Suapan ketiga belum sempat kutelan ketika ponselku berdering. Nama Mas Malik muncul di layar.
“Kamu sengaja mempermalukan Mbak Rita?”

Aku meletakkan sendok.
“Dengan cara apa?”
“Dia bilang kamu memamerkan makanan, lalu menyuruhnya jangan mendekat. Ibu belum makan dari pagi, Na.”
Dari balik pintu terdengar suara sendok beradu dengan piring. Aku membuka pintu sedikit. Ibu sudah pulang dan sedang duduk bersama Mbak Rita. Di meja ada dua bungkus nasi Padang.
Aku memandang mereka, lalu kembali berbicara kepada suamiku.
“Mas sudah bertanya kepada Ibu?”
“Jangan mengalihkan pembicaraan.”
“Aku bertanya karena beliau sedang makan.”
Hening beberapa detik.
“Pokoknya nanti kita bicara.”
Sambungan terputus.
Aku menatap makanan yang mendadak kehilangan rasa. Delapan tahun menikah, aku hafal bagaimana percakapan itu akan berakhir. Mas Malik pulang membawa kesimpulan, sementara aku hanya diberi kesempatan membenarkannya.
Kali ini aku tidak membuang kemasan diam-diam.
Aku merapikannya, mencuci sendokku, lalu kembali bekerja.
Menjelang sore, sebuah surel masuk dari editorku. Naskahku diterima untuk proyek lanjutan. Ada tenggat, jadwal diskusi, dan uang muka yang cukup untuk menyewa tempat tinggal sederhana selama beberapa bulan.
Aku membacanya berulang kali.
Selama ini aku menganggap penghasilanku hanya tambahan. Sesuatu yang harus mengalah pada cucian, belanja, dan suara orang mengetuk pintu.
Untuk pertama kalinya, aku melihatnya sebagai pilihan.
Malamnya, Mas Malik memanggilku ke ruang tengah. Ibu dan Mbak Rita sudah duduk di sana.
“Sekarang jelaskan,” katanya.
Aku membawa buku catatan pengeluaran dan ponsel.
“Mbak tadi membeli makan sendiri?” tanyaku.
Rita menyilangkan tangan.
“Itu uangku.”
“Benar. Sama seperti makananku.”
“Kamu jangan menyamakan!”
“Kenapa tidak?”
Mas Malik mengangkat tangan.
“Bukan soal uang siapa. Ini soal kepedulian.”
Aku mengangguk.
“Baik. Bulan lalu waktu kalian makan di restoran setelah mengambil mobil dari bengkel, siapa yang mengingatkanku makan?”
Wajahnya berubah sedikit.
“Kamu sedang bekerja.”
“Hari ini juga.”
“Itu beda.”
“Bedanya karena aku yang tidak diajak, jadi tidak perlu dipersoalkan?”
Ibu menghela napas keras.
“Sudahlah. Ibu tidak ingin jadi penyebab kalian bertengkar.”
“Kalau begitu, tolong jangan mengatakan belum makan ketika sudah makan, Bu.”
“Jaga bicaramu!” bentak Rita.
Aku meletakkan ponsel di meja. Ada foto nota pesananku, jadwal rapat daring, dan catatan pembayaran kebutuhan rumah yang rutin kutanggung.
“Aku tidak keberatan berbagi. Tapi aku keberatan pekerjaanku dianggap tidur-tiduran dan setiap pilihanku diadili.”
Mas Malik menatap buku itu.
“Kamu mencatat semuanya untuk mengungkit?”
“Aku mencatat supaya uang belanja cukup. Mas bahkan tidak tahu token listrik tiga bulan terakhir kubayar sendiri.”
Ia membuka halaman berikutnya. Ada belanja dapur, obat Ibu, air galon, dan perbaikan pompa.
“Aku sudah memberikan uang bulanan.”
“Sebagian besar untuk kebutuhan lain. Aku pernah menjelaskan. Mas bilang jangan pelit kepada keluarga.”
Rita bangkit.
“Jadi sekarang kami beban?”
“Aku sedang bicara tentang pembagian tanggung jawab.”
Namun, seperti biasanya, pembicaraan berubah menjadi soal nada bicaraku. Malam itu berakhir tanpa jawaban.
Besok paginya, aku menghubungi kakakku di Semarang. Aku meminta izin tinggal dua minggu untuk menyelesaikan naskah.
Saat koper kecilku terlihat di dekat pintu, Mas Malik tertegun.
“Kamu mau pergi karena makanan?”
“Karena aku tidak bisa bekerja dan bicara dengan tenang di sini.”
“Kamu membesar-besarkan masalah.”
“Mungkin. Karena itu aku perlu jarak untuk memikirkannya.”
Aku meninggalkan uang bagianku untuk tagihan yang belum dibayar, lalu berangkat.
Empat hari pertama, Mas Malik hanya mengirim pesan singkat. Menanyakan kapan pulang, kemudian mengabarkan Ibu kecewa.
Pada hari kelima, ia menelepon pukul sebelas siang.
“Kamu biasanya memasak sebelum mulai kerja?”
Aku sedang merevisi bab terakhir.
“Kadang sebelum Subuh. Kadang setelah rapat pagi.”
“Lalu cucian?”
“Mas, ada apa?”
Ia diam.
“Aku bekerja dari rumah hari ini.”
Aku tidak langsung menjawab.
Dari seberang terdengar suara Rita.
“Lik, bilang istrimu pulang! Masa aku harus mengurus semuanya?”
Lalu suara Ibu menyusul, mengeluhkan wastafel penuh.
“Aku sedang rapat, Mbak,” kata Malik.
“Ya rapat tinggal duduk! Sambil nunggu bisa cuci piring!”
Sambungan tetap terbuka.
Aku menutup mata. Kalimat itu pernah ditujukan kepadaku berkali-kali.
Sore harinya, Malik menelepon lagi. Suaranya berbeda.
“Tadi Ibu mengira aku sudah berangkat ke kantor. Aku masih di kamar mengambil charger.”
Aku menggenggam ponsel lebih erat.
“Aku dengar beliau bilang kepada Mbak Rita supaya jangan terlalu sering meneleponku. Katanya tunggu aku pulang saja, biar kamu yang kena.”
Dadaku sesak, tetapi tidak ada rasa menang.
“Sekarang Mas percaya?”
“Iya.”
“Dulu aku juga mengatakan hal yang sama.”
“Aku tahu.”
Ia menangis pelan. Aku membiarkannya menyelesaikan kalimat berikutnya tanpa membantunya mencari alasan.
“Aku lebih nyaman menganggapmu berlebihan daripada mengakui keluargaku menyakitimu.”
Seminggu kemudian, ia datang ke rumah kakakku. Tidak membawa bunga. Ia membawa rincian penghasilan, pengeluaran, serta tiga pilihan kontrakan dekat kantornya.
“Aku sudah bicara dengan Ibu dan Mbak Rita. Bantuan untuk Ibu tetap ada. Tapi kita perlu rumah sendiri.”
Aku membaca kertas itu.
“Aku belum siap pulang kalau maksudnya kembali seperti dulu.”
“Aku juga tidak meminta itu.”
Kami tidak langsung pindah. Kami membicarakan utang, pembagian pekerjaan, waktu menulisku, dan cara menghadapi perselisihan tanpa membawa seluruh keluarga masuk ke kamar kami.
Ada beberapa percakapan yang berat. Ada pula janji yang harus diingatkan.
Sebulan kemudian, kami menempati kontrakan dengan dapur kecil dan jendela menghadap pohon mangga.
Pada malam pertama, ponsel Malik berdering. Rita meminta uang untuk membeli makanan karena tidak sempat memasak.
Malik berdiri di dekat kompor sambil memegang spatula.
“Aku sudah mengirim jatah bulan ini, Mbak. Coba atur dulu. Aku sedang masak.”
Ia menutup telepon tanpa menjelaskan kesalahanku kepada siapa pun.
Aku menunduk agar ia tidak melihat mataku berkaca-kaca.
Beberapa menit kemudian, ia meletakkan sepiring nasi goreng di depanku. Terlalu asin, telurnya sedikit gosong.
“Besok aku coba lagi,” katanya malu.
Aku mengambil sendok.
Di rumah lama, makanan mahal pun selalu membuatku merasa bersalah. Malam itu, di depan nasi goreng yang gagal, akhirnya aku bisa makan dengan tenang.
