Hujan belum berhenti ketika Tino mematikan sebagian lampu Pangkas Rambut Bayan malam itu. Dari balik kaca yang dipenuhi embun, ia melihat para pedagang mulai menutup kios satu per satu. Suara rolling door bersahutan dengan gemuruh hujan yang memukul atap seng pasar lama.
Di sofa kecil dekat dinding, kakek yang selama dua bulan terakhir dijuluki Kakek Kusam tertidur pulas mengenakan kaos abu-abu milik Tino.
Untuk pertama kalinya, wajah lelaki tua itu terlihat damai.

Tino memandangnya beberapa saat sebelum mengambil selimut tipis dari lemari belakang dan menutupkannya perlahan.
Entah siapa kakek itu. Entah dari mana asalnya.
Namun bagi Tino, semua itu tidak penting.
Ayahnya pernah berkata bahwa kursi pangkas rambut tidak pernah bertanya seseorang datang dengan mobil apa atau memakai pakaian seharga berapa. Siapa pun yang duduk di sana harus diperlakukan sebagai manusia.
Tino baru benar-benar memahami kalimat itu malam ini.
Ponselnya tiba-tiba bergetar.
Unggahan foto sebelum dan sesudah Kakek Kusam yang dibuatnya beberapa jam lalu mulai mendapat perhatian. Beberapa orang membagikannya. Ada yang memuji perubahan sang kakek, ada pula yang menertawakan kondisi sebelumnya.
Tino tidak terlalu memedulikannya.
Ia meletakkan ponsel di meja, lalu tertidur di kursi dekat pintu.
Sekitar pukul lima pagi, suara benda jatuh membuatnya terbangun.
Tino langsung berdiri.
Sofa itu kosong.
Selimut tergeletak di lantai.
“Mbah?”
Tidak ada jawaban.
Pintu kios sedikit terbuka.
Tino berlari keluar, tetapi gang pasar masih sepi. Hanya ada tukang sayur yang sedang menurunkan barang dari motor.
Kakek itu sudah pergi.
Di atas sofa, Tino menemukan kaos yang semalam dipinjamkannya terlipat rapi. Di atasnya terdapat secarik kertas bekas bungkus rokok.
Tulisan tangan di sana terlihat gemetar.
Terima kasih karena masih menganggap saya manusia.
Tino membaca kalimat itu dua kali.
Dadanya terasa sesak.
Ia menyimpan kertas tersebut di dalam laci kasir.
Pagi itu kehidupan kembali berjalan seperti biasanya.
Pak Doni membuka warung kopi dan segera tertawa ketika mengetahui kakek tersebut sudah pergi.
“Nah, kan! Krim lima ratus ribu habis, makanan dikasih, baju dikasih, orangnya kabur. Untung banget kamu.”
Beberapa pedagang ikut tertawa.
Tino hanya tersenyum tipis.
“Kalau semua kebaikan harus dibayar balik, namanya bukan menolong, Pak.”
Wajah Pak Doni langsung berubah.
“Nasihat terus. Lihat saja beberapa bulan lagi. Barbershop kamu paling jadi gudang.”
Tino tidak menjawab.
Namun perkataan itu sebenarnya menusuk tepat pada ketakutan terbesarnya.
Malam sebelumnya pemilik bangunan telah menghubunginya. Tino menunggak sewa hampir dua bulan. Ia diberi waktu sampai akhir minggu untuk melunasinya.
Tabungannya hanya tersisa sedikit.
Belum lagi biaya pengobatan ibunya.
Sekitar pukul sembilan, telepon dari kampung masuk.
Suara adiknya terdengar cemas.
“Mas, obat Ibu tinggal untuk tiga hari.”
Tino menelan ludah.
“Nanti Mas kirim.”
“Mas masih punya uang?”
Tino melihat dompetnya.
Ada beberapa lembar uang yang bahkan tidak cukup untuk membayar setengah harga obat.
“Ada. Kamu jangan bilang Ibu.”
Setelah telepon ditutup, Tino duduk lama di kursi pangkas.
Untuk sesaat ia memandang botol krim rambut yang sudah hampir kosong.
Lima ratus ribu rupiah.
Dalam kondisi sekarang, uang sebanyak itu sangat berarti.
Namun ketika mengingat wajah Kakek Kusam setelah rambutnya selesai dirapikan, Tino tidak menyesal.
Menjelang pukul sepuluh, suara kendaraan terdengar dari ujung gang.
Awalnya tidak ada yang memperhatikan.
Namun beberapa detik kemudian, sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan pasar.
Lalu mobil kedua datang.
Disusul mobil ketiga.
Para pedagang mulai keluar dari kios.
Pak Doni bahkan meletakkan cangkir yang sedang dicucinya dan berdiri di pinggir jalan.
“Siapa itu?”
Pintu mobil pertama terbuka.
Seorang pria berjas turun bersama dua perempuan berpakaian rapi. Dari mobil belakang, beberapa orang lain mengikuti.
Mereka melihat sekeliling seperti mencari alamat.
Kemudian pria berjas itu berjalan lurus menuju Pangkas Rambut Bayan.
Tino yang sedang menyapu rambut pelanggan langsung berhenti.
“Maaf, Pak. Cari siapa?”
Pria itu tidak langsung menjawab.
Ia memperhatikan papan tua bertuliskan Pangkas Rambut Bayan, kemudian melihat foto kecil almarhum ayah Tino yang tergantung di dinding.
“Anda Tino?”
“Iya.”
Pria itu mengembuskan napas panjang seperti baru saja menemukan sesuatu yang sangat berharga.
“Akhirnya.”
Tino semakin bingung.
“Saya Arga.”
Pria itu mengulurkan tangan.
“Saya mencari ayah saya.”
Jantung Tino berdegup lebih cepat.
“Ayah Bapak?”
Arga mengeluarkan ponselnya.
Di layar terlihat foto unggahan Tino semalam.
Kakek Kusam.
“Itu ayah saya.”
Tino membeku.
Pak Doni yang menguping dari pintu warung sampai maju beberapa langkah.
Arga menjelaskan bahwa nama asli lelaki tua itu adalah Surya Mahendra, pendiri sebuah perusahaan distribusi bahan pangan yang memiliki cabang di beberapa kota di Jawa.
Tiga bulan sebelumnya, Surya mengalami gangguan ingatan setelah kecelakaan mobil ringan dalam perjalanan menuju rumah seorang kerabat.
Ia turun dari kendaraan ketika sopir berhenti membeli obat. Dalam keadaan bingung, Surya berjalan pergi dan tidak pernah ditemukan lagi.
Keluarganya sudah menyebarkan pencarian ke rumah sakit, terminal, stasiun, panti sosial, bahkan beberapa kota.
Tidak ada hasil.
Sampai seorang pegawai perusahaan melihat unggahan Pangkas Rambut Bayan.
“Di mana ayah saya sekarang?” tanya Arga.
Tino menunduk.
“Beliau pergi sebelum subuh.”
Wajah Arga langsung pucat.
“Apa?”
“Kami cari sekarang,” kata perempuan yang berdiri di sampingnya.
Mereka segera berpencar.
Tino ikut mencari.
Pasar, terminal kecil, kolong jembatan, musala, hingga jalan menuju stasiun diperiksa.
Hampir tiga jam berlalu tanpa hasil.
Tino mulai merasa bersalah.
Seharusnya ia tidak tertidur.
Seharusnya pintunya dikunci.
Ketika kembali ke kios untuk mengambil air minum, ia teringat sesuatu.
Karung beras tua milik sang kakek.
Karung itu masih berada di belakang sofa.
Tino membukanya.
Isinya hanya beberapa botol plastik, pakaian kotor, dan bungkus makanan.
Namun di bagian bawah terdapat sebuah amplop kusam.
Di dalamnya ada foto sebuah rumah tua.
Di belakang foto tertulis satu alamat.
Tino langsung menelepon Arga.
Mereka menuju alamat tersebut.
Rumah itu berada sekitar empat kilometer dari pasar, tersembunyi di kawasan permukiman lama.
Ketika mobil berhenti, Arga terlihat terkejut.
“Ini rumah masa kecil Ayah.”
Mereka masuk melalui pagar yang sudah berkarat.
Di teras rumah kosong itu, Surya duduk sendirian.
Ia sedang memandangi sebuah pohon mangga besar.
“Ayah!”
Arga berlari.
Surya menoleh.
Beberapa detik ia hanya menatap putranya.
Lalu bibirnya bergetar.
“Arga?”
Pria berjas itu langsung berlutut dan memeluk ayahnya.
Tangisnya pecah.
Tino berdiri beberapa meter dari mereka dengan mata panas.
Ternyata di balik pakaian robek dan tubuh yang selama ini diusir dari satu warung ke warung lain, ada seseorang yang dicari keluarganya setiap hari.
Sebelum dibawa ke rumah sakit, Surya mencari Tino.
“Kamu ikut.”
“Saya?”
Surya mengangguk.
Di rumah sakit, dokter mengatakan kondisi fisiknya relatif stabil. Gangguan ingatannya kemungkinan diperburuk trauma setelah kecelakaan. Fakta bahwa ia mampu mengingat rumah masa kecilnya dianggap perkembangan positif.
Sore harinya, Surya meminta berbicara berdua dengan Tino.
“Kamu tahu kenapa saya terus duduk di depan tempat cukurmu?”
Tino menggeleng.
“Saya tidak tahu siapa saya waktu itu. Tapi tempatmu terasa familiar.”
Surya menatap foto ayah Tino yang tadi sempat difoto Arga.
“Namanya Bayan, bukan?”
Tino terkejut.
“Iya. Bapak kenal ayah saya?”
Surya tersenyum.
“Tiga puluh tahun lalu, sebelum punya perusahaan, saya sopir truk. Saya pernah tidur di emperan pasar itu karena tidak punya uang.”
Tino terdiam.
“Ayahmu yang mencukur saya gratis sebelum wawancara kerja pertama saya.”
Napas Tino tercekat.
Surya melanjutkan dengan mata berkaca-kaca.
“Dia bahkan meminjamkan kemejanya.”
Tino seperti mendengar gema dari masa lalu.
Ternyata tiga puluh tahun kemudian, tanpa mengetahui apa pun, ia melakukan hampir hal yang sama kepada orang yang sama.
Dua hari setelah kejadian itu, Pangkas Rambut Bayan mendadak ramai.
Unggahan Tino telah menyebar luas. Setelah keluarga Surya mengonfirmasi bahwa lelaki dalam foto memang anggota keluarga mereka yang hilang, semakin banyak orang mengetahui kisah tersebut.
Pelanggan berdatangan.
Ada yang benar-benar ingin memotong rambut, ada pula yang sekadar penasaran.
Pak Doni mendadak berubah ramah.
“Tin, dari dulu saya sebenarnya tahu kamu orang baik.”
Tino hanya menatapnya.
“Pak, kemarin katanya kursi saya bakal bau bangkai.”
Pak Doni terbatuk dan pura-pura sibuk mengelap meja.
Seminggu kemudian, mobil hitam kembali datang.
Kali ini Surya turun sendiri dengan tongkat, ditemani Arga.
Ia terlihat jauh lebih sehat.
Surya duduk di kursi yang sama.
“Potong seperti kemarin.”
Tino tertawa kecil.
“Rambut Bapak belum panjang.”
“Kalau begitu pura-pura saja.”
Setelah Tino merapikan sedikit rambutnya, Surya menyerahkan sebuah amplop.
Tino membukanya.
Di dalamnya terdapat dokumen.
Wajahnya langsung berubah.
“Saya tidak bisa menerima ini.”
Dokumen tersebut berisi kepemilikan sebuah ruko baru di jalan utama dekat pasar.
Surya sudah membelinya atas nama Tino.
“Nilainya terlalu besar, Pak.”
“Justru karena itu kamu harus menerimanya.”
Tino menggeleng keras.
“Saya menolong Bapak bukan karena mengharapkan bayaran.”
“Saya tahu.”
Surya tersenyum.
“Makanya saya berani memberikannya.”
Namun Tino tetap menolak.
Akhirnya mereka membuat kesepakatan.
Ruko itu tidak diberikan sebagai hadiah pribadi.
Surya menjadikannya tempat usaha dengan sistem cicilan sangat ringan tanpa bunga, sementara modal renovasinya diberikan sebagai investasi.
Beberapa bulan kemudian, Pangkas Rambut Bayan pindah ke lokasi baru.
Namun Tino menolak mengganti namanya dengan nama modern.
Papan kayu lama milik ayahnya tetap dipasang di depan.
Di salah satu sudut ruangan, terdapat satu kursi khusus.
Di atasnya tertulis sederhana.
Kursi Bayan.
Setiap hari Selasa, siapa pun yang benar-benar tidak mampu boleh memotong rambut gratis di sana.
Gelandangan, pengamen, pemulung, pekerja serabutan, atau siapa saja.
Pak Doni suatu hari datang dan memperhatikan antrean di depan tempat baru itu.
“Kamu nggak rugi potong gratis terus?”
Tino tersenyum sambil membersihkan gunting.
“Entahlah, Pak. Ayah saya pernah memotong rambut seorang sopir truk gratis tiga puluh tahun lalu. Kalau dihitung pakai uang, mungkin rugi.”
Tino memandang Surya yang sedang duduk di sofa sambil tertawa bersama beberapa pelanggan.
“Tapi ternyata kebaikan itu baru pulang tiga puluh tahun kemudian.”
Pak Doni terdiam.
Beberapa bulan setelahnya, ibu Tino menjalani pengobatan dengan lebih baik karena usaha anaknya semakin stabil.
Namun ada satu hal yang tidak pernah diketahui Surya.
Tino masih menyimpan secarik kertas kusam yang ditemukan pagi setelah lelaki tua itu menghilang.
Terima kasih karena masih menganggap saya manusia.
Kertas itu dibingkai dan digantung di bawah foto Bayan.
Bukan sebagai pengingat tentang bagaimana seorang tukang cukur miskin pernah menolong seorang pengusaha kaya.
Melainkan sebagai pengingat bahwa ketika Tino membuka pintu di tengah hujan malam itu, ia sama sekali tidak tahu siapa lelaki kusam tersebut.
Dan justru karena ia tidak tahu, kebaikannya menjadi jauh lebih berarti.
Sebab manusia tidak seharusnya dihormati setelah kita mengetahui jabatan, kekayaan, atau keluarganya.
Manusia layak dihormati sejak awal, hanya karena ia manusia.
