Isabel berjalan perlahan melewati lobi marmer yang setiap hari dibersihkan hingga mengilap. Tidak ada seorang pun yang menawarkan bantuan.
Padahal, di balik pakaian lusuh itu, sidik jarinya adalah salah satu dari tiga sidik jari yang mampu membuka seluruh sistem keamanan gedung.
Ia sengaja tidak menggunakannya.
Hari itu ia ingin masuk seperti orang biasa.
Di meja resepsionis, seorang wanita muda bernama Karen sedang sibuk memeriksa ponselnya.
“Permisi, saya ingin bertemu bagian HR,” kata Isabel dengan sopan.
Karen bahkan tidak menatap wajahnya.
“Ada janji?”
“Tidak.”
“Kalau begitu tunggu.”
“Lama?”
“Tergantung. Bisa satu jam, bisa seharian.”
Nada suaranya datar, penuh rasa bosan.
Di saat yang sama, pintu putar terbuka.
Seorang pria tua berpakaian sederhana datang sambil membawa map lusuh.

Rambutnya sudah memutih.
Sepatunya bahkan lebih tua daripada milik Isabel.
“Pak, ada yang bisa saya bantu?” tanya Karen tiba-tiba dengan suara ramah.
Pria itu tersenyum.
“Saya hanya mau mengantar dokumen.”
“Silakan duduk, Pak.”
Isabel memperhatikan semuanya.
Ia tidak berkata apa-apa.
Lima menit kemudian ia baru sadar mengapa perlakuannya berbeda.
Pria tua itu ternyata salah satu anggota dewan komisaris yang jarang muncul ke kantor dan memang lebih suka berpakaian sederhana.
Karen mengenal wajahnya.
Sedangkan dirinya…
Tak seorang pun pernah benar-benar melihat wajah pemilik perusahaan.
Ia hanya dianggap perempuan miskin.
Isabel mencatat nama Karen di buku kecil kecil yang selalu dibawanya.
Bukan untuk menghukum.
Tetapi untuk mengevaluasi.
Karena perusahaan yang sehat tidak hanya dinilai dari laba.
Melainkan dari cara orang-orangnya memperlakukan manusia.
Pukul delapan lewat empat puluh lima.
Ia menuju lantai lima belas.
Divisi Operasional Regional.
Tempat Julian Mendoza menjadi raja kecil.
Begitu pintu lift terbuka, suasana langsung berubah.
Suara tawa.
Suara keyboard.
Percakapan mengenai target penjualan.
Semua tampak normal.
Namun hanya beberapa menit.
Seorang office boy bernama Nico sedang membawa dua dus kertas fotokopi.
Tubuhnya kecil.
Keringat membasahi dahinya.
Ketika salah satu dus terjatuh, puluhan rim kertas berserakan.
Belum sempat Nico memungutnya…
Julian muncul.
“Apa yang kau lakukan?”
Maaf, Pak…
BRAK!
Julian menendang salah satu dus hingga kertas kembali berhamburan.
“Kalau bodoh jangan kerja di sini!”
Semua orang mendengar.
Tak seorang pun bergerak.
Nico buru-buru berlutut mengumpulkan kertas.
Tangannya gemetar.
Isabel ikut berjongkok membantu.
“Terima kasih, Bu,” bisik Nico pelan.
Julian memandang Isabel.
“Lho?”
“Kamu siapa?”
“Saya…”
Belum selesai menjawab.
Julian menunjuk wajahnya.
“Cleaning service baru?”
“Bukan.”
“Kurir?”
“Bukan.”
“Kalau bukan, kenapa masih berdiri di sini?”
Isabel tersenyum tipis.
“Saya hanya sedang membantu.”
Julian tertawa keras.
“Membantu?”
“Lihat pakaianmu dulu.”
Beberapa pegawai ikut terkekeh.
Yang lain memilih diam.
Hanya seorang staf perempuan bernama Mia yang tampak tidak nyaman.
Ia berdiri lalu membantu Nico mengangkat dus.
Julian langsung melotot.
“Mia.”
“Ya, Pak.”
“Kalau kamu masih punya banyak waktu untuk jadi pahlawan, berarti targetmu terlalu ringan.”
Mia langsung pucat.
“Maaf, Pak.”
“Kembali kerja.”
Mia menunduk.
Namun sebelum pergi, ia sempat berbisik kepada Isabel.
“Ibu tidak apa-apa?”
Isabel mengangguk.
Tatapan mereka bertemu sesaat.
Dalam hati Isabel menulis satu nama lagi.
Mia Santos.
Seseorang yang masih memiliki keberanian.
Satu jam berikutnya…
Isabel sengaja berkeliling ke setiap sudut lantai.
Ia melihat budaya yang mengerikan.
Supervisor memaki bawahan.
Staf magang disuruh membeli kopi dengan uang sendiri.
Petugas kebersihan dimarahi karena lift terlambat, padahal bukan tanggung jawab mereka.
Semua dilakukan seolah-olah hal itu normal.
Isabel mulai memahami mengapa laporan anonim terus berdatangan.
Masalahnya jauh lebih besar daripada yang dibayangkannya.
Budaya perusahaan telah diracuni.
Dan sumber racunnya…
Julian Mendoza.
Menjelang pukul sebelas.
Seorang wanita paruh baya datang membawa bekal makan siang.
Ia mengenakan pakaian sederhana.
Wajahnya penuh senyum.
“Permisi… saya ibu dari Rina.”
“Saya hanya mau menitipkan makanan.”
Belum sempat ia melangkah lebih jauh.
Julian menghentikannya.
“Siapa yang mengizinkan orang luar masuk?”
“Saya hanya…”
“Keluar.”
“Tapi anak saya belum makan sejak pagi.”
“Saya bilang keluar.”
Wanita itu memohon.
“Sekali saja, Pak.”
Julian mengambil kotak makan itu.
Lalu meletakkannya di atas meja resepsionis.
“Satpam!”
“Antar ibu ini keluar.”
Isabel melihat air mata wanita itu mulai jatuh.
Saat itulah sesuatu di dalam dirinya mulai berubah.
Ia datang untuk mengamati.
Namun semakin lama…
Ia semakin sulit menahan diri.
Ia ingin menghentikan semuanya saat itu juga.
Tetapi ia tahu…
Jika identitasnya terbongkar terlalu cepat, ia hanya akan menangkap satu orang.
Sedangkan yang ia inginkan adalah membongkar seluruh jaringan penyalahgunaan kekuasaan di Altavista Group.
Karena ia mulai menyadari satu kenyataan yang mengerikan.
Julian tidak mungkin berani bertindak sekejam itu selama bertahun-tahun tanpa merasa benar-benar aman.
Artinya…
Masih ada orang yang lebih tinggi darinya.
Seseorang yang selama ini melindunginya dari balik bayangan.
Dan Isabel bertekad menemukan siapa dalangnya, sebelum akhirnya membuka topengnya sendiri.
