SETIAP TENGAH MALAM, SUAMIKU DIAM-DIAM MENINGGALKAN TEMPAT

Perempuan dalam pantulan cermin itu membuat tanganku gemetar. Aku memperbesar gambar sekali lagi, lalu menatap Dimas yang berdiri mematung di hadapanku.

“Mas, jawab aku. Siapa perempuan ini?”

Dimas tidak langsung menjawab. Matanya justru beralih kepada Bu Siska, seolah meminta izin untuk mengatakan sesuatu.

Pemandangan itu membuat dadaku semakin sesak.

“Empat tahun kita menikah, Dimas. Apa untuk mengatakan kebenaran saja kamu masih harus meminta izin ibumu?”

Bu Siska langsung menyela.

“Kalau kamu tahu semuanya, kamu mungkin nggak akan mau menikah dengan Dimas!”

Aku menoleh tajam.

“Kalau begitu, seharusnya kalian membiarkan aku menentukan pilihanku sendiri!”

Dari kamar sebelah terdengar suara batuk Nayla. Aku menahan kemarahan ketika melihat anak itu muncul di ambang pintu sambil memeluk boneka kelinci.

“Ayah, Tante Aulia marah karena aku?”

Pertanyaan polos itu membuat kami bertiga terdiam.

Dimas segera menghampirinya.

“Nggak, Sayang. Kamu nggak salah apa-apa.”

Aku memandang Nayla. Anak itu terlihat ketakutan, tetapi tetap berusaha tersenyum kepadaku.

Aku berjongkok meskipun dadaku terasa sakit.

“Tante nggak marah sama Nayla. Tante cuma sedang mencari tahu sesuatu.”

Nayla mengangguk pelan.

“Kalau begitu, Tante jangan pergi dulu, ya?”

Aku hampir menangis.

Anak kecil itu bahkan belum mengenalku, tetapi sudah takut ditinggalkan.

Dimas meminta Bu Siska menemani Nayla kembali beristirahat. Setelah pintu tertutup, dia akhirnya mengajakku duduk di ruang keluarga.

“Perempuan dalam video itu namanya Maya,” katanya.

Aku menahan napas.

“Ibu kandung Nayla?”

Dimas mengangguk.

“Dia masih hidup.”

Aku memejamkan mata.

Jadi bukan hanya keberadaan anaknya yang disembunyikan. Mereka bahkan berbohong tentang kematian ibunya.

“Kenapa kalian bilang dia meninggal?”

Dimas mengusap wajah.

“Karena Ibu nggak mau kamu mencari Maya.”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

“Karena kalau kamu bertemu Maya, kamu akan tahu apa yang sebenarnya terjadi pada malam pernikahan kita.”

Aku merasa seluruh tubuhku menegang.

Dimas kemudian menceritakan bahwa tujuh tahun lalu, dia pernah menjalin hubungan dengan Maya, seorang perempuan yang bekerja sebagai perawat di sebuah klinik swasta di Surabaya.

Ketika Maya hamil, hubungan mereka sudah memburuk. Dimas mengaku belum siap menikah, sementara keluarganya menolak menerima Maya karena latar belakang ekonominya.

Maya akhirnya melahirkan Nayla dan merawatnya sendiri.

Namun, ketika Nayla berusia hampir tiga tahun, dokter menemukan kelainan darah serius yang membutuhkan perawatan panjang.

“Waktu itu Maya kehilangan pekerjaan karena terlalu sering mendampingi Nayla di rumah sakit,” kata Dimas. “Aku mulai membantu biaya pengobatannya.”

Aku menatapnya dingin.

“Membantu anak sendiri bukan sesuatu yang perlu kamu sembunyikan.”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa Nayla tinggal di rumah ini?”

Dimas menunduk.

“Karena empat tahun lalu, kondisinya memburuk. Maya nggak sanggup lagi membayar biaya pengobatan.”

Aku mengerutkan kening.

“Jadi kamu membawa Nayla ke rumah setelah kita menikah?”

“Bukan setelah. Tiga minggu sebelum pernikahan, Nayla sudah tinggal di bangunan belakang bersama Ibu.”

Aku langsung berdiri.

“Tiga minggu sebelum kita menikah?”

Dimas mengangguk.

Aku tertawa getir.

“Berarti saat aku sibuk memilih kebaya, menyiapkan undangan, dan membayangkan kehidupan kita setelah menikah, kamu sedang menyiapkan tempat persembunyian untuk anakmu sendiri?”

Dimas tidak menjawab.

Aku merasakan air mata mengalir.

“Kenapa tidak jujur sejak awal?”

“Karena aku takut kamu membatalkan pernikahan.”

Jawaban itu menghancurkan sesuatu di dalam diriku.

Dia memilih menikahiku dengan kebohongan karena tidak ingin kehilangan kesempatan memiliki istri yang tidak mengetahui masa lalunya.

Namun, persoalan dokumen asuransi masih belum terjawab.

Aku meletakkan map biru di atas meja.

“Sekarang jelaskan ini.”

Dimas menarik napas panjang.

Ternyata fasilitas kesehatan dari perusahaan tempatku bekerja memiliki manfaat tambahan untuk pasangan sah dan anak yang memenuhi ketentuan sebagai tanggungan keluarga. Namun, penambahan anak tiri membutuhkan dokumen hubungan keluarga yang benar dan proses verifikasi tersendiri.

Karena Nayla lahir sebelum pernikahan kami, Dimas seharusnya mengajukan penambahan data setelah memberitahuku, dengan dokumen yang menunjukkan kedudukannya sebagai ayah kandung.

Tetapi dia takut aku mengetahui keberadaan Nayla.

Karena itulah Bu Siska mengusulkan cara lain.

“Maya pernah bekerja sama dengan orang bagian administrasi manfaat karyawan,” kata Dimas.

Aku langsung menatapnya.

“Jadi kalian menggunakan orang dalam?”

“Dia mengenal seorang petugas administrasi di perusahaan pengelola asuransi. Orang itu bilang bisa membantu memasukkan dokumen, tapi tetap memerlukan persetujuanmu.”

Aku mulai memahami apa yang mereka lakukan.

Malam setelah resepsi pernikahan, ketika aku demam dan kelelahan, Dimas memberikan obat penurun panas yang direkomendasikan petugas medis.

Namun, setelah aku tertidur, Bu Siska dan Maya masuk ke kamar hotel.

Mereka membangunkanku dan merekam video singkat seolah aku sedang memberikan persetujuan penambahan Nayla sebagai tanggungan.

“Aku bahkan nggak ingat pernah melihat kamera,” kataku.

Dimas menunduk.

“Karena kamu masih mengantuk berat.”

“Lalu tanda tanganku?”

Dia terdiam.

Aku mengangkat map.

“Mas, aku tanya siapa yang membuat tanda tangan palsu ini?”

Akhirnya Dimas menjawab.

“Maya menyalinnya dari formulir administrasi pernikahan yang pernah kamu tandatangani.”

Aku menutup mulut.

Air mataku kembali jatuh.

“Jadi kalian memanfaatkan kondisiku untuk mendapatkan video, lalu meniru tanda tanganku?”

Dimas mengangguk sambil menangis.

“Aku salah, Aulia.”

Aku menggeleng.

“Bukan cuma salah. Kamu menggunakan identitasku tanpa izin.”

Dimas kemudian menjelaskan bahwa dokumen yang ditemukan dalam map bukan semuanya dokumen resmi yang memiliki kekuatan hukum.

Surat penetapan perwalian yang mencantumkan namaku ternyata hanya salinan rancangan yang dibuat oleh seorang konsultan administrasi. Tidak ada penetapan pengadilan yang pernah menjadikanku wali Nayla.

Sementara formulir asuransi yang mencantumkan tanda tanganku telah diajukan melalui sistem administrasi manfaat karyawan. Status Nayla sebagai tanggungan sempat aktif berdasarkan data yang kemudian harus diperiksa ulang keabsahannya.

Aku merasa semakin muak.

“Kalian bukan cuma membohongiku. Kalian juga membuat data palsu yang bisa menimbulkan masalah hukum untukku.”

Dimas mengangguk.

“Aku tahu.”

“Tidak, Mas. Kalau kamu benar-benar tahu, kamu tidak akan membiarkan semuanya berlangsung empat tahun.”

Malam itu aku meninggalkan rumah dan menginap di tempat sahabatku, Rani.

Namun, sebelum pergi, aku meminta Dimas memastikan Nayla tetap mendapatkan perawatan medis yang dibutuhkan tanpa menjadikan namaku sebagai alasan untuk menghindari tanggung jawabnya.

Aku juga meminta salinan dokumen yang berkaitan dengan identitasku.

Keesokan paginya, aku menghubungi bagian sumber daya manusia perusahaan.

Aku meminta pemeriksaan resmi atas data penambahan tanggungan dan seluruh dokumen yang menggunakan identitasku.

Bagian kepatuhan kemudian menjelaskan bahwa terdapat kejanggalan dalam proses verifikasi lama.

Video persetujuan ternyata diunggah melalui akun petugas administrasi yang tidak lagi bekerja pada perusahaan pengelola manfaat.

Dokumen penunjang juga tidak lengkap.

Aku mengajukan keberatan tertulis dan meminta agar data yang disengketakan diperiksa tanpa menghentikan penanganan medis darurat Nayla secara mendadak.

Setelah itu, aku berkonsultasi dengan pengacara.

Seluruh bukti kusimpan.

Rekaman video.

Formulir bertanda tangan palsu.

Riwayat penggunaan fasilitas asuransi.

Dan komunikasi dengan pihak administrasi.

Namun, ketika pemeriksaan berlangsung, aku mendapatkan sebuah telepon yang sama sekali tidak kuduga.

Seorang perempuan memperkenalkan diri sebagai Maya.

“Aulia, aku ingin bertemu.”

Aku terdiam.

“Untuk apa?”

“Ada sesuatu yang belum diceritakan Dimas kepadamu.”

Aku langsung menegang.

“Kebohongan apa lagi?”

Maya menarik napas panjang.

“Alasan sebenarnya kenapa Nayla disembunyikan.”

Kami bertemu dua hari kemudian di sebuah kafe dekat rumah sakit.

Maya datang mengenakan kemeja putih sederhana.

Wajahnya terlihat lelah.

Dia langsung menangis ketika melihatku.

“Aku minta maaf sudah ikut dalam pemalsuan dokumen itu.”

Aku tidak menjawab.

Maya kemudian menjelaskan sesuatu yang membuatku terdiam.

Empat tahun lalu, Bu Siska sebenarnya ingin Nayla dibawa ke rumah keluarga Dimas secara permanen.

Namun, Maya tidak bersedia melepaskan pengasuhan anaknya.

Sebagai ibu kandung, dia ingin tetap terlibat dalam kehidupan Nayla meskipun tidak mampu membiayai seluruh pengobatan.

“Bu Siska bilang aku terlalu miskin untuk membesarkan Nayla,” katanya sambil menangis.

Aku menatapnya.

“Lalu kenapa kamu ikut membuat video palsu?”

“Karena waktu itu Nayla membutuhkan pengobatan yang sangat mahal. Aku takut kehilangan dia.”

Maya mengusap air matanya.

“Tapi setelah dokumennya selesai, Bu Siska melarangku datang menemui Nayla.”

Aku membeku.

“Apa?”

“Dia bilang kalau aku datang, semua orang akan mengetahui bahwa Nayla bukan anak dalam perkawinan Dimas denganmu. Dia takut dokumen yang sudah diajukan akan diperiksa.”

Aku merasa dadaku semakin sesak.

“Jadi selama empat tahun kamu tidak boleh bertemu anakmu?”

Maya menggeleng.

“Aku tetap bertemu Nayla beberapa kali, tetapi diam-diam. Dimas yang mengatur pertemuannya ketika Bu Siska sedang pergi.”

Aku memejamkan mata.

Sekarang aku mulai memahami mengapa Nayla tinggal di bangunan belakang.

Bukan sekadar agar aku tidak mengetahui keberadaannya.

Bu Siska juga ingin mengendalikan siapa saja yang boleh menemui anak itu.

Namun, masih ada sesuatu yang menggangguku.

“Kenapa Nayla memanggil Dimas Ayah, tapi tidak pernah menyebut ibunya?”

Maya menunduk.

“Karena Bu Siska mengatakan kepadanya bahwa aku sedang bekerja jauh di luar kota.”

Aku merasa hampir menangis.

Seorang anak yang sedang sakit harus tinggal tersembunyi di rumah sendiri, sementara ibunya hanya bisa datang diam-diam.

Aku menatap Maya.

“Kenapa kamu baru berani bicara sekarang?”

Dia mengeluarkan sebuah amplop.

Di dalamnya terdapat salinan surat permohonan pengasuhan yang pernah diajukan Bu Siska melalui seorang pengacara.

Permohonan itu tidak pernah menghasilkan putusan yang mengalihkan hak asuh Nayla.

Namun, isinya membuatku marah.

Bu Siska menyebut Maya tidak mampu menyediakan lingkungan yang stabil bagi anaknya dan mengusulkan agar pengasuhan utama diberikan kepada keluarga Dimas.

“Aku takut mereka mengambil Nayla sepenuhnya,” kata Maya.

Aku menatap perempuan itu lama.

Dia ikut melakukan kesalahan besar dengan memalsukan persetujuanku.

Namun, aku juga melihat bagaimana ketakutan kehilangan anak telah dimanfaatkan untuk membuatnya mengikuti rencana Bu Siska.

Aku tidak langsung memaafkannya.

Tetapi untuk pertama kalinya, aku memahami bahwa persoalan ini jauh lebih rumit daripada sekadar perselingkuhan dan kebohongan.

Beberapa minggu kemudian, pemeriksaan administrasi perusahaan menemukan bahwa formulir penambahan tanggungan Nayla tidak memenuhi ketentuan verifikasi yang berlaku.

Proses koreksi data pun dimulai.

Dimas diminta bertanggung jawab atas dokumen yang diajukan dan memberikan keterangan mengenai penggunaan identitasku.

Bu Siska serta pihak-pihak lain yang terlibat juga dimintai klarifikasi terkait dugaan pemalsuan.

Sementara itu, Nayla tetap mendapatkan perawatan melalui pengaturan pembiayaan yang sah, termasuk jaminan kesehatan yang memang menjadi haknya dan bantuan keluarga.

Aku tidak ingin anak kecil itu menjadi korban tambahan dari kesalahan orang dewasa.

Suatu sore, Dimas meminta bertemu.

Kami duduk di ruang konsultasi rumah sakit setelah Nayla menjalani pemeriksaan rutin.

“Aulia, aku tahu kamu mungkin nggak akan pernah memaafkanku,” katanya.

Aku menatapnya.

“Kenapa kamu nggak pernah mempercayaiku?”

Dimas menunduk.

“Aku takut kehilangan kamu.”

Aku menggeleng.

“Jadi kamu memilih membuatku hidup bersama kebohongan?”

Dia menangis.

“Aku pikir kalau Nayla membaik, aku bisa menjelaskan semuanya.”

“Empat tahun, Mas. Empat tahun bukan waktu yang sebentar.”

Dimas tidak menjawab.

Aku melanjutkan.

“Yang paling menyakitkan bukan kenyataan bahwa kamu punya anak sebelum menikah denganku.”

Aku menarik napas panjang.

“Yang paling menyakitkan adalah kamu mengambil hakku untuk menentukan apakah aku siap menjadi bagian dari kehidupan anak itu.”

Air mata Dimas jatuh.

“Aku tahu.”

Aku menggeleng pelan.

“Dan kamu membiarkan Nayla hidup seolah keberadaannya harus disembunyikan.”

Dimas menutup wajah.

Untuk pertama kalinya, dia tidak mencoba membela keputusan ibunya.

Beberapa bulan kemudian, aku memutuskan menjalani proses perceraian.

Keputusan itu tidak kuambil karena Nayla.

Aku bahkan mulai menyayangi anak kecil tersebut.

Namun, aku tidak bisa mempertahankan pernikahan yang selama empat tahun dibangun di atas penipuan dan penggunaan identitasku tanpa izin.

Maya akhirnya bisa lebih terlibat dalam perawatan Nayla.

Dimas juga mulai menjalankan tanggung jawabnya secara terbuka sebagai ayah.

Bu Siska tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang mengatur kehidupan cucunya.

Suatu sore, aku datang ke rumah sakit untuk mengantarkan sebuah buku gambar yang pernah kujanjikan kepada Nayla.

Anak itu sedang duduk di tempat tidur sambil menggambar bunga.

Begitu melihatku, dia tersenyum lebar.

“Tante Aulia!”

Aku menghampirinya.

“Lagi gambar apa?”

“Rumah.”

Aku memperhatikan kertasnya.

Ada sebuah rumah berwarna kuning dengan taman kecil.

Di depannya berdiri tiga orang.

Seorang anak perempuan.

Seorang laki-laki.

Dan seorang perempuan berambut panjang.

Aku tersenyum.

“Itu siapa saja?”

Nayla menunjuk satu per satu.

“Aku, Ayah, sama Mama Maya.”

Aku mengangguk.

“Bagus sekali.”

Kemudian dia mengambil pensil warna lain.

“Tapi aku mau gambar Tante juga.”

Aku terdiam.

Nayla menggambar seorang perempuan di dekat pagar.

“Ini Tante Aulia. Tante boleh datang kapan saja.”

Air mataku langsung jatuh.

Aku memeluknya dengan hati-hati.

“Nayla, kamu nggak pernah salah, ya.”

Dia menatapku bingung.

“Maksudnya?”

Aku mengusap rambutnya.

“Apa pun yang terjadi antara orang dewasa, itu bukan salah kamu.”

Nayla tersenyum kecil.

“Aku tahu. Mama Maya juga bilang begitu.”

Aku mencium keningnya.

Malam itu, ketika pulang dari rumah sakit, aku kembali teringat koridor tersembunyi di belakang kamar Bu Siska.

Selama empat tahun, lorong itu menjadi jalan yang digunakan Dimas untuk menyembunyikan kehidupan lain dariku.

Namun, sekarang aku menyadari bahwa lorong tersebut bukan bagian paling mengerikan dari semua rahasia itu.

Yang jauh lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa orang-orang yang seharusnya melindungi Nayla justru membuatnya hidup dalam ketakutan dan keterasingan.

Dimas takut kehilangan istri.

Maya takut kehilangan anak.

Bu Siska takut kehilangan kendali atas keluarganya.

Dan karena ketakutan mereka masing-masing, seorang anak kecil harus tumbuh di balik dinding tersembunyi.

Aku menatap langit malam dari jendela mobil.

Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti aku bisa memaafkan Dimas sepenuhnya.

Namun, aku tahu bahwa Nayla berhak memiliki kehidupan yang tidak lagi disembunyikan.

Dia berhak mengenal kedua orang tuanya.

Berhak mendapatkan perawatan.

Berhak bersekolah dan bermain bersama anak-anak lain sesuai kondisi kesehatannya.

Dan yang paling penting, dia berhak tumbuh tanpa merasa bahwa keberadaannya merupakan sesuatu yang memalukan.

Aku mungkin kehilangan pernikahan yang selama ini kuanggap bahagia.

Tetapi dari semua kebohongan itu, aku akhirnya memahami satu hal.

Cinta yang benar tidak meminta seseorang menyerahkan hak dan kepercayaannya secara diam-diam.

Cinta juga tidak seharusnya membuat seorang anak hidup di balik dinding, hanya karena orang dewasa terlalu takut menghadapi kenyataan.

Dan ketika suatu hari Nayla bertanya mengapa aku tetap datang menjenguknya meskipun tidak lagi menjadi istri ayahnya, aku ingin menjawab dengan sederhana.

Karena kesalahan orang dewasa tidak pernah mengurangi hak seorang anak untuk dicintai.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang