
Suara sirene ambulans memecah kesunyian jalanan Jakarta ketika Laras dibawa menuju rumah sakit. Aku duduk di samping brankar, menggenggam tangannya yang dingin sambil terus memanggil namanya. Namun, perempuan yang selama empat tahun menjadi istriku itu tidak juga membuka mata.
“Pak, mohon beri ruang. Kami harus memantau kondisi pasien,” kata petugas medis.
Aku mengangguk, tetapi tanganku sulit melepaskan jemarinya.
Di kepalaku terus terngiang ucapan Laras beberapa menit sebelum pingsan. Ia sudah tiga bulan mengalami perdarahan hebat. Tiga bulan menahan sakit, sementara aku sibuk bekerja dan menyerahkan seluruh penghasilanku kepada ibu.
Sesampainya di instalasi gawat darurat, dokter segera menangani Laras. Aku diminta menunggu di luar.
Dua puluh menit kemudian, seorang dokter perempuan menghampiriku.
“Suami Ibu Laras?”
“Saya, Dok. Bagaimana keadaan istri saya?”
“Kondisinya serius. Kadar hemoglobinnya sangat rendah akibat kehilangan darah. Kami sedang melakukan transfusi dan pemeriksaan lanjutan. Untung Bapak segera membawanya ke rumah sakit.”
Kakiku terasa lemas.
“Dok, istri saya bisa sembuh, kan?”
“Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Tetapi setelah kondisinya stabil, penyebab perdarahannya harus ditangani.”
Aku mengangguk berkali-kali.
Saat dokter kembali masuk, aku terduduk di kursi lorong rumah sakit. Kubuka aplikasi perbankan di ponsel. Saldo rekeningku hanya tersisa Rp178.000.
Empat puluh enam juta rupiah setiap bulan. Hampir empat tahun bekerja keras. Namun ketika istriku membutuhkan pertolongan, aku bahkan tidak memiliki uang yang cukup untuk menghadapi keadaan darurat.
Aku langsung menelepon ibu.
Kali ini panggilanku dijawab setelah dering ketujuh.
“Bu, Arga butuh uang sekarang. Laras masuk IGD.”
“Kan sudah Ibu bilang, uangnya tidak ada.”
“Aku tahu soal ruko Salma.”
Di seberang sana mendadak hening.
“Salma cerita apa kepadamu?”
“Dia bilang ruko itu dibeli pakai uang tabunganku. Benar, Bu?”
Ibu menarik napas panjang.
“Arga, Salma itu adikmu. Dia perlu modal usaha. Kamu sudah punya pekerjaan bagus, sedangkan adikmu belum punya apa-apa.”
Aku memejamkan mata.
“Jadi selama ini Ibu membohongiku?”
“Jaga bicaramu! Ibu yang membesarkanmu sampai berhasil!”
“Aku tidak pernah melupakan itu, Bu. Tapi uang itu untuk rumahku bersama Laras!”
“Rumah bisa dibeli nanti. Adikmu lebih membutuhkan.”
Aku menggigit bibir hingga terasa perih.
“Bu, Laras mungkin kehilangan nyawanya malam ini. Dia kekurangan uang untuk makan dan berobat. Apa Ibu tahu itu?”
“Jangan menyalahkan Ibu karena istrimu tidak pandai mengurus keuangan!”
Untuk pertama kalinya, aku tidak lagi mampu menahan amarah.
“Cukup, Bu!”
Suaraku menggema di lorong rumah sakit.
“Aku sudah hampir empat tahun mengabaikan istriku demi menuruti semua perkataan Ibu. Sekarang aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya lagi.”
Aku memutus sambungan.
Malam itu aku menghubungi sahabatku, Dimas, yang bekerja sebagai manajer keuangan di sebuah perusahaan logistik. Tanpa banyak bertanya, ia datang membawa bantuan dana darurat.
“Urus Laras dulu,” katanya sambil menepuk bahuku. “Soal uang kita bicarakan belakangan.”
Aku menangis di hadapannya.
Menjelang pagi, kondisi Laras mulai stabil. Namun ia masih membutuhkan perawatan dan pemeriksaan lebih lanjut.
Ketika akhirnya aku diizinkan masuk, aku melihat istriku terbaring dengan selang infus dan wajah yang masih pucat.
Aku duduk di sampingnya.
“Maafkan aku, Ras.”
Kelopak matanya bergerak perlahan.
“Mas Arga?”
Aku langsung menggenggam tangannya.
“Aku di sini.”
Laras memandang langit-langit kamar sebelum berbisik, “Aku masih hidup, ya?”
Pertanyaan itu menghancurkan hatiku.
“Jangan bicara begitu. Kamu akan sembuh.”
Air mata mengalir dari sudut matanya.
“Aku sempat berpikir kalau aku meninggal, mungkin Mas baru percaya kalau aku benar-benar sakit.”
Aku menunduk. Tidak ada pembelaan yang pantas keluar dari mulutku.
“Aku salah, Ras. Salah besar.”
Laras menarik tangannya perlahan.
“Mas tahu bagian paling menyakitkan dari semuanya?”
Aku menggeleng.
“Bukan karena aku harus makan bubur instan. Bukan karena aku menjual cincin nenek. Tapi karena setiap kali aku meminta pertolongan, orang yang paling kuharapkan membelaku justru membuatku merasa bersalah.”
Aku tidak mampu menjawab.
“Tiga bulan lalu, aku pernah hampir pingsan di kamar mandi. Aku menelepon Mas lima kali.”
Aku mengingat hari itu. Aku sedang menghadiri makan malam bersama klien dan mematikan suara ponsel.
“Setelah Mas pulang, aku cerita. Tapi Mas malah bilang jangan mengganggu pekerjaanmu dengan masalah kecil.”
Aku menutup wajah dengan kedua tangan.
“Aku tidak meminta suami kaya, Mas. Aku cuma ingin punya suami yang mau mendengarkan.”
Keesokan harinya, ketika Laras beristirahat, Salma datang ke rumah sakit bersama ibu.
Ibu langsung menghampiriku.
“Arga, kenapa kamu bicara kasar semalam? Ibu sampai tidak bisa tidur.”
Aku berdiri.
“Bu, kita bicara di luar.”
Namun Salma tiba-tiba menyela.
“Mas, aku sebenarnya mau menjelaskan soal ruko itu.”
Ibu menoleh tajam.
“Salma, diam!”
Adikku tampak gugup.
“Enggak, Bu. Aku sudah tidak tahan.”
Salma mengeluarkan sebuah map dari tasnya.
“Mas, ruko itu memang dibeli menggunakan uangmu. Tapi aku baru tahu setelah proses pembelian selesai.”
Aku mengerutkan kening.
“Maksudmu?”
“Ibu bilang uangnya berasal dari hasil penjualan tanah peninggalan Ayah. Aku percaya.”
Salma membuka map dan memperlihatkan salinan perjanjian pembelian.
“Nama pembelinya Ibu. Tapi tiga bulan lalu, Ibu memintaku menandatangani surat pinjaman dengan jaminan ruko tersebut.”
Darahku berdesir.
“Pinjaman?”
Salma mengangguk sambil menangis.
“Ruko itu sudah dijaminkan ke bank untuk pinjaman usaha sebesar delapan ratus juta rupiah.”
Aku menatap ibu.
“Uangnya ke mana?”
Ibu memalingkan wajah.
“Untuk investasi.”
“Investasi apa?”
Tidak ada jawaban.
Salma kembali berbicara.
“Mas, aku sudah memeriksa rekening usaha yang Ibu suruh aku kelola. Uang pinjaman itu sebagian besar ditransfer ke seseorang bernama Hendra.”
Aku mengenal nama tersebut.
Hendra adalah pria yang selama dua tahun terakhir sering disebut ibu sebagai penasihat investasi keluarga.
“Bu, sebenarnya apa yang terjadi?”
Akhirnya ibu terduduk.
“Hendra menjanjikan keuntungan besar. Dia bilang kalau uangnya diputar enam bulan, hasilnya bisa dua kali lipat.”
Aku terpaku.
“Dan sekarang?”
“Ibu tidak bisa menghubunginya.”
Salma menangis semakin keras.
“Orangnya menghilang, Mas. Kantornya sudah kosong.”
Aku merasa seluruh kekuatanku lenyap.
Bertahun-tahun aku bekerja untuk masa depan keluargaku. Uang yang seharusnya menjadi tempat berlindung bagi istriku justru berakhir di tangan orang asing.
Namun sesuatu yang lebih menyakitkan terjadi ketika Laras muncul di ambang pintu kamar, didampingi seorang perawat.
Rupanya ia mendengar sebagian percakapan kami.
Ibu langsung menghampirinya.
“Laras, kamu harus mengerti. Semua ini cuma kesalahpahaman.”
Laras menatap ibu dengan mata berkaca-kaca.
“Bu, saya tidak pernah meminta uang Mas Arga untuk membeli perhiasan atau barang mahal. Saya cuma pernah meminta bantuan membeli obat.”
Ibu terdiam.
“Tapi Ibu bilang saya perempuan yang tidak tahu diri.”
“Laras, Ibu tidak bermaksud…”
“Saya hampir meninggal, Bu.”
Suara Laras begitu pelan, tetapi membuat semua orang membisu.
“Sementara uang yang katanya sedang ditabung untuk rumah kami, ternyata digunakan untuk sesuatu yang bahkan tidak pernah kami sepakati.”
Aku segera mendekatinya.
“Ras, kamu harus kembali beristirahat.”
Ia mengangguk, lalu menatapku.
“Mas, setelah sembuh nanti, aku ingin tinggal sendiri dulu.”
Jantungku seolah diremas.
“Jangan, Ras. Beri aku kesempatan memperbaiki semuanya.”
“Aku tidak bilang ingin langsung bercerai.”
Laras menahan tangis.
“Aku cuma ingin belajar hidup tanpa terus merasa takut. Takut uang habis, takut sakit, dan takut dimarahi orang yang seharusnya menyayangiku.”
Aku akhirnya mengangguk.
“Aku akan menghormati keputusanmu.”
Selama dua minggu berikutnya, aku mengurus Laras, memastikan perawatan dan kontrol lanjutannya berjalan, sekaligus mulai membenahi keuanganku.
Aku menghentikan transfer rutin kepada ibu. Aku meminta bantuan penasihat hukum untuk menelusuri dokumen pembelian ruko, pinjaman, dan transaksi yang melibatkan Hendra. Salma bersedia membantu menyerahkan seluruh bukti yang dimilikinya.
Namun aku sadar, mengembalikan uang bukanlah persoalan terpenting.
Persoalan terbesarnya adalah mengembalikan kepercayaan Laras.
Tiga bulan kemudian, Laras sudah jauh lebih sehat. Setelah menjalani penanganan medis dan masa pemulihan, ia kembali bekerja secara bertahap.
Kami belum tinggal serumah.
Ia menyewa sebuah kamar kecil dekat kantornya, sementara aku tetap menempati rumah kontrakan lama.
Setiap akhir pekan, aku mengantarnya kontrol atau sekadar mengajaknya makan. Tidak pernah lagi aku memaksanya pulang.
Suatu sore, kami duduk di warung soto sederhana di Jakarta Selatan.
Laras menyantap makanannya perlahan.
Aku memperhatikannya hingga ia tersenyum.
“Kenapa melihatku terus?”
Aku menggeleng.
“Cuma senang melihat kamu bisa makan dengan lahap.”
Ia tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tawanya terdengar begitu ringan.
Kemudian ia mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya.
“Mas, aku punya sesuatu.”
Jantungku berdebar ketika membuka amplop itu.
Di dalamnya terdapat hasil pemeriksaan terbaru.
Dokter menyatakan kondisinya membaik dan memberikan rencana pemantauan selanjutnya.
Aku mengembuskan napas lega.
“Syukurlah, Ras.”
Namun di balik kertas itu ada selembar foto kecil.
Aku tertegun.
Foto tersebut memperlihatkan sebuah rumah sederhana bercat putih dengan halaman mungil.
“Ini apa?”
Laras tersenyum.
“Rumah kontrakan yang baru kutemukan. Pemiliknya mengizinkan aku menanam bunga di halaman.”
Aku memandangnya tanpa mengerti.
“Untuk kamu sendiri?”
Laras menggeleng.
“Kalau Mas benar-benar mau belajar membangun rumah tangga yang berbeda, mungkin suatu hari nanti kita bisa tinggal di sana bersama.”
Mataku langsung panas.
“Tapi aku belum punya tabungan untuk membeli rumah, Ras.”
Laras menggenggam tanganku.
“Mas, dari dulu aku tidak pernah membutuhkan rumah besar.”
Ia tersenyum sambil menahan air mata.
“Aku hanya ingin pulang ke tempat di mana aku merasa aman.”
Enam bulan kemudian, kami akhirnya kembali tinggal bersama di rumah kontrakan kecil itu.
Ibu mulai menjalani proses penyelesaian masalah keuangan dan hukum terkait investasi tersebut. Hubunganku dengannya belum sepenuhnya pulih, tetapi aku tetap membantunya memenuhi kebutuhan dasar tanpa lagi mengorbankan kehidupan rumah tanggaku.
Suatu malam, aku pulang setelah bekerja.
Di meja makan sudah tersedia dua piring nasi hangat, sayur bening, dan tempe goreng.
Laras sedang duduk sambil membaca buku.
Aku menghampirinya.
“Harum sekali. Masak apa hari ini?”
Ia tersenyum.
“Makanan sederhana. Enggak apa-apa, kan?”
Aku menarik kursi dan duduk di sampingnya.
“Laras, meskipun suatu hari nanti kita cuma punya nasi dan garam, aku tidak akan pernah lagi menyalahkanmu.”
Ia memandangku lama.
Lalu berkata pelan, “Kalau begitu, besok kita masak sama-sama, ya?”
Aku mengangguk.
“Tentu.”
Malam itu aku kembali teringat semangkuk bubur instan yang pecah di lantai, pada pukul satu dini hari, ketika hampir saja aku kehilangan perempuan yang paling tulus mencintaiku.
Dulu aku mengira menjadi anak berbakti berarti menyerahkan seluruh hasil kerja keras kepada ibu tanpa pernah bertanya.
Aku juga mengira menjadi suami yang baik cukup dengan bekerja keras dan pulang membawa gelar kepala keluarga.
Ternyata aku keliru.
Berbakti kepada orang tua tidak berarti membiarkan pasangan hidup menderita. Dan menjadi suami bukan sekadar mencari uang, melainkan hadir, mendengarkan, melindungi, serta bertanggung jawab atas keluarga yang telah dibangun bersama.
Kini aku mengerti bahwa kemewahan terbesar dalam rumah tangga bukanlah rumah megah ataupun saldo rekening yang panjang.
Melainkan ketika dua orang dapat duduk di meja makan yang sama tanpa rasa takut, saling mendengarkan, dan tahu bahwa sesulit apa pun keadaan, mereka tidak akan menghadapi semuanya sendirian.
Sebab terkadang, seseorang baru menyadari betapa berharganya semangkuk makanan sederhana setelah hampir kehilangan tangan yang selama ini menyiapkannya dengan penuh cinta.
