SUAMIKU MEMBERIKAN 8% SAHAM KEPADA DIREKTUR BARUNYA DI DEPAN 300

Tanganku gemetar ketika membaca namaku di halaman terakhir dokumen itu.

Aku bukan hanya dicantumkan sebagai tenaga ahli untuk memenuhi persyaratan tender. Aku dibuat seolah-olah telah memeriksa dan menyetujui rancangan jembatan senilai Rp812,4 miliar.

Padahal, empat bulan sebelumnya, aku sudah memperingatkan bahwa fondasi pilar P-7 berisiko mengalami penurunan diferensial.

Jika desain itu benar-benar digunakan tanpa perbaikan, keselamatan orang-orang yang kelak melintasi jembatan tersebut bisa terancam.

Aku segera menghubungi sekretariat panitia tender.

“Selamat pagi. Saya Rania Sasmita, tenaga ahli yang namanya tercantum dalam dokumen PT Aruna Infrastruktur.”

Petugas perempuan di seberang telepon terdengar ramah.

“Ada yang bisa kami bantu, Bu?”

“Saya ingin menyampaikan keberatan resmi. Tanda tangan elektronik atas nama saya digunakan tanpa persetujuan, dan saya tidak pernah mengesahkan dokumen teknis proyek Tambak Wangi.”

Suaranya langsung berubah serius.

“Ibu memiliki bukti pendukung?”

“Ada. Saya juga memiliki catatan pemeriksaan desain sebelumnya yang menunjukkan keberatan teknis saya.”

Petugas itu meminta agar laporan disampaikan melalui kanal resmi dan dokumen pendukung diamankan.

Aku langsung mengirimkan pemberitahuan tertulis bersama Dinda, pengacaraku, yang baru tiba di kantor.

Namun, belum lima menit berlalu, ponselku berdering.

Bima.

Aku mengaktifkan pengeras suara.

“Rania, kamu menghubungi panitia tender?”

Aku menatap Dinda.

“Iya.”

“Kamu mau menghancurkan perusahaan kita?”

Aku menarik napas panjang.

“Perusahaanmu mengajukan desain berisiko menggunakan namaku tanpa izin.”

Bima membentak.

“Jangan berlebihan! Itu baru tahap tender!”

“Justru karena belum dibangun, masalahnya harus diperbaiki sekarang.”

Sambungan mendadak terputus.

Dinda menatapku.

“Ran, kamu harus segera mengamankan bukti bahwa sertifikat elektronikmu diakses tanpa persetujuan.”

Aku mengangguk.

Kami menghubungi penyelenggara layanan sertifikasi elektronik untuk meminta penangguhan penggunaan kredensial yang diduga disalahgunakan dan penelusuran riwayat autentikasinya.

Kemudian aku menyerahkan salinan desain awal, catatan peringatanku, dan dokumen tender yang memuat tanda tangan atas namaku.

Siang itu, Bagas akhirnya datang.

Adikku terlihat sangat lelah.

Begitu masuk ruangan, dia langsung menutup pintu.

“Kak, aku minta maaf.”

Aku berdiri.

“Kamu tahu sesuatu?”

Bagas mengangguk.

“Aku yang meminjam laptop Kakak bulan lalu.”

“Aku tahu. Untuk apa sebenarnya?”

Dia menunduk.

“Bima meminta aku membantu memindahkan arsip digital. Dia bilang sertifikat profesi Kakak harus diperbarui supaya data tenaga ahli perusahaan tetap aktif.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Dan kamu memberikan aksesnya?”

“Aku menjalankan proses migrasi pada laptop lama. Tapi aku nggak tahu kredensial itu akan digunakan untuk menandatangani dokumen tender.”

Aku mengepalkan tangan.

“Bagas, kamu kepala infrastruktur digital. Kamu seharusnya tahu bahwa sertifikat elektronik pribadi tidak boleh dipakai orang lain!”

Air matanya mulai jatuh.

“Aku tahu sekarang. Aku sudah memeriksa catatan akses.”

Dia mengeluarkan laptop.

Di layar terdapat riwayat penggunaan akun.

Pukul 14.42 pada hari acara pemberian saham kepada Keisha, ada permintaan tanda tangan melalui jaringan kantor Aruna.

Permintaan itu berasal dari perangkat yang terdaftar atas nama Keisha.

Aku langsung menegakkan tubuh.

“Jadi Keisha yang menggunakannya?”

“Perangkatnya dipakai dari ruang direktur strategi. Tapi kita belum bisa memastikan siapa yang duduk di depannya.”

Aku menatap Bagas.

“Apakah Bima tahu?”

Bagas menunjukkan catatan persetujuan internal.

Di sana terdapat pesan singkat dari akun Bima.

Proseskan dokumen hari ini. Jangan menunggu Rania.

Dadaku langsung terasa dingin.

Bima bukan sekadar mengetahui bahwa namaku digunakan.

Dia memerintahkan agar proses itu tetap dilanjutkan tanpa menungguku.

Namun, bagian paling mengejutkan justru muncul ketika Bagas membuka riwayat revisi desain.

Catatan peringatan mengenai pilar P-7 ternyata pernah dimasukkan kembali oleh seorang insinyur junior bernama Fajar.

Tiga minggu sebelum tender ditutup.

Namun, sehari kemudian, catatan itu kembali dihapus.

Aku langsung bertanya.

“Siapa yang menghapusnya?”

Bagas menatapku dengan wajah pucat.

“Keisha.”

Aku merasa seluruh tubuhku menegang.

Jadi perempuan yang baru saja menerima saham senilai puluhan miliar itu bukan hanya terlibat dalam administrasi tender.

Dia juga tercatat mengubah dokumen yang berisi peringatan keselamatan.

Aku segera menghubungi Fajar.

Panggilan dijawab setelah dering kedua.

“Bu Rania?”

“Fajar, saya menemukan revisi desain pilar P-7 yang pernah kamu buat.”

Suasana di seberang langsung hening.

“Bu, saya sebenarnya sudah mau menghubungi Ibu.”

“Kenapa?”

Fajar menarik napas berat.

“Karena kemarin saya diminta menandatangani berita acara bahwa seluruh masalah fondasi sudah selesai.”

Aku menutup mata.

“Kamu menandatanganinya?”

“Tidak, Bu.”

Aku mengembuskan napas lega.

“Tapi saya diancam akan dipindahkan dari proyek kalau terus mempertanyakan desain.”

Aku menatap Dinda.

“Fajar, simpan seluruh catatan teknismu. Jangan mengubah berkas apa pun. Saya akan menyampaikan informasi ini melalui proses pemeriksaan resmi.”

Setelah menutup telepon, aku duduk cukup lama.

Tujuh tahun aku membantu membangun Aruna Infrastruktur.

Aku mengenal hampir seluruh insinyur yang bekerja di sana.

Mereka bukan orang yang tidak memahami risiko struktur.

Namun, seseorang sedang menekan mereka agar mengabaikan peringatan demi memenangkan proyek.

Keesokan paginya, panitia tender menyampaikan bahwa kelengkapan dan keabsahan dokumen tenaga ahli PT Aruna Infrastruktur akan diperiksa lebih lanjut.

Pernyataan itu belum berarti perusahaan dinyatakan bersalah.

Namun, cukup membuat Bima panik.

Pukul sebelas, dia datang ke kantorku bersama Keisha.

Wajah keduanya terlihat tegang.

“Rania, cabut laporanmu,” kata Bima tanpa basa-basi.

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

“Karena kita bisa kehilangan proyek terbesar dalam sejarah perusahaan!”

Aku menunjuk dokumen yang berada di meja.

“Proyek itu seharusnya tidak dimenangkan menggunakan persetujuan palsu dan desain yang belum aman.”

Keisha langsung menyela.

“Mbak Rania, perhitungan itu sudah ditinjau konsultan geoteknik.”

“Kalau begitu, tunjukkan hasil evaluasi terbaru beserta data penyelidikannya.”

Keisha terdiam.

Aku melanjutkan.

“Apakah penyelidikan tanah tambahan sudah dilakukan?”

Dia tidak menjawab.

“Apakah desain fondasi P-7 sudah direvisi?”

Bima langsung membentak.

“Cukup!”

Aku menatap suamiku.

“Ini bukan soal harga dirimu, Bima. Ini soal keselamatan jembatan.”

Keisha tiba-tiba mengeluarkan sebuah map.

“Mbak Rania, saya sebenarnya datang untuk menawarkan penyelesaian.”

Aku membuka map itu.

Di dalamnya terdapat rancangan perjanjian konsultasi.

Nilai pembayaran Rp3,5 miliar.

Aku membaca isinya perlahan.

Sebagai imbalannya, aku diminta menyatakan bahwa seluruh dokumen teknis sudah diperiksa dan disetujui sebelum pengajuan tender.

Aku tertawa getir.

“Jadi sekarang kalian mau membayar agar aku membenarkan dokumen yang tidak pernah kusetujui?”

Bima menunduk.

Keisha terlihat semakin gelisah.

Aku menutup map tersebut.

“Tidak.”

Bima memandangku dengan mata merah.

“Rania, kamu istriku!”

Aku menggeleng.

“Dan tadi malam kamu menyebutku cuma seorang istri.”

Dia terdiam.

Aku melanjutkan.

“Sekarang kamu baru ingat aku istrimu karena tanda tanganku bisa menyelamatkan proyek?”

Tidak ada jawaban.

Aku meminta mereka meninggalkan ruangan.

Namun, sebelum keluar, Keisha tiba-tiba berbalik.

“Kalau perusahaan kehilangan proyek ini, bukan cuma Pak Bima yang akan jatuh.”

Aku mengerutkan kening.

“Maksudmu?”

Keisha menatapku dengan wajah pucat.

“Ada uang muka dari investor yang sudah dipakai untuk membayar kewajiban perusahaan.”

Bima langsung menarik lengannya.

“Keisha, diam!”

Aku menegakkan tubuh.

“Kewajiban apa?”

Keisha tidak menjawab.

Mereka buru-buru meninggalkan kantor.

Namun, perkataannya membuatku menyadari bahwa persoalan ini mungkin jauh lebih besar daripada tender.

Sore itu, Dinda membantuku meminta pemeriksaan terhadap dokumen keuangan yang relevan melalui jalur yang sah.

Dari informasi yang kemudian tersedia, diketahui bahwa Aruna Infrastruktur sedang mengalami tekanan arus kas.

Beberapa proyek lama terlambat dibayar.

Sebagian fasilitas pinjaman mendekati jatuh tempo.

Dan Bima telah menjanjikan pengembalian tertentu kepada kelompok investor swasta apabila perusahaan berhasil memperoleh proyek Tambak Wangi.

Aku merasa dadaku sesak.

Jadi Bima bukan hanya ingin memenangkan tender.

Dia sangat membutuhkan proyek itu untuk mempertahankan kepercayaan para pemberi modal.

Namun, mengapa Keisha menerima saham sebesar delapan persen tepat pada malam dokumen tender digunakan?

Jawabannya datang tiga hari kemudian.

Bagas mengirimkan salinan dokumen korporasi yang diperoleh dalam pemeriksaan internal.

Ternyata penyerahan saham di ballroom bukan transaksi yang selesai hanya dengan pengumuman dan sebuah map.

Dokumen pengalihannya telah dipersiapkan sebelumnya dan masih harus memenuhi prosedur perusahaan yang berlaku.

Namun, terdapat sebuah perjanjian pendahuluan antara Bima dan Keisha.

Dalam perjanjian itu, pemberian delapan persen saham dikaitkan dengan keberhasilan Keisha menyelesaikan pengajuan proyek Tambak Wangi.

Aku membaca dokumen tersebut dengan tangan gemetar.

Berarti Keisha memiliki kepentingan pribadi yang sangat besar untuk memastikan dokumen tender diterima.

Termasuk dokumen yang menggunakan namaku.

Namun, ada satu klausul lain yang membuatku membeku.

Jika proyek tidak diperoleh, Bima wajib membayar kompensasi tertentu kepada Keisha berdasarkan perjanjian terpisah.

Aku menatap Bagas.

“Berarti saham itu bukan sekadar penghargaan?”

Bagas menggeleng.

“Bukan, Kak. Itu bagian dari kesepakatan bisnis mereka.”

Aku merasa darahku mendidih.

Bima berdiri di depan tiga ratus tamu dan mengatakan Keisha pantas menerima saham karena kontribusinya.

Padahal, berdasarkan dokumen tersebut, pemberian saham berkaitan langsung dengan keberhasilan pengajuan tender yang menggunakan persetujuanku tanpa izin.

Aku memejamkan mata.

Perusahaan yang kubantu bangun selama bertahun-tahun ternyata sedang dipertaruhkan melalui kesepakatan yang tidak pernah kuketahui.

Namun, kejutan terbesar datang ketika Fajar menghubungiku malam itu.

“Bu Rania, saya menemukan laporan penyelidikan tanah tambahan yang pernah diminta tim teknis.”

Aku langsung berdiri.

“Laporan apa?”

“Dua bulan lalu, konsultan geoteknik sudah mengirim rekomendasi revisi fondasi P-7.”

Aku terdiam.

“Kenapa laporan itu nggak ada dalam dokumen tender?”

Fajar menarik napas.

“Karena hasilnya menunjukkan biaya tambahan hampir Rp96 miliar jika desain diperbaiki sesuai rekomendasi.”

Aku merasa seluruh tubuhku dingin.

“Jadi mereka sengaja menghilangkannya?”

“Itu yang saya khawatirkan, Bu.”

Aku meminta Fajar mempertahankan dokumen asli dan menyampaikannya melalui jalur pemeriksaan resmi.

Keesokan harinya, laporan geoteknik tersebut menjadi bagian dari informasi yang diserahkan kepada pihak berwenang dan panitia tender.

Di dalamnya terdapat rekomendasi yang sangat jelas.

Fondasi pilar P-7 membutuhkan peninjauan ulang.

Tanpa perubahan yang sesuai, risiko penurunan diferensial tidak dapat dianggap selesai.

Aku membaca laporan itu dengan napas berat.

Jika proyek tetap menggunakan desain lama, perusahaan mungkin dapat menghemat biaya pada awal pembangunan.

Namun, risiko teknisnya dapat menimbulkan kerugian dan bahaya jauh lebih besar.

Beberapa minggu kemudian, hasil pemeriksaan dokumen tender menunjukkan adanya ketidaksesuaian serius dalam proses persetujuan tenaga ahli.

Panitia mengambil langkah sesuai ketentuan pengadaan, termasuk menilai kembali kelayakan dokumen PT Aruna Infrastruktur.

Perusahaan juga harus memberikan klarifikasi mengenai desain fondasi dan laporan geoteknik yang belum disertakan.

Aku tidak mengetahui seluruh keputusan akhirnya pada saat itu.

Namun, satu hal sudah pasti.

Namaku tidak lagi dapat digunakan untuk menyatakan persetujuan teknis yang tidak pernah kuberikan.

Sementara itu, pemeriksaan terhadap dugaan penyalahgunaan sertifikat elektronik terus berjalan.

Bima dan Keisha diminta memberikan keterangan mengenai akses perangkat dan proses pengajuan dokumen.

Bagas juga menyerahkan catatan migrasi sistem yang pernah dilakukannya.

Aku tidak berusaha melindungi adikku dari tanggung jawabnya.

Jika dia lalai menjaga akses, dia harus menjelaskan kelalaiannya.

Namun, berdasarkan catatan yang tersedia, Bagas tidak tercatat sebagai pihak yang memberikan perintah penggunaan tanda tangan elektronik pada hari dokumen tender diajukan.

Suatu sore, Bima datang menemuiku.

Tidak ada Keisha.

Tidak ada pengacara.

Dia berdiri di depan rumah dengan wajah lelah.

“Rania, aku kehilangan banyak hal.”

Aku menatapnya.

“Apa?”

“Keisha menuntut pelaksanaan kesepakatan saham. Investor menagih komitmen. Dan perusahaan harus menyusun ulang seluruh rencana keuangan.”

Aku tidak menjawab.

Bima menunduk.

“Aku pikir kalau berhasil memenangkan proyek Tambak Wangi, semuanya akan kembali baik.”

Aku menggeleng.

“Dengan mengabaikan keselamatan jembatan?”

Dia menangis.

“Aku takut perusahaan bangkrut.”

Aku menatapnya lama.

“Bima, kegagalan bisnis bisa dihadapi. Tapi kalau jembatan itu dibangun dengan desain yang berisiko, yang menanggung akibatnya bukan cuma kamu.”

Air matanya jatuh.

“Aku tahu.”

Aku menarik napas panjang.

“Apa kamu tahu sejak awal bahwa namaku dipakai?”

Bima terdiam cukup lama.

Kemudian mengangguk.

“Aku tahu Keisha mengurus dokumen tenaga ahli. Aku juga tahu kamu belum menyetujui desainnya.”

Aku memejamkan mata.

“Lalu kenapa kamu membiarkannya?”

“Karena aku nggak punya keberanian menghentikan semuanya.”

Aku menatapnya dengan kecewa.

Ternyata suamiku tidak kehilangan kendali dalam satu malam.

Dia telah membuat serangkaian keputusan yang salah, lalu berharap keberhasilan proyek akan menutupi semuanya.

Aku akhirnya mengatakan sesuatu yang selama berminggu-minggu kutahan.

“Aku akan mengurus perceraian, Bima.”

Dia mengangkat wajah.

“Rania…”

“Aku sudah terlalu lama membiarkan kontribusiku dianggap tidak berarti. Sekarang kamu bahkan menggunakan namaku untuk menanggung risiko yang sudah kutolak.”

Bima menutup wajah.

Aku melanjutkan.

“Aku tidak mau hidup bersama seseorang yang menganggap kepercayaan sebagai izin untuk menggunakan identitas istrinya.”

Dia tidak mencoba menahanku.

Beberapa bulan kemudian, proses perceraian kami berjalan dengan pendampingan hukum.

Aku kembali fokus pada pekerjaan sebagai insinyur struktur di perusahaan konsultan independen.

Namun, pengalaman Tambak Wangi membuatku lebih berhati-hati terhadap penggunaan sertifikasi profesi.

Aku mulai mengadakan pelatihan kecil bagi insinyur muda mengenai tanggung jawab profesional, pengamanan kredensial elektronik, dan pentingnya mendokumentasikan keberatan teknis.

Suatu hari, Fajar datang menemuiku.

Dia membawa kabar bahwa rancangan fondasi P-7 akhirnya harus ditinjau ulang dengan data geoteknik tambahan sebelum dapat digunakan untuk pelaksanaan.

Aku mengembuskan napas lega.

“Bagus.”

Fajar tersenyum.

“Bu Rania, saya dulu hampir menandatangani berita acara itu karena takut kehilangan pekerjaan.”

Aku menatapnya.

“Tapi kamu tidak melakukannya.”

Dia mengangguk.

“Karena saya ingat catatan Ibu. Risiko penurunan diferensial bukan sesuatu yang bisa dihapus hanya dengan mengganti halaman persetujuan.”

Aku tersenyum.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa perjuanganku tidak sia-sia.

Namun, suatu malam, aku menerima sebuah amplop dari kantor pengacaraku.

Di dalamnya terdapat hasil penelusuran tambahan mengenai kesepakatan antara Bima dan Keisha.

Aku membacanya perlahan.

Ternyata delapan persen saham yang dijanjikan Bima tidak hanya berkaitan dengan keberhasilan proyek Tambak Wangi.

Ada pula rancangan pengaturan hak suara yang akan memberikan Keisha pengaruh lebih besar dalam keputusan strategis perusahaan apabila sejumlah persyaratan terpenuhi.

Aku menatap dokumen tersebut cukup lama.

Selama ini aku mengira Keisha hanya ingin menjadi pemegang saham.

Ternyata dia juga sedang membangun posisi untuk mengendalikan keputusan bisnis perusahaan dari dalam.

Namun, yang paling membuatku terdiam adalah sebuah catatan dari korespondensi Bima.

Rania tidak akan ikut campur. Dia sudah lama tidak mengurus perusahaan. Namanya hanya diperlukan untuk kelengkapan teknis.

Aku membaca kalimat itu berulang kali.

Kemudian tertawa kecil.

Ternyata Bima memang menganggapku sekadar nama.

Nama yang bisa ditempelkan pada dokumen.

Nama yang bisa digunakan untuk memenuhi persyaratan.

Nama yang bisa diminta menanggung tanggung jawab tanpa diberi kesempatan mengambil keputusan.

Aku menutup amplop tersebut.

Lalu memandang sertifikat profesiku yang tergantung di dinding.

Di sana tertulis nama lengkapku.

Ir. Rania Sasmita.

Aku mendapatkan sertifikat itu melalui bertahun-tahun pendidikan, pengalaman lapangan, dan ujian kompetensi.

Bukan karena menjadi istri Bima.

Bukan karena perusahaan Aruna.

Dan bukan karena kemurahan hati siapa pun.

Aku kembali teringat malam ketika Bima memberikan delapan persen saham kepada Keisha di hadapan tiga ratus tamu.

Malam ketika dia menyebutku cuma seorang istri.

Saat itu aku merasa seluruh kontribusiku dihapus begitu saja.

Namun, ternyata yang paling berbahaya bukanlah penghinaan di depan banyak orang.

Melainkan ketika seseorang merasa berhak menggunakan nama dan keahlian orang lain tanpa menghormati tanggung jawab yang menyertainya.

Aku mematikan lampu ruang kerja.

Besok pagi, aku harus meninjau sebuah proyek jembatan baru di Jawa Tengah.

Sebelum tidur, aku membuka kembali catatan teknis yang pernah kutulis tentang pilar P-7.

Di bagian atasnya masih terdapat kalimat yang kuberi garis merah.

Risiko penurunan diferensial tinggi. Desain wajib ditinjau ulang.

Aku tersenyum tipis.

Kalimat itu hampir dihapus dari sejarah proyek.

Namun, akhirnya tetap menjadi bagian dari pemeriksaan yang memaksa semua pihak menghadapi kenyataan.

Aku mungkin kehilangan pernikahan.

Aku mungkin tidak lagi memiliki tempat di perusahaan yang pernah kubantu bangun.

Tetapi aku tidak kehilangan satu hal yang jauh lebih penting.

Integritas profesiku.

Karena dalam dunia konstruksi, sebuah tanda tangan bukan sekadar tinta di atas kertas.

Di baliknya terdapat tanggung jawab atas keselamatan banyak orang.

Dan tidak ada saham senilai Rp64 miliar, jabatan direktur, ataupun hubungan keluarga yang boleh membuat seseorang mengorbankan tanggung jawab tersebut.

Aku memandang keluar jendela.

Lampu-lampu kota masih menyala.

Di suatu tempat, ribuan orang sedang tidur dengan tenang tanpa pernah memikirkan bagaimana jembatan yang mereka lalui setiap hari dirancang.

Mereka mempercayai para insinyur untuk melakukan pekerjaannya dengan benar.

Dan selama aku masih memiliki kesempatan untuk bekerja, kepercayaan itulah yang akan terus kujaga.

Bukan demi Bima.

Bukan demi perusahaan mana pun.

Melainkan demi setiap orang yang berhak pulang dengan selamat setelah melintasi jembatan yang kami bangun.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang