Nama adikku terasa lebih menyakitkan daripada foto pernikahan Reza.
Dita yang mengabariku kalau Naufal sudah makan. Dita yang menerima uang tambahan untuk membelikan sepatu sekolah. Dita yang selalu berkata, “Tenang, Mbak. Aku ikut mengawasi.”
“Kenapa Dita membawa ini?” tanyaku.
Bu Ratih menangis sambil menggeleng.
“Katanya kamu menitipkan lewat dia.”
Aku melipat berkas itu, memasukkannya ke tas, lalu menggenggam tangan Naufal.
“Kami pergi dulu, Bu.”
Dari ruang belakang, Reza muncul.

“Anak itu tinggal di sini.”
Naufal langsung bersembunyi di belakangku.
Aku menatap suamiku.
“Kita bisa membicarakan pengasuhannya dengan pendamping. Sekarang dia ikut denganku ke rumah Bu Wati. Kamu tahu alamatnya.”
Reza meraih bahuku, tetapi Bu Ratih berdiri menghalangi.
“Cukup, Za.”
Untuk pertama kalinya, ibu mertuaku tidak menunduk ketika anaknya membentak.
Malam itu, Naufal tidur sambil memegang ujung bajuku. Setiap kali aku bergerak, matanya terbuka.
“Mama mau pergi lagi?”
“Nggak, Sayang. Mama cuma mengambil air.”
Ia mengangguk, tetapi tangannya tidak lepas.
Aku menunggu sampai napasnya teratur, lalu menelepon Dita.
“Besok pagi datang ke rumah Bu Wati.”
“Lho, Mbak sudah pulang?”
“Bawa semua berkas Naufal yang kamu simpan.”
Hening di seberang.
“Mbak dengar apa dari Mas Reza?”
“Besok kamu jelaskan sendiri.”
Pagi berikutnya, Dita datang dengan wajah pucat. Aku meletakkan fotokopi surat persetujuan di meja.
“Ini tanda tangan siapa?”
Ia tidak menyentuh kertas itu.
“Mas Reza bilang cuma untuk urusan sekolah.”
“Aku bertanya siapa yang menandatangani.”
Air matanya jatuh.
“Aku.”
Aku menarik napas panjang. Bu Wati yang duduk di sampingku meremas tanganku.
“Kenapa?”
“Aku pikir Mbak memang mau berpisah. Mas Reza bilang Mbak punya orang lain di Taiwan.”
“Dan kamu percaya tanpa meneleponku?”
Dita menutup wajahnya.
“Aku takut.”
“Takut apa?”
Jawabannya keluar nyaris tanpa suara.
“Utangku dibayar Mas Reza.”
Aku memejamkan mata.
Dita terjerat cicilan pinjaman daring setelah usaha jualan pakaiannya gagal. Reza membayar sebagian, lalu meminta bantuan mengurus dokumen. Ketika ia ragu, Reza mengancam akan memberi tahu suaminya.
“Tapi itu bukan alasan,” katanya terbata-bata. “Aku tahu.”
“Uang untuk sepatu Naufal juga kamu pakai?”
Dita mengangguk.
Aku berdiri, berjalan ke dapur, lalu mencuci gelas yang sebenarnya sudah bersih. Tanganku perlu melakukan sesuatu agar aku tidak berteriak.
Dari kamar, Naufal memanggilku.
Aku segera kembali.
Di tepi kasur, ia menyodorkan buku tulis bersampul biru.
“Ini buat Mama.”
Halaman pertamanya bertuliskan tanggal. Di bawahnya ada kalimat pendek.
Hari ini Mama tidak menelepon. Mungkin masih kerja.
Aku membuka halaman berikutnya.
Ayah bilang Mama lupa ulang tahunku.
Lalu halaman lain.
Aku lihat nama Mama menelepon. Ayah tidak angkat.
Air mataku menetes ke kertas.
Selama berbulan-bulan, aku mengira Naufal makin pendiam karena sibuk sekolah. Rupanya setiap percakapan kami dijaga, dipotong, atau dibatalkan.
“Mama nggak lupa,” bisikku. “Mama kirim hadiah lewat Ayah.”
Naufal menunduk.
“Aku pikir Mama lebih sayang orang yang dirawat di sana.”
Aku memeluknya tanpa bisa segera menjawab.
Siangnya, Bu Wati mengenalkanku kepada pendamping dari layanan perlindungan perempuan dan anak. Bersamanya, aku mendatangi sekolah serta kantor pelayanan yang tercantum pada berkas.
Di sekolah, Pak Yusuf menunjukkan arsip surat pindah.
Ada catatan tambahan dari Reza bahwa semua komunikasi harus melalui dirinya karena aku tidak lagi mengurus anak.
Aku menyerahkan nomor telepon, alamat surel, bukti transfer, dan riwayat percakapan.
“Tolong catat bahwa saya bisa dihubungi,” kataku. “Saya tidak pernah memberikan persetujuan ini.”
Di kantor pelayanan, kami mendapat penjelasan yang membuat lututku lemas karena lega.
Berkas perubahan data itu belum selesai diproses. Ada ketidaksesuaian dokumen yang harus diklarifikasi. Tulisan di atas kertas bukan berarti permohonan Reza sudah diterima.
Kami mengajukan keberatan tertulis. Salinan dokumen dan pengakuan Dita kemudian dibawa untuk melaporkan dugaan pemalsuan.
Sore harinya, Melati menelepon.
“Saya mau mengembalikan sesuatu.”
Kami bertemu di kantor pendamping. Ia datang membawa map kuning dan amplop berisi sobekan foto keluarga.
“Saya pikir Ibu sudah meninggalkan mereka,” katanya.
“Kenapa nama saya dicoret?”
“Reza menyuruh. Katanya Naufal harus berhenti berharap.”
Aku menatapnya lama.
“Dia anak kecil, Melati. Harapannya bukan barang yang bisa kalian buang supaya rumah terasa rapi.”
Melati menangis. Aku belum bisa menghiburnya.
Namun, ia menyerahkan sesuatu yang berguna. Percakapan dengan Reza, termasuk pesan yang memerintahkannya menyiapkan perpindahan Naufal ke sekolah dekat rumah saudara di luar kota.
Reza ingin membawa anakku jauh sebelum aku pulang.
Beberapa minggu berikutnya penuh pertemuan dan pemeriksaan. Aku menyewa rumah kecil dekat sekolah Naufal dan menunda rencana bekerja lagi di luar negeri.
Tabunganku tidak sebanyak yang kubayangkan. Sebagian besar sudah kukirim kepada orang yang justru berusaha menghapusku.
Tetapi ada yang masih bisa diselamatkan.
Dengan pendampingan, urusan tempat tinggal dan pengasuhan Naufal mulai diatur. Aku mengajukan perceraian. Dita memberikan keterangan tentang tanda tangan palsu, meskipun ia harus menghadapi akibat perbuatannya sendiri.
Reza datang sekali ke rumah kontrakan.
“Kamu benar-benar mau membuang keluarga kita?”
Aku melihat Naufal sedang mengerjakan PR di meja makan.
“Aku baru pulang untuk mencarinya,” jawabku. “Kamu yang menyuruh semua orang percaya aku sudah pergi.”
Reza tidak punya jawaban.
Dua bulan kemudian, aku menerima pesanan makan siang pertamaku dari beberapa guru sekolah Naufal. Penghasilannya kecil dibanding gajiku di Taiwan, tetapi sore itu aku bisa menjemput anakku sendiri.
Ia keluar kelas sambil membawa buku biru.
“Masih menulis?” tanyaku.
Ia mengangguk dan membuka halaman terakhir.
Hari ini Mama datang tepat waktu.
Di bawahnya, ia menempelkan foto kami yang dulu dirobek Melati. Sobekannya disambung dengan selotip bening. Bagian wajahku masih sedikit berkerut.
“Nanti kita bikin foto baru,” kataku.
“Nggak usah dibuang yang ini, Ma.”
“Kenapa?”
Naufal menyentuh sambungan selotip itu.
“Biar aku ingat. Ternyata yang sobek bisa disatukan lagi.”
Aku menggenggam tangannya sepanjang jalan pulang.
Untuk pertama kalinya, aku tidak perlu menjanjikan akan menelepon malam nanti.
Aku akan berada di rumah saat ia mencariku.
