SUAMIKU KEHILANGAN PEKERJAAN, AKU TERPAKSA MEMBERHENTIKAN

“Kalau kamu masih mau berbohong, Dimas, aku akan meminta langsung surat pemberhentianmu dari perusahaan.”

Suamiku berdiri membeku di depan pintu apartemen. Di sampingnya, Rika memeluk Arkan, anak laki-laki berusia lima tahun yang baru saja memanggil Dimas dengan sebutan Papa.

Aku, Maya Pratiwi, baru mengetahui bahwa selama hampir lima tahun suamiku memiliki keluarga lain tepat satu lantai di bawah tempat tinggal kami.

Namun pengkhianatan itu ternyata belum semuanya.

“May, kita bicarakan besok,” kata Dimas dengan suara serak.

Aku menggeleng.

“Besok kamu boleh menjelaskan. Tapi malam ini, aku mau kamu menyerahkan surat pemberhentianmu.”

Rika tiba-tiba menyela.

“Bu Maya, enggak usah memperumit keadaan. Mas Dimas sedang banyak masalah.”

Aku menatapnya.

“Masalah yang mana? Kehilangan pekerjaan, menyembunyikan anak, atau menggunakan uang perusahaan?”

Wajah Rika langsung pucat.

Dimas menundukkan kepala.

“Rika, bawa Arkan pulang dulu.”

Anak kecil itu memandang ayahnya dengan bingung.

“Papa enggak ikut?”

Dimas berjongkok, lalu mengusap rambutnya.

“Papa ada urusan sebentar. Arkan pulang sama Mama, ya.”

Aku melihat wajah polos anak itu dan merasakan dadaku semakin sakit.

Dia tidak tahu bahwa kedatangannya baru saja menghancurkan sebuah pernikahan.

Aku tidak membencinya.

Aku hanya membenci kenyataan bahwa dua orang dewasa telah membangun kebahagiaan mereka di atas kebohongan terhadap orang lain.

Setelah Rika dan Arkan pergi, aku meminta Dimas duduk di ruang tamu.

“Sekarang keluarkan suratnya.”

Dia membuka tas kerja, mengambil sebuah amplop, lalu meletakkannya di meja.

Aku membaca halaman pertama.

Tanganku langsung dingin.

Dimas ternyata bukan diberhentikan karena pengurangan karyawan seperti yang diceritakannya.

Perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja setelah pemeriksaan internal menemukan dugaan pelanggaran prosedur pengadaan dan penggunaan dana operasional yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Namanya tercantum sebagai pejabat yang menyetujui sejumlah pembayaran bermasalah.

Nilainya mencapai Rp1,8 miliar.

Aku mengangkat wajah.

“Uang sebanyak ini dipakai untuk apa?”

Dimas mengusap wajah.

“Sebagian untuk vendor transportasi.”

“Vendor mana?”

Dia tidak menjawab.

Aku membalik halaman.

Di sana terdapat nama sebuah perusahaan.

PT Rika Mandiri Logistik.

Aku langsung menatapnya.

“Perusahaan Rika?”

Dimas mengangguk perlahan.

Aku merasakan sesuatu dalam dadaku seperti runtuh.

“Jadi selama ini kamu bukan cuma punya hubungan dengan Rika. Kamu juga memberikan pekerjaan perusahaan kepada bisnis miliknya?”

“Awalnya bisnis itu memang benar-benar menyediakan jasa pengiriman,” jawab Dimas.

“Lalu?”

“Ketika usahanya mulai kesulitan, aku membantu menyetujui beberapa tagihan lebih cepat.”

Aku memperhatikan wajahnya.

“Beberapa?”

Dimas menunduk.

“Ada tagihan yang pekerjaannya belum selesai. Ada juga jasa yang akhirnya tidak dilakukan.”

Aku memejamkan mata.

Sebagai mantan analis keuangan, aku memahami betapa seriusnya persoalan tersebut.

“Mas, itu bukan sekadar membantu. Perusahaan membayar pekerjaan yang tidak dilaksanakan.”

“Aku tahu.”

“Dan kamu menandatangani persetujuannya?”

Dimas mengangguk.

Aku menarik napas panjang.

“Rika tahu?”

Dia tidak segera menjawab.

Namun keheningannya sudah cukup.

Aku berdiri.

“Delapan tahun, Mas. Delapan tahun aku percaya kita membangun keluarga bersama.”

Air mataku mengalir.

“Ketika kamu kehilangan pekerjaan, aku langsung menghitung pengeluaran, memikirkan sekolah Naila, dan mencoba mencari cara agar tabungan kita cukup.”

Dimas menatapku dengan mata merah.

“Tapi ternyata kamu sudah menghabiskan bertahun-tahun membantu perempuan lain, bahkan sampai mengorbankan pekerjaanmu sendiri.”

“May, aku menyesal.”

Aku menggeleng.

“Yang membuatku paling sakit bukan cuma perselingkuhanmu.”

Aku menatapnya.

“Tapi kamu membiarkanku merasa bersalah karena harus memberhentikan Mbak Sari. Padahal selama ini kamu menggunakan tenaga dan uang rumah tangga kita untuk mengurus keluarga lain.”

Dimas menangis.

“Aku enggak tahu bagaimana cara mengakhiri semuanya.”

Aku menjawab pelan.

“Seharusnya kamu memulainya dengan berhenti berbohong.”

Malam itu, aku meminta Dimas tinggal sementara di tempat lain.

Aku tidak melarangnya menemui Naila. Namun sebelum berbicara dengan putri kami, dia harus memahami bahwa anak enam tahun tidak boleh dibebani persoalan orang dewasa.

Keesokan paginya, aku menghubungi seorang pengacara keluarga dan mulai memeriksa kondisi keuangan pribadiku.

Aku membuka seluruh catatan rekening, cicilan apartemen, tabungan pendidikan Naila, serta dokumen kepemilikan aset.

Dan di situlah aku menemukan kejanggalan berikutnya.

Selama hampir tiga tahun, ada transfer rutin dari rekening bersama kami ke sebuah rekening yang tidak kukenal.

Jumlahnya berbeda-beda.

Kadang lima juta.

Kadang sepuluh juta.

Bahkan pernah mencapai dua puluh juta rupiah.

Aku memeriksa nama penerima melalui bukti transaksi yang tersedia.

Rika Anggraini.

Aku terduduk.

Jadi bukan hanya gaji Mbak Sari dan bahan makanan yang digunakan untuk membantu Rika.

Suamiku juga diam-diam mengirimkan uang dari rekening bersama kami.

Total transfer yang berhasil kuidentifikasi mencapai lebih dari Rp300 juta.

Ketika kutunjukkan catatan itu kepada pengacara, beliau menyarankanku menyimpan seluruh bukti dan memisahkan kebutuhan harian dari rekening yang selama ini digunakan bersama.

Aku kemudian meminta penjelasan kepada Dimas.

Dia akhirnya mengakui bahwa uang tersebut digunakan untuk membantu kebutuhan Arkan dan beberapa biaya pribadi Rika.

“Aku tahu Arkan anakku,” katanya. “Aku merasa bertanggung jawab.”

Aku menatapnya.

“Bertanggung jawab kepada Arkan itu benar. Tapi kenapa caranya harus dengan menyembunyikan penggunaan uang keluarga kita?”

Dimas tidak menjawab.

“Aku tidak pernah menyuruhmu menelantarkan anak itu. Tapi kamu juga punya Naila, Mas.”

Dia menunduk.

“Maaf.”

Aku tidak lagi ingin mendengar permintaan maaf yang sama tanpa perubahan nyata.

Beberapa hari kemudian, sesuatu yang tidak kuduga terjadi.

Mbak Sari datang ke apartemen membawa sebuah map kecil.

“Bu Maya, saya ingin menyerahkan ini.”

Aku mempersilahkannya duduk.

Di dalam map terdapat catatan belanja yang dibuatnya selama bekerja.

Aku membuka halaman demi halaman.

Mbak Sari ternyata mencatat pembelian bahan makanan untuk kedua keluarga secara terpisah.

“Kenapa Mbak menyimpan semua ini?”

Dia menunduk.

“Awalnya karena Pak Dimas bilang pengeluaran tambahan akan diganti dari uang pribadi beliau. Saya takut kalau suatu hari ada selisih belanja, saya yang disalahkan.”

Aku memandang catatan itu.

Ada tanggal.

Jumlah pengeluaran.

Bahkan beberapa foto struk.

Namun yang paling mengejutkanku adalah sebuah keterangan di halaman terakhir.

Mbak Sari pernah menerima pesan dari Rika yang memintanya tidak memberitahuku tentang pengantaran makanan.

Aku membaca salinan percakapan tersebut.

Rika menulis bahwa Dimas sudah mengetahui semuanya dan aku tidak perlu dilibatkan.

Aku mengangkat wajah.

“Mbak, kenapa baru sekarang cerita?”

Air matanya jatuh.

“Saya takut kehilangan pekerjaan, Bu. Saya pikir selama Pak Dimas mengizinkan, semuanya baik-baik saja.”

Aku mengangguk.

“Mbak enggak perlu menyembunyikannya lagi.”

Mbak Sari kemudian mengatakan sesuatu yang membuatku terdiam.

“Bu, saya memang butuh pekerjaan. Tapi saya enggak mau menerima tawaran Bu Rika.”

Aku mengerutkan kening.

“Dia menawari Mbak pekerjaan?”

“Iya. Setelah Ibu memberhentikan saya, beliau meminta saya bekerja penuh waktu untuknya.”

“Lalu kenapa Mbak menolak?”

Mbak Sari mengusap air mata.

“Karena beliau ingin saya tetap merahasiakan semuanya dari Ibu, bahkan setelah saya bukan lagi pegawai keluarga ini.”

Aku terdiam cukup lama.

Kemudian menggenggam tangannya.

“Terima kasih karena akhirnya memilih jujur.”

Mbak Sari tersenyum lemah.

Aku membantunya mendapatkan surat rekomendasi sesuai pekerjaan yang benar-benar dilakukannya.

Namun untuk sementara, aku tetap tidak mampu mempekerjakannya kembali.

Aku harus memprioritaskan kebutuhan Naila.

Sementara itu, persoalan perusahaan Dimas mulai berkembang.

Dari pemeriksaan lanjutan, diketahui sebagian pembayaran kepada PT Rika Mandiri Logistik memang memiliki dokumen pendukung yang tidak sesuai dengan jasa yang sebenarnya diberikan.

Perusahaan menempuh langkah hukum dan meminta pertanggungjawaban pihak-pihak terkait.

Dimas akhirnya berhenti menyangkal keterlibatannya.

Dia menyerahkan dokumen yang dimiliki kepada penasihat hukum dan mengikuti pemeriksaan sesuai prosedur.

Rika juga dimintai keterangan mengenai tagihan perusahaan miliknya.

Aku tidak berusaha melindungi Dimas dari akibat keputusan-keputusannya.

Namun aku juga tidak menyebarkan persoalan itu kepada tetangga atau keluarga besar untuk mempermalukannya.

Bagiku, yang terpenting adalah melindungi masa depan Naila.

Tiga bulan kemudian, aku kembali bekerja.

Seorang teman lama membantuku mendapatkan kesempatan wawancara di perusahaan konsultan keuangan di Jakarta.

Awalnya aku gugup.

Sudah bertahun-tahun aku meninggalkan pekerjaan profesional.

Namun setelah mengikuti beberapa tahapan seleksi, aku diterima sebagai analis keuangan dengan masa adaptasi.

Gajinya belum sebesar penghasilan Dimas dahulu.

Tetapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku memiliki pemasukan sendiri.

Aku juga mulai menyadari bahwa mengurus rumah selama bertahun-tahun tidak membuat kemampuanku hilang.

Aku hanya perlu waktu untuk membangun kembali kepercayaan diri.

Hubunganku dengan Dimas akhirnya berakhir melalui proses perceraian.

Kami menyepakati pengaturan pengasuhan serta pemenuhan kebutuhan Naila dengan mempertimbangkan kepentingan anak.

Suatu sore, Naila bertanya ketika aku sedang menemaninya menggambar.

“Mama, kenapa Papa sekarang tinggal di tempat lain?”

Aku meletakkan pensil warna.

“Mama dan Papa sedang menjalani hidup secara terpisah, Sayang.”

Dia mengangkat wajah.

“Karena Naila nakal?”

Aku langsung memeluknya.

“Bukan. Sama sekali bukan karena Naila.”

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Papa masih sayang Naila?”

“Tentu. Papa tetap Papa kamu.”

Naila terdiam cukup lama.

Kemudian bertanya, “Mama masih sayang Naila, kan?”

Aku mengusap rambutnya.

“Selalu.”

Dia memelukku erat.

Saat itulah aku menyadari bahwa anak-anak sering tidak membutuhkan penjelasan panjang.

Mereka membutuhkan rasa aman.

Setengah tahun kemudian, aku bertemu Rika secara tidak sengaja di lobi apartemen.

Penampilannya jauh berbeda.

Dia tidak lagi mengenakan tas mahal yang dulu selalu dibanggakannya.

Wajahnya tampak lelah.

“Bu Maya,” katanya pelan.

Aku berhenti.

“Iya?”

Rika menunduk.

“Saya ingin minta maaf.”

Aku tidak menjawab.

“Dulu saya datang memarahi Ibu karena Mbak Sari diberhentikan. Padahal saya tahu Ibu sama sekali enggak mengetahui hubungan saya dengan Dimas.”

Aku menatapnya.

“Kenapa sekarang meminta maaf?”

Air mata Rika mulai jatuh.

“Karena setelah semuanya terbongkar, saya baru sadar betapa mudahnya saya menganggap orang lain wajib menanggung kebutuhan saya.”

Aku menarik napas panjang.

“Rika, Arkan tidak bersalah. Dia berhak mendapatkan kasih sayang dan tanggung jawab dari ayahnya.”

Rika mengangguk.

“Tapi itu tidak berarti saya harus menerima kebohongan kalian,” lanjutku.

“Saya tahu.”

Kami berpisah tanpa pertengkaran.

Aku tidak langsung memaafkannya.

Namun aku juga tidak ingin terus membawa kemarahan yang menghabiskan tenagaku.

Beberapa minggu kemudian, Mbak Sari kembali menghubungiku.

Kali ini suaranya terdengar sangat bahagia.

“Bu Maya, saya sudah mendapatkan pekerjaan baru!”

Aku tersenyum.

“Alhamdulillah. Di mana, Mbak?”

“Di sebuah keluarga di Jakarta Selatan. Gajinya memang lebih kecil, tapi pekerjaannya jelas dan saya punya waktu istirahat yang cukup.”

Aku ikut lega.

“Syukurlah, Mbak.”

Dia tertawa kecil.

“Tapi saya mau cerita sesuatu.”

“Apa?”

“Saya sekarang juga ikut kursus memasak setiap akhir pekan. Saya ingin suatu hari punya usaha katering kecil.”

Aku tersenyum semakin lebar.

“Bagus sekali. Kalau Mbak mulai jualan, kabari saya.”

Kami tertawa bersama.

Setelah panggilan berakhir, aku duduk di dekat jendela apartemen.

Dari sana terlihat gedung-gedung Jakarta yang mulai diterangi cahaya sore.

Dulu aku mengira kehilangan pekerjaan Dimas adalah masalah terbesar dalam keluarga kami.

Ternyata itu hanya awal dari terbongkarnya kebohongan yang telah berlangsung bertahun-tahun.

Namun ada satu kejadian terakhir yang membuatku benar-benar memahami betapa hidup bisa berubah.

Suatu malam, Naila pulang dari sekolah membawa sebuah gambar.

Di atas kertas terdapat dua perempuan berdiri di dapur.

Salah satunya mengenakan celemek.

Yang lainnya memakai pakaian kerja.

Aku tersenyum.

“Ini siapa, Sayang?”

Naila menunjuk perempuan pertama.

“Ini Mama waktu dulu sering masak sama Mbak Sari.”

Kemudian dia menunjuk perempuan kedua.

“Kalau ini Mama sekarang, pulang kerja bawa tas.”

Aku tertawa kecil.

“Terus kenapa digambar dua Mama?”

Naila menatapku polos.

“Karena dua-duanya Mama.”

Aku terdiam.

Dia melanjutkan.

“Dulu Mama jagain Naila di rumah. Sekarang Mama kerja juga. Tapi Mama tetap Mama yang sama.”

Air mataku langsung menggenang.

Aku memeluk putriku.

“Benar, Sayang.”

Naila tersenyum.

“Kalau Naila sudah besar, Naila mau jadi orang yang bisa kerja dan masak sendiri. Biar enggak merepotkan orang lain.”

Aku tertawa sambil mengusap matanya.

“Kamu boleh jadi apa pun yang kamu suka. Yang penting belajar bertanggung jawab dan menghargai orang lain.”

Malam itu, setelah Naila tidur, aku menempelkan gambar tersebut di dekat meja kerjaku.

Aku memandangnya cukup lama.

Delapan tahun pernikahan telah berakhir.

Pekerjaan yang pernah kutinggalkan mulai kubangun kembali.

Dan rumah yang dulu terasa penuh kebohongan perlahan menjadi tempat yang lebih tenang bagi kami berdua.

Aku mungkin kehilangan suami.

Namun aku tidak kehilangan kemampuanku untuk memulai lagi.

Dan sekarang aku tahu, nilai seorang perempuan tidak ditentukan oleh apakah dia bekerja di kantor, mengurus rumah, atau harus menjalani keduanya sekaligus.

Karena yang membuat sebuah keluarga bertahan bukanlah besarnya penghasilan atau mahalnya biaya pengasuh.

Melainkan kejujuran, tanggung jawab, dan rasa hormat kepada orang-orang yang mempercayai kita.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang