SETIAP HARI SUAMIKU MEMASAK HIDANGAN YANG SANGAT LEZAT

Daniel berdiri membelakangi pintu dapur.

Tangannya gemetar saat meletakkan sepotong rendang ke piring yang tidak berisi nasi.

Lalu, sesuatu yang membuat bulu kudukku meremang terjadi.

Dia menarik kursi di depan piring kosong itu.

Seolah-olah seseorang sedang duduk di sana.

“Ayah… hari ini aku berhasil membuatnya lebih empuk,” bisiknya pelan.

Dadaku langsung sesak.

Ayah?

Bukankah ayah Daniel sudah meninggal hampir lima tahun lalu?

Aku menahan napas agar tidak bersuara.

Daniel tersenyum kecil ke arah kursi kosong itu.

“Ayah pasti akan bilang bumbunya kurang daun jeruk lagi.”

Dia tertawa lirih.

Lalu perlahan mengambil piring itu… dan membawanya ke wastafel.

Seluruh isi rendang dibuang.

Aku terpaku.

Saat itulah kakiku tanpa sengaja menyenggol vas bunga.

Prang!

Daniel menoleh dengan wajah pucat.

“Rina…”

Kami saling menatap cukup lama.

Aku tidak sanggup lagi berpura-pura.

“Apa yang sebenarnya kamu lakukan?”

Dia menunduk.

“Sudah berapa lama kamu berdiri di situ?”

“Cukup lama untuk melihat semuanya.”

Air mukanya langsung berubah.

Seperti seseorang yang rahasia terbesarnya baru saja terbongkar.

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak kami menikah enam tahun lalu, Daniel menangis di hadapanku.

Tangis yang benar-benar pecah.

“Aku capek menyembunyikannya…”

Aku menggenggam tangannya.

“Ceritakan.”

Dia menarik napas panjang.

“Waktu kecil… Ayah selalu memasak.”

Aku terdiam.

“Ibu meninggal saat aku berumur sembilan tahun. Sejak itu ayah bekerja sebagai sopir truk di siang hari dan memasak setiap malam.”

Matanya menerawang jauh.

“Setiap kali masakan berhasil, ayah selalu berkata…”

Daniel berhenti.

“‘Kalau orang yang kita sayang makan dengan lahap, rasa lelah langsung hilang.'”

Aku mulai memahami dari mana kebiasaannya berasal.

“Tapi ayah tidak pernah makan banyak.”

“Kenapa?”

Daniel tersenyum pahit.

“Karena sebenarnya makanan itu tidak cukup.”

Aku memandangnya.

“Ayah selalu bilang beliau sudah makan di luar.”

Padahal…

Suara Daniel bergetar.

“Beliau sengaja berbohong supaya aku bisa makan lebih banyak.”

Air mataku mulai menggenang.

“Aku baru tahu setelah dewasa.”

Daniel mengusap wajahnya.

“Setelah ayah meninggal, tetangga lama bercerita kalau selama bertahun-tahun ayah sering hanya minum air putih dan makan kerupuk di terminal.”

Dadaku terasa diremas.

“Ayah lapar… supaya aku kenyang.”

Ruangan menjadi sunyi.

“Tapi… apa hubungannya dengan sekarang?”

Daniel memejamkan mata.

“Aku terkena COVID berat tiga tahun lalu.”

Aku mengangguk.

Aku masih mengingat masa itu.

Daniel dirawat hampir sebulan.

Dia memang sembuh.

Setidaknya… itulah yang kukira.

“Ada komplikasi.”

“Apa?”

“Aku kehilangan hampir seluruh indra perasaku.”

Aku membeku.

“Apa?”

“Aku tidak bisa lagi menikmati rasa.”

Kalimat itu terasa seperti palu menghantam kepalaku.

“Aku masih bisa membedakan asin, manis, atau pedas sedikit… tapi hampir semuanya terasa hambar.”

“Tapi… semua masakanmu luar biasa.”

“Itulah lucunya.”

Dia tertawa getir.

“Aku memasak bukan berdasarkan rasa lagi.”

“Lalu?”

“Berdasarkan ingatan.”

Dia membuka laci dapur.

Di dalamnya ada puluhan buku catatan.

Setiap halaman penuh angka.

“2,5 gram garam.”

“7 menit api kecil.”

“Daun salam dimasukkan setelah santan mendidih.”

“Bawang digoreng sampai warna cokelat nomor tiga.”

Aku membuka halaman demi halaman.

Semuanya ditulis sangat rinci.

“Ini semua…”

“Aku membuat sistem sendiri.”

“Aku menghafal setiap aroma, setiap tekstur, setiap perubahan warna.”

“Tapi aku tidak tahu hasilnya.”

“Lalu bagaimana kamu yakin rasanya enak?”

Dia menatapku.

“Karena wajahmu.”

Aku tercekat.

“Kalau kamu menambah nasi…”

“Kalau kamu diam beberapa detik setelah suapan pertama…”

“Kalau kamu menghabiskan kuah sampai tetes terakhir…”

“Itu berarti aku berhasil.”

Air mataku akhirnya jatuh.

“Jadi selama ini…”

“Aku tidak makan.”

“Karena bagiku semuanya sama saja.”

“Hambar.”

“Tidak ada bedanya antara rendang, soto, atau mie instan.”

Aku menangis tanpa suara.

“Tapi melihatmu menikmati makanan…”

Dia tersenyum.

“…aku merasa masih bisa merasakan sesuatu.”

Aku memeluknya seerat mungkin.

“Kenapa tidak pernah bilang?”

“Aku takut.”

“Takut apa?”

“Kamu menikahi orang yang suka memasak.”

“Bukan orang yang tidak bisa menikmati masakannya sendiri.”

Aku memukul pelan dadanya.

“Bodoh.”

“Aku menikahi Daniel.”

“Bukan lidahmu.”

Malam itu kami makan bersama untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun.

Daniel tetap tidak merasakan apa pun.

Namun kali ini dia ikut duduk.

Aku menyuapkan satu potong rendang ke mulutnya.

“Lalu?”

Dia mengunyah.

“Hambar.”

Aku tersenyum.

“Kalau begitu biar aku yang jadi lidahmu.”

Sejak hari itu, setiap kali Daniel memasak, aku menjadi pencicip resminya.

Aku akan berkata,

“Kurang sedikit garam.”

“Tambah serai.”

“Api terlalu besar.”

Dia mencatat semuanya.

Sedikit demi sedikit resep-resepnya menjadi semakin sempurna.

Beberapa bulan kemudian, seorang teman mengunggah video Daniel memasak ke media sosial.

Tak disangka, videonya viral.

Orang-orang kagum melihat ketelitian dan ketulusannya.

Banyak yang mengira itu sekadar konten.

Tak ada yang tahu bahwa pria di balik senyum tenang itu bahkan tidak bisa menikmati satu suap pun dari makanan yang dimasaknya.

Setahun kemudian kami membuka sebuah rumah makan kecil.

Namanya sederhana.

“Rasa untuk yang Tersayang.”

Di pintu masuk tergantung sebuah papan kayu.

Di bawah nama restoran ada satu kalimat yang ditulis dengan tangan Daniel:

“Kadang, cinta bukan tentang siapa yang paling banyak menikmati. Cinta adalah ketika seseorang tetap memberikan yang terbaik, bahkan saat ia sendiri tak bisa merasakan hasilnya.”

Sejak hari itu, setiap kali ada pelanggan memuji rendang atau sotonya, Daniel hanya akan menoleh kepadaku.

Aku cukup mengangguk pelan.

Dan dari senyum kecil di wajahnya, aku tahu… itu sudah lebih dari cukup.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang