DI DEPAN RATUSAN TAMU, CALON SUAMIKU MENYURUH AKU TAHU DIRI—LALU KAKAKNYA YANG SELAMA DELAPAN TAHUN DIANGGAP MENINGGAL MASUK KE RUANG PERNIKAHAN

Namun ketika Nadia mengatakan bahwa namaku sudah masuk dalam rencana keluarga Pratama jauh sebelum aku bertemu Adrian, seluruh keberanian yang kukumpulkan selama berbulan-bulan seolah runtuh dalam satu detik.

Aku menatapnya tanpa berkedip.

“Apa maksudmu?”

Nadia tidak langsung menjawab. Dia mengeluarkan beberapa lembar dokumen dari amplop cokelat itu, lalu menyerahkannya kepada Livia.

Adrian tiba-tiba bergerak maju.

“Jangan dengarkan dia. Dia sakit.”

Nadia menoleh tajam.

“Delapan tahun lalu kalian juga bilang begitu.”

Suara gaduh memenuhi aula.

Ratna bangkit dari kursinya.

“Nadia, cukup. Kalau kamu memang Nadia, kita bisa bicara di rumah.”

“Rumah?”

Nadia tertawa pendek.

“Rumah yang kalian gunakan untuk meyakinkan semua orang bahwa aku mengalami gangguan jiwa sebelum akhirnya diumumkan meninggal?”

Wajah Ratna memucat.

Surya masih duduk kaku.

Aku menatap Livia yang sedang membaca dokumen itu. Ekspresinya berubah serius.

“Maya,” katanya pelan. “Kamu perlu melihat ini.”

Dia menyerahkan satu lembar kepadaku.

Itu laporan internal Grup Pratama bertanggal sembilan tahun lalu.

Mataku langsung tertuju pada satu nama.

Darmawan Kusuma.

Ayahku.

Tanganku bergetar.

Ayah meninggal tujuh tahun lalu karena serangan jantung. Sepanjang hidupnya, aku mengenalnya sebagai auditor yang keras kepala, terlalu jujur untuk dunia bisnis yang sering memilih kompromi.

“Ayahku kenal kalian?”

Surya akhirnya berdiri.

“Maya, jangan percaya semua yang dikatakan perempuan itu.”

Aku mengangkat dokumen.

“Kenapa nama ayahku ada di sini?”

Tidak ada jawaban.

Nadia yang menjawab.

“Karena ayahmu menemukan penggelapan dana di Grup Pratama.”

Dadaku terasa sesak.

Menurut Nadia, sembilan tahun lalu perusahaan mereka nyaris runtuh akibat proyek properti yang gagal. Surya dan beberapa direksi kemudian membuat jaringan perusahaan cangkang untuk menyembunyikan kerugian.

Ayahku menemukan transaksi itu.

Dia menolak menandatangani laporan audit.

Lebih buruk lagi bagi keluarga Pratama, Nadia mendukungnya.

“Aku pemegang saham terbesar kedua waktu itu,” kata Nadia. “Aku ingin membawa masalah itu ke rapat pemegang saham.”

Adrian memotong.

“Dia bohong.”

“Kalau aku bohong, kenapa kalian membuat surat kematianku?”

Nadia mengeluarkan dokumen lain.

Aku melihat salinan paspor, catatan rumah sakit, serta surat pernyataan yang ditandatangani seseorang bernama Surya Pratama.

Nadia melanjutkan.

“Malam sebelum rapat, aku mengalami kecelakaan.”

Suasana aula menjadi sunyi.

“Aku selamat. Tapi ketika sadar, aku sudah berada di rumah sakit di Singapura. Ayah menyuruh orang mengatakan kepadaku bahwa polisi Indonesia sedang mencariku karena aku dituduh menggelapkan uang perusahaan.”

Surya membentak.

“Aku menyelamatkanmu!”

“Dengan menghapus identitasku?”

Nadia menatap ayahnya.

“Kalian mengambil sahamku menggunakan surat pelepasan hak palsu. Lalu kalian memberi tahu keluarga besar bahwa aku meninggal.”

Ratna mulai menangis.

“Nadia, Mama hanya mengikuti keputusan Papa.”

“Dan Adrian?”

Semua mata beralih kepadanya.

Nadia tersenyum pahit.

“Adrian yang menandatangani dokumen pertama.”

Adrian mendekatiku.

“Maya, dengarkan saya.”

Aku mundur.

Dia berhenti.

Aku tiba-tiba teringat bagaimana dia selalu menyebut Nadia.

Kakakku meninggal terlalu muda.

Kakakku terlalu emosional.

Kakakku tidak cocok mengurus perusahaan.

Sekarang aku tahu mengapa dia selalu mengubah topik ketika aku bertanya lebih jauh.

“Tapi apa hubungannya denganku?”

Nadia menatapku.

“Ayahmu.”

Dia menjelaskan bahwa setelah Nadia menghilang, ayahku tetap menyimpan salinan dokumen audit. Keluarga Pratama berusaha mendapatkan dokumen itu, tetapi tidak pernah berhasil.

Setelah ayah meninggal, mereka menduga seluruh arsip diwariskan kepada satu-satunya anaknya.

Aku.

Aku mulai memahami sesuatu yang membuat tubuhku terasa dingin.

Pertemuanku dengan Adrian dua tahun lalu bukan kebetulan.

Kami bertemu dalam seminar keuangan di Jakarta.

Dia menghampiriku setelah acara.

Mengajakku minum kopi.

Mengingat detail kecil tentang pekerjaanku.

Tiga bulan kemudian kami berpacaran.

“Jadi kamu mendekatiku karena ayahku?”

Adrian menggeleng.

“Awalnya memang ada alasan bisnis.”

Jawaban itu jauh lebih menyakitkan daripada kebohongan.

“Awalnya?”

“Saya benar-benar mencintai kamu.”

Aku hampir tertawa.

“Kamu mencintaiku sampai memalsukan tanda tanganku sebelas kali?”

Adrian kehilangan kata-kata.

Aku melanjutkan.

“Memakai namaku untuk perusahaan cangkang juga cinta?”

“Maya, semuanya sudah telanjur rumit.”

“Dan membuatku jadi orang yang akan dipersalahkan ketika audit dimulai?”

“Itu bukan rencana saya.”

“Lalu rencana siapa?”

Adrian menatap ayahnya.

Hanya sesaat.

Tetapi cukup.

Surya membanting tongkatnya ke lantai.

“Jangan menyeret saya.”

Aku akhirnya melihat bentuk sebenarnya keluarga itu.

Bukan keluarga yang saling melindungi.

Mereka hanya sekumpulan orang yang berdiri bersama selama masih ada orang lain yang bisa dikorbankan.

Penyidik meminta Adrian mengikuti mereka setelah acara dihentikan.

Namun Adrian tiba-tiba tertawa.

“Tidak ada satu pun dokumen itu yang cukup membuktikan saya melakukan kejahatan.”

Livia menjawab tenang.

“Kami punya rekaman.”

Wajah Adrian membeku.

Aku mengeluarkan ponsel.

Selama dua bulan terakhir, beberapa percakapan kami telah kusimpan.

Dalam salah satunya Adrian pernah berkata bahwa setelah menikah, pemindahan aset akan jauh lebih mudah.

Dalam rekaman lain, dia memerintahkan kepala keuangan perusahaan mengubah tanggal beberapa dokumen.

Tetapi bukti terbesar bukan berasal dariku.

Nadia menyerahkan sebuah perangkat penyimpanan kepada penyidik.

“Aku membawa arsip asli.”

Surya langsung berdiri.

“Kamu tidak punya hak!”

Nadia menatapnya.

“Itu kalimat pertama yang jujur dari Papa hari ini.”

Dua penyidik mendekati Surya.

Ratna mulai menangis keras.

Beberapa tamu mengangkat ponsel, tetapi petugas meminta mereka tidak mendekat.

Pernikahan yang pagi itu dirancang menjadi pertunjukan kejayaan keluarga Pratama berubah menjadi kehancuran mereka sendiri.

Adrian kemudian melakukan sesuatu yang tidak kuduga.

Dia berlutut di depanku.

“Maya.”

Aku menatapnya.

Pria yang selama hampir dua tahun selalu berbicara seolah dirinya lebih tinggi dariku kini berlutut di lantai aula.

“Saya salah.”

Aku diam.

“Saya bisa memperbaiki semuanya.”

“Bagaimana?”

“Kita tetap menikah.”

Beberapa tamu bahkan terdengar menarik napas.

Adrian menggenggam ujung gaunku.

“Kalau kamu jadi istri saya, saya akan pindahkan semua perusahaan itu. Nama kamu akan bersih. Saya bisa membuat perjanjian baru.”

Aku menatap tangannya.

Dulu tangan itu pernah menggenggamku saat aku sakit.

Pernah memasangkan cincin di jariku.

Pernah membuatku percaya bahwa sikap mengontrolnya hanyalah bentuk perhatian yang berlebihan.

Sekarang aku melihat semuanya dengan jelas.

“Adrian.”

Dia menatapku penuh harap.

“Kamu tadi menyuruhku tahu tempatku.”

Dia mengangguk cepat.

“Saya marah. Saya tidak bermaksud begitu.”

“Aku akhirnya tahu.”

Aku melepaskan tangannya dari gaunku.

“Tempatku bukan di samping orang yang harus menghancurkanku supaya dirinya tetap berdiri.”

Aku berjalan turun dari altar.

Tetapi sebelum mencapai Nadia, Surya memanggil namaku.

“Maya.”

Aku berhenti.

“Kamu masih belum mengerti.”

Dia tampak jauh lebih tua dibandingkan satu jam sebelumnya.

“Ayahmu tidak sebersih yang kamu pikir.”

Aku berbalik.

Surya tersenyum tipis.

“Dokumen pertama perusahaan cangkang itu dibuat oleh ayahmu.”

Dunia seperti berhenti.

Aku memandang Nadia.

Dia tidak membantah.

“Benarkah?”

Nadia menarik napas.

“Sebagian.”

Ternyata ayahku memang membantu mendirikan beberapa perusahaan tersebut. Tetapi bukan untuk menyembunyikan uang.

Dia sedang membuat jebakan audit.

Ayah sengaja membangun jalur transaksi yang bisa dilacak untuk membuktikan siapa yang memindahkan dana.

Sebelum temuannya dilaporkan, Nadia mengalami kecelakaan.

Ayahku kemudian mundur.

Aku menahan air mata.

“Kenapa dia tidak pernah memberitahuku?”

“Karena mereka mengancammu.”

Nadia mengucapkannya perlahan.

Aku terdiam.

Saat itu aku masih kuliah.

Ayah tiba-tiba memaksaku pindah dari apartemen ke rumah bibiku selama beberapa bulan. Dia mengatakan lingkungan tempat tinggalku tidak aman.

Aku selalu menganggapnya terlalu protektif.

Sekarang semuanya masuk akal.

“Ayahmu memilih kehilangan karier daripada mempertaruhkan hidupmu,” kata Nadia.

Surya mendengus.

“Dan pada akhirnya dia tetap gagal.”

Aku menatapnya.

“Tidak.”

Aku teringat sebuah kotak kayu peninggalan ayah yang kusimpan bertahun-tahun tanpa pernah kubuka.

Kotak itu hanya berisi beberapa buku, foto lama, dan sebuah kalkulator tua.

Setidaknya itulah yang kupikir.

Tiga minggu sebelumnya, ketika mencari dokumen untuk penyelidikanku, aku menemukan kartu memori tersembunyi di dalam penutup baterai kalkulator.

Aku belum bisa membukanya karena seluruh file terenkripsi.

Sampai dua hari lalu.

Aku menatap Livia.

Dia mengangguk.

“Salinannya sudah diamankan.”

Wajah Surya kehilangan warna.

Di kartu memori itu terdapat laporan audit asli, korespondensi internal, nomor rekening, dan rekaman pertemuan sembilan tahun lalu.

Termasuk suara Surya memerintahkan seseorang memindahkan kepemilikan saham Nadia jika Nadia menolak diam.

Untuk pertama kalinya, Surya tidak memiliki jawaban.

Penyidik membawanya keluar bersama Adrian.

Ratna mencoba mengikuti, tetapi Nadia menghentikannya.

“Mama tetap di sini.”

Ratna menatap putrinya dengan mata merah.

“Kamu mau menghancurkan keluarga sendiri?”

Nadia menggeleng.

“Tidak, Ma. Keluarga ini hancur ketika kita mulai menganggap orang yang kita cintai boleh dikorbankan demi nama baik.”

Ratna duduk kembali.

Tidak ada lagi yang berkata apa-apa.

Beberapa bulan kemudian, penyelidikan terhadap Grup Pratama berkembang jauh lebih besar daripada dugaan awal. Sejumlah transaksi dibekukan dan beberapa mantan direksi ikut diperiksa. Nadia memulai proses hukum untuk memulihkan identitas serta kepemilikan sahamnya.

Namaku akhirnya dibersihkan dari seluruh perusahaan yang dibuat tanpa persetujuanku.

Aku juga kembali bekerja di bidang audit forensik.

Bukan karena ingin membalas siapa pun.

Aku hanya ingin kembali menjadi perempuan yang dulu perlahan dibuat Adrian merasa terlalu kecil.

Suatu sore, Nadia datang ke kantorku membawa kotak kayu peninggalan ayah.

“Ada sesuatu yang tertinggal.”

Dia mengeluarkan sebuah amplop kecil dari bagian bawah kotak.

Tulisan tangan di depannya membuat tenggorokanku tercekat.

Untuk Maya.

Aku membuka surat itu.

Isinya hanya beberapa kalimat.

Ayah menulis bahwa suatu hari mungkin akan ada orang yang mencoba membuatku percaya bahwa mencintai berarti menurut, bahwa menjaga keluarga berarti diam, dan bahwa mempertahankan hubungan berarti kehilangan diri sendiri.

Kalimat terakhirnya membuatku menangis.

Jangan pernah mengecilkan dirimu supaya orang lain merasa besar.

Aku memegang surat itu lama.

Tiba-tiba aku teringat altar pernikahan.

Empat ratus tamu.

Gaun putih pilihan Ratna.

Cincin yang kutinggalkan.

Dan bisikan Adrian.

Tahu tempatmu.

Aku tersenyum kecil.

Dia benar tentang satu hal.

Aku memang perlu tahu tempatku.

Hanya saja tempatku tidak pernah berada di bawah siapa pun.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang