Pagi setelah menemukan pesan rahasia di ponsel suamiku, aku menerima telepon dari seorang perempuan yang tidak kukenal. Suaranya gemetar ketika menyebut namaku.
“Bu An Xue, saya tahu siapa yang membeli obat-obatan itu selama lima tahun.”

Aku langsung menegakkan tubuh di ranjang rumah sakit.
“Siapa Anda?”
“Nama saya Rani. Saya pernah bekerja di bagian administrasi sebuah klinik di Jakarta Selatan. Tolong jangan beri tahu Pak Fu bahwa saya menghubungi Ibu.”
Jantungku berdebar.
“Kenapa?”
Perempuan itu terdiam beberapa detik.
“Karena terakhir kali saya mencoba mempertanyakan resep obat tersebut, saya kehilangan pekerjaan.”
Aku menggenggam ponsel semakin erat.
Rani menjelaskan bahwa beberapa tahun lalu, Fu Yanci berkali-kali memesan obat melalui seorang perantara yang bekerja sama dengan klinik tersebut. Sebagian pembelian menggunakan identitas pasien yang berbeda, tetapi seluruh pembayarannya berasal dari rekening yang berkaitan dengan suamiku.
“Apakah obat itu benar-benar obat pencegah kehamilan?” tanyaku.
“Saya tidak bisa memastikan semua obat yang Ibu terima. Tapi ada satu jenis obat hormonal yang tercatat berulang kali. Obat itu bukan suplemen penyubur kandungan seperti yang disebutkan dalam catatan pengiriman.”
Dadaku terasa sesak.
“Lalu kenapa Anda baru menghubungi saya sekarang?”
“Saya baru mengetahui Ibu dirawat setelah melihat kabar yang dikirim mantan rekan kerja saya. Saya menyimpan salinan catatan lama karena dulu ada beberapa transaksi yang menurut saya janggal.”
Aku memejamkan mata.
“Apakah Anda bersedia memberikan keterangan kepada pengacaraku?”
“Saya bersedia, asalkan semuanya dilakukan secara resmi.”
Setelah menutup telepon, aku menangis tanpa suara.
Selama lima tahun, setiap kali menstruasiku datang, aku merasa telah mengecewakan suamiku. Aku menyalahkan tubuhku sendiri, padahal sekarang semakin banyak petunjuk bahwa seseorang sengaja mengendalikan hidupku tanpa sepengetahuanku.
Namun aku tidak boleh bertindak gegabah.
Siang itu, aku menghubungi sahabat lamaku, Maya, seorang pengacara yang bekerja di Jakarta.
Begitu mendengar ceritaku, Maya datang ke rumah sakit.
Dia tidak langsung memberikan kesimpulan.
Sebaliknya, dia meminta seluruh bukti yang kusimpan, mulai dari transaksi rekening, foto pesan ponsel, hingga informasi dari Rani.
“Xue, kita harus membedakan dugaan dengan hal yang sudah bisa dibuktikan,” katanya serius. “Keterangan Rani penting, tetapi kita tetap perlu memeriksa dokumen asli dan mendapatkan pendapat medis.”
Aku mengangguk.
“Lalu bagaimana dengan obat yang membuatku keguguran?”
“Kita minta rumah sakit menyimpan catatan penangananmu. Kalau masih ada sisa obat atau kemasannya, serahkan untuk pemeriksaan melalui prosedur yang benar.”
Aku teringat kotak obat yang dibawa Lin Wan.
“Ada kemasannya di rumah. Aku melihatnya diletakkan di lemari kamar.”
Maya mencatat sesuatu.
“Jangan mengambil risiko menghadapi mereka sendirian. Kita pikirkan cara mendapatkannya secara aman.”
Tiga hari kemudian, dokter mengizinkanku pulang.
Fu Yanci datang menjemput dengan mobil hitam kesayangannya.
Sepanjang perjalanan, dia berusaha bersikap lembut.
“Xiaoxue, aku sudah meminta asisten rumah tangga menyiapkan makanan kesukaanmu.”
Aku hanya mengangguk.
“Lin Wan juga sudah meminta maaf. Dia sangat menyesal atas kejadian kemarin.”
Aku menoleh ke luar jendela.
“Begitu, ya?”
“Iya. Jangan terus memikirkannya.”
Kalimat itu membuatku ingin tertawa.
Dia bahkan belum mengetahui bahwa aku sudah mulai memeriksa kebohongannya.
Sesampainya di rumah, aku langsung menuju kamar.
Di dalam lemari, kotak obat yang kucari sudah tidak ada.
Aku membuka semua laci.
Kosong.
Ketika Fu Yanci masuk, aku berpura-pura sedang mencari vitamin.
“Mas, obat yang dibawa Lin Wan waktu itu kamu simpan di mana?”
Tangannya terhenti di gagang pintu.
“Obat apa?”
“Yang katanya untuk menguatkan kandungan.”
“Oh, itu. Sudah kubuang.”
Aku menoleh.
“Kenapa dibuang?”
“Karena rumah sakit bilang obat itu tidak cocok untukmu.”
Dia mendekat dan mengusap rambutku.
“Jangan memikirkan hal buruk lagi. Sekarang yang penting kamu sembuh.”
Aku menunduk agar dia tidak melihat kemarahan di mataku.
Malam itu, ketika Fu Yanci tertidur, aku mengirim pesan kepada Maya.
Obatnya sudah dibuang. Dia bilang sendiri.
Maya segera membalas.
Simpan keterangan itu. Jangan memaksanya mengaku. Kita masih punya jalur pemeriksaan lain.
Keesokan harinya, aku mendapat kabar yang tidak kalah mengejutkan.
Maya menemukan bahwa perusahaan penerima uang Rp480 juta bernama PT Wan Sentosa Properti.
Lin Wan tercatat sebagai direktur sekaligus pemegang saham mayoritas.
Namun yang membuat tanganku gemetar adalah alamat aset yang tercantum dalam salah satu dokumen transaksi.
Sebuah rumah di kawasan Pondok Indah.
Aku mengenal alamat itu.
Rumah tersebut dibeli Fu Yanci dua tahun sebelumnya menggunakan uang hasil penjualan apartemen warisan ibuku dan sebagian tabungan bersama.
Saat itu dia mengatakan rumah tersebut akan menjadi investasi untuk masa depan anak kami.
“Rumah itu seharusnya terdaftar atas nama siapa?” tanya Maya.
“Atas namaku dan Fu Yanci. Itu yang kami sepakati.”
Maya menunjukkan salinan dokumen yang berhasil diperolehnya melalui pemeriksaan awal.
“Informasi yang kita punya menunjukkan ada rencana pengalihan hak kepada perusahaan Lin Wan. Tapi aku masih harus memastikan apakah sudah ada perubahan kepemilikan yang sah.”
Aku memandangnya tidak percaya.
“Jadi selama ini mereka bukan cuma berselingkuh?”
Maya menggeleng perlahan.
“Kita belum tahu seluruh rangkaiannya. Tapi uang dan rumah itu jelas perlu diperiksa.”
Saat itulah aku teringat sesuatu.
Tiga bulan sebelumnya, Fu Yanci pernah memintaku menandatangani beberapa dokumen di rumah.
Katanya, semuanya berkaitan dengan pengurusan pajak properti.
Aku sedang sibuk mempersiapkan presentasi untuk sebuah proyek desain interior dan hanya membaca sekilas.
Apakah saat itu aku sudah menandatangani sesuatu yang merugikan diriku sendiri?
Maya langsung memintaku mengingat tanggal dan nama notaris yang terlibat.
Aku membuka riwayat pesan.
Setelah mencari hampir setengah jam, akhirnya aku menemukan foto amplop dokumen yang pernah dikirim Fu Yanci.
Nama kantor notaris tercetak jelas.
Maya segera menghubungi kantor tersebut melalui jalur resmi.
Dua hari kemudian, kami memperoleh informasi bahwa memang pernah dibuat rancangan perjanjian terkait rumah itu. Namun terdapat beberapa dokumen pendukung yang belum lengkap sehingga perubahan kepemilikan belum selesai diproses.
Aku merasa sedikit lega.
Setidaknya, rumah peninggalan hasil kerja keras ibuku belum sepenuhnya lepas dari jangkauanku.
Namun kelegaan itu hanya bertahan sebentar.
Sore harinya, Lin Wan datang ke rumah.
Dia mengenakan gaun putih sederhana dan membawa sekeranjang buah.
Begitu melihatku, dia tersenyum.
“Kak An Xue, aku ingin meminta maaf.”
Aku mempersilakannya duduk.
Fu Yanci sedang berada di kantor.
Di ruang tamu hanya ada kami berdua.
“Aku benar-benar tidak tahu obat itu akan membahayakan Kakak,” katanya sambil menunduk.
Aku memperhatikannya lama.
“Kalau begitu, siapa yang memberikan obat tersebut kepadamu?”
Lin Wan langsung mengangkat kepala.
“Apa?”
“Kamu bilang tidak tahu. Berarti ada seseorang yang memberikannya kepadamu, bukan?”
Dia menggenggam tasnya erat.
“Aku membelinya berdasarkan informasi yang kudapat.”
“Dari siapa?”
Lin Wan mulai gelisah.
“Kak An Xue, kenapa terus menginterogasiku? Aku sudah meminta maaf.”
Aku tersenyum getir.
“Karena anakku meninggal, Lin Wan. Dan kamu orang yang memberikan obat itu kepadaku.”
Wajahnya pucat.
Beberapa detik kemudian, dia mulai menangis.
“Aku tidak bermaksud membunuh bayimu.”
Aku terdiam.
“Kamu tahu aku sedang hamil?”
Dia menunduk.
“Tahu.”
“Lalu kamu tetap memberikannya?”
Air matanya semakin deras.
“Aku pikir… aku pikir Pak Fu memang tidak ingin punya anak dengan Kakak.”
Dadaku terasa seperti ditusuk.
“Kenapa kamu berpikir begitu?”
Lin Wan menutup wajahnya.
“Karena selama ini dia selalu mengatakan bahwa kalian belum siap memiliki anak.”
Aku mengepalkan tangan.
“Dia mengatakan itu kepadamu?”
Lin Wan mengangguk.
Namun ketika aku bertanya apakah dia mengetahui kandungan obat yang diberikan, perempuan itu mendadak terdiam.
Aku langsung memahami bahwa pengakuannya masih belum lengkap.
“Lin Wan, aku tidak akan memaksamu bicara sekarang. Tapi semua yang terjadi harus diperiksa.”
Dia berdiri tergesa-gesa.
“Kak An Xue, jangan hancurkan hidupku.”
Aku menatapnya.
“Yang hancur adalah hidupku. Kamu masih punya kesempatan untuk mengatakan kebenaran.”
Lin Wan meninggalkan rumah tanpa mengambil keranjang buahnya.
Malam itu, Fu Yanci pulang dengan wajah marah.
“Kamu mengancam Lin Wan?”
Aku sedang duduk di ruang kerja.
Aku mengangkat wajah.
“Dia datang sendiri.”
“Dia menangis sepanjang sore!”
Aku tertawa kecil.
“Dan kamu langsung pulang untuk membelanya?”
Fu Yanci menghantam meja.
“An Xue, sampai kapan kamu mau memperpanjang masalah ini?”
Aku berdiri.
“Sampai aku tahu kenapa kamu membohongiku selama lima tahun.”
Wajahnya berubah.
“Apa maksudmu?”
Aku mengeluarkan salinan catatan transaksi obat.
“Lima tahun, Yanci. Setiap malam kamu memberiku obat yang katanya membantu kehamilan. Tapi ada catatan pembelian obat hormonal yang berbeda.”
Fu Yanci membeku.
Aku melanjutkan.
“Dan bagaimana dengan Rp480 juta yang kamu kirim ke perusahaan Lin Wan?”
Dia mundur selangkah.
“Dari mana kamu mendapatkan semua itu?”
Aku menatapnya dingin.
“Itu bukan jawaban.”
Fu Yanci duduk dengan wajah pucat.
Untuk pertama kalinya sejak kami menikah, dia tampak benar-benar kehilangan kendali.
Beberapa saat kemudian, dia berkata lirih.
“Aku takut kehilanganmu.”
Aku hampir tidak percaya mendengarnya.
“Takut kehilangan aku?”
Dia mengangguk sambil menangis.
“Lima tahun lalu, sebelum menikah, kamu mendapat tawaran bekerja di Singapura. Kamu bilang ingin mengejar karier dulu sebelum punya anak.”
Aku terdiam.
Aku memang pernah mendapatkan tawaran tersebut.
Namun setelah menikah, aku menolaknya karena Fu Yanci memintaku tinggal di Jakarta.
“Aku takut kalau kamu semakin sukses, kamu akan meninggalkanku,” lanjutnya.
“Jadi kamu sengaja membuatku percaya bahwa aku sulit hamil?”
Dia menutup wajahnya.
“Awalnya aku hanya ingin menunda kehamilan. Aku pikir nanti semuanya bisa diperbaiki.”
Aku memandang laki-laki di hadapanku seperti sedang melihat orang asing.
“Kenapa kamu tidak membicarakannya denganku?”
“Karena aku takut kamu menolak.”
Aku tertawa getir.
“Jadi kamu mengambil keputusan atas tubuhku tanpa persetujuanku?”
Fu Yanci menangis semakin keras.
“Aku salah, Xiaoxue.”
Aku belum pernah merasa semarah itu.
“Lalu hubunganmu dengan Lin Wan?”
Dia menunduk.
“Sudah hampir dua tahun.”
Aku memejamkan mata.
Dua tahun.
Selama dua tahun dia tidur di sampingku sambil membangun kehidupan lain bersama perempuan yang setiap hari bekerja di kantornya.
“Dan rumah Pondok Indah?”
Dia tidak menjawab.
Aku menatapnya tajam.
“Yanci!”
“Aku ingin menjadikannya tempat tinggal Lin Wan.”
Seketika seluruh tubuhku terasa dingin.
“Rumah yang dibeli menggunakan uang peninggalan ibuku?”
Dia menunduk semakin dalam.
“Aku berniat mengganti bagian uangmu.”
Aku tidak mampu berkata-kata.
Semua kebohongan itu akhirnya tersusun menjadi satu gambaran yang mengerikan.
Suamiku mengendalikan kehamilanku.
Mengkhianati pernikahan kami.
Menggunakan uang bersama untuk perempuan lain.
Dan ketika aku akhirnya hamil, hubungan rahasia mereka berakhir dengan hilangnya nyawa anak yang sudah lama kunantikan.
Aku berjalan menuju pintu.
Fu Yanci segera berdiri.
“Xiaoxue, mau ke mana?”
Aku berhenti.
“Keluar dari rumah ini.”
Dia meraih tanganku.
“Jangan pergi. Kita masih bisa memperbaiki semuanya.”
Aku menarik tanganku.
“Tidak, Yanci. Kamu tidak bisa mengembalikan lima tahun hidupku hanya dengan permintaan maaf.”
Malam itu aku pergi ke apartemen Maya.
Keesokan paginya, aku mengajukan langkah hukum untuk melindungi hakku atas harta bersama serta meminta pendampingan terkait dugaan pemberian obat tanpa persetujuan dan kejadian yang menyebabkan keguguranku.
Pemeriksaan berlangsung berbulan-bulan.
Catatan pembelian obat, keterangan tenaga medis, transaksi keuangan, serta dokumen properti diperiksa oleh pihak berwenang.
Tidak semua persoalan langsung terjawab.
Namun perlahan, kebohongan yang selama ini disembunyikan Fu Yanci mulai terbongkar.
Lin Wan akhirnya memberikan keterangan lebih lengkap.
Dia mengakui telah memberikan obat yang diperolehnya tanpa pemeriksaan dokter yang sesuai, setelah mengetahui kehamilanku. Dia juga mengakui mengetahui hubungan rahasianya dengan Fu Yanci bertentangan dengan pernikahan kami.
Pengakuannya tidak menghapus tanggung jawab atas tindakannya.
Fu Yanci kehilangan kepercayaan sejumlah mitra bisnis ketika persoalan keuangannya mulai diperiksa.
Aku tidak merasa puas melihatnya jatuh.
Aku hanya ingin mendapatkan kembali kendali atas hidupku.
Enam bulan setelah meninggalkan rumah, proses perceraian kami selesai.
Hak atas rumah Pondok Indah diselesaikan melalui kesepakatan dan proses hukum dengan mempertimbangkan sumber dana serta dokumen kepemilikan yang sah.
Aku memilih menjual bagian aset yang menjadi hakku dan menggunakan uang tersebut untuk memulai hidup baru.
Aku kembali bekerja sebagai desainer interior.
Awalnya hanya menerima proyek kecil.
Kemudian seorang klien lama menghubungiku untuk merancang sebuah kafe di Jakarta Selatan.
Proyek itu berhasil.
Beberapa bulan kemudian, aku membuka studio desain sendiri.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak perlu meminta izin kepada siapa pun untuk menentukan masa depanku.
Suatu sore, ketika sedang menata ruang kerja baru, Maya datang membawa sebuah amplop.
“Ada sesuatu untukmu.”
Aku membuka amplop tersebut.
Di dalamnya terdapat salinan surat lama yang ditemukan saat dokumen pribadi Fu Yanci diperiksa dalam proses penyelesaian harta.
Surat itu ditulis dengan tulisan tangan.
Aku mengenalinya.
Tulisan tanganku sendiri.
Lima tahun sebelumnya, menjelang pernikahan, aku pernah menulis surat kepada Fu Yanci.
Di dalamnya aku mengatakan bahwa aku ingin membangun keluarga bersamanya, tetapi juga berharap kami bisa saling mendukung impian masing-masing.
Pada bagian terakhir tertulis sebuah kalimat yang hampir kulupakan.
Kalau suatu hari kita berbeda pendapat, berjanjilah untuk tidak pernah mengambil keputusan penting tanpa membicarakannya bersama.
Aku membaca kalimat itu berkali-kali.
Air mataku jatuh.
Dahulu aku begitu percaya bahwa cinta cukup untuk membuat dua orang saling memahami.
Sekarang aku tahu, cinta tanpa kejujuran bisa berubah menjadi tempat paling berbahaya bagi seseorang yang terlalu percaya.
Maya duduk di sampingku.
“Kamu menyesal pernah menikah dengannya?”
Aku berpikir cukup lama.
“Aku menyesal karena terlalu lama mengabaikan tanda-tanda bahwa ada sesuatu yang salah.”
“Lalu sekarang?”
Aku menatap studio kecil yang dipenuhi contoh bahan, gambar desain, dan tanaman hijau.
“Sekarang aku ingin belajar hidup tanpa terus menyalahkan diriku sendiri.”
Setahun kemudian, aku mengunjungi sebuah taman di Jakarta pada pagi yang cerah.
Di salah satu sudut taman, anak-anak berlarian mengejar gelembung sabun.
Aku duduk di bangku kayu sambil memegang sebuah kotak kecil.
Di dalamnya terdapat sepasang kaus kaki bayi berwarna putih.
Aku membelinya ketika mengetahui diriku hamil.
Dahulu aku tidak sanggup melihatnya tanpa menangis.
Namun hari itu aku mengeluarkannya dengan tangan yang lebih tenang.
Aku memandang langit.
“Maaf, Nak. Ibu tidak bisa melindungimu saat itu.”
Air mataku mengalir perlahan.
“Tapi Ibu janji akan menjaga kehidupan yang masih Ibu miliki.”
Angin pagi bergerak lembut di antara pepohonan.
Aku menutup kotak tersebut, lalu menyimpannya kembali di dalam tas.
Aku tidak pernah melupakan bayi yang hilang.
Aku juga tidak pernah menganggap lima tahun pernikahanku sebagai sesuatu yang tidak berarti.
Namun akhirnya aku memahami bahwa masa lalu tidak harus menentukan seluruh masa depanku.
Fu Yanci pernah mengira dirinya bisa mengendalikan hidupku melalui perhatian, obat-obatan, uang, dan kebohongan.
Lin Wan pernah mengira kebahagiaannya hanya bisa diperoleh dengan merebut sesuatu dari perempuan lain.
Mereka berdua salah.
Karena kebahagiaan tidak pernah tumbuh dari penderitaan yang sengaja diberikan kepada orang lain.
Aku berdiri dari bangku taman dan berjalan menuju mobil.
Ponselku bergetar.
Sebuah pesan masuk dari klien baru.
Bu An Xue, kami sudah melihat desain yang Ibu kirimkan. Kami ingin bekerja sama untuk proyek berikutnya.
Aku tersenyum.
Kemudian membalas pesan tersebut.
Terima kasih. Saya siap membicarakan detail proyeknya.
Saat memasukkan ponsel ke dalam tas, aku melihat bayanganku di kaca mobil.
Perempuan di sana masih memiliki wajah yang sama.
Namun matanya tidak lagi dipenuhi ketakutan.
Aku menarik napas panjang.
Lima tahun lalu, aku menyerahkan begitu banyak keputusan kepada seseorang karena mengira itulah bentuk kepercayaan.
Sekarang aku memahami bahwa mencintai seseorang tidak berarti harus kehilangan hak untuk menentukan apa yang terjadi pada tubuh, pekerjaan, dan kehidupan sendiri.
Aku membuka pintu mobil.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, masa depan tidak lagi terasa seperti sesuatu yang harus kumohon dari orang lain.
Masa depan itu ada di tanganku.
Dan kali ini, aku sendiri yang akan menentukan ke mana hidupku berjalan.
