SUAMIKU MENUDUHKU MENCURI UANG USAHA SAAT AKU HAMIL TUJUH BULAN, LALU MENGUSIRKU.

Aku membaca dua kata itu berulang kali sampai huruf-hurufnya terasa kabur.

Istri Galih.

Di hadapanku, suamiku berhenti bergerak. Bu Marni meremas tali tasnya, sementara Pak Deni menunggu jawabanku.

“Saya istrinya, Pak.”

Suaraku hampir tidak terdengar.

Aku mengambil buku nikah dari laci tempat kusimpan dokumen pemeriksaan kehamilan, lalu meletakkannya di meja. Pak Deni memeriksa sebentar dan menutup berkasnya.

“Baik. Permohonan pengalihan kami tahan untuk verifikasi. Kami juga perlu memeriksa keberadaan mesin.”

Galih buru-buru menyela.

“Itu salah tulis. Ratih rekan bisnis saya.”

“Kalau cuma rekan bisnis,” tanyaku, “kenapa harus memakai tanda tanganku?”

Dia tidak menjawab.

Bu Marni mendekat.

“Nisa, duduk dulu. Jangan sampai anakmu kenapa-kenapa.”

Aku menepis tangannya perlahan.

“Sejak kemarin Ibu menyebut saya pencuri. Sekarang baru ingat saya sedang hamil?”

Pak Deni meminta kami memberikan keterangan secara terpisah. Aku menuliskan bahwa aku tidak pernah menyetujui pengalihan mesin ataupun pengelolaan toko. Setelah mereka pergi, Galih masih berdiri di pagar.

“Kamu menghancurkan usaha kita.”

Aku menatapnya.

“Besok kita lihat siapa yang sebenarnya berusaha membawanya pergi.”

Malam itu, aku menelepon Lala, teman SMA yang bekerja sebagai akuntan. Aku tidak sanggup menjelaskan tanpa menangis. Dia datang membawa laptop dan bubur hangat.

“Kita urutkan dari transaksi dulu,” katanya. “Kamu makan.”

Di meja kontrakan yang sempit, kami membandingkan foto laporan Galih, catatan bank usaha yang masih bisa kuakses, dan bukti dari pemasok.

Angka delapan puluh enam juta itu ternyata bukan uang kas yang hilang sekaligus. Jumlahnya berasal dari beberapa pembayaran yang dicatat sebagai pembelian bahan baku.

Sebagian tagihan dinaikkan. Sebagian pembayaran dikembalikan ke rekening Sagara setelah pemasok menerima instruksi palsu.

“Ini perlu dicocokkan dengan seluruh pemasok,” kata Lala. “Tetapi laporan yang dipakai menuduhmu jelas belum menunjukkan aliran uang sebenarnya.”

Ponselku bergetar.

Reni mengirim foto sebuah truk di depan toko.

Mbak, mereka memuat mesin sekarang.

Pukul setengah sepuluh malam.

Aku langsung menelepon Pak Deni dan meneruskan foto itu. Dia menghubungi petugas pemeriksaan aset, lalu memintaku tidak menghadapi mereka sendirian.

Lala mengambil kunci mobil.

“Aku ikut.”

Ketika kami tiba, satu oven sudah berada dekat pintu belakang. Reni dan dua pegawai berdiri dengan wajah tegang. Galih sedang berbicara dengan sopir truk.

“Turunkan,” kataku.

Dia berbalik.

“Kamu nggak punya hak mengatur di sini.”

Aku menunjukkan pesan dari petugas pembiayaan yang meminta mesin tidak dipindahkan selama verifikasi.

Sopir mendekat, membaca, lalu menggeleng.

“Saya tidak mau terlibat masalah, Pak. Surat jalannya juga belum ada.”

Galih mengumpat pelan.

Saat itulah seorang perempuan keluar dari ruang administrasi membawa kardus berisi map.

Kemejanya rapi. Rambutnya diikat rendah.

Aku mengenalinya.

Dua bulan lalu, Bu Marni memperkenalkannya sebagai konsultan yang akan membantu toko mencari pelanggan kantor.

“Ratih?”

Perempuan itu berhenti.

Matanya turun ke perutku, lalu kembali ke wajahku.

“Bu Nisa?”

Aku mengeluarkan salinan dokumen.

“Kamu tahu namamu dicantumkan sebagai istri suamiku?”

Ratih meletakkan kardus perlahan.

Galih bergerak mendekatinya.

“Masuk dulu. Aku urus.”

Ratih justru mundur.

“Kamu bilang kalian sudah berpisah.”

Semua orang diam.

Dari dalam toko, terdengar bunyi pengatur waktu oven. Salah satu pegawai bergegas mematikannya.

“Dia masih tinggal dengan ibunya,” lanjut Ratih. “Itu yang kamu bilang. Kehamilan ini juga kamu bilang bukan anakmu.”

Aku merasa lututku kehilangan tenaga.

Lala segera menarik kursi. Aku duduk sambil memegang tepi meja, mencoba bernapas teratur.

Galih menatap Ratih dengan marah.

“Jangan asal bicara.”

Ratih membuka ponselnya.

“Aku punya pesanmu.”

Bu Marni datang beberapa menit kemudian. Begitu melihat kami, dia langsung menarik Ratih ke samping.

“Kamu sudah janji jangan membuat masalah sebelum pemindahan selesai.”

Ratih melepaskan lengannya.

“Jadi Ibu juga tahu saya dibohongi?”

Wajah Bu Marni mengeras.

Aku tidak lagi bertanya apakah mereka berselingkuh. Jawabannya sudah berdiri di depanku, bersama truk, mesin, dan kardus dokumen.

Yang ingin kuketahui sekarang adalah seberapa jauh rencana mereka.

Ratih akhirnya membuka kardus itu.

Di dalamnya ada rancangan papan nama toko baru, daftar pelanggan, serta salinan surat penyerahan pengelolaan yang tadi sore disodorkan kepadaku.

Ada pula daftar pegawai.

Namaku tidak tercantum.

“Mereka bilang Mbak sudah menerima uang pengganti,” kata Ratih.

Aku tertawa pendek, lalu menangis.

Saldo rekeningku bahkan tidak cukup untuk pemeriksaan berikutnya.

Lala memotret berkas dengan izin Ratih. Setelah petugas pembiayaan tiba, nomor seri mesin dicocokkan dan pemindahan dihentikan. Kami meninggalkan toko menjelang tengah malam.

Esoknya, Lala membantuku menemui pengacara. Aku menyerahkan bukti transaksi, dokumen pembiayaan, dan pesan para pegawai. Ratih bersedia memberikan keterangan serta percakapannya dengan Galih.

Ternyata dia juga menanamkan uang ke Sagara setelah dijanjikan akan mengelola cabang baru.

Aku tidak langsung memaafkannya. Namun aku menerima bukti yang dibawanya.

Pemeriksaan berlangsung berminggu-minggu. Akses pembayaran usaha diamankan, catatan pemasok dicocokkan, dan dugaan pemalsuan dilaporkan. Galih akhirnya mengakui kepada para pegawai bahwa tuduhan terhadapku tidak benar.

Aku meminta dia mengatakannya di tempat yang sama saat dia mengusirku.

Di depan kasir.

Di hadapan enam karyawan.

Dia menunduk sepanjang permintaan maaf itu. Aku mendengarkan sampai selesai, lalu menyerahkan urusan berikutnya kepada pengacara.

Dua bulan kemudian, putriku lahir.

Reni mengirim foto toko pagi itu. Pesanan tetap berjalan dengan pengawasan Lala dan kepala produksi. Di bawah foto, dia menulis bahwa semua gaji sudah dibayar.

Aku menangis di ranjang rumah sakit, kali ini karena lega.

Galih datang sore harinya membawa bunga.

“Boleh aku mulai memperbaiki semuanya?” tanyanya.

Aku memandang bayi yang tertidur di lenganku.

“Kamu bisa mulai dengan memenuhi tanggung jawabmu. Tapi aku tetap melanjutkan perceraian.”

Dia meletakkan bunga tanpa berkata lagi.

Beberapa hari setelah pulang, aku kembali ke toko untuk pertama kalinya sejak melahirkan. Reni menyerahkan celemek lamaku, bersih dan terlipat.

Di saku depannya ada kunci toko.

“Kami simpan untuk Mbak.”

Aku menggenggamnya lama.

Dulu aku mengira mempertahankan keluarga berarti terus membuka pintu, seburuk apa pun seseorang memperlakukanku.

Pagi itu, sambil memutar kunci tokoku sendiri, aku mulai belajar bahwa ada pintu yang boleh kututup.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang