Aku kembali ke vila bukan untuk merebut suamiku.
Aku kembali untuk memastikan dua orang yang mengira telah berhasil menghancurkan hidupku tidak sempat menikmati satu rupiah pun dari apa yang mereka curi.
Begitu pintu kubuka, Budi masih berdiri di ruang tengah. Indah sudah tidak terlihat. Mungkin perempuan itu sedang berganti pakaian, atau mungkin sedang sibuk menghapus jejak.
Budi menatapku kesal.
“Kamu balik lagi buat apa?”
Aku tersenyum.
“Ini rumahku. Kenapa aku harus punya alasan untuk masuk?”
Wajahnya berubah sedikit.
Aku berjalan menuju sofa, meletakkan tas di meja, lalu menatapnya seolah tidak terjadi apa-apa.
“Maaf,” kataku pelan. “Tadi aku terlalu emosional.”
Budi terdiam.
Jelas dia tidak menduga aku akan mengatakan itu.
“Aku capek setelah penerbangan panjang. Melihat Indah memakai jubahku membuatku salah paham.”
Ketegangan di wajahnya perlahan mengendur.
“Nah, begitu. Kamu harusnya berpikir dewasa.”
Aku hampir tertawa.

Tiga menit lalu aku melihat bukti perselingkuhannya dan menemukan delapan puluh miliar rupiah milik perusahaan keluargaku raib, tetapi laki-laki ini masih merasa dirinya pihak yang paling masuk akal.
“Aku mau tidur,” kataku.
Budi mengangguk. “Tidur saja di kamar tamu. Indah masih belum enak badan.”
Kalimat itu membuatku menatapnya.
“Kamar utama kita dipakai Indah?”
“Hanya sementara.”
Aku mengangguk.
“Baik.”
Malam itu aku masuk ke kamar tamu dan mengunci pintu.
Aku tidak tidur sedetik pun.
Hal pertama yang kulakukan adalah menghubungi Pak Aditya lagi.
“Jangan hanya siapkan gugatan cerai,” bisikku. “Ada transfer delapan puluh miliar dari rekening Pratama Corp. Saya kirimkan bukti transaksinya sekarang.”
Suara Pak Aditya langsung berubah serius.
“Apakah Ibu melakukan transfer itu?”
“Tidak.”
“Kalau begitu jangan lakukan apa pun yang membuat mereka curiga. Saya akan hubungi tim audit internal dan bank.”
Aku kemudian menghubungi satu orang lain, Dimas, kepala keamanan sistem Pratama Corp.
Tiga puluh menit kemudian dia menelepon kembali.
“Bu Siti, saya menemukan sesuatu.”
“Apa?”
“Transfer dilakukan menggunakan otorisasi digital milik Ibu.”
Aku terdiam.
“Itu tidak mungkin.”
“Ada login dari perangkat yang sebelumnya pernah terdaftar sebagai perangkat terpercaya.”
“Perangkat apa?”
Dimas menarik napas.
“Laptop pribadi Pak Budi.”
Saat itulah semuanya mulai masuk akal.
Setahun lalu, ketika aku sakit dan harus dirawat di London, aku pernah meminta Budi membantuku mengakses beberapa dokumen perusahaan melalui laptopnya. Rupanya dia menyimpan token autentikasi yang seharusnya langsung dihapus.
Kesalahan kecil.
Dan dia menunggu hampir setahun untuk memanfaatkannya.
“Tapi ada kabar baik,” lanjut Dimas. “Transfer internasional sebesar itu tidak langsung selesai. Dana sedang melewati proses verifikasi kepatuhan. Kalau bank menerima laporan fraud sebelum proses kliring selesai, kemungkinan besar dana masih bisa dibekukan.”
“Berapa lama kita punya waktu?”
“Paling lambat besok siang.”
Aku memejamkan mata.
“Lakukan.”
Setelah telepon ditutup, aku membuka foto yang dikirim nomor misterius tadi.
Budi dan Indah.
Ranjangku.
Kamar yang kupilih sendiri.
Lalu aku melihat sesuatu di sudut foto.
Cermin.
Di dalam pantulan cermin terlihat sebagian tubuh seseorang yang memegang ponsel.
Jadi foto itu bukan diambil Budi ataupun Indah.
Ada orang ketiga.
Aku membalas pesan nomor tersebut.
“Siapa kamu?”
Tidak ada jawaban.
Aku mengirim lagi.
“Kenapa membantuku?”
Lima menit kemudian muncul balasan.
“Karena saya juga mereka hancurkan.”
Pagi harinya, suasana rumah berubah seolah malam sebelumnya tidak pernah terjadi.
Indah muncul mengenakan pakaian kerjanya. Dia bahkan sempat tersenyum kepadaku.
“Maaf soal semalam, Mbak.”
Aku tersenyum balik.
“Tidak masalah.”
Budi terlihat puas melihat reaksiku.
Besok adalah ulang tahunnya yang ke tiga puluh delapan. Dia sudah merencanakan pesta besar di hotel bintang lima di Jakarta. Investor, direksi, kerabat, dan teman-temannya akan datang.
Aku memutuskan pesta itu tetap berlangsung.
Bahkan aku menawarkan diri mengurus kejutan utama.
Budi terlihat senang.
“Itu baru istriku.”
Dia mencium keningku.
Aku menahan rasa jijik.
Siang itu aku menemui Pak Aditya di kantornya.
Di atas meja sudah tersedia dokumen gugatan cerai, laporan dugaan penggelapan, serta berkas pembekuan transaksi.
Namun ada satu dokumen lain.
Pak Aditya mendorongnya ke arahku.
“Ini lebih penting.”
Aku membacanya.
Tanganku langsung dingin.
Ternyata selama enam bulan terakhir, Budi diam-diam berusaha mengubah struktur kepemilikan Wijaya Group. Dia membuat serangkaian perusahaan cangkang dan memindahkan sejumlah aset ke sana.
Yang membuatku muak, beberapa dokumen mencantumkan tanda tanganku.
Palsu.
“Kalau rencananya berhasil,” kata Pak Aditya, “setelah uang Pratama Corp dipindahkan, Pak Budi kemungkinan akan mengajukan perceraian lebih dulu. Dia ingin membuat seolah-olah Ibu menyalahgunakan dana perusahaan sebelum kabur ke luar negeri.”
Aku tertawa kecil.
Jadi begitu.
Budi tidak sekadar berselingkuh.
Dia sedang menyiapkan pemakamanku secara finansial.
“Dana delapan puluh miliar?”
“Sudah dibekukan.”
Untuk pertama kalinya sejak pulang dari London, dadaku terasa sedikit lega.
“Tapi jangan beri tahu dia dulu,” kataku.
Pak Aditya menatapku.
“Ibu punya rencana?”
“Besok ulang tahunnya.”
Aku tersenyum.
“Saya ingin memberinya hadiah.”
Malam berikutnya ballroom hotel dipenuhi lebih dari dua ratus tamu.
Budi mengenakan setelan hitam mahal. Indah berdiri tidak jauh darinya dalam gaun merah marun, seolah sekretaris pribadi harus tampil seperti pendamping sang pemilik perusahaan.
Aku datang terakhir.
Budi langsung menghampiriku.
“Kamu cantik sekali malam ini.”
“Malam ini spesial.”
“Hadiahku mana?”
Aku tersenyum.
“Nanti.”
Pesta berlangsung mewah.
Saat acara utama dimulai, pembawa acara mempersilakanku naik ke panggung.
Aku membawa sebuah kotak beludru hitam.
Kotak yang sama seperti hadiah jam tangan yang sebelumnya kubuang.
Bedanya, isinya sudah kuganti.
“Selamat malam,” kataku di depan mikrofon.
Semua orang menoleh.
“Sebagai istri, saya ingin mengucapkan selamat ulang tahun kepada suami saya, Budi Wijaya.”
Tepuk tangan terdengar.
Budi tersenyum lebar.
“Tiga tahun pernikahan mengajarkan saya banyak hal. Tentang kepercayaan. Tentang kesetiaan. Dan terutama tentang mengetahui kapan kita harus mempertahankan sesuatu dan kapan kita harus melepaskannya.”
Senyum Budi mulai memudar.
Aku membuka kotak.
Tidak ada jam tangan di dalamnya.
Aku mengeluarkan sebuah amplop.
“Hadiah pertama saya adalah surat gugatan cerai.”
Ballroom langsung sunyi.
Wajah Budi memucat.
“Siti, kamu gila?”
“Belum selesai.”
Layar besar di belakang panggung menyala.
Muncul foto Budi dan Indah di kamar kami.
Suara gaduh langsung memenuhi ruangan.
Indah berdiri membeku.
“Kamu dapat dari mana foto itu?” teriak Budi.
Aku tidak menjawab.
Layar berganti.
Bukti transfer delapan puluh miliar rupiah.
Dokumen perusahaan cangkang.
Tanda tangan palsu.
Catatan login digital.
Semua terpampang satu per satu.
Budi naik ke panggung.
“Matikan layar itu!”
Petugas keamanan menghadangnya.
Dia menunjukku dengan tangan gemetar.
“Kamu menjebakku!”
Aku menatapnya tenang.
“Tidak, Budi. Aku hanya menyalakan lampu di ruangan tempat kamu melakukan kejahatan.”
Indah tiba-tiba berlari menuju pintu.
Namun dua petugas sudah menunggunya.
Wajahnya pucat.
“Pak Budi yang menyuruh saya! Saya cuma mengikuti perintah!”
Budi langsung menoleh.
“Indah! Tutup mulutmu!”
“Apa?” Indah mulai menangis. “Kamu bilang semuanya aman! Kamu bilang setelah uangnya masuk kita pergi ke Singapura!”
Para tamu mulai berbisik.
Budi kehilangan kendali.
Dia menerjang ke arahku.
Tetapi sebelum tangannya menyentuhku, petugas keamanan menahannya.
Saat itulah seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh tahun berjalan dari antara para tamu.
Aku mengenalinya.
Rina.
Mantan staf keuangan Wijaya Group yang dipecat enam bulan lalu karena dituduh mencuri data perusahaan.
Dia berdiri di hadapanku.
“Saya yang mengirim foto itu.”
Aku terpaku.
Rina kemudian menatap Budi.
“Enam bulan lalu saya menemukan perusahaan cangkang yang dia buat. Saya mencoba melapor kepada Bu Siti, tapi Pak Budi mengetahuinya. Dia memfitnah saya mencuri uang perusahaan.”
Budi berteriak, “Dia bohong!”
Rina mengeluarkan ponselnya.
“Saya punya rekamannya.”
Suara Budi kemudian terdengar dari pengeras suara ballroom.
Suara yang sangat jelas.
“Begitu delapan puluh miliar masuk, kita buat Siti terlihat sebagai pelakunya. Setelah itu saya ajukan cerai. Dia akan sibuk menghadapi kasus hukum, sementara kita sudah di luar negeri.”
Wajah Budi kehilangan seluruh warnanya.
Namun kejutan terbesar belum datang.
Pak Aditya naik ke panggung membawa dokumen.
“Pak Budi,” katanya tenang, “ada satu hal yang mungkin Anda lewatkan ketika menyusun rencana ini.”
Budi menatapnya.
“Berdasarkan perjanjian investasi tiga tahun lalu, mayoritas modal Wijaya Group berasal dari Pratama Corp. Ada klausul khusus yang menyatakan bahwa jika ditemukan fraud atau penggelapan oleh direktur utama, hak kendali saham yang berasal dari investasi tersebut otomatis kembali kepada Pratama Corp.”
Budi terdiam.
Aku melanjutkan kalimatnya.
“Artinya mulai malam ini, kamu bukan lagi pemegang kendali Wijaya Group.”
“Apa?”
“Kamu dipecat.”
Budi menatapku seolah baru pertama kali melihat siapa diriku sebenarnya.
Beberapa menit kemudian petugas membawa Budi dan Indah keluar untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut terkait laporan yang telah diajukan.
Para tamu hanya bisa menonton.
Pesta ulang tahun berubah menjadi hari ketika seluruh kerajaan palsunya runtuh.
Tiga bulan kemudian, proses perceraian kami selesai.
Penyelidikan atas penggelapan dan pemalsuan dokumen terus berjalan. Dana delapan puluh miliar berhasil dikembalikan sepenuhnya ke rekening perusahaan.
Rina mendapatkan pemulihan nama baik dan kembali bekerja di Pratama Corp, kali ini sebagai kepala kepatuhan internal.
Sedangkan aku?
Aku pindah dari vila Pondok Indah.
Bukan karena rumah itu mengingatkanku kepada Budi.
Aku menjualnya karena tidak ingin mempertahankan tempat yang sudah kehilangan makna.
Suatu sore, saat membersihkan barang-barang terakhir, petugas kebersihan datang membawa sebuah kotak beludru hitam.
“Bu Siti, ini ditemukan petugas keamanan di dekat tempat sampah beberapa bulan lalu.”
Aku membukanya.
Jam tangan Swiss seharga lima ratus juta rupiah itu masih ada di dalam.
Rupanya petugas keamanan menemukannya malam itu dan menyimpannya karena mengenali namaku pada kartu pembelian.
Aku membalik jam tersebut.
Di belakangnya masih terukir tanggal pernikahan kami.
Untuk beberapa detik aku hanya menatapnya.
Dulu aku mengira benda itu melambangkan cinta.
Sekarang aku tahu, benda itu hanya menunjukkan waktu.
Aku membawa jam tersebut ke rumah lelang amal dan menyumbangkan seluruh hasil penjualannya untuk program bantuan hukum bagi perempuan korban penipuan finansial dalam rumah tangga.
Beberapa minggu kemudian, Pak Aditya bertanya kepadaku saat kami minum kopi.
“Tidak sayang membuang hadiah semahal itu?”
Aku tersenyum.
“Saya tidak membuangnya.”
“Lalu?”
Aku memandang keluar jendela. Jakarta sore itu diguyur hujan, persis seperti malam ketika aku pulang dari London.
“Saya cuma mengubah penerimanya.”
Dulu aku terbang ribuan kilometer karena mengira kejutan terbaik untuk ulang tahun suamiku adalah jam tangan mahal.
Ternyata aku salah.
Hadiah terbaik yang kuberikan kepadanya adalah kebebasan untuk hidup tanpa aku, tanpa hartaku, dan tanpa perusahaan yang selama ini dia kira bisa dicurinya.
Dan hadiah terbaik yang kuberikan kepada diriku sendiri adalah keberanian untuk berhenti mempertahankan seseorang hanya karena aku sudah terlalu lama mencintainya.
Karena pengkhianatan tidak selalu menghancurkan hidup seseorang.
Kadang-kadang, pengkhianatan justru membuka pintu yang selama ini kita terlalu takut untuk buka.
Pintu keluar.
