SUAMIKU HILANG DI SUNGAI LARANGAN, TAPI PENYELAM TUA MENEMUKAN BUKTI YANG MEMBUKTIKAN DIA TAK PERNAH JATUH SECARA KEBETULAN

Aku menatap kunci merah di telapak tangan Bu Sariyah, lalu kartu identitas Arga yang seharusnya berada di dompet suamiku.

Tiga hari lalu.

Kalimat itu terus berputar di kepalaku.

Tiga hari lalu, Arga mengatakan dia berada di Bandung sepanjang hari untuk menyelesaikan laporan proyek. Malamnya dia pulang hampir pukul sebelas, membawa dua gelas kopi dan meminta maaf karena terlalu sibuk menjelang bulan madu kami.

Kalau kartu itu benar-benar diberikan kepada Sariyah tiga hari lalu, berarti Arga telah datang ke Cibatu tanpa sepengetahuanku.

“Kenapa dia datang menemui Ibu?”

Sariyah memasukkan kembali kartu identitas itu ke sakunya.

“Kalau mau tahu, buka loker nomor tujuh.”

Kami berjalan menuju gudang tua di dekat dermaga. Bangunannya berdinding seng, sebagian sudah berkarat. Pak Darma menunggu di luar dengan wajah tegang.

Begitu melihat Sariyah, dia langsung berdiri.

“Jadi benar di Batu Belah?”

Sariyah mengangguk.

Pak Darma mengusap wajah.

“Aku sudah bilang tempat itu harus ditutup.”

“Ditutup tidak akan menghapus apa yang ada di bawah sana,” jawab Sariyah.

Aku semakin tidak memahami percakapan mereka.

Loker nomor tujuh berada di sudut gudang.

Kunci merah masuk dengan sempurna.

Saat pintunya terbuka, aku menemukan sebuah tas hitam kecil.

Di dalamnya ada flashdisk, sebuah ponsel murah, beberapa foto cetak, dan map berisi hasil analisis laboratorium.

Tanganku berhenti pada halaman pertama.

Kode sampel C-17.

Sampel sedimen Sungai Cadas Wulung.

Kandungan merkuri dan arsenik berkali-kali lipat di atas ambang aman.

Di bawahnya tercantum nama perusahaan yang kukenal.

PT Wicaksana Mineral Resources.

Perusahaan milik keluarga Arga.

Aku menatap Sariyah.

“Ini perusahaan keluarga suami saya.”

“Dulu tambang mereka berada dua belas kilometer dari sini.”

“Dulu?”

“Ditutup tujuh tahun lalu setelah tiga pekerja meninggal.”

Aku membuka foto-foto di dalam map.

Sungai berwarna kecokelatan.

Ikan mati.

Anak-anak dengan ruam di tangan.

Lalu foto tiga pria berdiri di depan terowongan tambang.

Salah satunya adalah Pak Darma ketika masih muda.

Aku membalik foto.

Ada tulisan tangan.

Tiga pekerja hilang setelah menemukan saluran pembuangan rahasia.

Aku merasa mual.

“Pak Darma?”

Lelaki tua itu menunduk.

“Adik saya salah satunya.”

Aku hampir menjatuhkan foto.

“Lalu apa hubungannya dengan Arga?”

Sariyah menunjuk ponsel murah di dalam loker.

“Nyalakan.”

Baterainya masih penuh.

Hanya ada satu rekaman video.

Aku menekan tombol putar.

Wajah Arga muncul.

Dia duduk di tempat yang kukenali sebagai kamar hotel kami.

“Laras, kalau kamu melihat video ini, berarti sesuatu sudah terjadi.”

Aku menahan napas.

Arga dalam rekaman tampak berbeda. Tidak santai, tidak tersenyum seperti lelaki yang kukenal selama enam bulan.

Dia ketakutan.

“Enam bulan lalu aku menemukan laporan internal perusahaan ayahku. Selama bertahun-tahun, limbah tambang dibuang melalui saluran bawah tanah menuju Cadas Wulung. Setelah tambang ditutup, saluran itu tetap digunakan untuk membuang sisa bahan kimia dari fasilitas pengolahan lain.”

Aku menutup mulut.

“Orang yang mengatur pemalsuan laporan lingkungan adalah ibuku.”

Profesor Ratih.

Dunia seakan berhenti.

Arga melanjutkan.

“Laras, kamu dipilih bukan karena Ibu menyukaimu.”

Air mataku mulai jatuh.

“Dia memilihmu karena kamu bekerja di laboratorium yang menyimpan sampel pembanding C-17.”

Aku teringat enam bulan lalu ketika Ratih tiba-tiba memindahkanku ke tim penelitian keamanan pangan dan lingkungan.

Aku menganggapnya promosi.

Ternyata mungkin bukan.

