Di Hari Pernikahanku, Ibu Mertua Mengangkat Peti Seserahan Dua Miliar—Saat Kubuka, Isinya Uang Mainan, lalu Satu Kalimat Adik Ipar Membuat Seluruh Aula Mendadak Membeku Tepat Sebelum Akad Dimulai

Kalimat Fikri seperti menghantam seluruh aula.

“Kalau uang dua miliar itu Ibu kembalikan ke Kak Nabila hari ini, uang muka ruko atas namaku mau dibayar pakai apa?”

Tak ada yang bergerak.

Bu Ratna berdiri dengan wajah pucat, sementara Fikri baru menyadari apa yang baru saja ia ucapkan. Tatapannya berpindah dari ibunya ke Arga, lalu kepadaku.

“Fikri,” desis Bu Ratna. “Diam.”

“Tapi, Bu…”

“Diam!”

Bentakan itu justru memastikan semuanya.

Aku menoleh kepada Arga.

“Jadi uangnya sudah dipakai?”

Arga tidak menjawab. Rahangnya mengeras.

“Arga, lima hari lalu kamu mentransfer dua miliar kepada ibumu. Benar?”

“Iya.”

“Kamu tahu uang itu dipakai untuk ruko Fikri?”

“Tidak.”

Jawabannya cepat, tetapi wajahnya mengatakan sesuatu yang lain.

Aku mengenal lelaki itu selama enam tahun. Aku tahu bagaimana Arga mengusap tengkuk ketika gugup, bagaimana ia menghindari tatapan ketika menyembunyikan sesuatu.

Dan saat itu, tangan kanannya sedang berada di belakang leher.

Dadaku mendadak sesak.

“Kamu tahu?”

“Bila, dengarkan dulu.”

Hanya empat kata.

Namun empat kata itu sudah cukup.

Ibuku yang berdiri beberapa langkah dariku menutup mulut. Ayahku tidak berkata apa-apa, tetapi wajahnya berubah keras.

Aku meletakkan mikrofon di meja.

“Sejak kapan?”

Arga mendekat.

“Bukan seperti yang kamu pikirkan.”

“Sejak kapan kamu tahu?”

Ia menarik napas.

“Tiga hari lalu.”

Aku tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Aku hanya tidak tahu harus bereaksi bagaimana.

Tiga hari.

Berarti saat Arga datang ke rumahku kemarin, makan malam bersama orang tuaku, mencium tangan ayah dan ibu, bahkan berkata bahwa semua persiapan pernikahan sudah selesai, dia sudah tahu uang yang dijanjikannya kepadaku tidak lagi ada.

“Kamu sengaja diam?”

“Aku berniat menggantinya.”

“Kapan?”

“Setelah akad.”

“Dengan uang dari mana?”

Arga terdiam.

Pak Surya tiba-tiba menatap istrinya.

“Ratna, sebenarnya uang itu ke mana?”

Bu Ratna mulai menangis.

“Untuk keluarga kita juga.”

“Jawab pertanyaannya.”

“Fikri butuh ruko. Kalau tidak bayar uang muka minggu ini, rukonya diambil orang.”

“Berapa?”

Bu Ratna tidak menjawab.

Fikri akhirnya berkata pelan, “Satu koma enam miliar.”

Aku menatapnya tak percaya.

“Lalu empat ratus juta sisanya?”

Kali ini Fikri ikut diam.

Bu Ratna semakin panik.

“Sudahlah! Kenapa uang selalu dihitung sampai rupiah terakhir? Kita ini keluarga!”

Aku menatap perempuan itu.

“Karena dua miliar itu bukan uang Ibu.”

“Itu uang anak saya!”

“Yang diberikan kepada saya.”

“Belum diberikan!”

Kalimat itu keluar spontan.

Dan justru itulah masalah sebenarnya.

Bu Ratna sendiri membeku setelah mengucapkannya.

Aku akhirnya mengerti.

Selama ini ia tidak pernah benar-benar menganggap uang tersebut milikku. Selama belum masuk rekeningku, baginya uang itu tetap milik keluarga Arga.

Peti seserahan hanyalah pertunjukan.

Uang mainan digunakan agar ratusan tamu percaya janji itu telah ditepati.

Setelah menikah, aku akan menjadi bagian dari keluarga mereka. Kalau kemudian aku menagih, mereka tinggal mengatakan bahwa suami istri tidak seharusnya mempermasalahkan uang.

Aku menatap Arga.

“Kamu setuju dengan cara ini?”

“Tidak.”

“Tapi kamu membiarkannya.”

“Aku sudah bilang aku akan menggantinya.”

“Dengan uang perusahaan?”

Wajahnya berubah.

Aku langsung tahu tebakanku benar.

“Arga.”

“Bila, kita jangan bahas ini di sini.”

“Dengan uang perusahaan?”

Ia menunduk.

Aku merasa sesuatu dalam diriku runtuh.

Selama enam tahun, aku percaya Arga berbeda dari keluarganya. Dia pekerja keras. Bertanggung jawab. Bahkan ketika bisnisnya berkembang, dia tetap hidup sederhana.

Namun ternyata kelemahannya selalu sama.

Dia tidak pernah mampu mengatakan tidak kepada ibunya.

Fikri gagal bisnis tiga kali. Setiap kali itu terjadi, Arga yang membereskan utangnya.

Bu Ratna membeli mobil baru, Arga yang membayar cicilan.

Ketika Pak Surya protes, Bu Ratna selalu mengatakan hal yang sama.

Untuk apa punya anak sukses kalau tidak bisa membantu keluarga?

Aku pernah menganggapnya bentuk bakti.

Sekarang aku baru sadar, batas antara berbakti dan membiarkan diri dimanfaatkan bisa sangat tipis.

Aku mengambil ponselku.

“Akad ditunda.”

Aula kembali gaduh.

Bu Ratna langsung menjerit.

“Kamu mau mempermalukan keluarga kami hanya karena uang?”

Aku menatapnya.

“Bukan karena uang.”

“Lalu apa?”

“Karena kebohongan.”

Aku menunjuk peti merah di atas meja.

“Kalau sejak awal Ibu mengatakan uang itu dipinjam Fikri dan meminta waktu, kita bisa bicara. Tapi Ibu mengisi peti dengan uang mainan, mengangkatnya di depan ratusan orang, lalu mengumumkan bahwa Ibu menyerahkan dua miliar kepada saya.”

Bu Ratna hendak menyela.

Aku mengangkat tangan.

“Artinya Ibu tidak hanya mengambil uang tanpa izin. Ibu merencanakan kebohongan.”

Pak Surya duduk perlahan di kursi terdekat.

Wajahnya tampak sepuluh tahun lebih tua.

Lalu tiba-tiba seorang perempuan dari barisan tamu keluarga Arga berdiri.

Namanya Tante Mira, adik Pak Surya.

“Ratna, empat ratus jutanya untuk apa?”

Bu Ratna menoleh tajam.

“Bukan urusanmu.”

“Jadi benar ada sisanya?”

“Aku bilang bukan urusanmu!”

Tante Mira tertawa getir.

“Karena dua hari lalu kamu meneleponku menawarkan investasi katering empat ratus juta?”

Semua mata kembali tertuju kepada Bu Ratna.

Aku merasakan bulu kudukku berdiri.

Pak Surya bangkit.

“Katering apa?”

Bu Ratna kehilangan kata-kata.

Tante Mira melanjutkan, “Katanya mau buka bisnis katering bersama teman pengajiannya. Dia bilang modalnya sudah ada.”

Pak Surya menatap istrinya lama.

“Jadi satu koma enam miliar untuk Fikri. Empat ratus juta untuk bisnismu?”

“Bisnis itu nanti keuntungannya juga untuk keluarga!”

Pak Surya memukul meja dengan telapak tangan.

“Ratna!”

Suara itu menggema di aula.

Untuk pertama kalinya Bu Ratna benar-benar diam.

Namun kejutan terbesar belum datang.

Fikri tiba-tiba duduk di anak tangga panggung sambil memegangi kepalanya.

“Rukonya juga bukan satu koma enam miliar.”

Bu Ratna menoleh cepat.

“Fikri!”

Adik Arga mengusap wajahnya.

“Uang mukanya cuma delapan ratus juta.”

Aku menatapnya.

“Apa?”

“Ibu bilang ke Mas Arga satu koma enam.”

Arga langsung bergerak mendekati adiknya.

“Kamu serius?”

Fikri mengangguk.

“Delapan ratus juta untuk uang muka. Sisanya katanya buat renovasi dan modal. Tapi aku baru terima dua ratus juta.”

Suasana aula berubah menjadi sesuatu yang sulit digambarkan.

Bukan lagi sekadar skandal pernikahan.

Semua orang mulai menyadari bahwa tidak ada seorang pun yang benar-benar tahu ke mana uang dua miliar itu pergi.

Arga mengambil ponsel ibunya.

Bu Ratna berusaha merebutnya.

“Jangan!”

Tetapi Pak Surya menahan tangan istrinya.

“Buka.”

“Surya…”

“Buka rekeningnya.”

Bu Ratna menangis.

“Aku melakukan semuanya untuk anak-anak.”

Pak Surya menggeleng.

“Kalau benar untuk anak-anak, tidak perlu berbohong.”

Akhirnya, dengan tangan gemetar, Bu Ratna membuka aplikasi perbankannya.

Saldo rekening itu hanya tersisa sekitar seratus dua puluh juta rupiah.

Riwayat transaksi menunjukkan transfer delapan ratus juta untuk pembayaran ruko.

Dua ratus juta kepada Fikri.

Empat ratus juta ke rekening atas nama seorang perempuan.

Lalu beberapa transfer lain.

Tiga ratus juta.

Seratus juta.

Lima puluh juta.

Arga membaca nama penerima salah satunya.

“Dimas Prakoso?”

Pak Surya mendadak memucat.

“Siapa Dimas?”

Bu Ratna tidak menjawab.

Fikri yang menjawab.

“Orang investasi kripto itu.”

Semua orang menoleh kepadanya.

“Ibu ikut investasi beberapa bulan lalu. Katanya keuntungan bisa dua puluh persen sebulan.”

Arga menatap ibunya seolah baru pertama kali melihat perempuan itu.

“Ibu memasukkan uangku ke investasi?”

“Aku cuma ingin mengembalikannya sebelum kalian tahu!”

“Berapa?”

Bu Ratna menangis semakin keras.

“Enam ratus juta.”

Aku memejamkan mata.

Jadi semuanya menjadi jelas.

Bu Ratna mengambil dua miliar.

Sebagian digunakan untuk Fikri.

Sebagian untuk bisnis.

Sebagian lagi dimasukkan ke investasi yang bahkan keluarganya tidak tahu.

Kemungkinan besar uang itu sudah hilang.

Peti uang mainan dibuat bukan untuk alasan keamanan.

Peti itu dibuat untuk membeli waktu.

Aku melihat jam di dinding.

Penghulu sudah menunggu hampir empat puluh menit.

Ratusan tamu masih duduk.

Makanan sudah tersaji.

Fotografer berdiri kebingungan.

Semua orang menunggu keputusan kami.

Arga mendekatiku.

Matanya merah.

“Bila.”

Aku tidak menjawab.

“Aku salah.”

“Iya.”

“Aku seharusnya cerita tiga hari lalu.”

“Iya.”

“Aku takut kamu membatalkan pernikahan.”

Aku menatapnya.

“Jadi kamu memilih membuatku mengetahuinya lima menit sebelum akad?”

“Aku pikir aku bisa menyelesaikannya.”

“Itulah masalahmu, Ga.”

Aku menahan air mata.

“Kamu selalu merasa harus menyelesaikan masalah keluargamu sendirian. Sampai akhirnya kamu berbohong kepada orang yang akan menjadi istrimu.”

Arga menggenggam tanganku.

“Aku transfer dua miliar sekarang.”

Aku menarik tanganku.

“Dari mana?”

Ia terdiam.

“Dana perusahaan?”

Tidak ada jawaban.

“Kalau kamu mengambil dua miliar dari perusahaan hanya untuk menutupi kebohongan ini, apa bedanya kamu dengan ibumu?”

Kalimat itu membuatnya terpukul.

Aku melihat matanya berkaca-kaca.

Lalu sesuatu yang tidak kuduga terjadi.

Arga berjalan ke arah penghulu.

“Pak, akadnya jangan dimulai dulu.”

Bu Ratna langsung menjerit.

“Arga!”

Namun Arga tidak menoleh.

Ia kembali berdiri di depanku.

“Aku tidak akan memintamu menikah denganku hari ini kalau kamu sudah tidak percaya.”

Aku menatapnya lama.

Enam tahun bukan waktu singkat.

Aku masih mencintainya.

Justru karena itu rasanya jauh lebih sakit.

“Aku tidak butuh dua miliar hari ini,” kataku.

Arga terkejut.

“Aku butuh tahu apakah setelah menikah nanti, kalau ibumu meminta sesuatu yang merugikan keluarga kita, kamu bisa mengatakan tidak.”

Arga terdiam.

Aku melanjutkan, “Kalau Fikri berutang lagi, apakah kamu akan mengambil tabungan anak kita diam-diam?”

“Tidak.”

“Kalau ibumu meminta uang tanpa sepengetahuanku?”

“Tidak.”

“Kalau aku dan ibumu berbeda pendapat?”

Arga menelan ludah.

Dulu, pertanyaan itu mungkin membuatnya menjawab diplomatis.

Hari itu tidak.

“Aku akan membela keputusan yang benar. Bukan otomatis membela Ibu hanya karena beliau ibuku.”

Tangisan Bu Ratna langsung berhenti.

“Arga, kamu tega bicara begitu?”

Arga akhirnya menoleh.

“Ibu mengambil uang yang bukan milik Ibu. Lalu membuat kami semua berbohong untuk menutupinya.”

“Ibu membesarkan kamu!”

“Dan aku berterima kasih seumur hidup. Tapi rasa terima kasih bukan izin untuk menghancurkan rumah tanggaku bahkan sebelum dimulai.”

Bu Ratna terduduk.

Aku menatap lelaki di depanku.

Untuk pertama kalinya dalam enam tahun, aku melihat Arga memasang batas kepada ibunya.

Namun satu keputusan dalam keadaan terdesak belum cukup untuk mengembalikan kepercayaanku.

Aku melepas cincin tunangan dari jariku.

Beberapa orang terkesiap.

Aku meletakkannya di telapak tangan Arga.

“Pernikahan hari ini dibatalkan.”

Ibuku menangis.

Bu Ratna menjerit.

Beberapa tamu berdiri.

Namun aku belum selesai.

“Bukan berarti hubungan kita selesai.”

Arga mengangkat wajah.

“Aku tidak mau menikah karena malu pada tamu atau takut kehilangan biaya gedung. Aku akan menikah denganmu kalau kita sudah bisa membangun rumah tangga tanpa kebohongan.”

Aku menatap peti merah berisi uang mainan.

“Beresi semuanya. Bukan untuk membeli kembali kepercayaanku, tapi karena itu memang tanggung jawabmu.”

Enam bulan kemudian, aku kembali berdiri di depan penghulu.

Bukan di gedung mewah.

Hanya di halaman rumah orang tuaku di Malang dengan sekitar empat puluh tamu.

Tidak ada peti beludru.

Tidak ada pengumuman miliaran rupiah.

Fikri menjual hak atas rukonya dan mengembalikan uang yang telah dipakai. Pak Surya memisahkan seluruh rekening keluarga dari Bu Ratna. Kasus investasi itu dilaporkan setelah diketahui ternyata melibatkan skema penipuan.

Arga tidak pernah mengambil satu rupiah pun dari perusahaan untuk mengganti uang tersebut.

Ia menjual mobil keduanya, mencairkan investasi pribadinya, lalu mengembalikan dana itu sedikit demi sedikit.

Pada pagi sebelum akad kedua kami, ponselku berbunyi.

Ada notifikasi transfer.

Jumlahnya tepat dua miliar rupiah.

Namun yang membuatku menangis bukan angka itu.

Melainkan pesan singkat di bawahnya.

Ini bukan harga untuk menikahimu. Ini adalah janji lama yang harus kutepati sebelum aku meminta kepercayaanmu sekali lagi.

Aku tidak menjawab pesan itu.

Aku berjalan keluar kamar.

Arga sudah menunggu di depan penghulu.

Bu Ratna hadir, duduk di barisan paling belakang. Hubungan kami belum sepenuhnya pulih. Mungkin membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Namun kali ini tidak ada yang berpura-pura semuanya baik-baik saja.

Sebelum akad dimulai, Fikri menghampiriku.

Ia menyerahkan sebuah kotak kecil.

Aku menatapnya curiga.

“Tenang, Kak. Bukan uang mainan.”

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, aku tertawa.

Di dalam kotak itu hanya ada satu lembar uang mainan seratus ribu yang sudah dibingkai.

Di bawahnya tertulis sebuah kalimat.

Kebohongan paling mahal bukan yang membuat kita kehilangan uang, melainkan yang membuat kita kehilangan kepercayaan.

Aku menatap Arga.

Ia tersenyum kecil.

Hari itu aku akhirnya mengerti sesuatu.

Dua miliar rupiah hampir menggagalkan pernikahan kami.

Namun bukan karena jumlahnya terlalu besar.

Melainkan karena sebuah keluarga mengira cinta berarti seseorang boleh mengambil, menyembunyikan, dan memutuskan sesuatu atas nama orang lain.

Uang yang hilang masih bisa dicari kembali.

Pesta yang batal masih bisa digelar lagi.

Bahkan sebuah akad masih bisa ditunda.

Tetapi kepercayaan tidak pernah pulih hanya dengan permintaan maaf.

Ia pulih ketika seseorang berani mengakui kesalahannya, menerima akibatnya, dan membuktikan perubahan bahkan ketika tidak ada lagi penonton yang bertepuk tangan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang