“Orang yang menyerang saya adalah ibumu, Irfan.”
Kalimat Pak Arif membuat tubuhku seolah kehilangan tenaga. Aku menatapnya dengan mata membelalak, berharap lelaki tua itu segera mengatakan bahwa dirinya hanya salah melihat.
Namun, Pak Arif justru menggenggam tanganku erat.

“Saya tidak mungkin keliru. Saya mengenal ibumu sejak kamu masih kecil.”
Aku menggeleng berkali-kali.
“Tidak mungkin, Pak. Ibu bahkan tidak pernah tega membunuh seekor cicak. Bagaimana mungkin dia menyerang Bapak?”
“Saya juga tidak mengerti kenapa dia melakukannya.”
Pak Arif menarik napas dengan susah payah.
“Malam itu saya melihat ibumu keluar dari gudang belakang. Dia membawa sebuah tas hitam. Ketika saya bertanya apa yang sedang dilakukannya, dia terlihat sangat ketakutan.”
“Lalu?”
“Dia meminta saya melupakan apa yang baru saja saya lihat. Tapi saya terus bertanya. Setelah itu, seseorang memukul kepala saya dari belakang.”
Aku terdiam.
“Jadi Bapak sebenarnya tidak melihat siapa yang memukul?”
Pak Arif menunduk.
“Tidak. Tapi sebelum pingsan, saya mendengar suara ibumu berkata agar orang itu segera membawa saya pergi.”
Jantungku berdegup semakin keras.
Berarti Pak Arif sebenarnya hanya menduga Ibu terlibat dalam penyerangan itu. Masih ada seseorang yang bersamanya malam tersebut.
“Pak, kenapa Bapak tidak menjelaskan semuanya kepada polisi?”
“Karena keesokan harinya seseorang mengirim foto cucu saya yang sedang berangkat sekolah. Di belakang foto itu tertulis ancaman agar saya tutup mulut.”
Aku merasakan hawa dingin menjalar di punggung.
Seseorang telah mengawasi keluarga Pak Arif.
Aku meminta izin memotret pesan ancaman tersebut jika masih tersimpan. Pak Arif menunjukkan ponselnya dan membiarkanku menyimpan salinannya.
“Saya akan menyerahkan ini kepada polisi, Pak.”
“Irfan, jangan gegabah.”
“Saya tidak mau ada orang lain yang terluka.”
Setelah memastikan Pak Arif kembali beristirahat, aku keluar menuju lorong rumah sakit.
Jam menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh menit malam.
Aku langsung menelepon Ibu.
Panggilanku tidak dijawab.
Aku mencoba sekali lagi, tetapi hasilnya sama.
Ketika hendak menghubungi Ayah, tiba-tiba sebuah pesan masuk dari nomor Ibu.
Irfan, jangan pulang malam ini. Apa pun yang kamu dengar, jangan datang ke gudang.
Aku membaca pesan itu berulang kali.
Belum sempat membalas, pesan kedua muncul.
Maafkan Ibu. Ada sesuatu yang seharusnya Ibu ceritakan sejak lama.
Tanganku mulai gemetar.
Aku segera menelepon Ayah.
Kali ini panggilanku tersambung.
“Fan, kamu masih di rumah sakit?”
“Iya, Yah. Ibu di mana?”
Ayah terdiam beberapa detik.
“Kenapa mencari Ibu?”
“Aku menerima pesan aneh darinya.”
“Pesan apa?”
Aku tidak langsung menjawab.
“Ayah sekarang di rumah?”
“Iya.”
“Kalau begitu, kenapa suara Ayah seperti sedang berada di luar?”
Dari seberang telepon terdengar suara angin dan deru kendaraan.
Ayah menarik napas panjang.
“Irfan, dengarkan Ayah. Jangan pulang sebelum Ayah meneleponmu lagi.”
Sambungan langsung terputus.
Aku berdiri mematung.
Dua orang yang paling dekat denganku sama-sama melarangku pulang.
Justru karena itulah aku semakin yakin bahwa sesuatu sedang terjadi di rumah kami.
Aku segera menghubungi polisi yang menangani kasus Pak Arif dan menyampaikan informasi terbaru. Petugas memintaku tetap berada di tempat aman sambil menunggu tindak lanjut.
Namun, aku teringat foto Ayah yang masih kusimpan.
Aku mengeluarkannya dari saku dan memeriksa bagian belakang sekali lagi.
Di bawah cahaya lampu lorong, terlihat bekas tulisan yang sebelumnya tertutup noda.
Aku mendekatkan foto itu ke wajah.
Tanggal 17 Agustus 1998.
Di bawahnya terdapat dua nama.
Surya dan Satria.
Aku membeku.
Nama Ayah adalah Surya.
Lalu siapa Satria?
Foto tersebut memperlihatkan seorang pria yang sangat mirip Ayah ketika masih muda. Namun, setelah kuperhatikan lebih teliti, ada bekas luka kecil di dekat alis kirinya.
Ayah tidak memiliki bekas luka itu.
Apakah selama ini aku salah mengenali orang dalam foto?
Aku langsung teringat perkataan Pak Banu.
Ayahmu pasti tahu semuanya.
Mendadak pikiranku dipenuhi kemungkinan mengerikan.
Sekitar tengah malam, polisi menghubungiku dan meminta aku datang memberikan keterangan tambahan ke kantor mereka. Aku membawa foto tersebut beserta salinan ancaman dari ponsel Pak Arif.
Seorang penyidik bernama Pak Hendra menerima keteranganku.
Ketika melihat foto itu, ekspresinya berubah serius.
“Di mana kamu menemukan foto ini?”
“Di gudang bawah tanah rumah saya, Pak.”
Pak Hendra memeriksa wajah pria dalam foto.
“Apakah ayahmu pernah bercerita memiliki saudara kembar?”
Aku menggeleng.
“Tidak pernah.”
Beliau membuka sebuah berkas dari mejanya.
“Kami sedang menyelidiki sebuah kasus orang hilang yang dilaporkan lebih dari dua puluh tahun lalu.”
Aku menahan napas.
“Siapa orangnya?”
“Namanya Satria Pranoto.”
Aku hampir terjatuh dari kursi.
Nama itu sama dengan tulisan di belakang foto.
“Dia saudara kembar ayahmu,” lanjut Pak Hendra. “Setidaknya begitulah yang tercatat dalam dokumen keluarga lama.”
Aku menutup mulut.
Selama hidupku, Ayah tidak pernah sekalipun mengatakan bahwa dia memiliki saudara kembar.
“Kenapa dia menghilang, Pak?”
“Itulah yang sedang kami cari tahu.”
Pak Hendra kemudian memperlihatkan salinan berita lama tentang kebakaran sebuah pabrik di kawasan Bekasi.
Peristiwa itu terjadi pada akhir tahun 1998.
Seorang pekerja meninggal, beberapa lainnya terluka, dan seorang pengawas bernama Satria dinyatakan hilang setelah kebakaran.
Namun, penyelidikan saat itu menemukan dugaan bahwa kebakaran tersebut berkaitan dengan penggelapan dana perusahaan.
“Satria menjadi salah satu orang yang dicari untuk dimintai keterangan, tetapi keberadaannya tidak pernah diketahui.”
Aku menatap dokumen itu dengan kepala berdenyut.
“Lalu hubungannya dengan gudang rumah kami?”
“Kami belum bisa memastikan.”
Aku memberitahukan kebiasaan Ayah membawa makanan ke gudang setiap pukul dua dini hari.
Pak Hendra segera mencatatnya.
Setelah mendengar seluruh ceritaku, beliau meminta aku tidak kembali ke rumah sendirian.
Menjelang pukul satu dini hari, dua kendaraan polisi bergerak menuju rumah kami. Aku ikut bersama salah satu petugas.
Ketika tiba, semua lampu rumah dalam keadaan mati.
Pintu pagar sedikit terbuka.
Aku merasakan firasat buruk.
Pak Hendra meminta aku menunggu di luar sementara beberapa petugas memeriksa rumah.
Tidak lama kemudian, seorang polisi keluar.
“Pak, ada suara dari ruang bawah tanah.”
Kami segera menuju bagian belakang.
Pintu gudang terbuka lebar.
Dari bawah terdengar suara seorang perempuan menangis.
Aku mengenalinya.
Ibu.
“Ibu!”
Aku hampir berlari turun, tetapi Pak Hendra menahanku.
“Biarkan petugas memeriksa lebih dulu.”
Beberapa saat kemudian, terdengar suara laki-laki berteriak.
“Jangan mendekat!”
Suara itu sangat mirip dengan suara Ayah.
Aku berdiri gemetar di anak tangga.
“Yah, ini Irfan!”
Keadaan mendadak sunyi.
Kemudian sebuah suara menjawab.
“Irfan? Kamu seharusnya tidak datang!”
Aku tidak tahu apakah suara itu benar-benar milik Ayah.
Tak lama kemudian, polisi berhasil mengamankan seorang pria dari ruangan tersembunyi di balik lemari kayu.
Ketika dia dibawa keluar, aku hampir tidak percaya dengan apa yang kulihat.
Wajahnya persis seperti Ayah.
Namun, terdapat bekas luka panjang di dekat alis kirinya.
Pria dalam foto.
Satria.
Dia mengenakan pakaian lusuh dan terlihat sangat kurus.
Di belakangnya, Ibu berjalan sambil menangis.
“Irfan, maafkan Ibu.”
Aku menatapnya dengan mata basah.
“Apa yang sebenarnya terjadi, Bu?”
Ibu belum sempat menjawab ketika Ayah muncul dari pintu belakang rumah.
Wajahnya pucat.
“Satria…”
Pria yang baru saja diamankan polisi itu tertawa pahit.
“Akhirnya kita bertemu lagi, Kak.”
Aku memandang keduanya bergantian.
Dua pria dengan wajah hampir sama berdiri di hadapanku.
Salah satunya adalah ayah yang membesarkanku.
Sementara yang lain selama ini bersembunyi di bawah rumah kami.
Namun, kejutan terbesar belum berakhir.
Satria menatapku lama.
“Kamu sudah besar, Irfan.”
Aku merasakan tubuhku menegang.
“Bagaimana Bapak tahu nama saya?”
Dia tersenyum sedih.
“Karena aku pernah menggendongmu ketika kamu baru lahir.”
Ayah langsung berteriak.
“Cukup, Satria!”
Namun, pria itu tidak berhenti.
“Sudah waktunya dia mengetahui semuanya.”
Pak Hendra meminta semua orang menenangkan diri.
Kami kemudian dibawa ke kantor polisi untuk memberikan keterangan secara terpisah.
Di sanalah akhirnya rahasia yang disembunyikan selama puluhan tahun mulai terbongkar.
Ternyata Satria tidak menghilang setelah kebakaran pabrik.
Dia melarikan diri karena mengetahui bahwa perusahaan tempatnya bekerja telah melakukan manipulasi laporan keuangan dan menggunakan dokumen palsu untuk menutupi praktik ilegal.
Namun, sebelum berhasil menyerahkan bukti kepada pihak berwenang, dia justru dituduh sebagai dalang penggelapan.
Satria bersembunyi selama bertahun-tahun karena takut kepada orang-orang yang pernah mengancam keluarganya.
Beberapa bulan lalu, kondisinya memburuk akibat penyakit paru-paru yang tidak diobati dengan baik.
Dia akhirnya menghubungi Ayah dan meminta bantuan.
Ayah membawanya pulang secara diam-diam.
“Kenapa harus disembunyikan di gudang?” tanyaku kepada Ayah.
Ayah menunduk.
“Karena ada orang yang masih mencarinya. Ayah takut kamu dan Ibu ikut menjadi sasaran.”
“Tapi kenapa Ayah tidak meminta bantuan polisi?”
“Awalnya Ayah ingin melakukannya. Namun, Satria terus menolak. Dia takut orang yang pernah mengancamnya masih memiliki pengaruh.”
Aku menatap Ibu.
“Lalu kenapa Pak Arif diserang?”
Ibu menangis.
“Malam itu Ibu sedang membawa dokumen milik Satria keluar dari gudang. Pak Arif melihat Ibu dan mulai bertanya.”
“Siapa yang memukulnya?”
Ibu terdiam.
Kemudian Satria mengangkat tangan.
“Saya.”
Aku membeku.
“Saya panik ketika mendengar mereka bertengkar,” lanjutnya. “Saya keluar dari ruangan tersembunyi. Pak Arif terkejut melihat wajah saya yang sama dengan Surya.”
Satria menunduk.
“Dia berusaha pergi. Saya takut dia akan memanggil orang lain. Saya memukulnya dengan benda yang ada di dekat pintu.”
Aku mengepalkan tangan.
“Pak Arif hampir meninggal!”
“Saya tahu. Saya menyesal.”
“Tapi kenapa Ibu tidak langsung mengatakan yang sebenarnya?”
Ibu mengusap air matanya.
“Karena Satria mengancam akan menghilang lagi jika kami melapor. Ibu takut dia melukai orang lain atau mencelakai dirinya sendiri. Ibu membuat keputusan yang salah dengan menyembunyikannya.”
Aku memejamkan mata.
Selama ini Ayah dan Ibu mencoba melindungi keluarga dengan cara yang justru membahayakan orang lain.
Satria akhirnya mengakui perbuatannya dan menjalani proses hukum atas penyerangan terhadap Pak Arif.
Namun, ketika penyidik memeriksa barang-barang dari gudang, mereka menemukan sebuah koper besi berisi dokumen lama.
Di dalamnya terdapat catatan transaksi, salinan surat perjanjian, dan beberapa foto pekerja pabrik sebelum kebakaran.
Salah satu dokumen membuat Pak Hendra terdiam cukup lama.
Ternyata terdapat bukti bahwa kebakaran pabrik tersebut bukan kecelakaan biasa.
Ada indikasi seseorang sengaja memerintahkan penutupan jalur keluar darurat untuk menghalangi para pekerja mengambil dokumen perusahaan.
Penyelidikan lama akhirnya dibuka kembali.
Beberapa mantan pengurus perusahaan dipanggil untuk dimintai keterangan.
Namun, ada satu hal yang membuatku semakin gelisah.
Di antara foto-foto dalam koper, aku menemukan gambar seorang perempuan muda yang sedang menggendong bayi.
Perempuan itu adalah Ibu.
Sedangkan di sampingnya berdiri Satria.
Aku memandang foto tersebut lama.
“Ayah, kenapa Paman Satria berfoto bersama Ibu saat aku masih bayi?”
Ayah tidak langsung menjawab.
Wajahnya berubah pucat.
Ibu mulai menangis lagi.
Aku merasakan sesuatu yang buruk.
“Ada apa sebenarnya?”
Satria yang duduk di hadapanku akhirnya membuka suara.
“Irfan, ada satu rahasia lagi yang belum mereka ceritakan kepadamu.”
Ayah menutup wajahnya.
Aku menatap Satria dengan napas tertahan.
Pria itu menghela napas panjang.
“Dulu, sebelum ibumu menikah dengan Surya, kami pernah menjalin hubungan.”
Aku membeku.
“Apa?”
“Hubungan kami berakhir ketika saya dituduh terlibat dalam kasus perusahaan. Saya menghilang sebelum tahu bahwa ibumu sedang mengandung.”
Aku memandang Ibu.
Wajahnya basah oleh air mata.
“Bu…”
Ibu mengangguk perlahan.
“Irfan, maafkan Ibu.”
Dadaku terasa sesak.
“Jadi…”
Aku hampir tidak sanggup menyelesaikan kalimatku.
“Siapa ayah kandungku?”
Tidak seorang pun menjawab.
Satria menunduk.
Surya memandangku dengan mata berkaca-kaca.
Kemudian lelaki yang selama ini kupanggil Ayah itu berdiri dan menghampiriku.
Dia menggenggam bahuku.
“Fan, Ayah memang bukan orang yang memberimu kehidupan.”
Air mataku langsung mengalir.
“Tapi sejak pertama kali menggendongmu, Ayah sudah berjanji akan membesarkanmu seperti darah daging Ayah sendiri.”
Aku mundur selangkah.
Seluruh kenangan masa kecilku tiba-tiba berputar dalam kepala.
Ayah yang mengajariku naik sepeda.
Ayah yang menggendongku ketika demam.
Ayah yang bekerja lembur untuk membayar biaya kuliahku.
Ayah yang selalu datang menjemputku ketika hujan.
Apakah semua itu kini harus berubah hanya karena satu kenyataan tentang darah?
Aku menangis.
“Kenapa Ayah tidak pernah memberitahuku?”
“Karena Ayah takut kehilanganmu.”
Suaranya pecah.
“Setiap kali ingin bercerita, Ayah selalu membayangkan kamu akan membencinya dan pergi.”
Aku menatap wajah lelaki itu.
Untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan yang selama ini disembunyikannya.
Aku kemudian mendekat dan memeluknya erat.
“Yah, aku memang marah karena Ayah berbohong.”
Ayah menangis di bahuku.
“Tapi aku tidak akan melupakan siapa yang selama ini membesarkanku.”
Beberapa bulan kemudian, setelah menjalani pemeriksaan dan memperoleh penjelasan lengkap, hasil tes DNA memastikan bahwa Satria memang ayah biologisku.
Aku tidak langsung mampu menerimanya.
Satria pun tidak pernah memaksaku memanggilnya Ayah.
Dia hanya meminta kesempatan memperbaiki kesalahannya setelah menjalani proses hukum.
Sementara itu, Surya tetap menjadi orang yang paling sering kuhubungi ketika menghadapi kesulitan.
Suatu sore, aku menemaninya memperbaiki kursi tua di teras rumah.
“Fan,” katanya tiba-tiba, “kamu pernah menyesal punya ayah seperti Ayah?”
Aku menghentikan pekerjaanku.
Kemudian aku tersenyum.
“Yah, dulu aku penasaran kenapa Ayah selalu membawa makanan ke gudang setiap pukul dua dini hari.”
Surya tertawa kecil.
“Dan sekarang?”
“Sekarang aku tahu Ayah memang menyimpan terlalu banyak rahasia.”
Aku menatapnya.
“Tapi ada satu hal yang tidak pernah menjadi rahasia bagiku.”
“Apa itu?”
“Bahwa Ayah selalu menyayangiku.”
Air mata menggenang di matanya.
Aku melanjutkan dengan suara pelan.
“Aku mungkin tidak lahir dari darah Ayah. Tapi semua kenangan yang membuatku menjadi diriku sekarang berasal dari kasih sayang Ayah.”
Surya memelukku erat.
Di dalam pelukan itu, aku akhirnya memahami sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kupikirkan.
Kebenaran memang bisa menghancurkan kebohongan yang telah dibangun selama puluhan tahun.
Namun, kebenaran tidak selalu harus menghancurkan cinta.
Karena seorang ayah bukan hanya lelaki yang namanya tercatat dalam hasil pemeriksaan DNA.
Seorang ayah juga bisa menjadi orang yang memilih tetap tinggal, membesarkan, melindungi, dan mencintai seorang anak meskipun dunia memberinya kesempatan untuk pergi.
Dan bagi diriku, lelaki itu tetaplah Surya.
Ayah yang selalu kupanggil pulang.