“Ibu takut seseorang menemukan sampel itu. Dia mendekatkanku kepadamu supaya aku bisa mengetahui lokasi penyimpanannya. Awalnya aku setuju.”

Dadaku seperti ditusuk.

“Pernikahan kita pada awalnya memang bagian dari rencana.”

Aku mematikan video.

Aku tidak sanggup mendengar lagi.

Namun Sariyah berkata pelan, “Dengarkan sampai selesai.”

Aku menyalakannya kembali.

Mata Arga dalam rekaman memerah.

“Tapi aku gagal menjalankan rencana itu. Karena setelah mengenalmu, aku sadar orang yang sedang kami hancurkan bukan sekadar peneliti. Kamu perempuan yang percaya bahwa pekerjaannya bisa membuat orang hidup lebih aman.”

Dia berhenti.

“Aku mencintaimu, Laras.”

Aku menunduk.

Untuk pertama kalinya, pengakuan cinta dari suamiku terasa seperti pisau.

“Karena itu aku mengambil sampel C-17 sebelum Ibu menemukannya. Aku membawanya ke Cibatu. Kalau sesuatu terjadi kepadaku, jangan percaya kecelakaan apa pun yang mereka ceritakan.”

Video berakhir.

Aku tidak tahu berapa lama aku diam.

Kemudian ponsel pribadiku berdering.

Profesor Ratih.

Aku menatap layar.

Sariyah berkata, “Angkat. Jangan bilang soal loker.”

Aku menerima panggilan.

“Bu.”

Suara Ratih langsung pecah.

“Laras, polisi menghubungi Ibu. Mereka bilang Arga jatuh ke sungai.”

“Iya.”

“Kamu di mana?”

Pertanyaan itu datang terlalu cepat.

Bukan bagaimana keadaanmu.

Bukan apakah Arga ditemukan.

Di mana kamu.

“Di dermaga.”

“Jangan pergi ke mana-mana. Ibu sedang menuju ke sana bersama tim perusahaan.”

Aku memandang Sariyah.

“Kenapa membawa tim perusahaan?”

Ratih diam sepersekian detik.

“Untuk membantu pencarian.”

Panggilan berakhir.

Sariyah segera mengambil perlengkapan selam sederhana.

“Aku turun sekarang.”

“Saya ikut.”

“Tidak.”

“Itu suami saya.”

“Justru karena itu kamu tidak boleh ikut ke bawah.”

Dia menunjuk Pak Darma.

“Jaga Laras. Kalau ada mobil dari kota datang sebelum aku kembali, bawa dia ke rumahmu.”

Kemudian Sariyah berjalan menuju sungai.

Aku mengejarnya sampai tepian.

“Bu Sariyah.”

Dia menoleh.

“Arga masih mungkin hidup?”

Untuk pertama kalinya perempuan tua itu terlihat ragu.

“Ada rongga udara di bawah Batu Belah. Kalau dia terseret ke arah yang benar dan tidak terbentur batu, mungkin.”

Mungkin.

Satu kata itu cukup membuatku bertahan.

Sariyah turun ke air.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Dua puluh menit.

Aku berdiri seperti patung.

Pada menit kedua puluh delapan, tali yang dipegang Pak Darma bergerak.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

“Dia menemukan sesuatu.”

Kami menarik tali perlahan.

Kepala Sariyah muncul.

Dia megap-megap.

Namun dia tidak sendirian.

Tangannya memegang sebuah ransel hitam tahan air.

Bukan Arga.

Aku merasa lututku lemas.

“Suami saya?”

Sariyah naik ke batu.

“Tidak ada.”

“Bagaimana mungkin?”

“Rongga pertama kosong.”

Dia menyerahkan ransel kepadaku.

“Ini tersangkut di batu.”

Aku mengenali ransel itu.

Milik Arga.

Di dalamnya ada kamera aksi, botol sampel, dan sebuah alat perekam suara kecil.

Kami memutar rekaman terakhir.

Suara air terdengar keras.

Kemudian suara Arga.

“Aku sudah sampai. Di bawah Batu Belah memang ada pipa.”

Lalu suara laki-laki lain.

“Kamu seharusnya tidak kembali ke sini.”

Aku membeku.

Suara itu kukenal.

Dimas.

Dimas Santoso adalah kepala keamanan pusat riset Ratih.

Rekaman berlanjut.

“Aku sudah kirim salinannya,” kata Arga.

“Kepada siapa?”

“Kamu pikir aku sebodoh itu?”

Terdengar suara perkelahian.

Napas berat.

Kemudian Arga berteriak.

Lalu suara benturan.

Setelah itu air.

Namun beberapa detik kemudian terdengar kalimat yang membuat bulu kudukku berdiri.

Suara Dimas.

“Dia tidak jatuh. Angkat dia ke jalur servis.”

Aku menatap Sariyah.

“Jalur servis?”

Sariyah langsung berdiri.

“Ada terowongan tambang lama di balik rongga kedua.”

“Artinya Arga tidak tenggelam?”

“Artinya seseorang membuat kamu melihat dia jatuh.”

Aku teringat kejadian di perahu.

Arga menunjuk batu.

Aku menoleh.

Benturan.

Tubuhnya jatuh.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada gelembung.

Aku merasa darahku membeku.

“Itu direncanakan.”

Sariyah mengangguk.

“Dan seseorang tahu persis bagaimana arus bawah sungai bekerja.”

Dari kejauhan terdengar suara kendaraan.

Tiga SUV hitam berhenti di dekat dermaga.

Ratih turun dari mobil pertama.

Dimas keluar dari mobil kedua.

Aku refleks menggenggam alat perekam.

“Masukkan ke jaket,” bisik Sariyah.

Ratih berlari menghampiriku dan langsung memelukku.

“Laras.”

Tubuhku kaku.

“Ibu sangat khawatir.”

Aku bisa mencium parfumnya.

Parfum yang selama ini selalu membuatku merasa aman di laboratorium.

Sekarang aromanya membuatku ingin muntah.

“Arga belum ditemukan,” kataku.

Ratih melepaskan pelukan.

Matanya bergerak cepat ke arah Sariyah.

“Apa yang sudah kalian temukan?”

“Belum ada,” jawabku.

Dimas menatap pakaianku yang basah.

Kemudian matanya jatuh ke jaket kanvas yang kukenakan.

“Kita sebaiknya membawa Bu Laras kembali ke Bandung.”

Aku menatapnya.

“Suami saya belum ditemukan.”

“Tim profesional akan menangani.”

Sariyah tertawa kecil.

“Profesional?”

Dimas menoleh tajam.

“Siapa Ibu?”

“Orang tua yang tahu sungai.”

Ratih segera menyela.

“Laras, kamu sedang syok. Pulanglah bersama Ibu.”

Aku hampir menurut.

Kemudian ponsel murah dari loker bergetar di saku celanaku.

Satu pesan masuk.

Nomor tidak dikenal.

Jangan naik mobil Ibu.

Aku membeku.

Pesan kedua muncul.

Aku masih hidup.

Tanganku mulai gemetar.

Pesan ketiga.

Terowongan timur. Datang sendiri.

Aku mengangkat kepala.

Ratih sedang menatapku.

Aku memaksakan senyum.

“Saya mau ke toilet dulu.”

Dimas bergerak.

“Saya antar.”

“Tidak perlu.”

Aku berjalan menuju belakang gudang, lalu berlari.

Sariyah menyusul beberapa detik kemudian.

“Ada apa?”

Aku menunjukkan pesan.

Wajahnya berubah.

“Terowongan timur tidak aman.”

“Arga ada di sana.”

“Atau seseorang sedang memancingmu.”

Aku berhenti.

Sariyah benar.

Aku mengetik satu pertanyaan.

Apa yang kamu katakan malam pertama kita ketika listrik mati?

Jawaban datang.

Aku menunggu hampir satu menit.

Lalu layar menyala.

Aku bilang aku takut gelap. Kamu tertawa karena suamimu yang sok berani ternyata tidur pakai lampu kamar mandi.

Air mataku langsung jatuh.

Arga.

Hanya kami yang tahu.

Kami berlari menuju jalur kebun kopi.

Pintu terowongan tertutup semak.

Di dalamnya gelap dan berbau logam.

Sekitar seratus meter kemudian, kami mendengar suara.

“Laras.”

Aku berlari.

Arga duduk bersandar pada dinding batu. Wajahnya pucat, pelipisnya terluka, kedua tangannya terikat longgar dengan kabel plastik yang sudah dipotong.

Aku memeluknya.

Aku ingin menangis.

Ingin memukulnya.

Ingin bertanya seribu hal sekaligus.

Namun Arga hanya berbisik.

“Kita harus keluar.”

“Apa yang terjadi?”

“Dimas sudah menunggu di bawah sungai. Aku tahu dia mengikuti kita, jadi aku sengaja menjatuhkan diri untuk mencapai rongga tempat bukti disimpan. Tapi dia lebih cepat. Dia menarikku ke terowongan dan mengunci pintu servis.”

“Kenapa tidak memberitahuku?”

“Karena aku tidak tahu apakah Ibu sudah menggunakanmu.”

Aku melepaskan pelukan.

Kalimat itu menyakitkan.

Namun aku mengerti.

“Kamu juga menggunakan aku.”

Arga menunduk.

“Iya.”

Kejujuran itu justru lebih menyakitkan.

“Tapi aku tidak mau hidup dengan kebohongan itu lagi.”

Sebelum aku menjawab, terdengar langkah kaki.

Dimas muncul dari tikungan terowongan.

Di belakangnya Ratih.

Wajah ibu mertuaku tidak lagi menunjukkan kepanikan.

Hanya kelelahan.

“Sudah cukup, Arga.”

Arga berdiri di depanku.

“Ibu membunuh tiga orang demi perusahaan.”

“Aku menyelamatkan ribuan pekerja.”

“Dengan meracuni kampung?”

“Dunia tidak sesederhana laporan laboratorium.”

Ratih menatapku.

“Laras, berikan sampel itu. Kamu tetap bisa kembali bekerja. Tidak ada yang perlu tahu.”

Aku menatap perempuan yang selama bertahun-tahun menjadi mentorku.

“Apa pernikahan kami juga bagian dari pekerjaan?”

Ratih diam.

Jawaban itu sudah cukup.

Aku mengeluarkan alat perekam dari jaket.

Wajah Dimas berubah.

Dia maju.

Namun Sariyah berdiri di depan kami.

“Jangan.”

Dimas tertawa.

“Ibu mau menghentikan saya?”

Sariyah menatapnya dingin.

“Tidak.”

Dari luar terdengar suara sirene.

“Polisi yang akan menghentikan kamu.”

Dimas pucat.

Pak Darma ternyata telah mengirim rekaman suara kepada polisi begitu kami menemukan ransel.

Ratih menatapku.

Untuk pertama kalinya, perempuan itu terlihat benar-benar kalah.

Tiga bulan kemudian, penyelidikan resmi menemukan jaringan pembuangan limbah ilegal yang telah beroperasi bertahun-tahun. Sejumlah pejabat perusahaan ditahan. Dimas didakwa atas penculikan, penghilangan barang bukti, dan keterlibatannya dalam kematian para pekerja lama.

Ratih mengundurkan diri sebelum akhirnya ditetapkan sebagai tersangka.

Sampel C-17 menjadi bukti utama.

Arga dan aku tidak langsung kembali hidup sebagai pasangan bahagia.

Kenyataan tidak bekerja seperti cerita cinta.

Aku pindah dari rumah kami.

Selama berbulan-bulan, kami bertemu hanya untuk memberikan keterangan kepada penyidik.

Suatu sore Arga datang ke laboratorium baru tempatku bekerja.

Dia tidak membawa bunga.

Tidak membawa cincin.

Hanya sebuah amplop.

Di dalamnya ada surat permohonan pembatalan pernikahan yang sudah dia tandatangani.

“Aku tidak punya hak meminta kamu tetap tinggal,” katanya.

Aku menatap surat itu lama.

“Kenapa sekarang?”

“Karena untuk pertama kalinya aku ingin kamu memilih tanpa ada rencana siapa pun di belakangmu.”

Aku tidak menandatanganinya hari itu.

Aku juga tidak merobeknya.

Aku menyimpannya.

Setahun kemudian kami kembali ke Cibatu.

Bukan untuk bulan madu.

Kami datang bersama tim independen yang memasang alat pemantau kualitas air di sepanjang Cadas Wulung.

Pak Darma masih mengemudikan perahu.

Sariyah duduk di dermaga sambil minum kopi.

Ketika perahu melewati Batu Belah, Arga menggenggam sisi perahu erat-erat.

Aku menatapnya.

“Takut jatuh?”

Dia tersenyum kecil.

“Takut kamu mendorongku.”

Aku hampir tertawa.

Hampir.

Kemudian aku mengeluarkan sesuatu dari tas.

Surat pembatalan pernikahan.

Wajah Arga berubah.

Aku merobeknya menjadi dua.

Bukan karena aku sudah melupakan kebohongannya.

Bukan karena cinta mampu menghapus pengkhianatan.

Aku melakukannya karena selama setahun terakhir dia tidak pernah lagi meminta kepercayaanku.

Dia membangunnya kembali.

Sedikit demi sedikit.

Dengan kebenaran yang kadang menyakitkan.

Dengan kesabaran.

Dengan menerima bahwa aku bisa pergi kapan saja.

Potongan kertas itu tidak kulempar ke sungai. Aku memasukkannya kembali ke tas.

Sariyah pernah mengatakan sungai selalu membawa kembali apa yang manusia coba sembunyikan.

Dulu aku mengira dia sedang bicara tentang mayat.

Ternyata bukan.

Sungai itu mengembalikan sebuah kebenaran.

Bahwa rumah tangga kami memang dimulai dari kebohongan.

Namun sesuatu yang dimulai dengan kebohongan tidak selalu harus berakhir dengan kebohongan juga.

Kadang yang menentukan bukan bagaimana dua orang dipertemukan.

Melainkan apa yang mereka lakukan setelah semua rahasia akhirnya muncul ke permukaan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang