SUAMIKU MEMINTAKU PERGI TANPA MENGINGGALKAN SEDIKITPUN JEJAK KARENA MANTAN KEKASIHNYA KEMBALI. TAPI MENGAPA SAAT AKU BENAR-BENAR MENGHILANG DARI KEHIDUPANNYA DIA BERTINGKAH SEPERTI ORANG KESURUPAN GILA-GILAAN MENCARIKU?

Hujan masih mengguyur Jakarta ketika Reza kembali ke rumah di Pondok Indah menjelang tengah malam.

Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, tidak ada lampu teras yang sengaja dibiarkan menyala untuknya.

Tidak ada aroma teh melati dari dapur.

Tidak ada suara langkah Nadia yang biasanya muncul begitu mendengar pintu dibuka.

Rumah itu masih sama besarnya, masih sama mewahnya, tetapi terasa seperti bangunan kosong yang tidak mengenalnya.

Reza berdiri lama di ruang tamu dengan pakaian basah kuyup.

Ponselnya bergetar.

Nama Vina muncul di layar.

“Kamu di mana?” suara Vina terdengar manja begitu telepon diangkat. “Aku menunggumu dari tadi.”

Reza memejamkan mata.

“Aku di rumah.”

“Rumah? Bukankah Nadia sudah pergi?”

Pertanyaan itu membuat dada Reza terasa seperti ditusuk.

“Sudah.”

“Bagus, kan? Sekarang semuanya sudah selesai.”

Selesai.

Seharusnya memang begitu.

Bukankah ini yang diinginkannya?

Reza memutus sambungan tanpa menjawab.

Ia berjalan menuju dapur dan membuka lemari tempat Nadia biasa menyimpan teh. Kosong.

Kemudian ia membuka kulkas.

Di sana hanya ada beberapa botol air mineral dan makanan beku. Tidak ada sambal buatan Nadia, tidak ada kotak makan yang biasa diberi catatan kecil agar ia tidak terlambat makan.

Reza menutup pintu kulkas perlahan.

Saat itulah ia melihat sesuatu terselip di antara dua buku resep di rak.

Sebuah amplop cokelat.

Tangannya bergerak cepat mengambilnya.

Namun isinya bukan surat perpisahan.

Itu adalah beberapa lembar kuitansi rumah sakit.

Nama pasien yang tertulis di sana membuat jantung Reza berhenti sejenak.

Nadia Prameswari.

Tanggal pemeriksaan dua bulan lalu.

Reza membaca baris demi baris.

Pemeriksaan darah.

USG.

Konsultasi spesialis kandungan.

Tangannya mulai gemetar.

Ia segera menelepon rumah sakit yang namanya tercetak pada kuitansi.

Setelah beberapa kali dialihkan, seorang petugas menjawab dengan sopan bahwa informasi pasien tidak dapat diberikan tanpa izin.

“Saya suaminya.”

“Maaf, Pak. Kami tetap tidak bisa memberikan informasi medis melalui telepon.”

“Dia hamil?”

Hening beberapa detik.

“Maaf, Pak, kami tidak dapat menjawab pertanyaan itu.”

Telepon terputus.

Reza berdiri membeku.

Potongan-potongan kejadian beberapa minggu terakhir tiba-tiba muncul di kepalanya.

Nadia yang beberapa kali menolak kopi.

Nadia yang mendadak tidak tahan mencium parfum tertentu.

Nadia yang pernah tertidur di sofa pukul delapan malam.

Dan sebuah pagi ketika Nadia berdiri lama di depan kamar bayi yang sejak mereka menikah tidak pernah digunakan.

Saat itu Reza bahkan sempat mengejeknya.

“Untuk apa melihat kamar kosong?”

Nadia hanya tersenyum.

“Tidak apa-apa. Aku cuma membayangkan sesuatu.”

Reza langsung berlari ke lantai atas.

Ia membuka kamar tersebut.

Kosong.

Benar-benar kosong.

Namun ketika hendak keluar, ia melihat sebuah benda kecil di bawah lemari.

Reza berjongkok.

Sebuah kaus kaki bayi berwarna putih.

Dunia seolah berhenti.

“Nadia…”

Untuk pertama kalinya malam itu, ketakutan menggantikan kemarahannya.

Keesokan paginya Reza datang langsung ke rumah sakit.

Ia mencoba menemui dokter yang pernah menangani Nadia, tetapi tetap tidak memperoleh informasi karena aturan kerahasiaan pasien.

Reza kemudian mendatangi kantor lama Nadia.

Resepsionis mengatakan Nadia telah mengundurkan diri tiga minggu sebelumnya.

Ia pergi ke bank.

Rekening bersama mereka sudah tidak digunakan Nadia selama berbulan-bulan.

Kemudian pengacaranya menghubungi.

“Pak Reza, ada dokumen dari Bu Nadia yang harus saya sampaikan.”

“Apa?”

“Permohonan perceraian.”

Reza tidak mampu menjawab.

Pengacara itu melanjutkan, “Beliau sudah menandatanganinya sebelum meninggalkan Jakarta.”

Reza meremas ponselnya.

“Dia di mana?”

“Saya tidak tahu.”

“Kamu pengacaranya!”

“Saya hanya menerima dokumen melalui kuasa hukum beliau.”

Reza membanting ponsel ke meja.

Sejak hari itu, pencariannya berubah menjadi obsesi.

Ia meminta sopirnya mengecek bandara. Ia menghubungi hotel-hotel yang biasa dikunjungi Nadia. Ia mendatangi Bandung berkali-kali.

Tidak ada hasil.

Nadia seperti menghapus dirinya sendiri dari kehidupan Reza.

Persis seperti yang diminta Reza.

Sementara itu Vina mulai kehilangan kesabaran.

Suatu malam ia datang ke rumah Pondok Indah membawa dua koper besar.

“Aku pikir sekarang aku bisa pindah ke sini.”

Reza menatap koper-koper itu.

“Tidak.”

Vina terdiam.

“Apa?”

“Jangan pindah ke sini.”

“Kenapa?”

Reza tidak menjawab.

Tatapan Vina berubah tajam.

“Karena Nadia?”

“Jangan sebut namanya.”

Vina tertawa kecil penuh ketidakpercayaan.

“Kamu yang membuang dia, Reza. Kamu sendiri yang bilang pernikahan itu tidak pernah kamu inginkan.”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa sekarang kamu mencarinya seperti orang gila?”

Reza menatap taman kosong dari balik jendela.

Karena ia baru menyadari sesuatu yang terlambat.

Selama tiga tahun, Nadia tidak pernah meminta apa pun darinya.

Bahkan cinta.

Nadia hanya hadir.

Dan Reza telah mengira kehadiran itu akan selalu ada.

“Aku tidak tahu,” jawabnya lirih.

Namun Vina tahu.

Dan sejak malam itu, hubungan mereka mulai retak.

Beberapa hari kemudian masalah lain muncul.

Kerja sama bisnis yang dibawa Vina dari Singapura ternyata tidak seindah yang dijanjikan. Perusahaan mitra meminta tambahan modal dalam jumlah besar, sementara hasil audit internal menemukan sejumlah dokumen bermasalah.

Reza mulai curiga.

Ia meminta tim hukumnya melakukan pemeriksaan.

Hasilnya membuatnya terpukul.

Perusahaan yang diperkenalkan Vina sedang terlilit utang besar.

“Kenapa kamu tidak memberitahuku?” bentak Reza ketika menemui Vina.

Vina berdiri dari sofa.

“Aku pikir kita bisa menyelesaikannya setelah investasi masuk.”

“Kamu menggunakan perusahaanku untuk menyelamatkan perusahaanmu?”

“Aku kembali karena aku mencintaimu.”

“Jangan bohong.”

Vina terdiam.

Reza menatap perempuan yang selama bertahun-tahun ia anggap sebagai cinta terbesar dalam hidupnya.

Anehnya, kini ia tidak merasakan apa pun.

Tidak ada kerinduan.

Tidak ada kehangatan.

Hanya kelelahan.

“Pergilah.”

Wajah Vina berubah pucat.

“Kamu mengusirku demi Nadia?”

“Tidak.”

Reza menggeleng.

“Aku mengusirmu karena akhirnya aku sadar kenapa kamu kembali.”

Vina pergi malam itu.

Namun Nadia tetap tidak ditemukan.

Tiga bulan berlalu.

Taman rumah semakin gersang.

Reza tidak pernah meminta siapa pun menanam bunga baru.

Ia membiarkannya kosong seperti hari Nadia pergi.

Suatu sore, Bi Siti menghampirinya membawa sebuah kotak.

“Pak, ini baru ditemukan di gudang.”

Reza membuka kotak tersebut.

Di dalamnya terdapat puluhan buku catatan Nadia.

Ia mengambil salah satunya.

Bukan buku harian.

Isinya catatan pengeluaran rumah, jadwal obat ibunya, jadwal rapat Reza, makanan yang harus dihindari Reza ketika sakit lambung, bahkan nomor bengkel langganannya.

Pada halaman terakhir terdapat tulisan tangan Nadia.

Jika suatu hari aku tidak ada, semoga Reza tetap ingat makan tepat waktu. Dia selalu bilang bisa mengurus dirinya sendiri, padahal sering lupa makan kalau sedang sibuk.

Reza menutup buku itu.

Matanya panas.

Bi Siti masih berdiri di depan pintu.

“Pak…”

“Apa?”

“Nona Nadia sebenarnya tahu tentang Nona Vina jauh sebelum Bapak meminta beliau pergi.”

Reza mengangkat kepala.

“Apa maksud Bi?”

“Dua bulan sebelumnya.”

Reza membeku.

“Kenapa dia tidak pernah mengatakan apa-apa?”

Bi Siti menunduk.

“Beliau pernah bilang kepada saya, cinta yang harus diminta terus-menerus akhirnya berubah menjadi belas kasihan.”

Kalimat itu menghantam Reza lebih keras daripada kemarahan apa pun.

Malam itu ia menangis untuk pertama kalinya sejak dewasa.

Bukan karena Nadia meninggalkannya.

Melainkan karena ia akhirnya memahami bahwa Nadia sudah kehilangan dirinya jauh sebelum pergi dari rumah itu.

Enam bulan kemudian, Reza menerima sebuah amplop tanpa nama pengirim.

Di dalamnya terdapat surat resmi perceraian yang telah selesai diproses.

Tidak ada pesan pribadi.

Hanya sebuah foto kecil yang terjatuh ketika ia membalik amplop.

Foto sebuah taman bunga.

Di belakangnya tertulis satu kalimat.

Aku sudah menemukan tempat di mana bunga-bungaku tidak dianggap mengganggu.

Reza menatap tulisan itu berulang kali.

Di sudut foto terlihat papan kecil bertuliskan nama sebuah kafe.

Ia langsung mencari tempat tersebut.

Yogyakarta.

Keesokan paginya Reza terbang ke sana.

Ia tiba menjelang sore.

Kafe itu berada di pinggiran kota, dikelilingi pepohonan dan taman kecil penuh bunga.

Begitu turun dari mobil, langkah Reza terhenti.

Nadia sedang berdiri di taman.

Rambutnya kini sebahu, tidak lagi seperti dulu. Ia mengenakan kemeja putih longgar dan celana panjang sederhana.

Dan perutnya terlihat membesar.

Reza merasa seluruh suara di sekelilingnya menghilang.

“Nadia…”

Perempuan itu menoleh.

Tidak ada keterkejutan besar di wajahnya.

Seolah ia sudah tahu hari ini akan datang.

Reza berjalan mendekat dengan kaki gemetar.

“Kamu hamil.”

Nadia tersenyum tipis.

“Ya.”

“Anakku?”

Nadia menatapnya beberapa detik.

“Anak kita.”

Reza menutup mulutnya.

Air matanya jatuh begitu saja.

“Kenapa kamu tidak memberitahuku?”

“Aku akan memberitahumu malam itu.”

“Malam apa?”

“Malam ketika kamu meminta aku pergi.”

Reza tidak mampu berkata-kata.

Nadia melanjutkan dengan suara tenang.

“Aku bahkan sudah menyiapkan kotak kecil berisi hasil USG. Aku ingin membuat kejutan setelah makan malam.”

Reza teringat sebuah kotak putih yang pernah dilihatnya di atas meja makan hari itu.

Ia tidak pernah membukanya.

Karena ia datang membawa kabar bahwa Vina telah kembali.

“Aku minta maaf.”

Nadia menggeleng.

“Aku tidak datang sejauh ini untuk mendengar permintaan maafmu.”

“Aku akan memperbaiki semuanya.”

“Tidak semua hal bisa diperbaiki, Reza.”

“Aku berubah.”

“Mungkin.”

“Beri aku kesempatan.”

Nadia menatap taman di sekeliling mereka.

“Aku pernah menghabiskan tiga tahun mencoba menjadi perempuan yang cukup baik agar kamu mencintaiku. Aku memasak untukmu, menunggumu, mengurus rumahmu, mengingat semua hal kecil tentang hidupmu. Sampai akhirnya aku sadar masalahnya bukan karena aku kurang baik.”

Reza menunduk.

“Aku yang tidak tahu menghargaimu.”

“Benar.”

Jawaban Nadia sederhana, tetapi menyakitkan.

Reza menarik napas panjang.

“Setidaknya izinkan aku menjadi ayah untuk anak kita.”

Nadia menatapnya lama.

Kali ini ekspresinya melunak.

“Aku tidak akan mengambil hak anak ini untuk mengenal ayahnya.”

Reza mengangkat kepala penuh harapan.

“Tapi jangan salah mengerti.”

Nadia menyentuh perutnya perlahan.

“Menjadi ayahnya tidak otomatis membuatmu kembali menjadi suamiku.”

Reza mengangguk.

Untuk pertama kalinya, ia menerima batas yang ditentukan Nadia tanpa mencoba mengendalikannya.

Ia pulang ke Jakarta sendirian.

Namun sejak hari itu, setiap dua minggu sekali Reza datang ke Yogyakarta.

Bukan membawa bunga mahal atau perhiasan.

Kadang ia hanya membawa buah.

Kadang buku.

Kadang tidak membawa apa-apa.

Ia menemani pemeriksaan kehamilan jika Nadia mengizinkan.

Ia belajar bertanya sebelum mengambil keputusan.

Belajar mendengarkan tanpa membela diri.

Dan yang paling sulit, belajar menerima bahwa penyesalan tidak selalu menghasilkan kesempatan kedua.

Tiga bulan kemudian Nadia melahirkan seorang bayi perempuan.

Reza menangis ketika pertama kali menggendongnya.

“Apa namanya?” tanyanya.

“Aruna.”

“Kenapa Aruna?”

Nadia tersenyum.

“Karena artinya cahaya fajar. Sesuatu yang datang setelah malam panjang.”

Dua tahun berlalu.

Reza dan Nadia tidak pernah menikah kembali.

Namun Reza tetap hadir sebagai ayah.

Ia menjual rumah besar di Pondok Indah dan membeli rumah yang lebih sederhana di Yogyakarta agar bisa lebih dekat dengan Aruna tanpa mengganggu kehidupan Nadia.

Suatu sore, ketika menjemput putrinya, Reza melihat Nadia sedang menanam bunga di halaman.

Aruna berlari kecil sambil membawa penyiram tanaman.

“Ayah, bantu Mama!”

Reza berhenti.

Nadia menoleh.

Untuk beberapa detik mereka saling memandang.

Tidak ada lagi kemarahan di mata Nadia.

Tetapi juga tidak ada janji bahwa mereka akan kembali seperti dulu.

Reza mengambil sekop kecil dan berjongkok di samping Aruna.

“Ayah tanam yang mana?”

Aruna menunjuk bibit mawar putih.

“Yang itu.”

Reza mulai menggali tanah.

Nadia berdiri beberapa langkah darinya sambil tersenyum kecil.

Saat itulah Reza akhirnya memahami sesuatu yang dulu tidak pernah ia pahami ketika memiliki rumah besar, perusahaan sukses, dan seorang istri yang selalu menunggunya pulang.

Mencintai seseorang bukan berarti memastikan orang itu tidak pernah pergi.

Mencintai seseorang berarti memperlakukannya dengan cara yang membuatnya tidak perlu kehilangan dirinya sendiri hanya untuk tetap tinggal.

Dulu Reza meminta Nadia menghilang tanpa meninggalkan sedikit pun jejak.

Nadia benar-benar melakukannya.

Namun ternyata, setelah semua barangnya pergi, semua bunganya lenyap, dan namanya tidak lagi tercantum sebagai istrinya, ada satu jejak yang tidak pernah berhasil Nadia hapus.

Jejak itu ada pada diri Reza sendiri.

Dan mungkin itulah hukuman paling sunyi bagi seseorang yang terlambat memahami arti kehilangan.

Bukan ketika orang yang dicintainya pergi.

Melainkan ketika orang itu akhirnya bahagia tanpa dirinya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang