Setelah Enam Tahun Membesarkan Anak Kembar Sendirian, Aku Pulang ke,

“JANGAN DATANG SENDIRIAN, NADIRA. ADRIAN BUKAN SATU-SATUNYA ORANG YANG MENGINCAR ANAK-ANAKMU.”

Pesan itu masuk ketika aku baru saja membawa Raka dan Alya ke sebuah apartemen sewaan di Jakarta Selatan.

Pengirimnya tidak dikenal.

Namun, kalimat berikutnya membuatku membeku.

“Orang yang membocorkan informasi keluargamu adalah seseorang yang memiliki akses ke laboratoriummu di Boston.”

Aku menatap layar ponsel dengan tangan gemetar.

Selama enam tahun tinggal di Amerika, hanya segelintir orang yang mengetahui seluruh kehidupanku. Mereka adalah rekan peneliti, pengasuh anak-anak, dan sahabatku, Clara.

Aku tidak pernah membayangkan salah satu dari mereka akan mengkhianatiku.

“Mommy, kita sudah sampai?” tanya Alya sambil menarik ujung bajuku.

Aku segera menyimpan ponsel.

“Sudah, Sayang. Sekarang kita istirahat dulu.”

Malam itu, setelah kedua anakku tertidur, aku menelepon Clara.

Dia menjawab setelah dering keempat.

“Nadira? Kamu sudah sampai Jakarta?”

“Sudah. Clara, aku mau tanya sesuatu.”

“Tentu.”

“Apakah ada orang yang meminta informasi tentang anak-anakku?”

Hening.

Aku mendengar Clara menarik napas panjang.

“Kenapa kamu bertanya begitu?”

“Karena mantan suamiku mengetahui alamat apartemen kita, sekolah anak-anak, bahkan jadwal penerbanganku.”

Clara terdiam semakin lama.

“Clara?”

“Aku minta maaf, Nad.”

Dadaku langsung sesak.

“Maaf untuk apa?”

“Tiga minggu lalu, seseorang menghubungiku. Dia mengaku mewakili yayasan penelitian kesehatan di Indonesia.”

Aku memejamkan mata.

“Lalu?”

“Dia bilang ingin memberikan penghargaan untukmu. Mereka meminta profil akademik, riwayat penelitian, dan beberapa foto kegiatanmu.”

“Termasuk foto anak-anakku?”

Suara Clara mulai bergetar.

“Aku mengirim foto dari acara keluarga universitas. Aku pikir itu hanya untuk profil penghargaan.”

Aku menahan amarah.

“Clara, kamu tahu aku selalu menjaga privasi mereka.”

“Aku tahu. Aku benar-benar menyesal.”

Aku tidak langsung menjawab.

Namun, ada sesuatu yang terasa janggal.

“Bagaimana mereka mendapatkan dokumen penelitian rahasia?”

Clara terdengar terkejut.

“Dokumen apa?”

Aku menjelaskan foto yang dikirim Adrian.

Clara langsung membantah pernah memberikan akses ke berkas penelitian.

Setelah telepon berakhir, aku menghubungi profesor pembimbingku di Boston, Dr. Michael Bennett.

Beliau berjanji meminta tim keamanan informasi universitas memeriksa akses dokumen.

Keesokan paginya, aku menemui seorang pengacara keluarga bernama Maya Kusumawardani.

Setelah mendengarkan ceritaku, Maya berkata dengan tegas, “Adrian boleh mengajukan permohonan hukum mengenai hubungan dengan anak-anaknya. Tetapi dia tidak boleh mengambil mereka secara sepihak.”

Aku mengangguk.

“Yang paling kutakutkan bukan pertemuan itu, Bu. Aku takut dia menggunakan uang dan pengaruhnya untuk menekan kami.”

“Karena itu, kita harus memastikan semua komunikasi tercatat. Jangan menyerahkan dokumen asli atau menandatangani apa pun tanpa pemeriksaan.”

Maya juga menyarankan agar aku melaporkan intimidasi di bandara dan meminta perlindungan jika ancaman berlanjut.

Siang harinya, Adrian kembali menelepon.

“Kau sudah menerima alamat yang kukirim?”

“Aku akan datang bersama pengacaraku.”

“Nadira, ini urusan keluarga.”

“Kalau begitu, berhentilah memperlakukan anak-anak seperti aset perusahaan.”

Adrian terdiam.

Kemudian dia berkata pelan, “Ada sesuatu yang belum kau ketahui tentang alasan aku mencarimu.”

Aku tertawa getir.

“Alasan apa? Tiba-tiba kau ingin menjadi ayah?”

“Bukan hanya itu.”

“Apa maksudmu?”

“Kirana sedang berusaha mengambil alih perusahaan.”

Aku membeku mendengar nama perempuan yang pernah menghancurkan pernikahanku.

“Apa hubungannya denganku?”

Adrian menjawab dengan suara berat.

“Dia menggunakan penelitianmu.”

Aku tidak mengatakan apa-apa.

“Temui aku besok. Aku akan menjelaskan semuanya.”

Keesokan harinya, aku datang ke kantor Adrian bersama Maya.

Bangunan kaca setinggi dua puluh lantai itu masih sama seperti enam tahun lalu.

Namun, kali ini aku tidak datang sebagai istri direktur.

Aku datang sebagai seorang ibu yang ingin melindungi anak-anaknya.

Adrian menunggu di ruang rapat.

Wajahnya terlihat lebih tua. Ada garis kelelahan di sekitar matanya.

“Nadira.”

Aku duduk tanpa menjawab sapanya.

Maya membuka pembicaraan.

“Pak Adrian, kami ingin mengetahui tujuan pertemuan ini dan sumber informasi pribadi klien saya.”

Adrian mengangguk.

Kemudian dia meletakkan sebuah map di atas meja.

Di dalamnya terdapat proposal investasi perusahaan alat kesehatan miliknya.

Aku membaca beberapa halaman.

Jantungku langsung berdegup kencang.

Proposal tersebut menggunakan sebagian konsep teknologi diagnostik yang mirip dengan penelitian yang kukembangkan di Boston.

Namun, beberapa data telah diubah.

Angka sensitivitas pengujian tampak jauh lebih tinggi daripada hasil penelitian yang pernah kami peroleh.

“Siapa yang membuat dokumen ini?” tanyaku.

Adrian menjawab, “Kirana.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Kirana bukan peneliti biomedis.”

“Dia bekerja sama dengan seseorang dari laboratoriummu.”

Aku langsung teringat pesan anonim semalam.

“Siapa?”

Adrian mengeluarkan sebuah foto.

Seorang pria berambut pirang berdiri di samping Kirana dalam sebuah acara bisnis di Singapura.

Aku mengenalinya.

Daniel Foster.

Mantan analis data di tim penelitianku.

Enam bulan sebelumnya, Daniel mengundurkan diri dengan alasan menerima pekerjaan di perusahaan teknologi kesehatan.

Aku merasa seluruh tubuhku dingin.

“Daniel memiliki akses ke sebagian data penelitian,” gumamku.

Adrian mengangguk.

“Kirana membayarnya untuk mendapatkan dokumen.”

“Bagaimana kamu tahu?”

“Karena aku menemukan pembayaran dari perusahaan konsultasi milik Kirana.”

Aku menatapnya tajam.

“Kalau kamu sudah tahu, kenapa tidak melaporkannya?”

Adrian menunduk.

“Awalnya aku percaya produk itu bisa menyelamatkan perusahaan.”

Aku tertawa pahit.

“Jadi kamu tahu ada kemungkinan data itu diperoleh secara tidak sah, tetapi tetap ingin menggunakannya?”

Dia tidak menjawab.

Maya meminta salinan dokumen yang dapat diberikan secara sah untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Namun, aku masih memiliki pertanyaan.

“Kenapa kamu mencari anak-anakku?”

Adrian mengangkat wajah.

“Karena Kirana mengetahui mereka lebih dulu.”

Aku terdiam.

“Apa?”

“Dia menemukan foto kalian melalui Daniel. Kemudian dia menyewa orang untuk mencari informasi tambahan.”

Aku mencengkeram ujung meja.

“Untuk apa?”

Adrian menarik napas panjang.

“Dia ingin menggunakan keberadaan anak-anak sebagai tekanan agar kamu tidak menggugat perusahaan atas penggunaan penelitian itu.”

Ruangan mendadak sunyi.

Aku merasa mual.

“Jadi anak-anakku dijadikan alat tawar-menawar?”

Adrian mengangguk pelan.

“Aku baru mengetahui rencananya beberapa hari lalu.”

Aku menatapnya dengan kemarahan yang sulit ditahan.

“Dan bukannya memperingatkanku, kamu justru mengirim tiga orang untuk mengambil mereka di bandara?”

“Aku ingin memastikan mereka aman.”

“Dengan membuat mereka ketakutan?”

Adrian menunduk.

Untuk pertama kalinya, laki-laki yang dahulu selalu merasa paling benar itu tidak mampu membela dirinya sendiri.

Aku berdiri.

“Kalau kamu benar-benar ingin melindungi mereka, serahkan semua bukti kepada pihak berwenang.”

Kemudian aku meninggalkan ruang rapat.

Namun, ketika kami hampir mencapai lift, seorang perempuan muncul dari ujung lorong.

Kirana.

Dia mengenakan setelan putih dan membawa tas mahal.

“Nadira,” katanya sambil tersenyum. “Lama sekali kita tidak bertemu.”

Aku berhenti.

“Kirana.”

Dia mendekat.

“Aku dengar kamu membawa dua anak yang sangat menggemaskan.”

Maya langsung berdiri di sampingku.

Aku menatap Kirana tanpa berkedip.

“Jangan libatkan anak-anakku.”

Kirana tertawa kecil.

“Kamu masih sama seperti dulu. Selalu terlalu emosional.”

Aku mengeluarkan ponsel dan mengaktifkan perekam suara setelah memberitahukan bahwa percakapan akan direkam.

“Kalau ada sesuatu yang ingin kamu katakan, katakan sekarang.”

Senyum Kirana memudar.

“Kamu pikir bisa menghancurkan proyek bernilai ratusan miliar hanya karena beberapa berkas penelitian?”

Aku terdiam.

Dia melanjutkan, “Banyak orang sudah menanamkan uang. Kalau kamu membuat masalah, akibatnya tidak akan menyenangkan.”

Maya langsung menyela.

“Apakah itu ancaman?”

Kirana menatapnya dingin.

“Itu peringatan.”

Aku menggenggam tas erat-erat.

“Kalau penelitian itu digunakan tanpa izin, semuanya harus diperiksa. Tidak peduli berapa besar uang yang terlibat.”

Kirana mendekatkan wajahnya.

“Kamu tidak tahu siapa yang sedang kamu lawan.”

Aku menatapnya tenang.

“Mungkin. Tapi aku tahu apa yang sedang kulindungi.”

Aku pergi tanpa menoleh lagi.

Malam itu, kabar dari Boston akhirnya datang.

Tim keamanan informasi universitas menemukan adanya pengunduhan sejumlah berkas oleh akun Daniel sebelum dia mengundurkan diri.

Mereka juga menemukan aktivitas akses yang tidak biasa terhadap dokumen tertentu.

Pihak universitas segera memulai penyelidikan resmi dan mengambil langkah untuk melindungi data penelitian.

Aku menyerahkan informasi yang kumiliki melalui jalur hukum.

Beberapa minggu kemudian, proyek investasi perusahaan Adrian ditunda setelah muncul pertanyaan serius mengenai asal-usul data dan klaim teknologi yang digunakan.

Perusahaan memulai audit independen.

Kirana kehilangan kewenangan atas proyek tersebut sementara pemeriksaan berlangsung.

Daniel juga dimintai keterangan oleh pihak yang berwenang sesuai yurisdiksi terkait.

Namun, masalah terbesarku belum selesai.

Adrian mengajukan permohonan agar dapat bertemu Raka dan Alya.

Ketika menerima pemberitahuan itu, aku menangis.

Bukan karena aku ingin melarang anak-anakku mengenal ayah kandung mereka.

Aku hanya takut kehidupan yang telah kubangun dengan susah payah akan kembali hancur.

Maya menenangkanku.

“Hubungan anak dengan orang tua harus dipertimbangkan berdasarkan kepentingan terbaik mereka. Kita akan memastikan kebutuhan dan keamanan Raka serta Alya menjadi perhatian utama.”

Aku mengangguk.

Setelah melalui proses pendampingan dan kesepakatan yang sesuai, Adrian akhirnya mendapat kesempatan bertemu anak-anak di sebuah tempat netral.

Aku hadir bersama pendamping.

Raka duduk di sampingku sambil memegang buku tentang tata surya.

Alya membawa boneka kelinci kesayangannya.

Ketika Adrian masuk, keduanya menatapnya dengan penasaran.

“Halo,” katanya pelan.

Alya menoleh kepadaku.

“Mommy, siapa Om ini?”

Aku menarik napas panjang.

“Ini Adrian. Dia ayah kandung kalian.”

Raka menatap Adrian cukup lama.

Kemudian dia bertanya dengan polos, “Kalau begitu, kenapa selama ini Daddy tidak pernah datang?”

Pertanyaan itu membuat Adrian membeku.

Aku melihat matanya memerah.

Dia berjongkok di depan Raka.

“Karena Daddy membuat banyak kesalahan.”

Raka mengerutkan kening.

“Kesalahan apa?”

Adrian menelan ludah.

“Daddy tidak ada ketika kalian lahir dan tumbuh besar.”

Alya memeluk bonekanya semakin erat.

“Mommy selalu ada.”

Adrian mengangguk.

“Iya. Mommy kalian sangat hebat.”

Aku menunduk, menahan air mata.

Pertemuan itu berlangsung singkat.

Aku tidak memaksa anak-anak memeluknya.

Aku juga tidak menjanjikan sesuatu yang belum pasti.

Hubungan mereka harus dibangun perlahan, dengan rasa aman dan kepercayaan.

Enam bulan kemudian, kehidupan kami mulai kembali tenang.

Aku resmi memimpin sebuah proyek penelitian kesehatan di Jakarta melalui kerja sama universitas dan lembaga penelitian.

Raka dan Alya mulai bersekolah di lingkungan baru.

Mereka belajar bahasa Indonesia dengan cepat, meskipun sesekali masih mencampurnya dengan bahasa Inggris.

Adrian menjalani proses pemeriksaan perusahaan dan berusaha memperbaiki hubungannya dengan anak-anak melalui pertemuan yang terjadwal.

Aku tidak kembali kepadanya.

Suatu sore, ketika sedang menjemput anak-anak dari sekolah, Raka tiba-tiba bertanya, “Mom, apakah Mommy masih marah kepada Daddy?”

Aku terdiam.

Kemudian aku berjongkok di depannya.

“Mommy pernah sangat sedih karena beberapa keputusan Daddy.”

“Sekarang?”

“Sekarang Mommy ingin kita semua hidup dengan baik.”

Alya memeluk leherku.

“Berarti kita tetap bertiga?”

Aku tersenyum.

“Kita tetap keluarga, Sayang. Dan kalian selalu punya Mommy.”

Malam itu, setelah kedua anakku tertidur, aku duduk di balkon apartemen.

Lampu-lampu Jakarta berkelap-kelip di kejauhan.

Enam tahun lalu, aku meninggalkan kota ini dengan hati hancur.

Aku merasa gagal sebagai seorang istri.

Aku takut tidak sanggup membesarkan dua anak sendirian.

Namun, waktu mengajarkanku bahwa keluarga tidak selalu dibentuk oleh hubungan yang sempurna.

Keluarga dibangun melalui kehadiran, tanggung jawab, dan cinta yang dibuktikan setiap hari.

Aku tidak pernah menyesal melahirkan Raka dan Alya.

Aku juga tidak menyesal memilih kehidupan yang mandiri.

Karena pada akhirnya, kedua anakku tidak membutuhkan seorang ibu yang selalu terlihat kuat.

Mereka membutuhkan seorang ibu yang berani menghadapi ketakutannya, mengakui kelemahannya, dan tetap memilih melindungi mereka.

Aku memandang foto kami bertiga di layar ponsel.

Raka tersenyum sambil memegang model roket buatannya.

Alya tertawa dengan kedua pipi penuh es krim.

Dan aku berdiri di tengah mereka.

Bahagia.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak lagi merasa sedang melarikan diri dari masa lalu.

Aku telah pulang.

Bukan untuk kembali menjadi perempuan yang pernah ditinggalkan Adrian.

Melainkan untuk menjalani kehidupan yang kubangun sendiri.

Dan kali ini, tidak seorang pun berhak menentukan masa depan kami tanpa mendengarkan suara kami terlebih dahulu.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang