SUAMIKU MENGAKU AKU TELAH MENINGGALKAN KELUARGA, PADAHAL AKU BARU PULANG DARI TAIWAN.

SUAMIKU MENGAKU AKU TELAH MENINGGALKAN KELUARGA, PADAHAL AKU BARU PULANG DARI TAIWAN DAN MENDAPATI PEREMPUAN ASING MEMEGANG RAPOR ANAKKU—DENGAN NAMAKU SUDAH DICORET.

BAGIAN 1

“IBU SUDAH TIDAK TINGGAL DI SINI!”

Kalimat itu terlontar dari mulut seorang perempuan yang berdiri di ruang tamu rumahku. Di tangannya ada foto keluarga yang sedang disobek, tepat pada bagian yang memperlihatkan wajahku.

Aku terpaku di ambang pintu, menggenggam gagang koper merah.

“Maaf, ini rumah saya.”

Perempuan itu menoleh. Usianya sekitar tiga puluh tahun. Di belakangnya, seragam sekolah anakku tersampir di sandaran kursi.

“Cari siapa?”

“Anakku, Naufal. Dan suamiku, Reza.”

Wajahnya seketika berubah.

Dia hendak menutup pintu, tetapi kutahan dengan telapak tangan.

“Kenapa kamu memegang rapor anakku?”

Dia melirik map kuning yang dijepit di bawah lengannya, lalu buru-buru menyembunyikannya ke belakang tubuh.

“Mas Reza bilang istrinya sudah pergi.”

Dadaku terasa seperti dihantam sesuatu.

Aku baru mendarat dari Taiwan pagi itu. Selama empat tahun bekerja sebagai perawat lansia, hampir seluruh penghasilanku kukirim ke rekening Reza.

Sebelas juta rupiah setiap bulan.

Tiga hari sebelumnya, Reza masih meneleponku. Katanya, Naufal sedang mengikuti kegiatan sekolah sehingga tidak bisa lama-lama berbicara denganku.

Sekarang, seorang perempuan asing berdiri di rumahku.

Dan dari lembar rapor yang sempat terlihat tadi, namaku sudah dicoret dari kolom kontak orang tua.

“Aku mau bertemu anakku.”

“Dia tidak ada.”

“Kalau begitu, panggil Reza.”

Perempuan itu mengambil ponselnya.

Aku mendengar bisikannya.

“Mas, dia pulang.”

Aku tidak menunggu izin.

Kutarik koper masuk, lalu langkahku terhenti ketika melihat dinding ruang tamu.

Foto pernikahanku sudah tidak ada.

Sebagai gantinya, terpajang foto Reza bersama perempuan itu dalam pakaian pengantin.

Di bawahnya tercantum tanggal enam bulan lalu.

Aku mengeluarkan ponsel dan memotret semuanya.

“Siapa namamu?”

Perempuan itu diam.

“Aku tanya sekali lagi. Siapa namamu?”

“Melati.”

Aku mengangguk perlahan.

“Baik, Melati. Sekarang kita tunggu suamiku.”

Reza datang dua puluh menit kemudian.

Dia tidak memelukku.

Tidak bertanya bagaimana perjalananku.

Hal pertama yang dilakukannya justru menarik Melati ke belakang tubuhnya.

“Kenapa pulang tanpa bilang?”

Aku mengangkat ponsel, memperlihatkan foto yang baru kuambil.

“Kenapa kamu menikah lagi?”

“Ini bukan urusan yang bisa dijelaskan di depan orang.”

“Di depan siapa? Ini rumahku.”

Reza mendekat, lalu berbisik dengan rahang mengeras.

“Jangan bikin malu keluarga.”

Aku tertawa pendek.

“Empat tahun aku bekerja jauh dari anakku. Sekarang aku yang bikin malu?”

Dia mengulurkan tangan.

“Kasih ponselmu.”

Aku mundur selangkah.

“Di mana Naufal?”

“Di rumah Ibu.”

“Kenapa dia tidak tinggal di sini?”

Reza tidak menjawab.

Justru Melati yang membuka mulut.

“Naufal memang tidak mau tinggal dengan ayahnya.”

“Diam!” bentak Reza.

Aku menatap mereka bergantian.

Kalau semuanya baik-baik saja, mengapa anakku menolak tinggal bersama ayahnya sendiri?

Aku membuka aplikasi perbankan.

Transfer terakhir sebesar Rp11 juta terkirim tiga minggu lalu.

“Uang yang kukirim setiap bulan ke mana?”

“Buat kebutuhan rumah.”

“Termasuk biaya pesta pernikahanmu?”

Reza merebut gagang koperku, menyeretnya ke pintu, lalu melemparkannya ke teras.

“Keluar dulu. Kita bicara nanti.”

Aku mengambil koperku.

Namun, aku tidak pergi jauh.

Aku menuju rumah Bu Wati, tetangga yang dulu sering membantu menjaga Naufal ketika dia masih kecil.

Begitu melihatku, Bu Wati menutup mulut dengan telapak tangan.

“Ya Allah… Mbak Sinta?”

“Bu, benar Naufal tinggal dengan neneknya?”

Bu Wati segera mempersilakanku masuk.

“Sudah hampir setahun, Mbak.”

Aku menatapnya.

“Hampir setahun?”

Dia mengangguk pelan.

“Kenapa?”

Bu Wati membuka laci, lalu mengeluarkan selembar kertas.

“Dulu Reza menitipkan fotokopi ini untuk diberikan ke sekolah kalau masih diperlukan. Tapi akhirnya tidak diambil lagi.”

Itu salinan surat keterangan pindah sekolah.

Nama Naufal tercantum di sana.

Namun, tanda tangan atas namaku terlihat berbeda.

Tanggalnya tujuh bulan lalu.

Saat itu, aku masih bekerja di Taipei.

“Aku tidak pernah menandatangani surat ini.”

Bu Wati melirik ke arah pintu sebelum merendahkan suara.

“Naufal pernah datang ke sini sambil menangis. Katanya, dia disuruh memanggil perempuan itu Mama.”

Tanganku mengepal di atas pangkuan.

“Lalu?”

“Dia menolak. Setelah itu, Reza membawanya pergi.”

Aku segera menghubungi sekolah lama Naufal.

Petugas administrasi bernama Pak Yusuf masih mengingatku. Sebelum berangkat ke Taiwan, akulah yang mengurus pendaftaran Naufal.

Kukirimkan foto surat tersebut.

Sepuluh menit kemudian, Pak Yusuf menelepon.

“Bu Sinta, formulir aslinya masih ada di arsip kami. Tetapi yang menyerahkan memang bukan Ibu.”

“Siapa, Pak?”

“Pak Reza. Beliau juga membawa surat pernyataan bahwa Ibu tidak bisa dihubungi.”

Aku menatap riwayat panggilan di ponselku.

Selama empat tahun, aku menelepon hampir setiap malam.

“Pak, tolong simpan dokumen aslinya. Besok saya akan datang.”

Setelah itu, aku berangkat menuju rumah mertuaku di daerah Sidoarjo.

Pagarnya terkunci.

Motor Reza terparkir di halaman.

Aku mengetuk berkali-kali hingga Bu Ratih keluar.

Begitu melihatku, wajahnya memucat.

“Sinta?”

“Aku mau bertemu Naufal.”

“Naufal sedang tidur.”

“Jam empat sore?”

Bu Ratih berdiri menghalangi pintu.

“Kamu sebaiknya bicara dulu dengan Reza.”

Aku menunjukkan foto pernikahan kedua suamiku.

“Ibu sudah tahu?”

Beliau menunduk.

“Reza bilang kalian sudah sepakat berpisah.”

Sesaat, aku bahkan tidak mampu mengeluarkan suara.

“Kapan aku menyepakatinya, Bu?”

Air mata mulai mengalir di pipi Bu Ratih.

Tetapi aku tetap berdiri di tempatku.

“Tolong panggil Naufal.”

Dari dalam rumah terdengar bunyi benda terjatuh.

Disusul langkah kaki yang berlari.

“MAMA!”

Naufal muncul dari lorong.

Tubuhnya jauh lebih kurus daripada terakhir kali kulihat melalui panggilan video.

Dia berhenti saat melihat koper merah di sampingku.

“Mama benar-benar pulang?”

Aku berlutut dan membuka kedua tangan.

“Iya, Nak. Mama pulang.”

Naufal berlari memelukku.

Kudekap tubuhnya erat-erat. Wajahnya tenggelam di bahuku, sementara kedua tangannya mencengkeram bajuku seolah takut aku akan pergi lagi.

Namun, ketika aku mengajaknya pulang, tubuhnya mendadak menegang.

“Jangan ke rumah itu, Ma.”

Aku mengusap punggungnya.

“Kenapa?”

Dia merogoh saku celana dan mengeluarkan selembar kertas terlipat.

Sebuah pemberitahuan rapat orang tua dari sekolahnya sekarang.

Namaku tidak tercantum sebagai wali.

Yang tertulis justru nama Melati.

Naufal mendekatkan mulut ke telingaku.

“Mereka mau pindahin aku lagi hari Senin.”

Aku memeluknya semakin erat.

Saat itulah Bu Ratih berbicara.

“Sinta, ada sesuatu yang harus kamu lihat sebelum membawa Naufal pergi.”

Beliau mengambil amplop cokelat dari lemari.

Di dalamnya tersimpan fotokopi berkas pengajuan perubahan data keluarga.

Aku membaca halaman pertama.

Nama Reza tercantum sebagai pemohon.

Nama Melati tercantum sebagai pasangan.

Lalu pandanganku berhenti pada sebuah surat pernyataan bermeterai.

Di bawah tulisan Persetujuan Ibu Kandung, ada namaku.

Beserta tanda tangan yang bukan milikku.

Aku membalik halaman terakhir.

Pada lembar tanda terima, tercatat nama orang yang menyerahkan dokumen asli untuk diproses.

Bu Ratih menunjuk baris itu dengan tangan gemetar.

“Yang membawa berkas ke kantor pelayanan bukan Reza, Sinta.”

Aku membaca nama tersebut sekali lagi.

Berharap mataku keliru.

Tetapi huruf-huruf itu tetap sama.

DITA PRAMESWARI.

ADIK KANDUNGKU SENDIRI.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang