Malam itu, untuk pertama kalinya sejak perceraian kami, aku melihat Nisa memandang ibunya seperti sedang melihat orang asing.
“Nomor apa, Bu?” tanyanya sekali lagi.
Bu Ratna tidak menjawab.
Tangannya justru semakin erat mencengkeram tas kulit yang baru diletakkannya di meja. Sikap tenangnya menghilang sedikit demi sedikit.
Aku memeluk Alya lebih erat. Tubuh putriku masih gemetar dan terasa sangat dingin.
“Nisa, ambil ponsel ibumu,” kataku.
Bu Ratna langsung menoleh tajam.

“Kamu tidak punya hak memerintah di rumah saya.”
“Aku juga tidak pernah membayangkan harus menyuruh seseorang membuka ponselnya setelah menemukan anakku terkunci di freezer.”
“Raka, jangan kurang ajar.”
“Aku kurang ajar?”
Suaraku hampir meninggi, tetapi Alya langsung mencengkeram bajuku. Aku menahan diri.
Aku menatap Nisa.
“Anak kita perlu diperiksa dokter. Setelah itu kita bisa membicarakan semuanya.”
Nisa terlihat ragu.
Bu Ratna mendekatinya.
“Jangan dengarkan dia. Dari dulu dia pintar membuatmu merasa bersalah.”
Kalimat itu membuat Nisa terdiam.
Aneh.
Aku pernah mendengar kalimat serupa.
Bukan sekali.
Bertahun-tahun lalu, Nisa pernah mengatakan aku selalu membuatnya merasa bersalah. Ketika kutanya kapan aku melakukan itu, dia tidak bisa memberikan contoh yang jelas.
Saat itu kami sedang bertengkar hebat karena sebuah pesan yang katanya kukirim tengah malam.
Aku tidak pernah mengirim pesan tersebut.
Tetapi Nisa menunjukkan tangkapan layar dari nomor yang tidak kusimpan.
Foto profilnya fotoku.
Pesannya berbunyi bahwa aku menyesal menikah dengannya dan hanya bertahan demi Alya.
Aku bersumpah itu bukan aku.
Nisa tidak percaya.
Malam itu menjadi salah satu retakan terbesar dalam pernikahan kami.
Sekarang aku memandang Bu Ratna dan tiba-tiba seluruh ingatan itu kembali.
“Nisa,” kataku perlahan. “Kamu masih menyimpan screenshot pesan yang dulu kamu tuduhkan kepadaku?”
Wajah Nisa berubah.
Bu Ratna langsung menyela.
“Untuk apa membicarakan masa lalu?”
“Karena mungkin masa lalu itu belum selesai.”
Aku mengeluarkan ponsel.
“Aku membawa Alya ke rumah sakit sekarang.”
Bu Ratna berdiri di depan pintu garasi.
“Kalau kamu membawa cucu saya tanpa izin, saya telepon polisi.”
“Silakan.”
Aku menekan nomor layanan darurat.
Nisa tiba-tiba memegang lengan ibunya.
“Bu, minggir.”
Bu Ratna menatapnya.
“Nisa.”
“Anakku kedinginan.”
“Dia baik-baik saja.”
“Bagaimana Ibu tahu?”
Pertanyaan itu membuat garasi mendadak sunyi.
Nisa menatap freezer, lalu Alya.
“Alya,” katanya pelan. “Tadi Nenek masukin kamu ke sana?”
Alya langsung menyembunyikan wajah di dadaku.
Jawaban itu tidak perlu diucapkan.
Nisa menutup mulutnya.
Aku melihat matanya mulai berkaca-kaca.
Bu Ratna mencoba mendekat.
“Nisa, anak kecil kalau takut memang suka mengarang.”
Alya tiba-tiba menangis.
“Nggak bohong!”
Suara kecil itu membuat kami semua membeku.
“Alya nggak bohong!”
Dia menunjuk Bu Ratna.
“Nenek bilang kalau Alya cerita, Papa nggak boleh ketemu Alya lagi!”
Wajah Nisa kehilangan warna.
Aku tidak menunggu lagi.
Aku membawa Alya keluar melalui pintu samping garasi. Kali ini Nisa tidak menghentikanku.
Justru dia ikut masuk ke mobil.
Bu Ratna berteriak memanggilnya dari belakang.
Nisa tidak menoleh.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, tidak ada yang berbicara.
Alya duduk di belakang bersama Nisa, dibungkus dua jaket. Nisa terus mengusap rambutnya sambil menangis tanpa suara.
Sesekali aku melihat mereka melalui kaca spion.
Ada kemarahan dalam diriku.
Namun ada sesuatu yang lebih menyakitkan daripada kemarahan.
Rasa bersalah.
Aku ayahnya.
Bagaimana mungkin aku tidak tahu?
Di rumah sakit, dokter segera memeriksa Alya. Kondisinya akhirnya stabil, tetapi dokter mengatakan apa yang terjadi tidak boleh dianggap sepele.
Aku melaporkan kejadian tersebut.
Ketika petugas meminta kronologi, Nisa duduk di sampingku.
Aku mengira dia akan membela ibunya.
Ternyata tidak.
“Saya ingin memberikan keterangan juga,” katanya.
Aku menoleh.
Nisa mengeluarkan ponselnya.
“Ada sesuatu yang mungkin berhubungan dengan ini.”
Dia membuka penyimpanan lama dan menunjukkan puluhan tangkapan layar.
Pesan dari nomor asing.
Semuanya menggunakan fotoku.
Pesan-pesan itu muncul selama hampir empat tahun.
Sebagian berisi hinaan terhadap Nisa.
Sebagian menyebut keluarga Nisa sebagai beban.
Sebagian lagi mengatakan aku memiliki perempuan lain.
Ada pula pesan yang seolah-olah berasal dariku dan mengatakan bahwa aku akan membawa Alya pergi jika Nisa berani meninggalkanku.
Aku menatap layar itu.
“Tidak satu pun dari ini aku kirim.”
Nisa mengusap wajahnya.
“Aku tahu sekarang.”
“Kenapa sekarang?”
Dia menatap lantai.
“Karena ada satu hal yang nggak pernah kuceritakan.”
Nisa kemudian mengaku bahwa beberapa bulan sebelum mengajukan cerai, dia pernah menerima pesan dari nomor tersebut ketika aku sedang duduk tepat di depannya.
Saat itu kami berada di restoran.
Ponselku tergeletak di atas meja.
Namun pesan masuk ke ponselnya.
Aku bahkan sempat bertanya mengapa wajahnya berubah.
“Aku seharusnya sadar saat itu,” katanya.
“Kenapa kamu tetap percaya?”
Nisa menangis.
“Karena Ibu bilang kamu pasti punya ponsel kedua.”
Aku tidak tahu harus berkata apa.
Sedikit demi sedikit semuanya terasa masuk akal.
Setiap pertengkaran besar kami selalu terjadi setelah Bu Ratna datang.
Setiap kali aku dan Nisa hampir berdamai, selalu muncul bukti baru.
Pesan.
Cerita dari seseorang.
Tuduhan.
Bahkan Alya mulai mengatakan bahwa aku sering membuat Mama takut.
Padahal ketika bersamaku, dia selalu memelukku dan meminta aku membacakan cerita sebelum tidur.
Aku dulu menganggapnya kebingungan seorang anak yang orang tuanya sedang berpisah.
Ternyata ada seseorang yang mengajarinya.
Pemeriksaan terhadap kasus itu berjalan lebih cepat karena Nisa bersedia bekerja sama.
Dua hari kemudian, petugas menemukan beberapa kartu SIM lama dan satu ponsel murah di lemari kamar Bu Ratna.
Di dalamnya tersimpan sesuatu yang membuat Nisa hampir jatuh ketika melihatnya.
Pesan-pesan itu memang berasal dari sana.
Bukan hanya pesan kepadanya.
Ada juga pesan kepada saudara-saudaraku menggunakan identitas Nisa.
Pesan kepada beberapa teman dekatku.
Bahkan pesan kepada guru Alya yang menggambarkanku sebagai ayah pemarah dan tidak stabil.
Bu Ratna selama bertahun-tahun menciptakan dua versi palsu dari aku dan Nisa.
Kepada Nisa, aku dibuat terlihat kejam.
Kepadaku, Nisa dibuat terlihat manipulatif.
Setiap kali kami mencoba mendekat, Bu Ratna menciptakan konflik baru.
Namun pertanyaan terbesar masih belum terjawab.
Mengapa?
Jawabannya datang seminggu kemudian.
Nisa menemukannya ketika membereskan kamar ibunya.
Dia datang ke apartemenku sore itu membawa sebuah map cokelat.
Wajahnya terlihat lelah.
“Aku menemukan ini.”
Di dalam map ada salinan sertifikat rumah kami di Buah Batu, beberapa dokumen pinjaman, dan surat perjanjian lama.
Aku membaca semuanya dua kali.
Rumah yang selama ini kami kira dibeli dengan bantuan Bu Ratna ternyata sejak awal dibeli menggunakan uang warisan Nisa dari almarhum ayahnya.
Tetapi bertahun-tahun lalu, Bu Ratna membujuk Nisa memberikan kuasa untuk mengurus sejumlah dokumen dengan alasan pajak.
Dari sana muncul pinjaman yang tidak pernah diketahui Nisa.
Jumlahnya sangat besar.
Sebagian uang mengalir ke bisnis kakak laki-laki Nisa yang sudah lama bangkrut.
Jika pernikahan kami tetap berjalan dan aku ikut memeriksa keuangan keluarga seperti yang mulai kulakukan dua tahun lalu, semuanya mungkin terbongkar.
Bu Ratna membutuhkan satu hal.
Aku harus keluar dari keluarga sebelum mengetahui terlalu banyak.
“Tapi kenapa Alya?” tanyaku.
Nisa menangis.
“Karena Alya pernah lihat ponsel itu.”
Aku membeku.
Menurut cerita Alya kemudian, beberapa bulan sebelumnya dia pernah meminjam ponsel neneknya untuk menonton video. Tanpa sengaja dia melihat foto profilku di aplikasi pesan.
Alya bertanya mengapa Nenek memakai foto Papa.
Bu Ratna panik.
Sejak itulah hukuman-hukuman aneh dimulai.
Dikunci di kamar mandi.
Disuruh berdiri sendirian di gudang.
Dan akhirnya freezer.
Semuanya dilakukan agar Alya takut berbicara.
Nisa tidak pernah melihatnya secara langsung.
Ibunya selalu mengatakan Alya sedang tantrum atau berbohong.
Kesalahan Nisa adalah mempercayai ibunya tanpa bertanya lebih jauh.
Kesalahanku adalah terlalu cepat percaya ketika Nisa mengatakan Alya membutuhkan jarak dariku.
Kami berdua gagal melihat bahwa anak kami sedang meminta pertolongan dengan caranya sendiri.
Beberapa minggu berikutnya terasa seperti kehidupan orang lain.
Proses hukum berjalan.
Hak pengasuhan sementara Alya diberikan kepadaku sementara kondisi keluarga Nisa diperiksa lebih lanjut.
Bu Ratna tidak lagi bisa mendekati Alya.
Nisa tidak melawan keputusan itu.
Suatu sore dia datang menemui Alya di taman dekat apartemenku.
Aku duduk cukup jauh agar mereka bisa berbicara.
Nisa berlutut di depan putri kami.
“Mama minta maaf.”
Alya memandangnya lama.
“Mama marah sama Alya?”
“Nggak.”
“Kalau Alya cerita semuanya?”
“Nggak akan pernah.”
“Kalau Alya bilang Mama salah?”
Nisa menangis.
“Mama memang salah.”
Alya kemudian memeluknya.
Aku menoleh ke arah lain karena mataku mulai panas.
Aku tidak tahu apakah aku bisa memaafkan Nisa sepenuhnya.
Dia juga tidak pernah meminta kami menikah lagi.
Kami sama-sama mengerti bahwa beberapa luka tidak bisa diperbaiki hanya karena penyebabnya akhirnya ditemukan.
Perceraian kami tetap sah.
Namun kami membuat keputusan baru.
Kami akan menjadi orang tua Alya tanpa membiarkan kebencian siapa pun berbicara melalui kami lagi.
Tiga bulan kemudian, aku sedang membantu Alya mengerjakan tugas sekolah ketika dia tiba-tiba bertanya sesuatu.
“Papa.”
“Hm?”
“Kalau waktu itu Papa nggak datang ambil kardus, Alya gimana?”
Tanganku berhenti.
Pertanyaan itu menghantam lebih keras daripada semua dokumen, pemeriksaan, dan pengakuan yang pernah kudengar.
Aku memandang putriku.
Aku tidak ingin memberikan jawaban yang menakutkan.
Jadi aku menarik kursi mendekat.
“Papa nggak tahu.”
Alya mengangguk.
Kemudian dia tersenyum kecil.
“Berarti kardus Papa baik.”
Aku tertawa pelan.
“Maksudnya?”
“Kalau Mama nggak suruh Papa ambil kardus, Papa nggak datang.”
Aku memeluknya.
Di atas meja masih ada satu album foto yang kutemukan malam itu di antara barang-barangku.
Album pernikahan kami.
Aku belum pernah membukanya lagi.
Malam setelah Alya tidur, aku akhirnya mengambil album tersebut.
Satu foto terlepas dari halaman terakhir.
Foto lama ketika Alya baru berusia tiga tahun.
Aku, Nisa, Alya, dan Bu Ratna berdiri di halaman rumah.
Di belakang foto ada tulisan tangan.
Aku mengenal tulisan itu.
Tulisan Bu Ratna.
Keluarga akan tetap menjadi keluarga selama orang luar tidak ikut campur.
Aku menatap kalimat itu lama.
Dulu aku mungkin akan marah karena disebut orang luar.
Sekarang tidak.
Aku mengambil pena dan menulis satu kalimat tepat di bawahnya.
Anak tidak pernah menjadi milik sebuah keluarga. Anak adalah manusia yang harus dilindungi.
Aku memasukkan foto itu kembali.
Keesokan paginya, Nisa menelepon.
“Aku sudah memutuskan sesuatu,” katanya.
“Apa?”
“Aku mau bersaksi sepenuhnya. Termasuk soal dokumen rumah dan semua yang Ibu lakukan.”
Aku diam beberapa detik.
“Itu berarti keluargamu sendiri bisa ikut terseret.”
“Aku tahu.”
“Yakin?”
Nisa menarik napas panjang.
“Dulu aku kehilangan suami karena terlalu takut melawan ibuku. Aku tidak akan kehilangan anakku karena kesalahan yang sama.”
Aku menatap Alya yang sedang sarapan di meja makan.
Dia melihatku dan tersenyum.
Untuk pertama kalinya aku memahami sesuatu yang selama ini selalu salah kami pahami.
Keluarga bukan tentang siapa yang harus dipertahankan dengan segala cara.
Bukan tentang pernikahan yang harus tetap utuh agar terlihat sempurna.
Bukan pula tentang darah yang membuat seseorang berhak dimaafkan tanpa batas.
Keluarga adalah tempat seorang anak seharusnya merasa aman untuk mengatakan kebenaran.
Dan malam ketika aku membuka freezer itu, sebenarnya bukan malam keluargaku hancur.
Keluargaku sudah dihancurkan perlahan selama bertahun-tahun oleh kebohongan, ketakutan, dan diam.
Malam itu justru pertama kalinya seseorang membukakan pintunya.
Dan orang itu adalah Alya.
