasan bekerja sebagai staf administrasi yayasan tersebut.

Menurut Nabila, tiga tahun lalu Bambang menemukan kesalahan pencatatan dana yang pernah dilakukan Pak Hasan. Masalah itu kemudian digunakan untuk menekannya agar bersedia membantu menyiapkan berkas pencairan bantuan.

“Bu Ratna bilang kalau aku membantu memastikan kamu mendapat nilai tertinggi, ayahku nggak akan dilaporkan,” kata Nabila sambil terisak.

“Kenapa harus aku?”

“Karena kamu dipilih sebagai penerima beasiswa prestasi unggulan.”

Aku menahan napas.

“Terus?”

“Nilai bantuan dari donatur akan meningkat kalau penerimanya terus menjadi juara umum. Mereka membutuhkan satu siswa yang terlihat berhasil supaya laporan yayasan tetap meyakinkan.”

Aku terdiam.

Nabila melanjutkan.

“Bu Ratna punya akses ke bank soal ujian sekolah. Dia mengirimkan materi kepadaku, lalu menyuruhku membuat latihan yang mirip supaya kamu nggak curiga.”

Air mataku kembali mengalir.

“Dan kamu sengaja mendapatkan nilai lebih rendah?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Nabila menangis semakin keras.

“Karena mereka bilang kalau aku menjadi juara pertama, posisi kamu bisa turun dan pencairan dananya terganggu.”

Aku menutup mulut.

Selama tiga tahun, sahabatku sengaja berada di belakangku.

Bukan karena dia kurang pintar.

Bukan karena aku lebih teliti.

Melainkan karena orang dewasa menggunakan ketakutannya untuk menjalankan sebuah kebohongan.

“Bil, kenapa kamu nggak cerita?”

“Aku takut ayahku kehilangan pekerjaan dan harus menghadapi masalah hukum. Tapi tiga hari lalu, aku menemukan bukti kalau mereka tetap memindahkan uang bantuan ke rekening lain meskipun ayahku terus membantu.”

Aku menarik napas panjang.

“Jadi kamu pergi untuk mencari bukti?”

Nabila mengangguk meskipun aku tidak bisa melihatnya.

“Bibiku dulu bekerja sebagai bendahara yayasan. Dia menyimpan salinan laporan lama.”

“Kenapa kamu nggak ikut ujian?”

Nabila terdiam.

“Karena aku nggak sanggup lagi berpura-pura semuanya baik-baik saja. Aku tahu keputusanku bodoh. Tapi aku ingin berhenti mengikuti rencana mereka.”

Aku memejamkan mata.

“Nabila, kamu seharusnya nggak mengorbankan ujianmu.”

“Aku tahu.”

Suaranya terdengar sangat sedih.

“Tapi setidaknya sekarang aku bisa mengatakan yang sebenarnya.”

Beberapa hari kemudian, Nabila kembali ke Bandung bersama bibinya.

Kami bertemu di rumahku.

Begitu melihatnya, aku langsung memeluknya erat.

Namun, setelah tangis kami reda, aku mengajukan pertanyaan yang sejak lama mengganggu pikiranku.

“Bil, kamu sadar nggak kalau selama tiga tahun aku menerima penghargaan yang mungkin bukan sepenuhnya hasil kemampuanku?”

Nabila menunduk.

“Aku sadar.”

“Kenapa kamu membiarkanku merasa bangga?”

Air matanya kembali jatuh.

“Karena aku takut kehilangan sahabatku kalau kamu tahu.”

Aku menggeleng.

“Justru karena kamu sahabatku, seharusnya kamu memberiku kesempatan memilih.”

Nabila menangis.

“Aku minta maaf.”

Aku menggenggam tangannya.

“Aku belum tahu kapan bisa memaafkan semuanya. Tapi aku nggak mau kita terus hidup dalam kebohongan.”

Dengan bantuan orang tua kami, kami menyerahkan dokumen dan bukti yang dimiliki kepada pihak sekolah serta lembaga yang berwenang memeriksa penggunaan dana yayasan.

Pemeriksaan internal sekolah menemukan bahwa beberapa soal ujian memang telah diakses sebelum jadwal pelaksanaan oleh pihak yang tidak seharusnya membagikannya.

Bu Ratna kemudian dibebastugaskan sementara dari tanggung jawab penyusunan ujian selama proses pemeriksaan berlangsung.

Sementara itu, pengelolaan dana Yayasan Cakrawala Bangsa juga mulai diperiksa.

Dari dokumen yang dikumpulkan, muncul indikasi bahwa sebagian bantuan yang dilaporkan atas namaku tidak pernah benar-benar diterima oleh keluargaku.

Namun, pemeriksaan tersebut membutuhkan waktu.

Aku tidak lagi berusaha mencari jalan pintas agar semuanya segera selesai.

Aku ingin setiap kesimpulan dibuat berdasarkan bukti.

Beberapa minggu kemudian, hasil ujian masuk perguruan tinggi nasional diumumkan.

Tanganku gemetar ketika membuka halaman pengumuman.

Aku sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk.

Selama ujian berlangsung, pikiranku memang kacau.

Aku bahkan tidak yakin telah menjawab soal-soal dengan baik.

Namun, ketika hasilnya muncul, aku langsung menangis.

Aku diterima di program studi Keperawatan Universitas Padjadjaran.

Bukan dengan nilai sempurna.

Bukan pula sebagai peserta terbaik.

Namun, aku lulus berdasarkan hasil ujian yang kukerjakan sendiri.

Ibu langsung memelukku.

“Alya, kamu berhasil!”

Aku menangis di bahunya.

Untuk pertama kalinya setelah semua kejadian itu, aku merasa nilai yang tertera benar-benar mewakili kemampuanku pada hari tersebut.

Namun, kebahagiaan itu tidak membuatku melupakan Nabila.

Sore harinya, aku datang ke rumahnya.

Dia sedang duduk di teras sambil membaca buku persiapan ujian.

Aku duduk di sampingnya.

“Aku diterima, Bil.”

Nabila tersenyum dengan mata berkaca-kaca.

“Selamat, Alya.”

Aku menatap buku di pangkuannya.

“Kamu mau ikut seleksi tahun depan?”

Dia mengangguk.

“Aku mau mencoba lagi. Kali ini tanpa bantuan apa pun yang nggak jujur.”

Aku menggenggam tangannya.

“Kamu sebenarnya pintar sekali, Bil.”

Nabila tertawa kecil.

“Jangan bilang begitu cuma karena kasihan.”

“Aku serius.”

Aku menatapnya.

“Selama tiga tahun, kamu yang paling sering menjelaskan pelajaran kepadaku. Aku tahu kemampuanmu.”

Nabila menunduk.

“Tapi aku sudah membuat banyak kesalahan.”

“Iya,” jawabku jujur. “Dan kamu harus bertanggung jawab.”

Dia mengangguk.

“Tapi kesalahan itu nggak berarti kamu harus berhenti punya masa depan.”

Nabila menangis.

Untuk pertama kalinya sejak kami bertemu kembali, aku melihat sedikit harapan di wajahnya.

Beberapa bulan berikutnya, proses pemeriksaan sekolah dan yayasan terus berjalan.

Beberapa prestasi akademik yang berkaitan dengan ujian bermasalah ditinjau kembali.

Aku menerima bahwa sebagian penghargaan sekolahku mungkin harus dicabut.

Awalnya hal itu sangat menyakitkan.

Aku pernah menganggap piala-piala tersebut sebagai bukti kerja kerasku.

Namun, sekarang aku memahami bahwa mempertahankan penghargaan yang diperoleh melalui proses tidak jujur justru akan membuatku terus hidup dalam keraguan.

Suatu sore, aku membuka lemari dan mengeluarkan piala juara umum kelas sepuluh.

Aku memandangnya cukup lama.

Kemudian meletakkannya di dalam kotak.

Ibu yang melihatku langsung bertanya.

“Kenapa disimpan, Nak?”

Aku tersenyum sedih.

“Karena sekarang aku ingin punya prestasi yang nggak membuatku bertanya-tanya apakah aku benar-benar pantas menerimanya.”

Ibu memelukku.

“Maafkan Ibu karena dulu terlalu mudah percaya kepada orang lain.”

Aku menggeleng.

“Kita sama-sama belajar, Bu.”

Setahun kemudian, aku sudah menjalani semester kedua kuliah.

Kehidupan kampus ternyata jauh lebih menantang daripada yang kubayangkan.

Tidak ada Nabila yang mengirimkan prediksi soal setiap malam.

Tidak ada Bu Ratna yang memastikan namaku selalu berada di peringkat pertama.

Aku harus membaca jurnal, mengerjakan praktikum, dan belajar bersama teman-teman baru.

Nilai pertamaku bahkan tidak terlalu bagus.

Aku sempat mendapatkan nilai C pada salah satu mata kuliah dasar.

Ketika melihatnya, aku tertawa sekaligus menangis.

Dulu, satu nilai di bawah sembilan puluh sudah cukup membuatku panik.

Sekarang aku justru merasa lega karena bisa mengetahui dengan jujur bagian mana yang belum kupahami.

Aku belajar lebih giat.

Semester berikutnya, nilainya membaik.

Bukan karena seseorang menyiapkan soal untukku.

Melainkan karena aku mulai memahami cara belajar yang sesuai dengan kemampuanku sendiri.

Sementara itu, Nabila akhirnya mengikuti seleksi perguruan tinggi pada tahun berikutnya.

Dia diterima di program studi Matematika di sebuah universitas negeri.

Ketika mengirimkan foto pengumuman kelulusannya, dia menulis satu kalimat.

“Alya, kali ini aku lulus dengan jawabanku sendiri.”

Aku menangis membacanya.

Kami tidak langsung kembali menjadi sahabat sedekat dulu.

Ada kepercayaan yang masih harus dibangun.

Namun, kami mulai belajar berbicara dengan jujur, termasuk tentang hal-hal yang membuat kami kecewa.

Suatu hari, ketika libur semester, kami bertemu di sebuah kedai kopi dekat sekolah lama.

Nabila membawa dua gelas es teh.

“Aku masih ingat waktu kita selalu bertengkar soal siapa yang bayar.”

Aku tertawa.

“Karena kamu selalu ngaku dompetmu ketinggalan.”

Nabila ikut tertawa.

Kemudian suasana menjadi lebih tenang.

“Alya, ada yang ingin kukatakan.”

“Apa?”

“Dulu aku pikir selama kamu tetap menjadi juara pertama, aku sedang membantumu.”

Aku menatapnya.

“Sekarang?”

“Sekarang aku tahu aku justru membuatmu kehilangan kesempatan mengetahui kemampuanmu yang sebenarnya.”

Aku mengangguk pelan.

“Dan kamu juga kehilangan kesempatan menunjukkan kemampuanmu sendiri.”

Nabila menunduk.

“Iya.”

Aku mengulurkan tangan.

“Mulai sekarang, nggak usah ada yang sengaja mengalah supaya yang lain terlihat hebat.”

Nabila tersenyum.

“Setuju.”

Kami berjabat tangan seperti dua anak kecil yang baru membuat perjanjian.

Namun, tepat sebelum pulang, Nabila mengeluarkan sebuah amplop kecil dari tasnya.

“Ada sesuatu yang ingin kukembalikan.”

Aku membukanya.

Di dalamnya terdapat sebuah kartu ucapan lama.

Tulisan tanganku sendiri.

Aku mengenalinya.

Kartu itu kuberikan kepada Nabila ketika kami masih kelas sepuluh, setelah dia membantuku memahami materi matematika yang sulit.

Di sana tertulis kalimat sederhana.

“Bil, suatu hari nanti aku ingin jadi pintar seperti kamu.”

Aku terdiam.

Nabila tersenyum sedih.

“Aku menyimpannya selama tiga tahun.”

Air mataku mulai jatuh.

“Kenapa?”

“Karena waktu semua orang bilang kamu lebih pintar dariku, cuma kamu yang selalu percaya aku sebenarnya punya kemampuan.”

Aku memeluknya erat.

Untuk pertama kalinya, kami menangis bukan karena takut rahasia terbongkar.

Melainkan karena menyadari betapa banyak waktu yang hilang akibat kebohongan orang dewasa dan keputusan salah kami sendiri.

Ketika pulang ke rumah malam itu, aku menemukan Ayah sedang memperbaiki lampu di teras.

Beliau tersenyum ketika melihatku.

“Dari mana, Nak?”

“Ketemu Nabila.”

“Bagaimana kabarnya?”

“Baik. Dia sudah mulai kuliah.”

Ayah mengangguk.

“Syukurlah.”

Aku duduk di sampingnya.

“Yah, Ayah kecewa nggak karena beberapa pialaku dulu ternyata bermasalah?”

Ayah berhenti bekerja.

Kemudian menatapku.

“Ayah memang sedih karena kamu mengalami semua itu.”

Aku menunduk.

“Tapi bukan karena kehilangan piala.”

Aku mengangkat wajah.

“Lalu karena apa?”

“Karena selama tiga tahun kamu merasa harus selalu menjadi nomor satu supaya kami bangga.”

Air mataku langsung jatuh.

Ayah mengusap kepalaku.

“Padahal waktu kamu belajar naik sepeda dulu, jatuh berkali-kali, lalu akhirnya bisa mengayuh sendiri, Ayah juga bangga.”

Aku tertawa sambil menangis.

“Itu kan beda, Yah.”

“Nggak beda.”

Ayah tersenyum.

“Yang membuat Ayah bangga bukan angka yang tertulis di kertas. Tapi keberanianmu belajar, gagal, lalu mencoba lagi.”

Aku memeluknya.

Malam itu, untuk pertama kalinya, aku tidak lagi merasa harus menjadi juara kelas untuk pantas dicintai keluarga.

Aku juga tidak lagi menganggap Nabila sebagai bayangan yang selalu berada di belakangku.

Kami adalah dua orang dengan kemampuan berbeda.

Dua sahabat yang pernah membuat kesalahan.

Dan dua perempuan muda yang akhirnya belajar bahwa prestasi tidak seharusnya dibangun dengan mengorbankan kejujuran.

Aku masuk kamar dan membuka lemari.

Di bagian paling atas masih tersimpan beberapa piala lama.

Aku memandangnya sebentar.

Kemudian menutup pintu lemari.

Besok pagi, aku harus mengikuti ujian praktikum di kampus.

Aku belum yakin akan mendapatkan nilai berapa.

Mungkin bagus.

Mungkin biasa saja.

Namun, kali ini aku tidak takut.

Karena untuk pertama kalinya, aku benar-benar ingin mengetahui seberapa jauh aku bisa melangkah dengan kemampuanku sendiri.

Dan ternyata, mengetahui kebenaran tentang diri sendiri jauh lebih berharga daripada selalu menjadi nomor satu dalam daftar nilai.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang