
Selama beberapa detik, suara pendingin udara di basement terdengar lebih keras daripada napasku sendiri.
Dua koma empat miliar.
Aku membangun usaha katering itu dari dapur kontrakan, tidur empat jam sehari, dan mengantar pesanan dengan motor pinjaman. Sekarang, di antara mobil suamiku dan pilar beton, aku mengetahui bahwa seseorang sedang menjadikan seluruh hidupku jaminan utang.
“Kapan diajukan?” tanyaku kepada notaris itu.
“Dua minggu lalu. Masih dalam pemeriksaan.”
“Jadi uangnya belum cair?”
Dia menggeleng.
Untuk pertama kalinya sejak melihat mobil Dimas, aku bisa menarik napas penuh.
Dimas mengulurkan tangan ke arah map.
“Kita bicarakan di rumah.”
Aku mundur.
“Rumah yang mana? Rumah kita, atau kantor rahasia yang kubayar delapan belas juta setiap bulan?”
“Nadira,” Bu Ratna menyela, “suamimu sedang berusaha menyelamatkan keluarga.”
“Dengan memalsukan tanda tangan saya?”
Pak Hendra menatap lantai. Dimas diam. Hanya Sinta yang masih berani menatapku.
Aku memotret setiap halaman, lalu mengirimkannya kepada Maya, pengacara yang pernah membantuku meninjau kontrak pelanggan.
Pesanku singkat.
Tolong telepon sekarang. Ada pengajuan pinjaman memakai namaku tanpa persetujuanku.
Dimas melihat nama Maya di layar.
“Kamu mau membawa urusan rumah tangga ke pengacara?”
“Ini sudah melewati rekening perusahaan.”
Teleponku berdering sebelum dia sempat menjawab.
Aku menjauh beberapa langkah, tetapi tetap mengawasi map di tanganku. Maya mendengarkan tanpa memotong. Setelah itu, dia meminta nomor pengajuan, nama pemberi pinjaman, dan kontak notaris.
“Jangan tanda tangani apa pun. Simpan dokumen yang diberikan kepadamu. Aku akan menghubungi bagian verifikasi mereka.”
Saat aku kembali, Pak Hendra sedang berbisik tajam kepada Sinta.
“Kamu juga menikmati uangnya.”
Sinta menangis, tetapi suaranya tegas.
“Saya menerima gaji, Pak. Bukan bagian saham.”
“Cukup,” kata Dimas.
“Tidak,” sahutku. “Sekarang dia bicara.”
Sinta menelan ludah.
“Aku dulu staf administrasi di perusahaan ayah Mas Dimas. Tiga bulan lalu, aku diminta mengurus perusahaan baru. Katanya untuk pengembangan usaha katering Mbak. Aku dijadikan direktur sementara karena Mas Dimas masih terikat pekerjaan.”
“Dan kamu percaya?”
“Aku pernah bertemu Mbak waktu mengantar dokumen ke dapur. Mereka bilang Mbak yang memilihku.”
Aku mengingatnya. Seorang perempuan menunggu di ruang depan membawa amplop. Dimas mengambilnya sebelum aku selesai memeriksa pesanan.
“Kenapa harus menyewa apartemen?”
“Pak Hendra tidak mau alamat kantor lamanya dipakai. Banyak orang datang menagih.”
Pak Hendra mendadak membentak.
“Jaga mulutmu!”
Seorang satpam menoleh dari ujung lorong. Aku melambaikan tangan, memintanya mendekat.
“Kami sedang membahas dokumen perusahaan. Tolong temani sebentar.”
Kehadirannya membuat semua orang mengecilkan suara.
Aku menatap Dimas.
“Utang ayahmu?”
Dia mengusap wajah.
“Bisnis distribusi Ayah macet. Ada pinjaman yang jatuh tempo.”
“Lalu kamu memakai perusahaanku?”
“Aku mau mengembalikannya sebelum kamu tahu.”
Jawaban itu lebih menyakitkan daripada kebohongan tentang Bandung.
Bukan karena dia merasa tindakannya benar. Dia hanya berharap cukup cepat menutupinya.
Notaris itu akhirnya berbicara.
“Saya menerima salinan persetujuan melalui Pak Dimas. Pertemuan verifikasi langsung dengan Ibu dijadwalkan besok.”
“Kalau saya tidak datang?”
Tatapannya bergeser ke Bu Ratna.
Tidak seorang pun menjawab.
Sinta membuka ponselnya dengan tangan gemetar, lalu menunjukkan percakapan.
Di sana ada fotoku, salinan KTP, dan pesan Bu Ratna yang meminta seseorang datang memakai masker karena sedang batuk.
Dimas mencoba meraih ponsel itu.
Satpam bergerak di antara kami.
“Tenang, Pak.”
Aku memandang perempuan yang enam tahun kupanggil Ibu.
Dia pernah memelukku saat aku menangis karena gagal hamil. Pernah mengatakan bahwa aku tetap anaknya, apa pun yang terjadi.
“Ibu menyiapkan orang untuk berpura-pura menjadi saya?”
Bu Ratna mulai menangis.
“Kamu tidak pernah mau membantu kalau kami meminta.”
Aku teringat uang perawatan Pak Hendra, cicilan mobil Dimas, dan renovasi rumah mereka. Semuanya kubayar tanpa membuat catatan karena kupikir keluarga tidak perlu saling menghitung.
Ternyata hanya aku yang berpikir begitu.
Maya tiba empat puluh menit kemudian. Kami pindah ke ruang pengelola gedung. Di meja kecil dengan kamera pengawas di sudut ruangan, dokumen disusun dan percakapan mulai dicatat.
Notaris itu memberikan nomor berkas serta salinan korespondensi kantornya. Maya meminta penjelasan tertulis tentang bagaimana dokumen tersebut diterima dan siapa yang menyerahkannya.
Sinta menyerahkan percakapan lengkap, bukti pembayaran sewa, dan berkas perusahaan baru.
Ketika Dimas diminta menjelaskan tanda tangan, dia menunduk lama.
“Aku menirunya dari kontrak lama.”
Aku menutup mata.
Mendengarnya mengaku ternyata tidak membuat dadaku lebih ringan.
Malam itu aku pulang bersama Maya. Dimas menginap di rumah orang tuanya. Sebelum meninggalkan apartemen, dia sempat berkata bahwa aku sedang menghancurkan masa depannya.
Aku tidak menjawab. Aku terlalu lelah menjelaskan siapa yang membawa kami sampai ke sana.
Hari-hari berikutnya terasa panjang. Pemberi pinjaman menghentikan proses pencairan sambil memeriksa laporan keberatanku. Akuntan menelusuri transaksi perusahaan. Dengan pendampingan Maya, aku membuat laporan mengenai dugaan pemalsuan dan penggunaan dana tanpa persetujuan.
Pengalihan saham itu belum tercatat dalam akta perubahan. Namun, mengetahui bahwa mereka nyaris melakukannya membuatku berminggu-minggu tidak bisa tidur tenang.
Dimas datang ke dapur produksi pada suatu sore.
“Aku tidak selingkuh dengan Sinta,” katanya.
Aku sedang memeriksa daftar belanja.
“Aku tahu.”
“Jadi kita masih bisa memperbaiki ini.”
Aku meletakkan pulpen.
“Kamu pikir aku hanya akan terluka kalau ada perempuan lain?”
Dia terdiam.
“Aku makan bersamamu setiap malam, Dimas. Aku menyerahkan urusan pembayaran karena percaya kepadamu. Kamu memakai kepercayaan itu untuk mengambil uang, meniru tanda tanganku, lalu menyiapkan orang menggantikanku.”
“Aku takut kehilangan kamu.”
“Tapi kamu tetap melakukannya.”
Sebulan kemudian, aku mengajukan perceraian.
Sinta tetap datang memberikan keterangan meski menerima tekanan dari keluarga Dimas. Seusai salah satu pertemuan, aku menanyakan hal yang sejak awal menggangguku.
“Kenapa kamu membawa map itu ke basement?”
Dia meremas tali tasnya.
“Aku memang mau keluar dari sana. Pagi itu aku mendengar rencana pertemuan besok. Baru saat itu aku tahu Mbak tidak pernah setuju.”
“Kenapa tidak langsung menghubungiku?”
“Aku takut. Aku mengirim pesan, lalu menghapusnya.”
Dia memperlihatkan layar percakapannya.
Ada satu pesan yang sempat masuk ke ponselku sebelum aku tiba di apartemen. Nomor asing. Belum kubaca karena sibuk mengurus pengiriman.
Bu, mohon periksa pembayaran perusahaan. Jangan beri tahu suami Ibu dulu.
Aku menatapnya lama.
Selama ini kupikir bunyi mesin parkir telah menyelamatkanku.
Ternyata sebelum mesin itu berbunyi, seseorang sudah berusaha mengetuk pintu.
