DI PAGI HARI AKAD NIKAH, GAUN PENGANTINKU BERUBAH MENJADI PAKAIAN

“Reza, Mama ingin mendengar alasan kenapa kamu berani mengancam calon istrimu sendiri demi perempuan lain.”

Suara Ibu Ratna membuat seluruh ruangan mendadak sunyi.

Reza berbalik dengan wajah pucat. Selina yang sejak tadi berlindung di belakangnya langsung melepaskan pegangan tangannya.

“Mama? Mama sudah datang?”

Ibu Ratna tidak menjawab. Matanya tertuju pada gaun putih yang tergantung di dekat jendela. Beliau berjalan mendekat, menyentuh kain songket yang terpotong, lalu membaca tulisan TURUT BERDUKA di bagian belakangnya.

Tangannya bergetar.

“Siapa yang melakukan ini?”

Tidak seorang pun menjawab.

Ibu Ratna menoleh kepada Selina.

“Tante cuma ingin tahu siapa yang merusak gaun yang Tante siapkan untuk Nadira.”

Selina menunduk sambil mengusap air mata.

“Maaf, Tante. Aku cuma ingin membuat konsep pernikahan yang unik. Aku tidak menyangka Nadira akan semarah ini.”

“Unik?” Ibu Ratna mengangkat potongan songket dari sofa. “Kain ini peninggalan almarhum ibu saya. Saya menyimpannya selama tiga puluh tahun.”

Selina terdiam.

“Saya menyerahkannya kepada Nadira karena saya menganggap dia anak perempuan saya sendiri. Kamu tahu itu?”

Reza segera menyela.

“Ma, Selina tidak sengaja. Kita masih bisa memperbaikinya.”

Ibu Ratna menatap putranya.

“Memperbaiki kain yang sudah digunting atau memperbaiki kelakuanmu?”

Wajah Reza memerah.

Aku berdiri di samping ayahku, berusaha menahan tangis. Ayah menggenggam tanganku erat. Sejak tadi beliau tidak banyak bicara, tetapi aku bisa merasakan kemarahannya dari genggaman itu.

“Nadira,” bisik Ayah, “kalau kamu ingin pulang, Ayah siap membawamu sekarang.”

Aku menatap wajahnya yang mulai menua. Selama berbulan-bulan, Ayah mengurus undangan, menyiapkan seserahan, dan menyambut keluarga Reza dengan penuh hormat. Namun pagi itu, beliau bahkan tidak mendapatkan tempat duduk yang layak di acara pernikahan putrinya sendiri.

“Ayah, aku ingin menyelesaikan satu hal dulu.”

Aku mengambil ponsel Maya dan memperlihatkan video unggahan Selina kepada Ibu Ratna.

Beliau menontonnya sampai selesai.

Kemudian aku menunjukkan denah tempat duduk yang telah diubah.

Ibu Ratna membaca nama kedua orang tuaku di meja belakang pilar, lalu melihat nama Selina tercantum di samping Reza.

“Siapa yang mengatur tempat duduk ini?”

Reza menjawab dengan enggan.

“Aku, Ma. Selina kan membantu mengurus acara.”

“Jadi kamu menyingkirkan orang tua calon istrimu untuk memberi tempat kepada Selina?”

“Itu cuma pengaturan teknis.”

Ibu Ratna menggeleng perlahan.

“Reza, kamu sedang menikahi siapa sebenarnya?”

Pertanyaan itu membuat Reza kehilangan kata-kata.

Namun kejutan terbesar belum terjadi.

Penjahit perempuan yang sejak tadi berdiri di dekat pintu tiba-tiba maju sambil memegang sebuah amplop cokelat.

“Maaf, Bu. Saya tidak bisa diam lagi.”

Selina langsung menegang.

“Bu Yanti, jangan ikut campur!”

Bu Yanti justru menyerahkan amplop itu kepadaku.

“Ini salinan instruksi pekerjaan dan bukti pembayaran. Saya diminta mengubah gaun sesuai gambar yang dikirim Mbak Selina. Awalnya saya menolak karena kainnya mahal sekali.”

Aku membuka amplop tersebut.

Di dalamnya terdapat beberapa lembar percakapan yang dicetak, foto desain gaun berkabung, dan bukti transfer sebesar delapan juta rupiah.

Namun yang membuatku terkejut adalah satu pesan dari Reza kepada Selina.

“Bikin saja seperti rencanamu. Nadira pasti nurut. Yang penting setelah akad semuanya selesai.”

Aku membaca kalimat itu dua kali.

“Reza, kamu benar-benar mengetahui semuanya?”

Reza mengusap wajahnya.

“Aku cuma mengizinkan Selina membuat kejutan. Aku tidak tahu hasilnya akan separah ini.”

Bu Yanti menggeleng.

“Maaf, Pak. Bapak sendiri yang menelepon saya semalam dan meminta agar pekerjaan selesai sebelum pukul delapan pagi.”

Reza langsung membentak.

“Ibu jangan mengarang!”

Bu Yanti mengeluarkan ponselnya.

“Saya masih menyimpan rekaman percakapannya karena instruksi Bapak berbeda dengan pesanan awal.”

Rekaman itu diputar.

Suara Reza terdengar jelas meminta Bu Yanti mengikuti desain Selina dan tidak memberi tahu Nadira ataupun Ibu Ratna.

Dadaku terasa dingin.

Selama ini aku mengira Reza hanya terlalu memanjakan sahabat masa kecilnya. Ternyata dia ikut merencanakan penghinaan yang menimpaku.

“Kenapa?” tanyaku lirih.

Reza menghindari tatapanku.

“Karena kamu selalu ingin semuanya sempurna, Nadira. Selina bilang kamu perlu belajar menerima keadaan.”

Aku tertawa pahit.

“Jadi kamu menghancurkan gaunku untuk memberiku pelajaran?”

Reza tidak menjawab.

Ibu Ratna menutup matanya sejenak.

“Mama malu mempunyai anak yang berpikir seperti itu.”

Tiba-tiba Selina menangis semakin keras.

“Semua orang menyalahkanku! Padahal aku sudah mengorbankan banyak hal untuk Reza!”

Aku menatapnya.

“Pengorbanan apa?”

Selina menggigit bibir.

Reza segera menarik lengannya.

“Sudah, Sel. Jangan bicara lagi.”

Tetapi perempuan itu justru menepis tangan Reza.

“Aku capek terus disuruh mengalah! Kamu bilang setelah menikah dengan Nadira, semuanya akan lebih mudah!”

Ruangan kembali sunyi.

Aku merasa jantungku berhenti berdetak.

“Apa maksudmu?”

Selina tampak menyadari kesalahannya. Namun kali ini aku tidak membiarkannya menghindar.

“Jawab, Selina. Apa yang akan lebih mudah setelah Reza menikah denganku?”

Ibu Ratna menatap putranya dengan wajah mengeras.

Reza mencoba mendekatiku.

“Nadira, jangan dengarkan dia. Selina sedang emosi.”

Aku mundur.

“Kalau begitu, jelaskan sendiri.”

Beberapa detik berlalu sebelum Selina akhirnya tertawa getir.

“Karena keluargamu punya tanah di Bekasi, Nadira. Tanah yang akan dipakai untuk pembangunan gudang perusahaan Reza.”

Aku membeku.

Ayahku langsung menegakkan tubuh.

Tanah seluas hampir dua hektare itu memang milik keluargaku. Reza pernah mengusulkan kerja sama pembangunan pusat distribusi di atasnya. Namun Ayah menolak menandatangani perjanjian sebelum dokumen perusahaan diperiksa pengacara.

Selina melanjutkan dengan suara bergetar.

“Reza bilang setelah kalian menikah, ayahmu pasti lebih mudah diyakinkan.”

Aku menoleh kepada Reza.

“Jadi selama ini kamu menikahiku demi tanah keluargaku?”

“Bukan begitu!”

“Kalau bukan, kenapa Selina mengetahui urusan bisnis keluargaku?”

Reza terdiam.

Ayah mengambil map kecil dari tas kerjanya.

“Sepertinya sekarang waktunya Ayah menunjukkan sesuatu.”

Beliau mengeluarkan hasil pemeriksaan dokumen perusahaan Reza.

Ternyata perusahaan yang mengajukan kerja sama itu memiliki tunggakan pembayaran kepada beberapa pemasok. Bahkan sebagian sahamnya sedang dijaminkan kepada kreditur.

“Seminggu lalu pengacara Ayah menemukan masalah ini,” kata Ayah. “Ayah belum memberi tahu kamu karena ingin memastikan semuanya.”

Reza tampak kehilangan keseimbangan.

“Om, saya bisa menjelaskan.”

“Ayah sudah memberimu kesempatan menjelaskan ketika kamu datang meminta izin menikahi putri Ayah,” jawab Ayah. “Kamu bilang ingin membangun keluarga, bukan mencari jalan untuk menyelamatkan perusahaanmu.”

Ibu Ratna memandang Reza dengan mata berkaca-kaca.

“Mama juga tidak tahu soal ini.”

Reza menunduk.

Aku akhirnya memahami mengapa dia begitu terburu-buru menikah. Mengapa dia terus mendesakku agar Ayah menandatangani dokumen kerja sama sebelum bulan madu. Dan mengapa Selina selalu hadir setiap kali pembicaraan tentang tanah itu muncul.

Namun ada satu pertanyaan yang masih menggangguku.

“Selina, kalau kalian membutuhkan kerja sama itu, kenapa kamu justru merusak gaunku?”

Perempuan itu menatapku dengan kebencian yang tidak lagi disembunyikan.

“Karena aku ingin kamu tahu bahwa sekalipun menjadi istri Reza, kamu tidak akan pernah menggantikan tempatku.”

Reza langsung memejamkan mata.

Aku memandang mereka bergantian.

“Kalian memiliki hubungan?”

Selina tersenyum tipis.

“Kami tidak pernah benar-benar berpisah.”

Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada semua penghinaan sebelumnya.

Ternyata selama dua tahun aku membangun masa depan bersama seseorang yang diam-diam mempertahankan perempuan lain di sisinya.

Reza berusaha meraih tanganku.

“Nadira, aku memang pernah dekat dengan Selina. Tapi aku memilih menikah denganmu.”

Aku menarik tanganku.

“Kamu tidak memilihku, Reza. Kamu memilih apa yang bisa kamu dapatkan dariku.”

Jam menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh menit.

Kurang dari satu jam sebelum akad.

Dari luar kamar terdengar suara panitia yang mulai mengarahkan tamu menuju ballroom.

Aku memandang gaun pengantinku untuk terakhir kalinya.

Lalu aku berkata dengan tenang, “Akad nikah ini batal.”

Reza langsung panik.

“Kamu tidak bisa membatalkannya begitu saja! Ratusan tamu sudah datang!”

“Aku bisa. Karena aku belum mengucapkan ijab kabul denganmu.”

“Kamu akan mempermalukan keluargaku!”

Aku menatapnya.

“Lucu sekali. Ketika aku dipermalukan, kamu menyebutnya candaan. Sekarang ketika aku menolak menikah, kamu menyebutnya penghinaan.”

Reza terdiam.

Ibu Ratna mendekat dan menggenggam kedua tanganku.

“Nadira, Ibu meminta maaf. Ibu tidak berhasil mendidik Reza menjadi laki-laki yang pantas untukmu.”

Aku menangis untuk pertama kalinya pagi itu.

“Bukan salah Ibu.”

Beliau menggeleng.

“Ibu tetap bertanggung jawab atas cara keluarga kami memperlakukanmu.”

Kemudian beliau berbalik kepada Reza.

“Mulai hari ini, kamu tidak lagi memegang jabatan direktur operasional di perusahaan keluarga. Mama akan meminta dewan komisaris meninjau seluruh keputusan bisnismu.”

Reza terperanjat.

“Ma, jangan campurkan urusan pribadi dengan pekerjaan!”

“Justru kamu yang mencampurkannya ketika mencoba menggunakan pernikahan untuk mendapatkan tanah keluarga Nadira.”

Selina segera mendekati Reza.

“Reza, kita masih bisa mencari jalan keluar.”

Namun Reza justru menatapnya penuh kemarahan.

“Semua ini gara-gara kamu!”

Selina tertawa sinis.

“Jangan menyalahkanku! Kamu sendiri yang bilang Nadira perempuan penurut dan tidak akan berani meninggalkanmu!”

Aku tidak lagi ingin mendengar pertengkaran mereka.

Bersama Ayah, Ibu, dan Maya, aku turun menuju ballroom.

Ratusan tamu sudah duduk ketika aku memasuki ruangan dengan mengenakan kebaya sederhana milik Maya. Bisik-bisik langsung terdengar.

Aku meminta izin kepada penghulu dan kedua keluarga untuk berbicara.

Dengan mikrofon di tangan, aku mengumumkan bahwa akad nikah dibatalkan karena persoalan serius yang tidak dapat diselesaikan sebelum pernikahan.

Aku tidak menyebut nama Selina. Tidak memperlihatkan rekaman. Tidak membuka aib siapa pun di hadapan para tamu.

Aku hanya mengatakan satu kalimat sebelum mengembalikan mikrofon.

“Pernikahan seharusnya dimulai dengan kejujuran dan penghormatan. Hari ini, saya memilih tidak memulainya dengan kebohongan.”

Ayah memelukku ketika kami meninggalkan ballroom.

Tiga bulan kemudian, aku menerima kabar bahwa perusahaan Reza sedang menjalani restrukturisasi. Rencana pembangunan gudang di tanah keluarga kami dibatalkan. Selina pun tidak lagi terlihat bersamanya setelah persoalan keuangan mereka mencuat.

Aku tidak mencari tahu lebih jauh.

Suatu sore, Ibu Ratna datang ke rumah membawa sebuah kotak panjang.

Di dalamnya terdapat gaun putih gading yang telah diperbaiki.

Kain songket yang rusak tidak mungkin kembali utuh. Namun seorang pengrajin Bandung berhasil menyusun potongannya menjadi sulaman bunga melati yang indah.

“Ada yang ingin Ibu kembalikan kepadamu,” katanya.

Aku menyentuh gaun itu dengan mata berkaca-kaca.

“Bu, saya tidak akan menikah dalam waktu dekat.”

Ibu Ratna tersenyum.

“Siapa bilang gaun ini harus dipakai untuk menikah? Ibu hanya ingin kamu memiliki kembali sesuatu yang pernah dirusak orang lain.”

Aku memeluk beliau lama sekali.

Setahun kemudian, gaun itu kupamerkan dalam acara kecil yang menggalang dana untuk membantu perempuan korban kekerasan psikologis dan ekonomi.

Di sampingnya kupasang sebuah foto lama.

Foto gaun yang sama ketika masih dipenuhi pita hitam dan tulisan TURUT BERDUKA.

Seorang pengunjung bertanya mengapa aku sengaja memperlihatkan foto yang menyakitkan itu.

Aku tersenyum.

“Karena foto itu mengingatkanku pada hari ketika aku hampir kehilangan diriku sendiri.”

Perempuan itu memandang gaun putih di hadapannya.

“Lalu apa yang sebenarnya kamu tangisi hari itu?”

Aku terdiam sebentar sebelum menjawab.

“Bukan pernikahan yang batal.”

Aku memandang sulaman melati yang berkilau lembut terkena cahaya sore.

“Aku menangisi dua tahun hidupku yang kuhabiskan untuk mempercayai orang yang salah.”

Kemudian aku tersenyum.

“Tapi sekarang aku bersyukur. Mereka menyiapkan pakaian berkabung untukku, tanpa sadar bahwa yang benar-benar kukuburkan hari itu adalah masa depan yang seharusnya tidak pernah kumiliki.”

Dan untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa gaun pengantin paling indah bukanlah gaun yang membawaku menuju pelaminan.

Melainkan gaun yang mengingatkanku bahwa aku pernah memiliki keberanian untuk meninggalkannya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang