Suamiku Meninggalkan Aku dan Anak Kami di Bandara Demi Pergi Bersama Asistennya,

Layar laptop yang menyala di kegelapan kamar hotel memantulkan bayangan wajahku yang pucat namun dingin. Di luar, suara deburan ombak Bali yang tadinya kubayangkan akan menjadi latar belakang malam ulang tahun pernikahan kami, kini terdengar seperti ejekan yang menusuk dada. Nia menggeletuk pelan dalam tidurnya, napas hangatnya yang berbau obat menyentuh lenganku. Dalam heningnya malam itu, sebuah transformasi terjadi dalam diriku. Rasa sakit hati yang tadinya menghimpit dada perlahan mengkristal menjadi kepastian yang mutlak. Aku tidak akan pernah lagi menangis untuk Budi.

Sebelum fajar menyingsing di atas pantai Denpasar, jemariku bergerak lincah di atas papan ketik. Aku tidak menelepon Budi lagi, tidak juga mengirimi pria itu pesan penuh rintihan. Sebaliknya, aku menghubungi pengacara keluarga di Jakarta, mengirimkan seluruh dokumen mutasi rekening, bukti pembayaran uang muka vila atas nama Sari, serta tangkapan layar unggahan media sosial yang telah kuamankan.

Pukul delapan pagi, ketika Budi mungkin baru terbangun di dalam vila mewah bersama Sari, aku sudah membawa Nia yang demamnya mulai mereda menuju bandara. Kami memesan penerbangan paling awal kembali ke Jakarta. Di dalam pesawat, Nia memeluk boneka kelinci kesayangannya sambil berbisik pelan, bertanya mengapa Ayah tidak ikut pulang bersama kami. Aku mengelus rambut halus putriku, tersenyum tipis, dan berbisik bahwa Ayah sedang berada di tempat yang sangat jauh, tempat di mana kami tidak perlu mengunjunginya lagi.

Tiba di Jakarta, aku bergerak cepat tanpa membuang waktu satu detik pun. Sebelum Budi sempat menyadari apa yang sedang terjadi, aku mendatangi bank dan menarik seluruh sisa tabungan pribadi yang terpisah dari rekening bersama. Aku mendatangi rumah kami yang sepi, mengepak seluruh pakaianku dan barang-barang Nia, serta mengambil dokumen penting yang tersimpan di dalam brankas—termasuk sertifikat rumah yang sebenarnya dibeli menggunakan dana warisan dari almarhum ayahku.

Sembilan hari berlalu bagaikan angin lalu di dalam sebuah apartemen sewa yang aman di daerah Jakarta Selatan. Aku mendaftarkan Nia ke sekolah baru dan mengurus pembukaan cabang usaha kateringku yang sempat tertunda. Selama sembilan hari itu, ponsel Budi membisu total. Pria itu begitu larut dalam kesenangannya bersama Sari di Bali hingga lupa bahwa ia memiliki seorang istri dan anak yang ditinggalkannya begitu saja di bandara.

Hingga akhirnya, pada hari kesembilan, ketika liburan haramnya selesai dan Budi melangkah masuk ke rumah kami yang gelap gulita, barulah kepanikan kecil mulai menyenggol pikirannya. Rumah itu berdebu, tidak ada aroma masakan hangat yang biasanya menyambut kedatangannya, dan perabotan tampak lengang.

Ketika pengurus rumah tangga menjawab bahwa aku belum pulang sejak malam pertama mereka berangkat, Budi tertawa kecil, mencoba menghibur dirinya sendiri. Pria itu berpikir aku hanya sedang merajuk, sengaja mematikan ponsel untuk membalas perbuatannya dan bersembunyi di rumah orang tuaku. Ia merogoh saku, menelepon nomor ponselku dengan raut wajah kesal yang biasa dipamerkannya ketika merasa paling benar.

Panggilan itu ditolak secara otomatis.

Budi menggerutu, lalu mengetik pesan singkat dengan nada menuntut. “Ayu, jangan childish. Aku tahu kamu marah soal pekerjaan mendadakku di Bali. Tapi mengabaikan suamimu selama seminggu lebih itu sudah berlebihan. Pulang sekarang, atau aku akan—”

Belum sempat jemarinya menyelesaikan kalimat ancaman tersebut, sebuah surat resmi berstempel Pengadilan Agama Jakarta Selatan tiba di depan pintu rumah melalui kurir khusus.

Budi menerima surat itu dengan dahi berkerut. Begitu segel kertas dibuka dan matanya membaca baris demi baris dokumen di dalamnya, wajah sombong direktur muda itu seketika berubah pucat bagaikan mayat. Surat gugatan cerai resmi atas nama Ayu Citra Lestari telah didaftarkan, lengkap dengan tuntutan hak asuh penuh atas Nia dan pengembalian seluruh aset yang terbukti disalahgunakan.

Bukan hanya itu, sebuah panggilan darurat masuk dari kantor pusat perusahaannya. Suara Komisaris Utama—yang tak lain adalah paman kandungku sendiri yang selama ini menyokong posisi Budi—terdengar gema menggelegar di seberang telepon.

“Budi! Apa yang sudah kamu lakukan pada Ayu dan keuangan perusahaan?! Auditor menemukan indikasi penggelapan dana proyek sebesar ratusan juta yang kamu alirkan ke rekening asistenmu! Surat penonaktifan jabatanmu sebagai Direktur Utama sudah ditandatangani pagi ini!”

Ponsel di tangan Budi jatuh terhempas ke lantai ubin yang dingin. Seluruh dunianya yang megah runtuh dalam hitungan detik. Kebebasan dan kemewahan yang ia nikmati bersama Sari di Bali ternyata adalah awal dari kehancurannya yang paling mengerikan.

Di tempat lain, di sebuah kafe beratap kaca di kawasan Senopati, aku duduk tenang menikmati secangkir teh hangat. Dari kejauhan, aku melihat Budi berlari memasuki area kafe dengan pakaian berantakan dan mata merah penuh keputusasaan setelah berhasil melacak keberadaanku melalui pengacara.

Pria itu menghambur ke mejaku, hendak mencengkeram tanganku, namun pengawal pribadi yang kusewa dengan sigap menghadangnya.

“Ayu! Tolong, Ayu! Dengarkan aku dulu!” jerit Budi dengan suara serak, berderai air mata di hadapan para pengunjung kafe. “Aku khilaf! Sari yang menjebakku! Dia yang memintaku mentransfer uang itu! Aku mencintaimu, Ayu… tolong cabut gugatan itu dan kembalikan posisiku di perusahaan!”

Aku meletakkan cangkir tehku dengan perlahan tanpa menimbulkan suara. Ku tatap pria yang pernah menjadi pusat semestaku itu dengan pandangan hampa, tanpa ada lagi rasa benci maupun cinta yang tersisa.

“Budi,” suaraku mengalir tenang, begitu jernih menembus kepanikannya. “Kamu tidak kehilangan posisimu karena Sari, dan kamu tidak kehilangan aku karena Bali. Kamu kehilangan semuanya karena kamu menganggap kesetiaan dan pengorbananku sebagai sesuatu yang murah.”

Aku berdiri, merapikan gaun putihku, lalu memandang Budi untuk terakhir kalinya. “Mobil yang kamu pakai, rumah yang kamu tempati, dan jabatan yang kamu banggakan… semuanya adalah milik wanita yang kamu tinggalkan di bandara bersama anaknya yang sedang demam. Sekarang, saatnya kamu belajar bagaimana rasanya tidak memiliki apa-apa.”

Aku melangkah pergi meninggalkannya yang terduduk lemas di lantai kafe, meratap dan menangisi kehancuran hidupnya sendiri. Di luar, sinar matahari siang memancar terang, menyinari jalanku dan Nia menuju kehidupan baru yang bebas dari kebohongan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang