Suamiku Memintaku Menandatangani Surat Perceraian demi Menikahi Putri Atasannya,

Keisha buru-buru menutupi pergelangan tangannya dengan tas kecil. Gerakan itu justru membuat Ayah semakin lama menatapnya.

“Dimas memberikannya kepada saya, Om,” katanya terbata.

Ayah menoleh kepadaku. Beliau tidak meninggikan suara, tetapi aku mengenali rahangnya yang mengeras.

“Memang sudah kuberikan kepada Dimas, Yah,” jawabku. “Aku tidak menyangka akan diteruskan kepada orang lain.”

Dimas maju setengah langkah.

“Pak, izinkan saya menjelaskan.”

“Silakan,” kata Ayah. “Tapi jangan di pintu masuk. Tamu lain mau lewat.”

Kalimat sederhana itu membuat ibu Dimas tersadar. Ia segera mempersilakan kami menuju ruang tunggu di samping ballroom. Senyumnya dipaksakan, sementara ayah Dimas berjalan mendahului untuk membukakan pintu.

Beberapa menit sebelumnya, mereka menyuruhku segera pergi. Sekarang kursi ditarikkan untukku.

Aku merasa mual.

Brigadir Jenderal Harsono menyusul setelah seorang panitia memberitahunya. Ia memandang kami bergantian, lalu berhenti pada putrinya.

“Ada apa?”

Keisha tidak menjawab.

“Dimas dan Alya sedang mengurus perceraian,” ujar ibu Dimas cepat. “Sebenarnya ini hanya salah paham keluarga.”

Harsono mengerutkan kening.

“Sedang mengurus? Dimas bilang sudah selesai.”

Aku mengangkat wajah. Untuk pertama kalinya malam itu, Keisha tampak benar-benar terkejut.

“Kamu bilang tinggal mengambil salinan putusan,” katanya kepada Dimas.

Dimas membuka mulut, tetapi tak ada jawaban yang keluar.

“Kami belum menjalani sidang pertama,” kataku. “Aku menandatangani berkas yang dibawanya. Itu tidak membuat pernikahan kami langsung berakhir.”

Harsono menarik kursi dan duduk perlahan.

“Jelaskan dari awal.”

Dimas menatapku. Ada permohonan dalam matanya, sesuatu yang tidak kutemukan ketika aku membawa koper keluar dari apartemen.

Aku tidak menyelamatkannya.

Ia akhirnya mengakui bahwa prosesnya baru dimulai. Keisha berdiri, menjauh dari kursi yang didudukinya.

“Kenapa kamu berbohong?”

“Aku takut kamu membatalkan semuanya.”

“Jadi kamu memilih mempertemukan keluargaku dengan istri yang masih sah di acara perkenalan kita?”

Ibu Dimas menyela.

“Keisha, Nak, Dimas hanya ingin memastikan masa depannya. Kalian sama-sama serius, jadi—”

“Bu,” potongku, “biarkan dia menjawab sendiri.”

Ruangan menjadi sunyi.

Ayah duduk di sampingku tanpa mengambil alih percakapan. Tangannya diletakkan di sandaran kursiku, dekat bahuku. Kehadirannya cukup membuat napasku lebih teratur.

Harsono menatap Dimas.

“Apa hubungan pernikahan ini dengan penempatan yang pernah kamu tanyakan?”

Wajah Dimas semakin pucat.

“Tidak ada, Pak.”

Aku mengeluarkan ponsel, membuka percakapan kami beberapa hari sebelum ia menyerahkan berkas, lalu meletakkannya di meja. Dimas pernah menulis bahwa dukungan keluarga Keisha akan mempercepat penempatannya. Saat itu aku mengira ia hanya menceritakan harapan ibunya.

“Mas mengatakan hal yang sama ketika meminta berpisah,” ujarku.

Harsono membaca pesan itu.

“Saya pernah menjawab pertanyaanmu tentang persyaratan,” katanya. “Saya tidak pernah menjanjikan jabatan.”

“Saya tahu, Pak.”

“Rupanya keluargamu tidak tahu.”

Ayah Dimas menunduk. Di sampingnya, istrinya mulai menangis.

Aku pernah menunggu bertahun-tahun agar perempuan itu memanggilku dengan lembut. Kini ia meraih tanganku.

“Alya, seandainya Ibu tahu kamu putri Pak Surya—”

Aku menarik tangan perlahan.

“Kenapa harus tahu dulu, Bu?”

Tangisnya terhenti.

“Kalau ayah saya bukan siapa-siapa, apa keputusan kalian malam ini akan tetap sama?”

Tidak seorang pun menjawab.

Keisha membuka pengait jam di pergelangan tangannya. Ia meletakkannya di atas meja, lalu mendorongnya ke arahku.

“Dimas bilang ini koleksi keluarganya,” katanya. “Saya tidak tahu tentang kakekmu.”

Aku mengambil jam itu. Di bagian belakangnya masih ada goresan kecil yang kuingat sejak kanak-kanak.

“Aku tahu kalian masih menikah waktu mulai dekat,” lanjut Keisha, kali ini menatapku. “Katanya kalian sudah lama sepakat berpisah. Aku seharusnya tidak hanya percaya kepadanya.”

“Ya,” jawabku. “Seharusnya begitu.”

Ia mengangguk dan menerima jawabanku tanpa membela diri.

Seorang ajudan mengetuk pintu. Pertemuan Ayah akan segera dimulai.

Ayah bangkit.

“Urusan keluarga ini tidak boleh dibawa ke penilaian dinas,” katanya kepada Dimas. “Saya juga tidak akan meminta siapa pun menghukummu demi Alya. Tapi semua keterangan yang kamu sampaikan dalam urusan resmi harus benar.”

Kemudian beliau menoleh kepadaku.

“Mau menunggu Ayah?”

Aku mengangguk.

Harsono keluar untuk berbicara dengan keluarganya. Tidak lama kemudian, panitia mengumumkan bahwa acara perkenalan dibatalkan karena alasan keluarga.

Aku sedang berdiri di koridor ketika Dimas menyusul.

“Alya, aku benar-benar tidak tahu.”

“Aku tahu.”

“Kenapa kamu tidak pernah cerita?”

“Ayah datang ke pernikahan kita, Mas. Kamu menyalaminya. Waktu itu beliau memakai batik, dan kamu terlalu sibuk menerima tamu untuk berbicara lebih lama.”

Dimas terdiam.

“Selama empat tahun, kamu juga bisa bertanya tentang keluargaku tanpa menunggu mereka berguna untuk kariermu.”

Ia menunduk, lalu berkata lirih, “Kita masih bisa memperbaiki ini.”

Aku menatap lelaki yang pernah membuatku merasa aman pulang ke rumah.

“Minggu lalu kamu sudah memikirkan keputusanmu berhari-hari. Katamu hidup bukan cuma soal perasaan.”

“Aku salah.”

“Dan sekarang aku perlu hidup dengan keputusan yang benar untukku.”

Aku berjalan meninggalkannya sebelum keberanianku habis.

Proses perpisahan kami selesai beberapa bulan kemudian. Aku menghadiri setiap sidang yang diperlukan dan menyerahkan urusan pembagian harta kepada pendamping hukum. Apartemen dijual setelah dokumennya diperiksa, dan pembagiannya disepakati secara tertulis.

Aku kembali bekerja. Tidak ada pengumuman tentang siapa ayahku, tidak ada perlakuan khusus yang kuminta.

Suatu Minggu, aku membawa jam Kakek kepada Ayah.

“Simpan saja, Yah. Aku takut salah memberikannya lagi.”

Ayah membalik jam itu, lalu membuka penutup belakangnya dengan hati-hati. Di dalamnya terselip sepotong kertas kecil yang sudah kekuningan.

Aku belum pernah melihatnya.

“Itu tulisan Kakek,” kata Ayah.

Hanya satu kalimat.

Untuk cucuku, agar ia selalu ingat bahwa waktunya juga berharga.

Aku membacanya sampai pandanganku kabur.

Ayah mengembalikan jam itu ke telapak tanganku.

Kali ini aku tidak memasukkannya ke kotak hadiah. Kukenakan sendiri, lalu meminta Ayah membantuku mengencangkan pengaitnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang