“Di mana pengemudinya sekarang?”
Pertanyaan penyidik itu membuatku menatap layar ponsel yang masih menampilkan nama Adrian.
“Di rumah sakit,” jawabku. “Bersama suami saya.”
Penyidik bernama AKP Raka Prasetyo mengangkat wajah dari laptopnya.
“Suami Mbak tahu korban meninggal?”
“Tahu.”
“Dan dia tahu siapa yang mengemudikan mobil?”
“Tahu.”
Aku meletakkan surat yang ditandatangani Adrian di atas meja.
“Dia bahkan membuat pernyataan ini untuk melindungi Nadia.”
Raka membaca dokumen itu perlahan. Semakin lama, kerutan di dahinya semakin dalam.
Di dalam surat itu Adrian menyatakan bahwa kecelakaan tersebut adalah musibah, bahwa ia tidak akan menuntut Nadia secara pidana, dan bahwa seluruh kerugian yang timbul akan menjadi tanggung jawabnya.
Masalahnya hanya satu.

Adrian menulis surat itu karena mengira korban adalah ayahku.
Bukan ayahnya sendiri.
“Hubungan Mbak dengan korban?”
Aku menelan ludah.
“Ayah mertua saya.”
Ruangan mendadak sunyi.
Raka menatapku lama.
“Pak Hendra Wijaya?”
Aku mengangguk.
“Pemilik Wijaya Group?”
“Pendiri. Sekarang perusahaan dipimpin anaknya.”
Aku menunjuk nama di bagian bawah surat.
“Adrian Wijaya.”
Wajah Raka berubah.
Ia melihat tanda tangan itu, lalu kembali menatapku.
“Jadi Pak Adrian menandatangani surat perdamaian atas kecelakaan yang menewaskan ayah kandungnya sendiri?”
“Karena dia mengira yang meninggal adalah ayah saya.”
Aku tidak menangis ketika mengucapkannya.
Aneh sekali.
Sejak melihat tubuh Pak Hendra terlempar ke aspal, air mataku seperti habis.
Yang tersisa hanya sesuatu yang dingin di dalam dada.
Raka menarik napas panjang.
“Surat ini tidak otomatis menghentikan proses pidana. Apalagi ada korban meninggal dan dugaan meninggalkan korban tanpa pertolongan.”
“Aku mengerti.”
“Dan dari rekaman CCTV, ada hal lain yang perlu kami periksa.”
Ia memutar kembali rekaman.
SUV putih terlihat berhenti.
Pak Hendra turun.
Aku masih berada di sisi penumpang sambil mengambil map.
Kemudian Nadia melihat ke kaca spion.
Mobil mundur sedikit.
Berhenti.
Lalu melaju ke depan dengan keras.
Raka menghentikan video.
“Kalau salah pedal karena panik, biasanya gerakannya spontan. Tapi di sini ada jeda hampir empat detik.”
Jantungku berdegup lebih cepat.
“Apa maksud Bapak?”
“Saya belum menyimpulkan apa pun. Tapi kami harus memeriksa.”
Ponselku bergetar.
Adrian.
Aku menjawab.
“Kamu sudah tanda tangan?”
Suara Adrian terdengar terburu-buru.
“Belum.”
“Maya, jangan membuat masalah sederhana menjadi rumit.”
Aku hampir tertawa.
Masalah sederhana.
Ayahnya baru saja meninggal, tetapi baginya itu masalah sederhana karena ia belum tahu siapa korbannya.
“Nadia bagaimana?”
“Masih syok. Dokter bilang tidak ada cedera serius.”
“Tentu saja.”
“Maya.”
Nada suaranya mengeras.
“Aku sudah bilang, jangan memperpanjang masalah. Nadia masih muda. Dia punya masa depan.”
Aku menatap kantong barang bukti berisi jam tangan Pak Hendra yang pecah.
“Kalau yang mati orang yang kamu sayangi, apa kamu masih akan mengatakan begitu?”
Adrian diam sesaat.
Kemudian ia berkata dingin.
“Jangan memainkan emosi. Ayahmu memang sudah sakit-sakitan.”
Aku menutup mata.
Tujuh tahun menikah dengannya.
Tujuh tahun.
Dan baru hari itu aku benar-benar memahami siapa laki-laki yang tidur di sebelahku setiap malam.
“Aku mengerti.”
Aku memutus telepon.
Sekitar satu jam kemudian, polisi pergi ke rumah sakit untuk membawa Nadia menjalani pemeriksaan.
Aku ikut.
Ketika kami tiba di IGD, Nadia sedang duduk di ranjang pemeriksaan. Adrian berdiri di sampingnya sambil memegang tangannya.
Begitu melihat polisi, wajah Adrian berubah.
“Ada apa?”
Raka menunjukkan identitasnya.
“Kami perlu meminta keterangan Saudari Nadia Permata terkait kecelakaan lalu lintas pagi tadi.”
Adrian langsung berdiri di depan Nadia.
“Dia masih trauma.”
“Kami mengerti. Pemeriksaan bisa menyesuaikan kondisi medisnya.”
“Saya sudah membuat surat perdamaian.”
Raka menatapnya.
“Surat itu sudah kami terima.”
“Kalau begitu selesai, kan?”
“Tidak sesederhana itu, Pak.”
Adrian mulai kehilangan kesabaran.
“Saya pihak keluarga korban. Saya tidak mempermasalahkannya.”
Aku berdiri beberapa meter darinya.
Untuk pertama kalinya sejak kami menikah, aku merasa jijik mendengar suaranya.
Raka belum sempat menjawab ketika seorang petugas polisi lain datang membawa sebuah map.
Ia mendekati Raka lalu berbisik sesuatu.
Adrian melihatku.
“Kamu belum pulang?”
“Belum.”
“Kamu seharusnya mengurus jenazah ayahmu.”
Aku menatapnya lurus.
“Kenapa bukan kamu?”
“Kenapa harus aku?”
Kalimat itu baru saja keluar dari mulutnya ketika petugas tadi membuka map.
“Pak Adrian Wijaya?”
Adrian menoleh.
“Ya.”
“Kami perlu mengonfirmasi identitas korban meninggal dalam kecelakaan pagi tadi.”
Adrian menghela napas kesal.
“Sudah saya bilang, itu ayah mertua saya.”
Petugas tersebut menatap dokumen di tangannya.
“Bukan.”
Untuk pertama kalinya, wajah Adrian membeku.
“Apa?”
“Korban bernama Hendra Wijaya, usia enam puluh delapan tahun.”
Dunia seperti berhenti.
Aku melihat tangan Adrian yang semula menggenggam tangan Nadia perlahan terlepas.
“Apa… nama siapa?”
“Hendra Wijaya.”
Adrian menatapku.
Wajahnya kehilangan warna.
“Maya…”
Aku tidak menjawab.
“Tidak mungkin.”
Ia tertawa pendek seperti orang yang tidak memahami kenyataan.
“Ayahku di rumah.”
“Tidak,” kataku.
Suaraku bahkan lebih tenang daripada yang kubayangkan.
“Pagi tadi aku membawanya kontrol ke rumah sakit.”
Bibir Adrian bergetar.
“Kamu bilang ayahmu akan periksa.”
“Aku bilang Ayah akan periksa. Kamu tidak pernah bertanya ayah siapa.”
Ia mundur selangkah.
Lalu dua langkah.
Matanya mulai merah.
“Tidak mungkin.”
Aku mengeluarkan ponsel.
Kubuka foto yang diambil petugas medis untuk proses identifikasi.
Ketika melihat wajah Pak Hendra, lutut Adrian seolah kehilangan tenaga.
Ia jatuh duduk di kursi.
“Ayah…”
Suaranya pecah.
“Ayah…”
Nadia mulai menangis.
“Pak Adrian, saya benar-benar tidak sengaja…”
Adrian mendadak menoleh kepadanya.
Tatapan yang beberapa jam sebelumnya penuh perlindungan kini berubah menjadi sesuatu yang membuat Nadia mundur.
“Kamu membunuh ayahku?”
“Pak, saya salah pedal…”
Adrian berdiri.
“KAMU MEMBUNUH AYAHKU?”
Petugas langsung menahannya.
Ironis.
Beberapa jam sebelumnya dia memeluk perempuan itu dan berkata masa depannya tidak boleh hancur hanya karena sebuah kecelakaan.
Sekarang setelah mengetahui identitas korban, tiba-tiba kecelakaan itu tidak lagi sederhana.
“Aku akan penjarakan kamu!” teriak Adrian. “Aku akan pastikan kamu membusuk di penjara!”
Nadia menangis histeris.
“Pak Adrian, tadi Bapak bilang akan melindungi saya!”
“Itu sebelum aku tahu korbannya ayahku!”
Kalimat itu membuat semua orang terdiam.
Aku menatapnya.
“Jadi nyawa manusia baru berharga kalau orang itu keluargamu?”
Adrian membeku.
Aku melanjutkan.
“Kalau itu ayahku, kamu menyuruhku mengurus kremasinya. Kalau itu ayahmu, kamu ingin Nadia membusuk di penjara.”
“Maya, aku tidak tahu…”
“Justru karena kamu tidak tahu, kamu menunjukkan siapa dirimu sebenarnya.”
Dia mencoba mendekat.
Aku mundur.
“Maya…”
“Jangan sentuh aku.”
Malam itu, Nadia dibawa untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Namun kejutan terbesar belum datang.
Dua hari kemudian, polisi menghubungiku.
Mereka menemukan sesuatu dari ponsel Nadia.
Sebuah percakapan antara Nadia dan Adrian.
Bukan sekadar percakapan antara direktur dan sekretaris.
Mereka sudah menjalin hubungan hampir satu tahun.
Ada foto hotel.
Pesan romantis.
Transfer uang.
Bahkan sebuah apartemen di Kuningan yang sewanya dibayar Adrian.
Aku membaca semuanya tanpa menangis.
Tetapi satu rangkaian pesan membuat darahku dingin.
Tiga hari sebelum kecelakaan, Nadia menulis kepada Adrian bahwa Pak Hendra mengetahui hubungan mereka.
Pak Hendra ternyata pernah melihat Nadia keluar dari apartemen bersama Adrian.
Ia mengancam akan mencopot Adrian dari posisi direktur utama jika Adrian tidak mengakhiri hubungan itu dan mengaku kepadaku.
Lebih buruk lagi, Pak Hendra sudah menjadwalkan pertemuan dengan pengacara keluarga pada Senin pagi.
Adrian menjawab,
Jangan panik. Aku akan bicara dengan Ayah.
Nadia membalas,
Kalau beliau sampai mengubah struktur saham, kita selesai.
Polisi juga menemukan riwayat pencarian di ponsel Nadia tentang hukuman kecelakaan akibat salah pedal dan kemungkinan penyelesaian damai.
Namun belum cukup untuk membuktikan bahwa tabrakan itu disengaja.
Sampai rekaman kamera lain ditemukan.
Sebuah kamera keamanan dari gedung seberang merekam sudut yang tidak terlihat oleh CCTV parkiran.
Dalam rekaman itu, beberapa detik sebelum mobil melaju, Nadia tidak terlihat panik.
Ia justru menatap Pak Hendra melalui kaca depan.
Tangannya menggenggam kemudi.
Lalu mobil melaju lurus ke arahnya.
Penyelidikan berubah.
Bukan lagi sekadar kecelakaan lalu lintas.
Nadia akhirnya mengaku setelah diperiksa berjam-jam.
Ia mengatakan tidak merencanakan pembunuhan sejak awal.
Tetapi pagi itu, ketika melihat Pak Hendra berdiri tepat di depan mobil, ia teringat ancaman lelaki tua itu.
Ia takut kehilangan pekerjaan.
Takut kehilangan apartemen.
Takut Adrian meninggalkannya.
Dan dalam beberapa detik, ia mengambil keputusan yang menghancurkan seluruh hidupnya.
Namun pengakuan berikutnya jauh lebih mengejutkan.
“Pak Adrian tahu saya sering salah pedal.”
Aku menatap penyidik.
“Apa?”
Nadia menjelaskan bahwa dua bulan sebelumnya ia pernah menabrak pembatas parkir kantor karena menginjak gas saat hendak mengerem.
Seminggu kemudian, ia hampir menabrak seorang petugas keamanan.
SIM miliknya bahkan sudah lama tidak aktif.
Adrian mengetahui semuanya.
Tetapi tetap menyuruh Nadia mengemudi pagi itu.
Mengapa?
Karena Adrian sendiri yang meminta Nadia mengantarku dan Pak Hendra.
Polisi kemudian memeriksa rekaman telepon.
Pagi sebelum kecelakaan, Adrian menelepon Nadia selama tujuh menit.
Isi percakapan itu tidak terekam.
Adrian bersikeras bahwa ia hanya memberi instruksi pekerjaan.
Tidak ada bukti bahwa ia memerintahkan Nadia menabrak ayahnya.
Namun satu hal tidak dapat ia hindari.
Ia meninggalkan korban yang terluka tanpa pertolongan.
Dan surat yang ia tanda tangani sendiri menjadi bukti bahwa sejak awal ia mengetahui Nadia adalah pengemudi kendaraan tersebut dan berusaha melindunginya.
Adrian datang menemuiku seminggu setelah pemakaman.
Aku sedang berada di rumah Pak Hendra ketika ia datang.
Wajahnya tampak jauh lebih tua.
“Maya.”
Aku tetap memasukkan dokumen ke dalam kotak.
“Aku kehilangan Ayah,” katanya.
“Aku juga.”
“Dia ayah kandungku.”
Aku berhenti.
“Dan selama tujuh tahun terakhir, siapa yang menemaninya ke dokter?”
Adrian diam.
“Siapa yang tahu obat apa yang diminumnya?”
Diam.
“Siapa yang tahu makanan apa yang tidak boleh dia makan?”
Tidak ada jawaban.
Aku menatapnya.
“Hubungan darah tidak otomatis membuatmu menjadi anak yang baik, Adrian.”
Matanya berkaca-kaca.
“Aku menyesal.”
“Karena ayahmu meninggal?”
“Tentu saja.”
“Bukan karena kamu meninggalkan seorang manusia sekarat di jalan?”
Dia tidak mampu menjawab.
Saat itulah aku tahu penyesalannya masih sama egoisnya dengan cintanya.
Ia hanya berduka karena kehilangan sesuatu yang menjadi miliknya.
Bukan karena memahami kesalahannya.
“Aku mau kita memperbaiki semuanya,” katanya.
Aku mengambil sebuah amplop dari meja.
Kuberikan kepadanya.
Adrian membukanya.
Wajahnya langsung berubah.
“Gugatan cerai?”
“Aku sudah menandatanganinya.”
“Maya, jangan lakukan ini sekarang.”
“Kenapa? Karena kariermu sedang hancur? Karena perusahaan sedang menyelidikimu? Atau karena Nadia tidak bisa lagi kamu lindungi?”
“Aku masih mencintaimu.”
Aku tersenyum tipis.
“Pagi itu kamu mengira ayahku mati di jalan, dan kamu bahkan tidak mau melihat wajahnya.”
Dia terdiam.
“Aku tidak membutuhkan cinta seperti itu.”
Aku berjalan menuju pintu dan membukanya.
Namun sebelum Adrian keluar, ia menoleh.
“Ayah meninggalkan sesuatu untukmu.”
Aku mengernyit.
“Apa?”
“Pengacaranya menelepon.”
Keesokan harinya aku mengetahui bahwa tiga minggu sebelum meninggal, Pak Hendra telah mengubah surat wasiatnya.
Bukan setelah mengetahui perselingkuhan Adrian.
Sebelumnya.
Dalam sebuah surat pribadi, Pak Hendra menulis alasan yang sederhana.
Selama tujuh tahun, aku memiliki seorang anak laki-laki karena darah dan seorang anak perempuan karena pilihan. Yang satu mewarisi namaku. Yang lain menjagaku ketika nama itu tidak berarti apa-apa.
Pak Hendra meninggalkan sebagian besar saham pribadinya kepada yayasan keluarga dan cucu-cucunya kelak.
Namun rumah tempat ia tinggal, sejumlah investasi pribadi, serta sebagian saham dengan hak suara ia wariskan kepadaku.
Adrian menggugat.
Ia kalah.
Nadia akhirnya dijatuhi hukuman setelah proses pengadilan panjang.
Adrian tidak terbukti terlibat dalam tindakan sengaja Nadia, tetapi posisinya di perusahaan runtuh. Dewan komisaris mencopotnya setelah skandal perselingkuhan, upaya melindungi Nadia, dan berbagai pelanggaran internal terungkap.
Beberapa bulan kemudian, aku datang ke makam Pak Hendra seorang diri.
Aku membawa bunga kesukaannya.
Angin sore bergerak pelan di antara pepohonan.
“Ayah,” bisikku, “maaf hari itu aku tidak bisa menyelamatkan Ayah.”
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, aku menangis.
Bukan karena Adrian.
Bukan karena pernikahanku.
Melainkan karena aku benar-benar merindukan lelaki tua yang selalu memanggilku anak perempuannya.
Ketika hendak pulang, ponselku berbunyi.
Sebuah pesan dari Adrian.
Maya, kalau hari itu aku tahu yang tergeletak di jalan adalah Ayah, aku pasti tidak akan meninggalkannya.
Aku membaca kalimat itu dua kali.
Lalu menghapusnya.
Karena Adrian masih belum memahami apa pun.
Masalahnya bukan bahwa dia tidak tahu korban itu ayahnya.
Masalahnya adalah dia mengira korban itu ayahku.
Dan tetap memilih pergi.
