“Ada satu berkas lain yang belum Kakak lihat.”
Kalimat Nadira membuat seluruh tubuhku menegang. Aku menatap Arga yang berdiri di samping tempat tidur, menunggu penjelasan yang sejak kemarin seharusnya sudah kudengar.
“Berkas apa, Mas?”
Arga mengusap wajahnya. “Rani, kamu baru selesai menjalani operasi. Kita bicarakan nanti kalau kondisimu sudah lebih baik.”
Aku tertawa kecil. Suaranya terdengar asing di telingaku sendiri.
“Kemarin kamu bilang aku terlalu emosional. Sekarang kamu bilang aku terlalu lemah. Kapan sebenarnya aku boleh mengetahui apa yang terjadi pada tubuhku sendiri?”
Nadira menunduk. Untuk pertama kalinya, perempuan yang selalu dibela suamiku itu tidak berani menatap mataku.
“Keluar dulu, Nadira,” kata Arga.

“Tapi, Mas…”
“Sekarang.”
Aku mengangkat tangan.
“Nggak. Dia tetap di sini. Kalau dia tahu sesuatu tentang keadaanku, aku ingin mendengarnya.”
Keheningan menyelimuti kamar.
Akhirnya Arga menarik sebuah kursi dan duduk di sampingku.
“Dokter menemukan perdarahan serius ketika melakukan tindakan darurat. Kondisimu memburuk dengan cepat.”
Aku menahan napas.
“Terus?”
“Mereka harus melakukan operasi tambahan untuk menghentikan perdarahan.”
Tanganku mulai gemetar.
“Operasi apa?”
Arga menatap lantai.
“Rahimmu harus diangkat, Ran.”
Dunia seolah berhenti bergerak.
Aku memandangi wajah suamiku, berharap dia segera mengatakan bahwa aku salah mendengar.
Namun, Arga hanya diam.
“Jadi… aku nggak bisa hamil lagi?”
Air matanya mulai mengalir.
“Maafkan aku.”
Aku menutup mata. Dokter memang sudah mengatakan kemungkinan memiliki anak lagi sangat kecil. Tetapi aku tidak pernah membayangkan bahwa organ yang selama lima bulan menjadi rumah bagi bayi kami ternyata sudah tidak ada.
“Kenapa dokter nggak menjelaskan semuanya kepadaku?”
“Dokter sudah berencana menjelaskannya setelah kondisimu stabil,” jawab Arga.
Aku memandangnya.
“Dan kamu sudah tahu sejak kemarin?”
Dia mengangguk.
“Waktu kamu masih di ruang operasi.”
“Jam berapa?”
Arga terdiam.
“Jawab, Mas.”
“Sekitar pukul dua siang.”
Aku teringat foto Nadira yang memegang piala kemenangan. Foto itu diunggah menjelang pukul empat sore.
“Berarti saat kamu tersenyum di foto kemenangan Nadira, kamu sudah tahu anak kita meninggal dan rahimku diangkat?”
Wajah Arga langsung pucat.
“Rani, aku…”
“Kamu sudah tahu semuanya, tapi tetap memilih tinggal di acara itu?”
“Aku pikir kalau aku pulang dalam keadaan panik, semua orang akan bertanya.”
Aku memandangnya tidak percaya.
“Jadi kamu lebih takut orang bertanya daripada takut kehilangan istrimu?”
Arga menunduk.
Nadira tiba-tiba menangis.
“Kak Rani, ini salahku. Waktu rumah sakit menelepon, Mas Arga mau pergi. Tapi aku memintanya tetap tinggal sampai pengumuman hasil seleksi.”
Aku menatap perempuan itu.
“Kenapa?”
“Aku takut. Aku sudah gagal dua kali sebelumnya. Aku nggak mau menghadapi hasilnya sendirian.”
Aku mengangguk perlahan.
“Dan kamu tahu aku sedang menjalani operasi?”
Nadira menghapus air mata.
“Mas Arga bilang kondisi Kakak serius.”
Aku tidak sanggup berkata-kata.
Dua orang dewasa yang berdiri di hadapanku telah mengetahui bahwa aku sedang berjuang mempertahankan hidup.
Namun, keduanya tetap menganggap pengumuman hasil seleksi lebih penting.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka.
Seorang dokter perempuan masuk bersama perawat.
“Bu Rani, saya Dokter Laras. Saya ingin menjelaskan kondisi medis Ibu setelah operasi.”
Arga langsung berdiri.
“Dok, nanti saja. Istri saya sedang emosional.”
Dokter Laras menatapnya dengan tegas.
“Pak Arga, Ibu Rani berhak mendapatkan penjelasan mengenai kondisi tubuhnya. Kami akan menyesuaikan penyampaiannya dengan keadaan beliau.”
Aku menatap dokter itu dengan mata berkaca-kaca.
“Tolong jelaskan semuanya, Dok.”
Dokter Laras duduk di sampingku.
Dia menjelaskan bahwa komplikasi kehamilan yang kualami menyebabkan perdarahan berat dan mengancam nyawaku. Tim medis berusaha mengendalikan keadaan, tetapi akhirnya harus melakukan pengangkatan rahim sebagai tindakan penyelamatan.
“Keputusan medis tersebut diambil berdasarkan kondisi darurat Ibu,” katanya lembut. “Kami menyesal kehilangan yang Ibu alami begitu besar.”
Aku mengangguk sambil menangis.
“Apakah semua ini terjadi karena aku berjalan terlalu jauh kemarin?”
Dokter Laras menggeleng.
“Kami tidak dapat menyimpulkan penyebab komplikasi hanya dari kejadian itu. Ada beberapa faktor medis yang harus dipertimbangkan. Ibu tidak perlu menyalahkan diri sendiri.”
Aku menutup wajah.
Sejak terbangun, aku terus membayangkan diriku berjalan di jalanan sepi sambil memegangi perut.
Aku berpikir, seandainya aku tidak turun dari mobil, apakah anakku masih hidup?
Namun, tidak ada seorang pun yang bisa menjawab pertanyaan itu dengan pasti.
Setelah dokter meninggalkan ruangan, aku meminta Arga dan Nadira pergi.
“Aku ingin sendiri.”
Arga mencoba menggenggam tanganku.
“Rani, kita masih bisa memperbaiki semuanya.”
Aku menarik tangan perlahan.
“Pergilah, Mas.”
“Tapi kita suami istri.”
Aku menatapnya.
“Justru itu yang membuat semuanya begitu menyakitkan.”
Arga akhirnya keluar.
Nadira mengikutinya tanpa berkata apa-apa.
Begitu pintu tertutup, aku menangis sampai dadaku terasa sakit.
Malam itu, sahabatku Maya datang membawa pakaian bersih dan makanan.
Dia langsung memelukku ketika melihat wajahku.
“Ran, aku sudah dengar semuanya.”
Aku menangis di bahunya.
“May, aku kehilangan anakku.”
Maya mengusap punggungku.
“Aku tahu.”
“Aku juga nggak bisa mengandung lagi.”
Maya memelukku semakin erat.
“Kamu tetap Rani yang kukenal. Nilai dirimu nggak berkurang sedikit pun karena semua ini.”
Aku menangis lebih keras.
Selama bertahun-tahun, aku berusaha menjadi istri yang memahami pekerjaan suaminya.
Aku menerima ketika Arga membatalkan makan malam, melewatkan ulang tahunku, dan meninggalkanku sendirian saat sakit.
Aku selalu berpikir kesabaranku akan membuat pernikahan kami semakin kuat.
Ternyata kesabaran yang tidak disertai batasan justru membuatku semakin mudah diabaikan.
Keesokan paginya, Maya membawa kabar lain.
“Ran, aku sudah bicara dengan pengacara yang kamu minta.”
Aku mengangguk.
“Bagaimana?”
“Dia menyarankan kita menyimpan semua bukti terlebih dahulu. Termasuk video ketika kamu ditinggalkan di jalan dan pernyataan resmi yang menggunakan namamu tanpa persetujuan.”
Aku mengambil ponsel.
Video yang beredar memperlihatkan Arga menurunkan tasku, lalu mengemudikan mobil meninggalkanku.
Beberapa menit kemudian, aku terlihat berjalan sambil memegangi perut.
Aku tidak sanggup menontonnya sampai selesai.
Namun, ada satu bagian lain yang belum pernah kuperhatikan.
Di akhir video, seseorang terdengar berkata, “Ibu itu tadi sudah bilang sakit, tapi laki-lakinya tetap pergi.”
Aku menatap Maya.
“Siapa yang merekam?”
“Seorang pengendara yang berhenti di warung dekat tikungan. Dia sudah menghubungi pengacara kita dan bersedia memberikan keterangan.”
Aku mengangguk.
“Terima kasih, May.”
Dua hari kemudian, Arga kembali datang.
Kali ini dia membawa bunga putih dan sebuah kotak perhiasan.
“Aku sudah meminta izin cuti beberapa hari,” katanya.
Aku menatap bunga itu.
“Untuk apa?”
“Untuk menemanimu pulih.”
Aku memandangnya lama.
“Mas, aku sudah melewati operasi dan kehilangan anak kita tanpa kamu di sampingku.”
Arga menunduk.
“Aku tahu aku salah.”
“Kalau begitu, ada sesuatu yang harus kamu lakukan.”
Dia langsung mengangkat wajah.
“Apa pun, Ran.”
“Tarik pernyataan resmi yang menggunakan namaku.”
Arga membeku.
“Rani, masalah itu sudah selesai. Kalau dibuka lagi, reputasi satuan bisa terganggu.”
Aku tersenyum pahit.
“Kamu masih memikirkan reputasi?”
“Bukan begitu.”
“Kamu sendiri tahu aku nggak pernah meminta turun dari mobil. Tapi kamu membiarkan namaku dipakai untuk menyebarkan kebohongan.”
Arga terdiam.
Aku melanjutkan.
“Aku nggak memintamu mengorbankan karier demi aku. Aku cuma meminta kamu mengatakan kebenaran.”
Dia mengusap wajah.
“Aku perlu bicara dengan bagian humas.”
Aku mengangguk.
“Kalau begitu, bicaralah.”
Sore harinya, Arga pergi.
Namun, bukan surat pencabutan yang kuterima.
Melainkan telepon dari ibu mertuaku.
“Rani, Ibu dengar kamu mau memperbesar masalah ini?”
Aku menutup mata.
“Bu, saya hanya ingin nama saya tidak digunakan untuk pernyataan yang tidak benar.”
“Kamu tahu berapa lama Arga membangun kariernya? Jangan sampai satu kejadian merusak semuanya.”
Aku menggenggam selimut.
“Saya kehilangan anak saya, Bu.”
Suara ibu mertuaku melunak sesaat.
“Ibu turut sedih. Tapi kalian masih muda. Kalian bisa mencari cara lain untuk punya anak.”
Aku tidak menjawab.
“Bukankah lebih baik sekarang kamu fokus memulihkan diri daripada mengurus persoalan pekerjaan Arga?”
Aku menarik napas panjang.
“Bu, saya memang sedang berusaha pulih. Karena itu saya membutuhkan ketenangan dan kejujuran.”
Aku memutus sambungan.
Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa bersalah setelah menolak permintaan keluarga suamiku.
Seminggu kemudian, aku diperbolehkan pulang dari rumah sakit.
Aku tidak kembali ke rumah dinas.
Maya membantuku pindah sementara ke apartemen kecil miliknya di Jakarta Selatan.
Sebelum pergi, aku meminta salinan rekam medis melalui prosedur rumah sakit dan menyimpan semua dokumen yang berkaitan dengan perawatanku.
Aku juga mengirimkan surat resmi melalui pengacara untuk meminta koreksi atas pernyataan yang mencatut namaku.
Beberapa hari kemudian, satuan Arga mengumumkan bahwa pernyataan sebelumnya telah ditarik karena belum diverifikasi secara memadai.
Pemeriksaan internal juga dimulai untuk menilai tindakan Arga ketika meninggalkanku dalam kondisi hamil serta penggunaan jalur komunikasi resmi untuk masalah pribadi.
Nadira dipanggil memberikan keterangan.
Aku tidak mengetahui seluruh isi pemeriksaan tersebut.
Namun, satu malam, Nadira datang ke apartemen Maya.
Dia berdiri di depan pintu dengan wajah pucat.
“Kak Rani, boleh aku bicara sebentar?”
Aku mempertimbangkan beberapa detik sebelum mempersilakannya masuk.
Nadira duduk di tepi sofa.
“Aku mau minta maaf.”
Aku diam.
“Aku tahu sejak dulu Mas Arga selalu mendahulukanku. Aku menikmatinya karena merasa ada seseorang yang selalu membelaku.”
Air matanya mulai jatuh.
“Aku bahkan sering meneleponnya untuk hal-hal yang sebenarnya bisa kuselesaikan sendiri.”
Aku menatapnya.
“Kenapa kamu baru mengatakan ini sekarang?”
“Karena ketika pemeriksaan dimulai, aku membaca laporan kejadian hari itu. Aku baru tahu kondisimu sudah memburuk ketika mobil berhenti.”
Aku menggeleng.
“Kamu memang mungkin nggak tahu semua kondisi medis yang kualami. Tapi kamu tahu Arga sedang mengantarku kontrol kehamilan ketika meminta dia menjemputmu.”
Nadira mengangguk sambil menangis.
“Iya.”
“Itu cukup membuatmu tahu bahwa waktunya bukan hanya milikmu.”
Dia menunduk.
“Aku salah.”
Aku menarik napas.
“Nadira, aku nggak ingin menghabiskan sisa hidupku membencimu. Tapi aku juga belum bisa memaafkan semuanya begitu saja.”
“Aku mengerti.”
“Dan apa pun hubunganmu dengan Arga, aku berharap suatu hari kamu belajar bahwa perhatian seseorang bukan berarti kamu berhak memintanya mengabaikan orang lain.”
Nadira menangis tanpa suara.
Setelah dia pergi, aku duduk cukup lama di dekat jendela.
Anehnya, aku tidak merasa puas.
Aku hanya lelah.
Dua bulan berlalu.
Kondisi fisikku perlahan membaik, meskipun ada hari-hari ketika aku masih menangis setiap melihat pakaian bayi atau mendengar suara anak kecil.
Aku mulai menjalani konseling untuk menghadapi kehilangan.
Maya menemaniku ketika aku belum sanggup pergi sendiri.
Sementara itu, Arga beberapa kali mengirim pesan.
Dia mengatakan menyesal.
Dia mengatakan ingin berubah.
Dia bahkan mengirimkan foto kamar bayi yang sudah dirapikannya.
Namun, aku tidak kembali.
Suatu sore, pengacara memberitahuku bahwa permohonan perceraian kami telah masuk tahap persidangan.
Arga meminta bertemu sebelum proses berlanjut.
Aku menyetujuinya di sebuah kafe, dengan Maya menunggu di meja lain.
Arga datang mengenakan pakaian sipil sederhana.
Wajahnya terlihat lebih kurus.
“Rani,” katanya pelan.
Aku mengangguk.
“Mas.”
Dia duduk di hadapanku.
“Aku sudah mendapat keputusan dari pemeriksaan internal.”
Aku menatapnya.
“Aku dibebastugaskan dari posisi komandan untuk sementara waktu dan mendapat sanksi sesuai hasil pemeriksaan. Aku juga diwajibkan mengikuti pembinaan.”
Aku diam.
“Aku nggak mengatakan ini supaya kamu kasihan. Aku cuma ingin kamu tahu bahwa aku akhirnya berhenti mencari alasan.”
Aku menatap wajahnya.
“Bagaimana dengan Nadira?”
“Dia sudah dipindahkan dari unit yang sama untuk menghindari konflik kepentingan. Proses administrasinya ditangani terpisah.”
Arga mengusap kedua tangannya.
“Aku juga mulai mengikuti konseling.”
Aku mengangguk.
“Itu baik.”
Dia mengeluarkan sebuah amplop kecil.
Di dalamnya terdapat foto USG anak kami.
“Aku menemukannya di laci meja kerjaku.”
Air mataku langsung menggenang.
“Aku bahkan belum sempat memikirkan nama untuknya,” kata Arga.
Aku memandangi foto itu.
“Aku sudah memilih satu.”
Arga mengangkat wajah.
“Siapa?”
“Aluna.”
Dia mengulang nama tersebut perlahan.
“Aluna.”
Aku tersenyum di antara air mata.
“Artinya bagiku seperti cahaya kecil yang datang ke hidup kita.”
Arga menutup wajah dengan tangan.
“Maafkan Ayah, Aluna,” bisiknya.
Kami menangis bersama.
Namun, untuk pertama kalinya, aku mengerti bahwa menangisi kehilangan yang sama tidak berarti kami harus kembali menjalani pernikahan yang sama.
Setelah beberapa saat, Arga menggenggam tangannya sendiri di atas meja.
“Rani, kalau aku benar-benar berubah, apakah masih ada kesempatan?”
Aku memandangnya lama.
“Mas, aku berharap kamu berubah. Bukan supaya aku kembali, tetapi supaya kamu tidak lagi menyakiti orang lain dengan cara yang sama.”
Air matanya jatuh.
“Jadi keputusanmu tetap?”
Aku mengangguk.
“Iya.”
Arga menunduk.
Kali ini dia tidak membantah.
Enam bulan kemudian, perceraian kami selesai.
Aku kembali bekerja sebagai konsultan administrasi di sebuah perusahaan kesehatan swasta. Pekerjaan itu tidak langsung menghapus kesedihanku, tetapi memberiku rutinitas dan kesempatan membangun kehidupan sendiri.
Pada suatu akhir pekan, Maya mengajakku mengunjungi sebuah taman kenangan.
Di sana, aku menanam bibit pohon kecil untuk mengenang Aluna.
Aku meletakkan foto USG dalam album yang kubawa, lalu duduk di bangku taman.
“Aluna,” bisikku, “Mama sekarang sudah lebih kuat.”
Angin sore berembus lembut.
“Mama masih sering menangis. Mama masih kangen sekali. Tapi Mama sedang belajar hidup dengan semua kenangan tentang kamu.”
Maya duduk di sampingku.
“Kamu mau pulang sekarang?”
Aku menggeleng.
“Sebentar lagi.”
Aku menatap pohon kecil di hadapanku.
Dulu aku mengira kehilangan anak dan pernikahanku berarti seluruh masa depanku ikut hilang.
Namun, perlahan aku memahami bahwa hidup tidak selalu berakhir ketika rencana yang paling kita cintai hancur.
Terkadang, kita harus membangun harapan baru dari tempat yang bahkan tidak pernah ingin kita datangi.
Beberapa minggu kemudian, aku menerima sebuah surat dari Arga.
Dia menuliskan bahwa dirinya telah mengundurkan diri dari jabatan struktural yang dahulu begitu dibanggakannya dan memutuskan melanjutkan pendidikan di bidang manajemen kepemimpinan.
Di akhir surat, dia menulis bahwa selama bertahun-tahun dirinya mengira menjadi pemimpin yang adil berarti memperlakukan semua orang dengan aturan yang sama.
Sekarang dia memahami bahwa keadilan juga menuntut tanggung jawab terhadap orang yang mempercayakan keselamatan mereka kepadanya.
Aku membaca surat itu sampai selesai.
Lalu menyimpannya bersama dokumen lain.
Aku tidak membalas.
Bukan karena membencinya.
Melainkan karena untuk pertama kalinya, aku tidak merasa berkewajiban menyembuhkan rasa bersalah seseorang dengan mengorbankan ketenanganku sendiri.
Pada ulang tahun pernikahan kami yang seharusnya kesepuluh, aku pergi sendirian ke taman tempat pohon Aluna tumbuh.
Daunnya sudah semakin banyak.
Aku menyentuh salah satu rantingnya dan tersenyum kecil.
“Sayang, Mama datang.”
Tidak ada jawaban, tentu saja.
Tetapi kali ini, kesunyian tidak lagi terasa sepenuhnya menakutkan.
Aku duduk, membiarkan angin menyentuh wajahku, dan mengingat semua yang telah terjadi.
Dulu Arga pernah berkata bahwa kami akan selalu pulang ke rumah yang sama, tidak peduli sebesar apa pun pertengkaran kami.
Dia mengira kepastian itu berarti aku tidak akan pernah pergi.
Namun, rumah bukan sekadar tempat dua orang tinggal bersama.
Rumah adalah tempat seseorang merasa aman, didengar, dan tidak harus bersaing untuk mendapatkan perhatian dari orang yang dicintainya.
Aku pernah kehilangan semua itu.
Tetapi sekarang, perlahan, aku sedang membangunnya kembali.
Dan di bawah langit sore yang mulai berubah keemasan, aku akhirnya mampu mengatakan sesuatu yang dulu terasa mustahil.
“Aku akan baik-baik saja, Aluna.”
Air mataku jatuh satu kali lagi.
Namun, kali ini aku juga tersenyum.
Karena meskipun hidupku tidak berjalan seperti yang pernah kubayangkan, aku masih memiliki hak untuk menjalani masa depan dengan damai.
Dan hak itu tidak akan lagi kuserahkan kepada siapa pun.
