SEPULUH TAHUN AKU MENUNGGU LAMARAN, SAMPAI KUTAHU KEKASIHKU DIAM-DIAM

Arga menahan pintu sebelum aku sempat keluar.

“Sepuluh tahun kamu akhiri cuma karena satu makan malam?”

Aku menatap tangannya pada daun pintu.

“Singkirkan tanganmu.”

“Rani, kita sedang emosi.”

“Aku mengemasi barang selama tiga jam. Aku membeli tiket. Aku menghubungi sepupuku. Keputusan ini tidak kubuat dalam satu tarikan napas.”

Nadira mendekat.

“Kalau masalahnya aku, aku bisa pergi.”

Biasanya aku akan merasa bersalah, lalu memintanya tetap tinggal. Malam itu aku hanya mengangguk.

“Silakan. Tapi itu tidak mengubah keputusanku.”

Wajahnya menegang.

Arga akhirnya melepaskan pintu ketika ponselku berdering. Sepupuku, Dimas, sudah menunggu di lobi.

“Kamu benar-benar menyuruh orang menjemput?” tanya Arga.

“Iya.”

Aku menarik koper melewati ambang pintu. Untuk pertama kalinya, aku tidak menoleh untuk memastikan apakah ia akan mengejar.

Di dalam mobil, Dimas tidak banyak bertanya. Ia menyerahkan sebotol air, lalu menyalakan radio pelan.

Baru setelah apartemen itu menghilang dari pandangan, aku menangis.

Bukan tangisan yang anggun. Bahuku terguncang, napasku tersendat, dan aku berkali-kali meminta Dimas berhenti sebentar.

Ia menepi.

“Menyesal?” tanyanya.

Aku menggeleng.

“Sedih.”

“Ya sudah. Sedih dulu.”

Pagi berikutnya, Arga menelepon saat aku menunggu kereta.

“Aku nggak masuk rumah sakit. Kita bertemu.”

“Aku sudah di stasiun.”

“Turun di pemberhentian berikutnya. Aku susul.”

“Tidak.”

Ia terdiam, mungkin lebih terkejut oleh satu kata itu daripada oleh kepergianku.

“Aku belum pernah bilang mau meninggalkanmu.”

“Masalahnya, kamu juga tidak pernah benar-benar memilihku.”

Pengumuman keberangkatan terdengar. Aku mematikan telepon, mengangkat koper, lalu berjalan menuju gerbong.

Ibu menjemputku di Yogyakarta dengan dua kotak makanan.

“Kamu belum sarapan, kan?”

Aku mengangguk. Pertanyaan sederhana itu membuat mataku kembali panas.

Di rumah, kamarku sudah dibersihkan. Spreinya baru, tetapi lemari kayu di sudut masih sama seperti saat aku kuliah.

Ayah membantu membawa kardus.

“Tidak usah buru-buru menjelaskan semuanya,” katanya.

Namun, sore itu ada sesuatu yang harus segera kuurus.

Pengelola apartemen mengirim pengingat pembayaran perpanjangan sewa. Kontrak lama berakhir tiga minggu lagi. Namaku tercatat sebagai penyewa utama, sementara Arga masuk sebagai penghuni tambahan.

Aku mengirim pemberitahuan tertulis bahwa aku tidak memperpanjang kontrak dan menanyakan prosedur pemeriksaan serta pengembalian kunci.

Balasannya datang cepat.

Lima menit kemudian, Arga menelepon.

“Kamu juga menghubungi pengelola?”

“Tentu. Namaku ada di kontrak.”

“Aku kira kamu cuma pulang untuk menenangkan diri.”

“Aku sudah bilang pindah.”

“Terus aku dan Nadira bagaimana?”

Aku memejamkan mata.

Pertanyaan itu menjelaskan lebih banyak daripada semua pembelaannya.

“Kalian perlu mengatur tempat tinggal sendiri.”

Ia mengatakan aku kejam, terlalu perhitungan, berubah sejak mendapat promosi.

Setelah sambungan terputus, aku membuka catatan pembayaran. Separuh sewa yang dijanjikan Arga belum dibayarnya selama empat bulan. Katanya, ada kebutuhan mendesak keluarganya.

Aku tidak tahu kebutuhan siapa yang sebenarnya kubiayai.

Dua hari kemudian, ibu Nadira menelepon.

“Rani, Tante baru dengar kalian putus. Apa karena makan malam kemarin?”

“Ada banyak hal, Tante.”

Perempuan itu terdengar kebingungan.

“Arga bilang kamu tahu dia sedang dekat dengan Nadira.”

Aku duduk perlahan.

“Dia bilang begitu?”

“Katanya hubungan kalian sudah lama selesai. Kalian masih tinggal bersama karena menunggu kontrak habis.”

Tanganku mencengkeram ponsel.

Selama ini aku menunggu tanggal pernikahan, sementara di rumah orang lain Arga sudah menjelaskan bahwa aku hanya teman serumah.

“Apa Nadira juga mengatakan itu?”

Hening sejenak.

“Iya.”

Aku menatap halaman rumah. Ayah sedang menyiram tanaman, gerakannya tenang, seolah dunia tidak baru saja bergeser.

“Tante, sehari sebelum makan malam itu, Arga masih datang menemui orang tua saya sebagai kekasih saya.”

Aku tidak berteriak. Tidak perlu.

Di seberang, terdengar tarikan napas panjang.

“Tante minta maaf. Tante tidak tahu.”

Malamnya, Nadira mengirim pesan.

Kamu nggak perlu menyeret orang tuaku.

Aku membalas sekali.

Mereka menghubungiku. Aku menjawab dengan jujur.

Setelah itu, aku membisukan percakapan kami.

Minggu pertama di kantor baru terasa berat. Aku lupa membawa kartu akses, salah masuk ruang rapat, dan beberapa kali membaca surel tanpa memahami isinya.

Pada malam hari, tanganku masih otomatis meraih ponsel untuk bertanya apakah Arga sudah makan.

Aku mulai menuliskan pesan-pesan itu di buku, lalu menutupnya.

Perlahan, dorongan mengirimnya berkurang.

Menjelang akhir kontrak apartemen, aku kembali bersama Dimas untuk mengambil barang yang tertinggal dan mengikuti pemeriksaan unit.

Arga menunggu di lobi.

Ia mengenakan kemeja biru yang dulu kupilihkan, wajahnya kusut. Di tangannya ada sebuah kotak kecil.

“Aku sadar sekarang.”

Aku berhenti beberapa langkah darinya.

“Rani, aku siap menikah.”

Dimas menatapku, menunggu isyarat. Aku menggeleng kecil agar ia tidak mendekat dulu.

Arga membuka kotak itu. Sebuah cincin berkilau di bawah lampu lobi.

Dahulu, aku membayangkan akan menangis bahagia melihatnya.

Yang kurasakan justru lelah.

“Kapan kamu membelinya?” tanyaku.

“Kemarin.”

Aku mengangguk.

“Sepuluh tahun kamu bilang belum siap. Setelah aku pergi, kamu bisa siap dalam dua minggu.”

“Aku butuh kehilanganmu untuk mengerti.”

“Mungkin. Tapi aku tidak harus kembali supaya pengertianmu berguna.”

Ia menutup kotak perlahan.

“Nadira juga sudah pergi.”

Aku menatapnya.

“Ternyata makan malam itu membahas rencana pertunangan kalian, ya?”

Arga tidak menjawab.

Keheningannya cukup.

Aku masuk lift bersama Dimas. Di dalam unit, rak kamar mandi sudah hampir kosong. Sandal Nadira tidak ada lagi.

Di meja, kantong puding karamel malam itu masih tersimpan, isinya tentu sudah dibuang.

Aku tidak menyentuhnya.

Beberapa bulan kemudian, aku menerima surel lama dari penyimpanan dokumen bersama. Sebuah pengingat otomatis yang kubuat sendiri bertahun-tahun lalu.

Judulnya sederhana.

Bicarakan masa depan sebelum ulang tahun ketiga puluh.

Aku sudah tiga puluh tiga.

Malam itu, aku membuka kalender dan menghapus pengingat berulang tersebut.

Lalu kutambahkan jadwal baru untuk Sabtu pagi.

Melihat rumah kecil dekat kantor.

Uang yang dulu kusiapkan untuk pernikahan akhirnya akan kupakai.

Bukan untuk membuktikan bahwa aku baik-baik saja.

Aku hanya ingin memiliki tempat yang membuatku tidak perlu menunggu dipilih agar merasa pulang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang