Istri saya membangunkan saya di tengah malam.

Aku baru menyadari bahwa orang paling berbahaya malam itu bukan dua pria yang masuk ke rumah kami.

Melainkan perempuan yang selama sebelas tahun tidur di sampingku.

Namanya Maya.

Istriku.

Ibu dari kedua anakku.

Perempuan yang setiap pagi menyiapkan bekal Raka, mengepang rambut Siti, lalu mengomel karena aku selalu lupa meletakkan handuk pada tempatnya.

Dan sekarang, perempuan itu berdiri di dapur kami sambil berjabat tangan dengan dua pria asing yang datang membawa linggis dan sarung tangan.

Aku menahan napas.

Dari balik semak, aku melihat Maya menunjuk ke lorong kamar.

Salah seorang pria mengangguk.

Mereka kemudian berjalan menuju kamar tidur kami.

Jantungku berdegup semakin keras.

Apa yang sebenarnya direncanakan Maya?

Apakah ia ingin mereka membunuh kami?

Pikiran itu terdengar gila, tetapi tidak ada penjelasan lain yang masuk akal.

Kalau Maya bekerja sama dengan mereka, mengapa ia membangunkan kami?

Mengapa menyuruh kami bersembunyi?

Tanganku meraba tanah lembap di bawah semak dan menemukan sebuah batu sebesar kepalan tangan.

Aku menggenggamnya.

Jika salah satu dari mereka mendekati anak-anakku, aku akan melawan.

Apa pun risikonya.

Beberapa menit kemudian, salah satu pria muncul kembali di dapur membawa sebuah tas hitam.

Aku mengenalinya.

Tas itu kusimpan di lemari kamar tidur.

Di dalamnya ada dokumen rumah, sertifikat tanah milik almarhum ayahku, buku tabungan lama, serta beberapa dokumen perusahaan.

Pria kedua membawa laptopku.

Darahku langsung naik ke kepala.

Aku hampir bangkit, tetapi tiba-tiba tangan kecil Raka mencengkeram bajuku.

“Ayah jangan pergi.”

Suara itu begitu pelan.

Namun cukup untuk menghentikanku.

Aku memeluknya.

“Tenang. Ayah di sini.”

Sekitar lima belas menit kemudian, kedua pria itu keluar dari rumah.

Mereka memasukkan tas dan beberapa barang ke dalam pikap.

Salah seorang dari mereka kembali menghampiri Maya.

Mereka berbicara beberapa detik.

Lalu pria itu menyerahkan sesuatu.

Sebuah amplop.

Maya menerimanya.

Aku merasa seperti ditampar.

Jadi benar.

Ia dibayar.

Pikap itu kemudian meninggalkan halaman.

Aku menunggu sampai suara mesinnya menghilang.

Maya berdiri sendirian di depan pintu belakang.

Ia menatap ke arah semak.

“Keluar.”

Aku tidak bergerak.

“Ardi,” katanya. “Bawa anak-anak keluar.”

Aku berdiri perlahan.

Raka berada di belakangku, sementara Siti masih kupeluk.

Aku menatap Maya dengan kemarahan yang bahkan sulit kujelaskan.

“Jangan mendekat.”

Maya berhenti.

“Aku bisa menjelaskan.”

“Menjelaskan apa?”

Suaraku bergetar.

“Kenapa dua orang asing masuk ke rumah kita? Kenapa mereka membawa barang-barangku? Kenapa kamu menunjukkan kamar kita kepada mereka?”

Maya diam.

Aku menunjuk amplop di tangannya.

“Dan itu apa?”

Maya menatap amplop tersebut.

Lalu ia mengulurkannya kepadaku.

“Buka.”

“Aku tidak mau menyentuh uangmu.”

“Itu bukan uang.”

Aku merampas amplop itu dan membukanya.

Di dalamnya hanya ada sebuah kartu memori kecil.

Aku menatapnya bingung.

“Apa ini?”

Maya menarik napas panjang.

“Alasan kenapa kita harus pergi dari rumah ini sebelum matahari terbit.”

Aku tertawa pendek karena tidak percaya.

“Berhenti bicara seperti film. Katakan yang sebenarnya.”

Maya menatap Raka dan Siti.

“Bukan di sini.”

Kami masuk ke mobil.

Maya menyetir.

Aku duduk di sebelahnya sambil memeluk Siti. Raka tertidur di kursi belakang karena kelelahan.

Sepanjang perjalanan, Maya tidak mengatakan apa pun.

Kami berhenti di sebuah hotel kecil sekitar empat puluh menit dari rumah.

Setelah anak-anak tertidur, aku kembali menghadapi Maya.

“Sekarang bicara.”

Maya membuka laptop kecil dari tasnya.

“Aku harus menunjukkan sesuatu dulu.”

Ia memasukkan kartu memori tadi.

Muncul beberapa folder.

Rekaman telepon.

Foto.

Dokumen.

Laporan transaksi.

Aku semakin bingung.

Lalu Maya membuka sebuah rekaman suara.

Suara laki-laki terdengar.

Aku langsung mengenalinya.

Pak Surya.

Direktur utama perusahaan tempatku bekerja.

“Ardi sudah tanda tangan semuanya?”

Suara kedua menjawab.

“Sudah. Dia tidak tahu dokumen terakhir menyertakan persetujuan rekening.”

Aku membeku.

Rekaman berlanjut.

“Kalau audit masuk, semua akan mengarah ke dia. Kita tinggal bilang dia yang mengatur pembayaran vendor.”

Tanganku terasa dingin.

Enam bulan sebelumnya, aku dipromosikan menjadi kepala divisi pengadaan.

Pak Surya memberiku kenaikan gaji besar.

Ia memperlakukanku seperti anak sendiri.

Setidaknya, itulah yang kupikirkan.

“Apa maksudnya ini?”

Maya menatapku.

“Perusahaanmu sedang diperiksa karena pencucian uang dan penggelapan pajak.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Dari mana kamu tahu?”

“Karena tiga minggu lalu seseorang menghubungiku.”

“Siapa?”

Maya terdiam sesaat.

“Kakakku.”

Aku langsung berdiri.

“Dimas?”

Maya mengangguk.

Nama itu sudah bertahun-tahun tidak disebut di rumah kami.

Setahuku, Dimas bekerja di Singapura. Hubungannya dengan Maya renggang sejak orang tua mereka meninggal.

“Dimas bekerja untuk tim investigasi keuangan,” kata Maya. “Dia sudah menyelidiki jaringan Surya hampir setahun.”

Aku merasa ruangan berputar.

“Kenapa tidak ada yang memberitahuku?”

“Karena mereka curiga teleponmu dipantau.”

“Omong kosong.”

Maya membuka folder lain.

Foto mobilku.

Foto aku keluar kantor.

Foto Raka di depan sekolah.

Foto Siti bersama pengasuhnya.

Aku berhenti bernapas ketika melihat foto terakhir.

Rumah kami.

Diambil dari seberang jalan.

Tanggalnya dua hari lalu.

“Ada orang yang mengawasi kita,” kata Maya.

Aku duduk perlahan.

“Dua pria tadi siapa?”

“Orang dari tim Dimas.”

“Kenapa membawa barang-barangku?”

“Karena dokumen asli yang membuktikan tanda tanganmu dipalsukan ada di rumah. Mereka harus mengambilnya sebelum orang Surya datang.”

Aku teringat sesuatu.

“Pintu belakang.”

Maya mengangguk.

“Aku yang membukanya.”

“Kenapa membawa linggis?”

“Supaya kalau ada kamera tersembunyi, mereka terlihat seperti pencuri.”

Aku menatapnya lama.

Semua kemarahanku berubah menjadi kebingungan.

“Kenapa kita harus bersembunyi?”

Maya menutup laptop.

“Karena orang Surya datang setelah mereka.”

Seolah menjawab ucapannya, ponsel Maya bergetar.

Sebuah pesan masuk.

Ia membacanya.

Wajahnya pucat.

“Apa?”

Maya menunjukkan layar kepadaku.

Hanya ada satu kalimat.

Mereka tiba sembilan menit setelah kalian pergi.

Tubuhku terasa dingin.

“Siapa?”

Maya menatapku.

“Empat orang.”

Aku tidak bisa tidur malam itu.

Pagi harinya, Dimas datang.

Aku hampir tidak mengenalinya.

Rambutnya sudah mulai beruban. Ia tampak jauh lebih kurus daripada terakhir kali kami bertemu.

Ia membawa rekaman kamera tersembunyi yang dipasang timnya di rumah kami.

Kami menontonnya.

Pukul 02.47.

Sebuah SUV putih berhenti.

Empat pria turun.

Salah satunya pernah kulihat beberapa kali bersama Pak Surya.

Mereka masuk melalui pintu belakang.

Mereka mencari sesuatu.

Membuka lemari.

Membongkar laci.

Salah satu pria masuk ke kamar Raka.

Ia berdiri di samping tempat tidur kosong selama beberapa detik.

Kemudian berkata kepada rekannya,

“Mereka sudah pergi.”

Pria lain menjawab,

“Cari sampai ketemu. Bos bilang malam ini harus selesai.”

Aku mematikan video.

Tanganku gemetar.

Untuk pertama kalinya, aku memahami kenapa Maya tidak menjelaskan apa pun ketika membangunkanku.

Kalau ia memberiku waktu untuk berpikir, aku mungkin akan mengambil ponsel.

Menyalakan lampu.

Menelepon polisi.

Atau melakukan sesuatu yang memberi tahu mereka bahwa kami masih berada di rumah.

“Aku minta maaf,” kataku.

Maya tidak menjawab.

“Aku benar-benar mengira kamu…”

“Mau membunuhmu?”

Aku menunduk.

Maya tersenyum tipis, tetapi matanya berkaca-kaca.

“Aku tahu.”

Aku menatapnya.

“Bagaimana kamu tahu?”

“Karena wajahmu saat keluar dari semak seperti orang yang baru sadar menikahi pembunuh bayaran.”

Aku hampir tertawa.

Hampir.

Dimas kemudian menjelaskan bahwa aku telah dijadikan kambing hitam.

Selama hampir delapan bulan, beberapa transaksi ilegal bernilai puluhan miliar rupiah dibuat menggunakan otorisasi digital yang terhubung dengan akun kantorku.

Sebagian dokumen memiliki tanda tanganku.

Sebagian lainnya palsu.

Pak Surya sengaja mempromosikanku agar posisiku cukup tinggi untuk menanggung kesalahan, tetapi tidak cukup tinggi untuk mengetahui seluruh operasi.

“Kalau dokumen itu hilang,” kata Dimas, “kamu yang akan masuk penjara.”

Aku menelan ludah.

“Dan sekarang?”

“Sekarang kami punya dokumen asli, metadata, rekaman percakapan, dan jejak transaksi.”

“Berarti selesai?”

Dimas menggeleng.

“Belum.”

Ternyata Pak Surya sudah mengetahui ada kebocoran.

Dan ia tahu Maya terlibat.

Selama tiga hari berikutnya, kami tidak pulang.

Anak-anak mengira kami sedang berlibur mendadak.

Maya dan aku bergantian tersenyum di depan mereka, sementara setiap malam kami hampir tidak tidur.

Pada hari keempat, aku diminta datang ke kantor penyidik untuk memberikan keterangan.

Aku menyerahkan semuanya.

Dokumen.

Pesan.

Email.

Nama orang.

Aku bahkan mengakui beberapa berkas yang kutandatangani tanpa membaca secara menyeluruh.

Dua minggu kemudian, Pak Surya ditangkap.

Berita itu muncul di televisi nasional.

Tujuh orang lainnya ikut ditahan.

Aku dibebastugaskan sementara selama penyelidikan, tetapi tidak ditetapkan sebagai tersangka.

Kupikir mimpi buruk kami akhirnya berakhir.

Ternyata belum.

Sebulan kemudian, ketika kami sudah kembali ke rumah, aku menemukan sebuah amplop cokelat di meja dapur.

Tidak ada nama pengirim.

Di dalamnya terdapat beberapa lembar dokumen.

Aku membacanya.

Lalu membaca lagi.

Tanganku mulai gemetar.

Dokumen itu adalah polis asuransi jiwa atas namaku.

Nilainya lima miliar rupiah.

Penerima manfaatnya Maya.

Polis tersebut dibuat dua tahun sebelumnya.

Aku menatap istriku.

“Apa ini?”

Maya membeku.

Aku meletakkan dokumen di meja.

“Kenapa kamu tidak pernah memberitahuku?”

Wajah Maya berubah.

Bukan takut.

Melainkan bingung.

“Aku tidak pernah membuat polis itu.”

Aku tertawa getir.

“Maya, tanda tanganmu ada di sini.”

Ia mengambil dokumen itu.

Semakin lama ia membaca, wajahnya semakin pucat.

“Ini bukan tanda tanganku.”

Aku menatapnya.

Saat itulah ponsel Maya berbunyi.

Pesan dari Dimas.

Jangan sentuh dokumen apa pun yang baru dikirim ke rumah. Kami menemukan sesuatu.

Lima menit kemudian, Dimas menelepon.

Ternyata jaringan Surya jauh lebih besar daripada yang mereka perkirakan.

Mereka bukan hanya memalsukan dokumen perusahaan.

Mereka juga membuat polis asuransi jiwa atas nama beberapa pegawai yang hendak dijadikan kambing hitam.

Jika penyelidikan gagal dan dokumen tidak bisa diarahkan kepada pegawai tersebut, ada rencana kedua.

Kecelakaan.

Aku menatap polis di tanganku.

Tiba-tiba aku teringat satu kejadian enam bulan sebelumnya.

Rem mobilku pernah blong ketika kami turun dari Puncak.

Bengkel mengatakan selangnya rusak.

Aku menganggapnya kebetulan.

Maya menatapku.

Kami sama-sama memahami hal yang sama tanpa perlu mengatakannya.

Aku seharusnya sudah mati.

Beberapa hari kemudian, penyidik menemukan bukti bahwa kecelakaan itu memang direncanakan.

Polis tersebut menjadi bukti tambahan yang memperluas kasus.

Setahun berlalu.

Kami pindah rumah.

Aku keluar dari perusahaan dan membuka usaha kecil bersama seorang teman lama.

Penghasilanku tidak sebesar dulu.

Namun aku bisa pulang sebelum anak-anak tidur.

Raka masih sesekali bertanya tentang malam ketika kami bersembunyi di semak.

Aku selalu mengatakan bahwa kami sedang memainkan permainan rahasia.

Ia belum cukup besar untuk mengetahui bahwa malam itu ibunya menyelamatkan hidup kami.

Suatu malam, setelah anak-anak tidur, aku duduk bersama Maya di teras rumah baru.

Aku bertanya sesuatu yang selama ini menggangguku.

“Waktu itu, kenapa kamu tidak bersembunyi bersama kami?”

Maya terdiam cukup lama.

“Karena seseorang harus memastikan mereka mengambil bukti yang benar.”

“Kalau orang Surya datang lebih cepat?”

Maya tersenyum kecil.

“Aku sudah memikirkan itu.”

“Lalu?”

Ia menatapku.

“Kalau mereka datang saat aku masih di rumah, aku akan menahan mereka selama mungkin.”

Aku merasakan tenggorokanku tercekat.

“Sendirian?”

Maya mengangguk.

“Supaya kamu bisa membawa Raka dan Siti pergi.”

Aku tidak mampu menjawab.

Selama bertahun-tahun, aku selalu menganggap diriku pelindung keluarga.

Aku memasang kamera keamanan.

Memeriksa pintu sebelum tidur.

Mengajari Raka agar tidak berbicara dengan orang asing.

Aku merasa tugas seorang suami dan ayah adalah berdiri paling depan ketika bahaya datang.

Namun pada malam paling mengerikan dalam hidup kami, justru Maya yang berdiri di depan.

Sementara aku bersembunyi di balik semak bersama anak-anak.

Aku menggenggam tangannya.

“Aku pernah benar-benar mengira kamu ingin membunuhku.”

Maya tertawa pelan.

“Kadang-kadang aku memang ingin.”

Aku menoleh kaget.

Ia tersenyum.

“Terutama kalau kamu meninggalkan handuk basah di tempat tidur.”

Aku akhirnya tertawa.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, tawa itu terasa ringan.

Aku dulu berpikir kepercayaan berarti mengetahui semua hal tentang pasangan kita.

Ternyata aku salah.

Kadang-kadang kepercayaan justru diuji ketika kita tidak tahu apa-apa, ketika semua yang kita lihat tampak salah, dan ketika orang yang paling kita cintai terpaksa terlihat seperti musuh demi melindungi kita.

Malam itu, aku mengira kami sedang bersembunyi dari istriku sendiri.

Bertahun-tahun kemudian, aku baru memahami kenyataan yang sebenarnya.

Kami tidak pernah bersembunyi darinya.

Kami bersembunyi di belakangnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang