
“Kalau perusahaan ini benar-benar milik kita, kenapa kamu memalsukan tanda tanganku untuk mengambil sahamku?”
Raka berdiri mematung di depan pintu gudang. Matanya tidak lepas dari surat pengalihan saham yang kugenggam.
“Alya, kamu tidak mengerti cara kerja bisnis.”
“Kalau begitu, jelaskan.”
“Investor meminta struktur kepemilikan yang lebih sederhana. Aku hanya mengurus administrasi.”
“Dengan tanda tangan palsu?”
Raka mengusap wajahnya kasar.
“Jangan membuat masalah yang tidak perlu!”
Aku menatap lelaki yang selama sebelas tahun kupanggil suami itu. Dulu, setiap kali dia meninggikan suara, aku akan memilih diam agar pertengkaran tidak berlanjut.
Namun kali ini berbeda.
“Aku akan meminta notaris memeriksa dokumen ini.”
Raka langsung meraih tanganku.
“Jangan libatkan orang luar!”
Aku melepaskan genggamannya.
“Kalau tidak ada yang salah, kenapa kamu takut?”
Dia tidak menjawab.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak menikah, aku mengunci pintu kamar dan tidur sendirian.
Keesokan paginya, aku menemui Dini dengan membawa seluruh dokumen.
Setelah memeriksa berkas, wajahnya berubah serius.
“Alya, akta pendirian ini menunjukkan kamu memiliki empat puluh persen saham. Tapi kita harus memeriksa apakah pernah ada perubahan kepemilikan yang sah.”
“Apa surat pengalihan ini cukup untuk mengambil sahamku?”
“Tidak sesederhana itu. Harus diperiksa keabsahan tanda tangan, proses persetujuan, akta notaris, dan pencatatan perubahan perusahaan.”
Dini kemudian memperkenalkanku kepada seorang pengacara korporasi bernama Farhan.
Kami memeriksa dokumen perusahaan melalui jalur resmi.
Hasil awalnya mengejutkan.
Namaku masih tercatat sebagai pemegang saham dengan kepemilikan empat puluh persen.
Surat yang ditemukan di gudang ternyata belum menjadi dasar perubahan kepemilikan yang sah.
Namun Farhan menemukan persoalan lain.
Raka sedang menegosiasikan penjualan sebagian besar saham perusahaan kepada sebuah grup investasi asal Singapura.
Nilai transaksi yang diajukan mencapai enam puluh miliar rupiah.
Aku terdiam cukup lama.
“Enam puluh miliar?”
Farhan mengangguk.
“Itu nilai transaksi yang sedang dinegosiasikan, bukan otomatis nilai seluruh perusahaan. Tetapi jumlahnya cukup besar. Dan menurut dokumen yang kami periksa, ada rencana menggunakan surat pengalihan tadi untuk menyatakan bahwa seluruh saham berada di bawah kendali Pak Raka.”
Aku merasakan darahku mendidih.
Selama ini, Raka memberiku uang belanja bulanan dengan perhitungan sangat ketat.
Ketika aku ingin membeli laptop baru untuk menerima pekerjaan desain keuangan lepas, dia mengatakan perusahaan sedang kesulitan.
Namun diam-diam, dia merencanakan transaksi bernilai puluhan miliar sambil menyiapkan perceraian.
“Kalau aku menolak menandatangani pengalihan saham, apa yang terjadi?”
“Dia tidak bisa begitu saja mengambil hakmu. Kita juga bisa meminta pemeriksaan atas dugaan pemalsuan dokumen. Tetapi jangan mengambil tindakan terburu-buru.”
Aku mengangguk.
Untuk pertama kalinya, aku merasa memiliki kendali atas hidupku sendiri.
Tiga hari kemudian, Raka mengajakku menghadiri makan malam bersama calon investor di sebuah hotel mewah di Surabaya.
“Aku ingin kamu terlihat mendukungku,” katanya.
Aku hampir tersenyum.
“Bukankah biasanya aku tidak perlu ikut urusan bisnis?”
Raka tampak tidak nyaman.
“Kali ini berbeda. Mereka ingin mengenal keluarga pendiri perusahaan.”
Aku menyetujui undangan itu.
Tetapi sebelum berangkat, aku mengirimkan salinan undangan kepada Farhan.
Malam itu, aku mengenakan gaun biru tua yang sudah lama tersimpan di lemari.
Raka memperhatikanku ketika aku turun dari tangga.
“Kamu terlihat cantik.”
“Terima kasih.”
Dia mencoba menggenggam tanganku.
Aku membiarkannya, bukan karena sudah memaafkan, melainkan karena ingin melihat sejauh mana dia akan mempertahankan kebohongannya.
Di restoran hotel, kami disambut Nadine.
Perempuan itu mengenakan gaun krem dan tersenyum terlalu akrab kepada suamiku.
“Mas Raka, akhirnya datang juga.”
Kemudian dia menatapku.
“Oh, ini Bu Alya? Senang sekali akhirnya bertemu.”
Aku membalas senyumnya.
“Saya juga senang bertemu perempuan yang begitu banyak membantu suami saya.”
Nadine terlihat sedikit gugup.
Sepanjang makan malam, Raka berbicara tentang perkembangan perusahaan, rencana ekspansi, dan peluang investasi.
Dia berkali-kali menyebut dirinya sebagai pendiri tunggal.
Aku tidak menyela.
Sampai seorang perwakilan investor bernama Daniel bertanya tentang struktur kepemilikan.
“Menurut dokumen awal, perusahaan ini memiliki dua pemegang saham pendiri. Apakah struktur tersebut sudah berubah?”
Raka tersenyum.
“Sedang dalam proses administrasi. Istri saya telah menyetujui pengalihan sahamnya.”
Aku meletakkan gelas.
“Maaf, Mas. Kapan saya menyetujuinya?”
Senyum Raka membeku.
Nadine segera menyela.
“Bu Alya, mungkin ini bukan waktu yang tepat membahas detail hukum.”
Aku menatapnya.
“Justru karena ada calon investor, bukankah informasi kepemilikan harus disampaikan dengan benar?”
Daniel memandang Raka.
“Apakah ada persoalan dengan persetujuan pemegang saham?”
Aku membuka tas dan mengeluarkan map tipis.
“Menurut dokumen yang telah saya periksa bersama penasihat hukum, saya masih memiliki empat puluh persen saham PT Pradipta Digital Nusantara. Saya juga menemukan surat pengalihan yang memuat tanda tangan atas nama saya, tetapi tidak pernah saya tandatangani.”
Wajah Raka memucat.
“Alya, hentikan!”
Aku tetap tenang.
“Saya tidak akan memberikan persetujuan atas transaksi yang menggunakan dokumen tersebut sebelum seluruh persoalan diperiksa.”
Daniel langsung menutup map presentasinya.
“Kalau begitu, kami perlu menghentikan pembahasan transaksi sampai status kepemilikan dan dokumen pendukung jelas.”
Nadine menatap Raka dengan panik.
“Mas, katanya semuanya sudah beres!”
Aku menoleh kepadanya.
“Jadi kamu tahu tentang pengalihan saham itu?”
Nadine terdiam.
Raka berdiri mendadak.
“Kamu sengaja mempermalukanku di depan investor?”
Aku menatapnya.
“Tidak, Mas. Aku hanya menyampaikan fakta yang selama ini kamu sembunyikan.”
Daniel dan rekannya meninggalkan meja setelah menyampaikan bahwa tim hukum mereka akan menghubungi pihak perusahaan.
Begitu mereka pergi, Nadine mulai menangis.
“Mas Raka, kamu bilang Alya tidak peduli soal saham! Kamu bilang dia akan menandatangani semuanya!”
Raka membentaknya.
“Diam, Nadine!”
Aku berdiri.
“Sekarang aku tahu kalian memang merencanakannya bersama.”
Nadine menatapku dengan wajah pucat.
“Aku hanya mengikuti penjelasan Raka.”
“Kalau begitu, sebaiknya kamu juga menjelaskan keterlibatanmu kepada pihak yang berwenang.”
Aku meninggalkan restoran tanpa menunggu jawaban.
Malam itu, Raka meneleponku belasan kali.
Aku tidak mengangkatnya.
Keesokan paginya, dia datang ke rumah membawa bunga.
“Alya, kita bisa menyelesaikan ini baik-baik.”
Aku sedang duduk di ruang tamu bersama Farhan.
Raka berhenti ketika melihatnya.
“Siapa dia?”
“Pengacaraku.”
Wajah Raka mengeras.
“Kamu benar-benar mau menghancurkan pernikahan kita?”
Aku memandangnya lama.
“Pernikahan kita mulai hancur ketika kamu memutuskan bahwa aku bisa disingkirkan setelah perusahaan berhasil.”
Raka terdiam.
Farhan kemudian menjelaskan bahwa kami telah mengirimkan permintaan resmi untuk memeriksa dokumen pengalihan saham dan transaksi terkait.
Selain itu, aku telah memutuskan mengajukan perceraian melalui prosedur hukum yang berlaku.
Raka tampak kehilangan tenaga.
“Alya, sebelas tahun kita bersama. Apa semuanya tidak berarti?”
Aku menarik napas.
“Sebelas tahun itu sangat berarti bagiku. Karena itulah pengkhianatanmu begitu menyakitkan.”
Air matanya mulai jatuh.
“Aku khilaf.”
“Khilaf bukan berarti menyusun surat palsu, menyembunyikan transaksi, dan merencanakan perceraian selama berbulan-bulan.”
Dia menunduk.
Aku tidak merasakan kemenangan.
Hanya kesedihan karena akhirnya melihat dengan jelas siapa lelaki yang selama ini kupercaya.
Beberapa minggu berikutnya dipenuhi pemeriksaan dokumen, pertemuan dengan pengacara, dan rapat perusahaan.
Dalam proses tersebut, ditemukan bahwa Nadine telah membantu menyiapkan sejumlah berkas transaksi berdasarkan instruksi Raka.
Pemeriksaan atas tanda tangan dan dokumen pendukung juga mengungkap ketidaksesuaian yang kemudian dilaporkan melalui jalur hukum.
Transaksi investasi ditunda.
Namun perusahaan tidak langsung bangkrut seperti ancaman Raka.
Justru beberapa pemegang kepentingan mulai mempertanyakan keputusan-keputusan yang selama ini diambil tanpa pengawasan memadai.
Aku kemudian menghadiri rapat pemegang saham dengan membawa hasil pemeriksaan keuangan.
Di sana, aku menemukan sesuatu yang membuatku terdiam.
Perusahaan yang dahulu hampir tutup ternyata masih menyimpan catatan setoran modal pertamaku.
Uang hasil penjualan mobil peninggalan ayahku tercatat sebagai bagian dari kontribusi pendirian perusahaan.
Bahkan terdapat surat tulisan tangan Raka yang dilampirkan dalam arsip lama.
Aku membacanya perlahan.
“Alya, suatu hari kalau perusahaan ini berhasil, jangan pernah lupa bahwa separuh keberanianku berasal darimu. Kita membangun semuanya bersama.”
Tulisan itu dibuat sebelas tahun lalu.
Ketika membacanya, air mataku jatuh.
Aku tidak tahu kapan lelaki yang menulis surat tersebut berubah menjadi orang yang berusaha mengambil hakku.
Tetapi aku akhirnya memahami bahwa kenangan indah tidak bisa dijadikan alasan untuk menerima ketidakadilan.
Enam bulan kemudian, proses perceraian kami selesai.
Persoalan hukum mengenai dokumen perusahaan masih berjalan, tetapi kepemilikan sahamku tetap tercatat sesuai dokumen yang sah.
Aku tidak menjual sahamku secara terburu-buru.
Sebaliknya, aku meminta perusahaan memperbaiki tata kelola, memperkuat pengawasan keuangan, dan memastikan keputusan penting dilakukan sesuai ketentuan.
Beberapa bulan setelah itu, perusahaan memperoleh kesempatan negosiasi investasi baru dengan proses yang lebih transparan.
Aku juga kembali bekerja di bidang yang dahulu kucintai.
Bersama Dini, aku mendirikan sebuah firma konsultasi keuangan kecil di Surabaya.
Klien pertama kami adalah seorang perempuan yang baru membuka usaha makanan rumahan.
Dia datang membawa buku catatan lusuh dan bertanya dengan malu-malu.
“Bu Alya, saya tidak terlalu mengerti soal keuangan. Suami saya bilang lebih baik semua urusan usaha diserahkan kepadanya.”
Aku terdiam.
Kalimat itu terdengar sangat akrab.
Aku tersenyum kepadanya.
“Tidak apa-apa kalau belum mengerti. Kita bisa belajar bersama. Yang penting, Ibu mengetahui hak dan tanggung jawab Ibu sendiri.”
Perempuan itu mengangguk penuh harapan.
Sore harinya, setelah kantor sepi, Dini menghampiriku.
“Kamu tahu apa yang paling menarik dari semua ini?”
“Apa?”
“Dulu kamu datang kepadaku karena ingin tahu berapa saham yang kamu miliki. Sekarang kamu membantu perempuan lain memahami nilai kerja mereka.”
Aku tertawa kecil.
“Hidup memang aneh.”
Dini tersenyum.
“Bukan aneh. Kamu hanya akhirnya kembali menjadi dirimu sendiri.”
Malam itu, aku pulang ke rumah yang kini terasa jauh lebih tenang.
Tidak ada lagi suara Raka memerintahku menyiapkan kopi.
Tidak ada lagi pertanyaan mengapa aku pulang terlambat.
Tidak ada lagi perasaan takut ketika ingin menyampaikan pendapat.
Aku duduk di meja makan dan membuka laptop.
Di layar terdapat rancangan program pelatihan keuangan bagi perempuan yang ingin memulai usaha.
Aku memberi program itu sebuah nama.
Berani Memiliki.
Bukan hanya tentang memiliki uang atau saham.
Melainkan keberanian memiliki keputusan, masa depan, dan harga diri sendiri.
Beberapa hari kemudian, sebuah amplop datang dari Raka.
Di dalamnya terdapat surat pendek.
“Alya, aku baru mengerti bahwa perusahaan yang kubanggakan tidak pernah benar-benar kubangun sendirian. Aku kehilangan orang yang paling percaya kepadaku karena mengira kepercayaannya tidak akan pernah habis. Maafkan aku.”
Aku membaca surat itu sampai selesai.
Kemudian menyimpannya di dalam laci.
Aku tidak membalas.
Bukan karena masih membencinya.
Melainkan karena ada permintaan maaf yang tidak membutuhkan jawaban untuk membuktikan bahwa seseorang telah memilih melanjutkan hidup.
Aku berjalan menuju jendela.
Lampu-lampu Surabaya mulai menyala.
Sebelas tahun lalu, aku pernah menjual mobil peninggalan ayahku untuk menyelamatkan mimpi seorang lelaki.
Aku mengira cinta berarti memberikan semua yang kumiliki tanpa menghitung apa pun.
Sekarang aku memahami bahwa cinta yang sehat tidak meminta seseorang kehilangan dirinya sendiri.
Raka pernah mengira aku akan selamanya menjadi istri penurut yang tidak pernah bertanya tentang uang, saham, atau keputusan perusahaan.
Dia lupa satu hal.
Perempuan yang selama ini diam bukan berarti tidak mampu memahami apa yang terjadi.
Dan ketika akhirnya aku membuka dokumen pembagian saham itu, yang kutemukan bukan sekadar angka empat puluh persen.
Aku menemukan kembali keberanian, kemampuan, dan harga diriku yang selama bertahun-tahun kubiarkan tersembunyi.
Karena terkadang, kemenangan terbesar bukanlah ketika seseorang yang mengkhianati kita kehilangan segalanya.
Melainkan ketika kita menyadari bahwa hidup kita tidak pernah harus bergantung pada orang yang tidak lagi menghargai kita.
