“BU, TOLONG JANGAN BAYAR! AKU TIDAK PERNAH PINJAM UANG ITU!” teriak Dimas sambil merebut ponsel dari tangan ibunya.
Namun Ratna sudah telanjur membaca pesan yang membuat darahnya serasa berhenti mengalir.
“Utang Rp9.160.000 atas nama Dimas Pratama harus segera dilunasi. Jika tidak, proses penagihan akan dilanjutkan.”
Yang membuat Ratna nyaris jatuh bukan jumlah uangnya, melainkan sebuah foto yang dikirim bersama pesan tersebut.
Foto KTP putranya.
Lengkap dengan swafoto Dimas yang sedang memegang kartu identitas.
“Dimas, jangan bohong sama Ibu! Kalau kamu enggak pernah pinjam uang, kenapa mereka punya foto kamu seperti ini?”

“Aku enggak tahu, Bu! Sumpah, aku enggak pernah mengajukan pinjaman apa pun!”
Dimas, mahasiswa berusia 21 tahun di Jakarta, berdiri gemetar di ruang makan rumah sederhana mereka di Tangerang. Ia bahkan tidak tahu dari mana harus mulai menjelaskan sesuatu yang sama sekali tidak pernah dilakukannya.
Ratna menatap putra semata wayangnya dengan mata berkaca-kaca. Selama bertahun-tahun, ia menerima pesanan jahitan hingga larut malam demi membiayai kuliah Dimas. Kini, sebuah tagihan hampir sepuluh juta rupiah mengancam menghabiskan tabungan pendidikan mereka.
Tetapi kejutan sebenarnya baru datang beberapa jam kemudian.
Saat Dimas memeriksa percakapan WhatsApp lama, ia menemukan bahwa orang yang kemungkinan besar menggunakan identitasnya bukanlah penipu asing.
Melainkan Fikri, sahabat yang sudah dianggap Ratna seperti anak sendiri.
Dan ketika Fikri akhirnya mengangkat telepon, satu kalimat pengakuannya membuat seluruh keluarga itu membeku.
“Maaf, Bu Ratna. Saya memang pakai identitas Dimas. Tapi kalau Ibu sampai melapor, bukan cuma saya yang bakal kena masalah.”
Ratna belum mengetahui bahwa ancaman itu menyimpan rahasia yang jauh lebih mengerikan daripada satu pinjaman online.
Sebab nama Dimas ternyata bukan satu-satunya nama yang telah digunakan Fikri.
