
Mama menatap ponsel di tanganku, lalu wajah Bu Yuni.
“Matikan dulu. Ini urusan keluarga.”
Dari seberang terdengar suara petugas program.
“Bu Rani, apakah Anda masih di sana?”
“Masih, Pak.” Suaraku gemetar. “Saya tidak mengundurkan diri. Tolong catat itu.”
“Baik. Kami kirimkan prosedur verifikasi langsung ke alamat surel yang terdaftar. Jangan berikan kode akses kepada siapa pun.”
Sambungan berakhir. Ruangan terasa begitu sunyi sampai aku mendengar napas Mama yang memburu.
“Dari mana Mama tahu aku di sekolah?”
Mama meletakkan kertas itu di meja.
“Tante menelepon. Katanya kamu menuduh Salma.”
“Karena namanya ada di formulir pengunduran diriku.”
“Itu cuma salah paham.”
Bu Yuni menarik kursi.
“Silakan duduk, Bu. Kita periksa bersama.”
Mama tetap berdiri.
Aku mengambil kertas itu. Di bagian atas tertulis namaku, nomor peserta, serta penempatan pada program sarjana bidang informatika di sebuah universitas negeri di Bandung. Di bawahnya tercantum rincian bantuan biaya pendidikan.
Tanganku bergetar. Kampus itu pernah kutempel gambarnya di dinding kamar. Mama menyuruhku melepasnya karena bekas selotip merusak cat.
“Kenapa disembunyikan?”
Mama merapikan tali tasnya.
“Belum tentu kamu sanggup kuliah di sana.”
“Aku bahkan belum diberi kesempatan.”
“Kamu pikir kuliah cuma soal lolos? Transportasi, makan, laptop. Mama dan Papa harus memikirkan Rendra juga.”
“Ada bantuan biaya hidup di sini.”
Mama terdiam.
Aku membaca lagi. Bantuan itu memang tidak menanggung segalanya, tetapi cukup untuk membuat kuliah terasa mungkin. Selama ini aku menabung dari memperbaiki laptop tetangga dan membantu administrasi koperasi sekolah. Aku sudah menghitung banyak hal sendirian.
Bu Yuni membuka buku catatan.
“Kapan Ibu menerima surat ini?”
“Sebelum berangkat liburan.”
“Berarti Ibu sudah tahu hasil seleksi Rani saat berada di terminal?”
Mama menatapku sekilas, lalu mengalihkan pandangan.
Sesuatu di dadaku runtuh perlahan.
Ketika mereka tertawa karena aku tertinggal, Mama sudah tahu.
Ketika menulis dua kebanggaan keluarga, Mama sudah tahu.
“Mama sengaja meninggalkanku?”
“Jangan mengarang. Kami pikir kamu sudah naik.”
“Tapi setelah aku menelepon, Mama tetap pergi.”
“Kamu sudah besar.”
“Cukup besar untuk ditinggal di kota lain, tapi tidak cukup besar untuk menentukan kuliahku sendiri?”
Mama menarik kursi dan akhirnya duduk.
“Salma butuh bantuan itu, Ran.”
Kalimat tersebut keluar begitu pelan, tetapi membuat semuanya jelas.
Aku menatapnya.
“Jadi memang mau diberikan ke Salma?”
“Tante bilang mungkin bisa dialihkan. Kamu punya pilihan lain. Kamu pintar komputer, bisa kerja dulu.”
“Salma juga lolos kampus. Kenapa dia boleh kuliah, sementara aku harus bekerja?”
Mama membuka mulut, lalu menutupnya kembali.
Bu Yuni menggeser segelas air ke hadapanku.
“Kita hentikan pembicaraan sebentar. Rani belum sarapan.”
Perhatian sederhana itu hampir membuatku menangis.
Satu jam kemudian, pihak program mengadakan panggilan video. Aku menunjukkan identitas, menjawab pertanyaan tentang proyek, dan memperlihatkan berkas asli yang tersisa. Bu Yuni mendampingi sebagai guru pembimbing.
Petugas mengonfirmasi bahwa pengunduran diri belum diproses. Nama yang dicoret tidak mengubah penerima bantuan, tetapi dokumen itu membuat mereka wajib memeriksa ulang.
“Kami membutuhkan pernyataan tertulis dari Anda,” katanya. “Berkas bermasalah akan kami simpan untuk penelusuran.”
Mama berkali-kali melirik pintu.
Saat panggilan selesai, Papa datang bersama Tante dan Salma.
“Kenapa sampai melibatkan orang luar?” tanya Papa.
Aku menunjuk meja.
“Karena dokumennya sudah dikirim ke orang luar.”
Tante langsung menyela.
“Jangan dibesar-besarkan. Tidak ada uang yang diambil.”
“Kesempatan saya hampir diambil.”
Salma berdiri dekat pintu, wajahnya pucat. Tidak ada lagi senyum mengejek seperti di terminal.
“Aku tidak tahu soal pengunduran diri,” katanya.
Tante menoleh tajam.
“Salma.”
“Aku cuma disuruh mengambil map. Katanya Rani minta tolong.”
Aku menatap sepupuku.
“Lalu kenapa teleponku ditutup?”
Salma menunduk.
“Karena setelah itu aku tahu. Aku lihat namaku ditulis di formulir.”
“Kamu bisa memberitahuku.”
“Aku takut sama Ibu.”
Tante meraih lengannya, tetapi Salma bergerak mendekati meja.
“Ada yang harus Rani lihat.”
Dia membuka percakapan di ponselnya.
Pesan Tante menyebut bantuan kuliah, dokumen keluarga, dan kalimat yang membuat Papa tiba-tiba duduk.
Kalau urusan ini beres, pinjaman kalian kita anggap lunas.
Aku membaca tanggalnya. Dua hari sebelum liburan.
“Pinjaman apa?”
Papa mengusap wajah.
“Usaha Papa rugi.”
“Berapa?”
Tidak ada yang menjawab sampai Bu Yuni meminta mereka berhenti menyembunyikan informasi.
“Delapan puluh juta,” kata Papa.
Aku memandang Mama. Dia menangis sekarang.
“Tante bilang kalian butuh uang untuk Rendra. Kalau Salma dapat bantuan, uang kuliahnya bisa dipakai menutup pinjaman kita.”
Aku duduk perlahan.
Ternyata masa depanku sudah dimasukkan ke perhitungan mereka, lengkap dengan nilai tukarnya.
“Kenapa tidak bicara kepadaku?”
Papa menatap tangannya.
“Kami malu.”
Aku ingin bertanya mengapa rasa malu itu tidak menghentikan mereka. Namun tenggorokanku terlalu sakit.
Bu Yuni meminta salinan percakapan Salma, dengan persetujuannya. Beliau lalu menjelaskan bahwa sekolah akan mencatat kejadian tersebut dan menyerahkan klarifikasi kepada pihak program.
Tidak ada teriakan lagi setelah itu.
Sore harinya, aku pulang untuk mengambil barang. Rendra sedang duduk di ruang tamu. Dia rupanya sudah mendengar semuanya.
“Jangan sampai orang tahu,” katanya. “Kasihan Mama.”
Aku berhenti di depan tangga.
“Kemarin aku sendirian di terminal. Kamu menertawakanku.”
Dia menunduk.
Kali ini aku tidak menunggu pembelaan siapa pun.
Selama proses verifikasi, aku tinggal sementara bersama nenek dari pihak Papa. Rumahnya kecil, koneksi internetnya buruk, tetapi setiap pagi ada sarapan dan pertanyaan apakah aku tidur nyenyak.
Dua minggu kemudian, penerimaanku dikonfirmasi. Bantuan pendidikan tetap atas namaku.
Mama menelepon ketika aku sedang mengisi formulir daftar ulang.
“Kapan pulang?”
“Belum tahu, Ma.”
“Mama salah.”
Aku memejamkan mata. Itulah kalimat yang kutunggu sejak ruang BK, tetapi mendengarnya tidak langsung menyembuhkan apa pun.
“Aku butuh waktu.”
Mama menangis. Untuk pertama kalinya, aku tidak buru-buru menenangkan beliau.
Pada hari daftar ulang, Salma datang mengembalikan salinan berkasku. Di sela kertas ada foto kecil yang dahulu kupakai untuk pendaftaran.
“Aku iri sama kamu,” akunya. “Kamu selalu tahu ingin melakukan apa.”
Aku tersenyum tipis.
“Aku juga sering takut.”
Setelah dia pergi, kubuka formulir terakhir. Ada kolom kontak darurat. Selama bertahun-tahun, tanganku otomatis menulis nomor Mama.
Hari itu aku berhenti sebentar, lalu menuliskan nomor Nenek.
Bukan untuk menghukum siapa pun.
Aku hanya akhirnya memahami bahwa saat membutuhkan pertolongan, aku boleh memilih orang yang akan datang.
