
Nadira menatap dokumen di layar ponsel Selina dengan tangan gemetar. Nama lengkapnya tertulis jelas, begitu pula nomor identitas dan tanda tangan yang menyerupai miliknya. Namun, tanggal penandatanganan itu membuat darahnya terasa membeku.
Pada hari tersebut, ia sedang bertugas dalam penerbangan Jakarta menuju Tokyo.
“Mas, aku berada di Jepang waktu surat ini dibuat,” kataku sambil menatap Raka. “Jadi siapa yang menandatanganinya?”
Raka tidak menjawab.
Selina menoleh kepadanya dengan wajah pucat.
“Raka, kamu bilang Nadira sudah menyetujui semuanya.”
“Selina, simpan ponselmu!” bentaknya.
Beberapa penumpang mulai memperhatikan kami. Aku segera menyadari bahwa situasi ini tidak boleh berlanjut di dalam kabin.
Aku mengembalikan ponsel Selina dan berkata pelan, “Kita selesaikan setelah mendarat.”
Kemudian aku kembali menjalankan tugasku.
Sepanjang persiapan pendaratan, pikiranku dipenuhi pertanyaan. Mengapa Raka membuat dokumen perceraian palsu? Mengapa dia tidak langsung mengajukan perceraian jika memang tidak menginginkanku?
Dan mengapa dia begitu takut ketika aku mengatakan ingin bercerai?
Setelah seluruh penumpang turun dan tugasku selesai, Bu Ratih menghampiriku.
“Nadira, kamu perlu bantuan?”
Aku mengangguk.
“Bu, saya mungkin harus melaporkan dugaan pemalsuan dokumen.”
Bu Ratih menatapku serius.
“Kalau begitu, simpan semua bukti. Jangan menghadapi masalah ini sendirian.”
Malam itu aku tidak pulang ke rumah Raka.
Aku menginap di apartemen sahabatku, Maya, seorang pengacara yang bekerja di Surabaya.
Begitu melihat dokumen yang berhasil dikirim Selina kepadaku, Maya langsung mengerutkan kening.
“Nad, ini bukan putusan perceraian.”
Aku menatapnya.
“Maksudmu?”
“Ini surat pernyataan persetujuan perceraian dan pembagian harta. Dokumen seperti ini tidak otomatis membuat kalian bercerai.”
Aku menghela napas, tetapi kegelisahanku belum hilang.
Maya menunjuk halaman kedua.
“Justru bagian ini yang berbahaya.”
Di sana tertulis bahwa aku menyetujui pengalihan hak atas sejumlah aset yang diperoleh selama perkawinan kepada Raka.
Salah satunya sebuah rumah di kawasan Citraland.
Aku membeku.
“Rumah itu dibeli menggunakan uang peninggalan Ayahku.”
Maya menatapku.
“Apakah sertifikatnya atas namamu?”
Aku mengangguk.
“Ayah meninggalkan uang warisan sebelum aku menikah. Sebagian kupakai membeli rumah itu. Raka yang membantu mengurus administrasinya.”
“Kalau begitu, kita harus memeriksa dokumen kepemilikannya.”
Keesokan paginya, kami mendatangi kantor notaris yang tercantum dalam surat tersebut.
Namun, jawaban yang kami terima membuatku semakin curiga.
Notaris itu menyatakan bahwa kantornya tidak pernah menerbitkan dokumen tersebut.
Nomor registrasi yang tertera juga tidak sesuai dengan arsip mereka.
“Jadi ini palsu?” tanyaku.
“Setidaknya dokumen ini bukan produk kantor kami,” jawabnya hati-hati.
Aku merasa lututku melemas.
Maya segera menyarankan agar kami meminta pemeriksaan resmi terhadap dokumen dan tanda tangan tersebut.
Siang harinya, aku menerima telepon dari nomor tidak dikenal.
“Bu Nadira, saya Dini, mantan sekretaris Pak Raka.”
Aku terdiam.
Dini pernah bekerja untuk Raka selama hampir empat tahun sebelum tiba-tiba mengundurkan diri.
“Ada apa, Mbak?”
“Saya dengar Ibu sedang mencari tahu soal dokumen perceraian.”
Jantungku berdegup kencang.
“Dari mana Mbak tahu?”
Dini menarik napas panjang.
“Karena saya pernah diminta menyiapkannya.”
Aku langsung berdiri.
“Apa?”
“Pak Raka meminta saya mengumpulkan salinan identitas Ibu, buku nikah, dan beberapa dokumen properti. Beliau bilang semuanya untuk penyelesaian rumah tangga.”
“Lalu?”
“Saya menolak ketika diminta menyalin tanda tangan Ibu dari dokumen lama.”
Tanganku mulai dingin.
“Kenapa Mbak tidak memberitahuku?”
Suara Dini bergetar.
“Saya takut kehilangan pekerjaan. Tapi akhirnya saya tetap mengundurkan diri.”
Kami sepakat bertemu sore itu.
Dini datang membawa sebuah flashdisk dan beberapa salinan email.
Di salah satu email, Raka memberikan instruksi kepada staf keuangan untuk menyiapkan dokumen pengalihan kepemilikan rumah.
Namun, ada satu nama lain yang berulang kali muncul dalam percakapan tersebut.
Bram Mahendra.
Kakak kandung Raka.
Aku mengenal Bram sebagai komisaris perusahaan properti keluarga mereka.
Selama ini dia selalu bersikap ramah kepadaku.
Bahkan, ketika Raka jarang pulang, Bram beberapa kali mengirimkan hadiah ulang tahun atas nama keluarga Mahendra.
“Apa hubungan Mas Bram dengan semua ini?” tanyaku.
Dini menunduk.
“Perusahaan mereka sedang mengalami masalah keuangan.”
Aku menatapnya.
“Masalah apa?”
“Beberapa proyek apartemen tertunda. Ada kewajiban pembayaran kepada kontraktor dan kreditur yang jumlahnya sangat besar.”
Dini menjelaskan bahwa Raka dan Bram sedang mencari tambahan jaminan untuk mendapatkan pembiayaan baru.
Rumah milikku menjadi salah satu aset yang mereka incar.
Aku merasa seluruh tubuhku dingin.
“Jadi mereka ingin mengambil rumahku?”
“Saya tidak tahu sejauh mana rencananya berhasil. Tapi dari email yang saya simpan, mereka ingin membuat seolah-olah Ibu sudah menyetujui pengalihan hak.”
Aku memejamkan mata.
Sekarang aku mulai memahami mengapa Raka tidak pernah benar-benar mengajukan perceraian.
Dia membutuhkan status pernikahan kami untuk mempertahankan akses terhadap dokumen dan kepercayaanku.
Sementara kepada perempuan-perempuan lain, dia menunjukkan surat palsu agar terlihat seperti laki-laki yang hampir bebas dari pernikahannya.
Namun, pertanyaan lain muncul.
Mengapa perempuan yang menemaninya selalu berbeda?
Jawabannya datang dari Selina.
Malam itu dia menghubungiku.
“Nadira, aku ingin minta maaf.”
Aku tidak langsung menjawab.
Selina melanjutkan dengan suara gemetar.
“Aku baru tahu Raka masih menikah secara sah denganmu.”
“Lalu kenapa kamu percaya begitu saja?”
“Dia menunjukkan dokumen. Dia juga memperkenalkanku kepada kakaknya.”
Aku terdiam.
“Bram?”
“Iya. Bram bilang perceraian kalian sedang diproses.”
Selina kemudian mengungkapkan sesuatu yang tidak pernah kubayangkan.
Dia bukan sekadar perempuan yang sedang didekati Raka.
Dia adalah putri pemilik perusahaan konstruksi yang sedang dipertimbangkan sebagai mitra investasi keluarga Mahendra.
“Raka bilang dia ingin menikahiku setelah semuanya selesai,” katanya.
Aku merasa mual.
Selina menjelaskan bahwa Raka pernah mengajaknya bertemu beberapa calon investor perempuan lainnya.
Dalam pertemuan itu, Raka sering menggunakan hubungan pribadi untuk membangun kepercayaan.
Aku mulai menyadari bahwa perempuan-perempuan yang pernah kulihat bersamanya mungkin bukan sekadar perselingkuhan biasa.
Sebagian dari mereka berkaitan dengan rencana bisnisnya.
Namun, aku tidak ingin menuduh siapa pun tanpa bukti.
Aku meminta Selina menyimpan percakapan dan dokumen yang dimilikinya.
Beberapa hari kemudian, Maya membantuku mengajukan laporan mengenai dugaan pemalsuan dokumen.
Kami juga meminta pemeriksaan status kepemilikan rumah melalui jalur resmi.
Hasil awalnya membuatku sedikit lega.
Sertifikat rumah masih tercatat atas namaku.
Belum ditemukan perubahan kepemilikan yang sah.
Namun, ternyata ada pengajuan dokumen pendukung yang menggunakan tanda tanganku.
Maya segera mengambil langkah hukum untuk mencegah penyalahgunaan lebih lanjut.
Sementara itu, aku meminta pengacara menyiapkan gugatan perceraian.
Ketika Raka mengetahui hal tersebut, dia datang ke apartemen Maya.
Wajahnya kusut.
“Nadira, kita harus bicara.”
Aku berdiri di depan pintu.
“Silakan bicara.”
“Mas tahu kamu marah.”
Aku menatapnya.
“Marah? Kamu memalsukan tanda tanganku dan mencoba menggunakan rumah peninggalan ayahku!”
Raka menunduk.
“Mas cuma ingin menyelamatkan perusahaan.”
“Dengan menghancurkan hidupku?”
Dia terdiam.
Aku melanjutkan.
“Kalau perusahaanmu bermasalah, kenapa kamu tidak jujur?”
“Karena Mas tahu kamu tidak akan setuju.”
Jawaban itu membuatku tertawa pahit.
“Jadi kamu memilih memalsukan persetujuanku?”
Raka mengusap wajahnya.
“Bram yang mengatur sebagian besar dokumen. Mas cuma mengikuti.”
Aku menggeleng.
“Kamu bukan anak kecil, Raka. Kamu tahu apa yang kamu lakukan.”
Untuk pertama kalinya, aku melihat laki-laki yang selama ini begitu angkuh itu menangis.
“Mas nggak mau kehilangan kamu.”
Aku menatapnya lama.
“Lucu sekali. Selama tiga tahun kamu membuatku merasa tidak pernah benar-benar menjadi istrimu. Sekarang, ketika aku ingin pergi, kamu bilang takut kehilangan?”
Raka mencoba menggenggam tanganku.
Aku menariknya kembali.
“Mas, cinta tidak bisa muncul hanya ketika seseorang hampir kehilangan sesuatu yang menguntungkannya.”
Dia terdiam.
Aku kemudian melepaskan cincin pernikahanku.
Cincin yang selama hampir tiga tahun tidak pernah kulepas.
Aku meletakkannya di atas meja kecil dekat pintu.
“Aku tidak akan mempertahankan pernikahan yang dibangun di atas kebohongan.”
Raka menatap cincin itu dengan mata merah.
Namun, aku sudah menutup pintu.
Beberapa bulan berikutnya menjadi masa paling melelahkan dalam hidupku.
Aku harus menghadiri pemeriksaan, mengumpulkan dokumen, dan menjalani proses perceraian.
Penyelidikan mengenai dugaan pemalsuan masih berjalan, sementara pemeriksaan keuangan perusahaan Mahendra mulai mengungkap berbagai transaksi yang sebelumnya tidak diketahui para pemegang saham.
Bram akhirnya diberhentikan dari jabatan komisaris melalui keputusan perusahaan.
Raka juga kehilangan kewenangan pengelolaan sejumlah proyek.
Aku tidak merasa senang melihat kehancuran mereka.
Aku hanya ingin hakku terlindungi dan hidupku kembali tenang.
Di tengah semua itu, Bu Ratih kembali menawariku mengikuti seleksi awak kabin senior.
Kali ini aku tidak menolak.
Aku belajar setiap malam setelah penerbangan.
Mengikuti pelatihan.
Mempersiapkan diri untuk wawancara dan ujian kompetensi.
Tiga bulan kemudian, aku menerima kabar kelulusan.
Aku resmi mendapatkan promosi yang selama ini selalu kutunda.
Pada hari pengumuman, Bu Ratih memelukku.
“Selamat, Nadira. Akhirnya kamu memilih dirimu sendiri.”
Aku menangis.
Bukan karena sedih.
Melainkan karena untuk pertama kalinya, aku merasa hidupku kembali menjadi milikku.
Setahun setelah kejadian di pesawat itu, proses perceraianku telah selesai.
Rumah peninggalan Ayah tetap menjadi milikku.
Aku pindah ke sana dan mulai menata kehidupan baru.
Suatu pagi, aku mendapat tugas penerbangan Surabaya menuju Jakarta.
Ketika memeriksa daftar penumpang kelas bisnis, aku melihat nama yang sangat kukenal.
Raka Mahendra.
Jantungku sempat berdegup lebih cepat.
Namun, kali ini aku tidak merasa takut.
Ketika proses naik pesawat dimulai, Raka masuk sendirian.
Tidak ada perempuan di sampingnya.
Tidak ada bunga.
Tidak ada kotak perhiasan mahal.
Dia berhenti sesaat ketika melihatku berdiri di dekat pintu kabin.
“Nadira?”
Aku tersenyum profesional.
“Selamat pagi, Pak. Silakan menuju kursi sesuai nomor yang tertera pada boarding pass.”
Raka menatapku lama.
“Kamu terlihat berbeda.”
Aku mengangguk.
“Terima kasih, Pak.”
Dia seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya berjalan menuju kursinya.
Beberapa menit kemudian, seorang pramugari junior menghampiriku.
“Mbak Nadira, penumpang 2A meminta bicara sebentar.”
Aku menoleh.
Raka sedang menatapku dari kursinya.
Aku mendekat setelah memastikan tidak ada tugas keselamatan yang harus kuselesaikan.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak?”
Raka tersenyum sedih.
“Aku cuma ingin bilang maaf.”
Aku diam.
“Dulu aku pikir kamu akan selalu menungguku.”
Aku menatapnya tenang.
“Dulu aku juga berpikir begitu.”
Raka menunduk.
“Sekarang kamu bahagia?”
Aku tersenyum.
“Sekarang saya hidup dengan tenang.”
Dia mengangguk perlahan.
Aku kemudian kembali ke tugasku.
Saat pesawat mulai bergerak menuju landasan, aku duduk di kursi awak kabin dan memandang keluar jendela.
Langit pagi tampak cerah.
Aku teringat malam pernikahanku ketika Raka mengatakan bahwa pernikahan kami hanya urusan administrasi.
Dulu kalimat itu membuatku merasa tidak berharga.
Sekarang aku memahami sesuatu.
Nilai diriku tidak pernah ditentukan oleh kesediaan seseorang untuk mencintaiku.
Aku tetap berharga meskipun Raka tidak pernah memilihku dengan sepenuh hati.
Aku tetap mampu membangun masa depan meskipun pernikahanku gagal.
Dan aku tetap berhak bahagia tanpa harus menunggu seseorang berubah.
Ketika pesawat mulai lepas landas, aku memejamkan mata sejenak.
Tiga tahun lalu, aku naik pesawat dengan harapan suatu hari suamiku akan melihatku sebagai perempuan yang pantas dicintai.
Kini aku terbang dengan keyakinan yang jauh lebih kuat.
Aku tidak membutuhkan pengakuannya untuk mengetahui siapa diriku.
Karena perempuan yang dahulu menangis diam-diam di galley pesawat itu akhirnya menemukan keberanian untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Dan terkadang, keputusan paling penting dalam hidup bukanlah memilih siapa yang akan menemani perjalanan kita.
Melainkan mengetahui kapan kita harus berhenti menunggu seseorang yang sejak awal tidak pernah berniat berjalan bersama kita.
