SETIAP KALI HENDAK MASUK RUANG OPERASI, ARJUNA SELALU MENYENTUH SAKU KIRI

Malam itu, setelah Arjuna meninggalkan kamar perawatanku, aku membuka kembali pesan dari nomor tidak dikenal. Foto dirinya bersama Dewi di depan restoran masih terpampang di layar, disusul bukti transfer seratus delapan puluh juta rupiah dengan keterangan untuk rumah.

Aku menatap kedua gambar itu sampai mataku terasa perih.

Lima belas tahun menikah, aku mengenal Arjuna sebagai laki-laki yang sangat berhati-hati menggunakan uang. Bahkan ketika aku ingin mengganti sofa ruang tamu yang sudah rusak, dia meminta kami menundanya karena biaya pengobatanku semakin besar.

Namun, untuk Dewi, dia bisa mengeluarkan uang sebanyak itu tanpa memberitahuku.

Aku membalas pesan anonim tersebut.

Siapa kamu?

Balasannya datang hampir seketika.

Seseorang yang tidak ingin Ibu terus dibohongi.

Aku mengetik lagi.

Apa hubungan uang itu dengan Dewi?

Kali ini tidak ada jawaban.

Aku mencoba menelepon nomor tersebut, tetapi panggilanku tidak tersambung.

Keesokan paginya, aku meminta bantuan Rina, sahabatku yang bekerja sebagai akuntan. Kami sudah berteman sejak kuliah kedokteran, dan dia adalah satu dari sedikit orang yang mengetahui kondisi keuangan rumah tanggaku.

Rina datang membawa laptop kecil.

Begitu melihat bukti transfer itu, wajahnya berubah serius.

“Ayu, kamu yakin ini asli?”

“Aku belum tahu. Makanya aku minta bantuanmu.”

Rina memeriksa gambar tersebut.

“Kita tidak bisa memastikan hanya dari tangkapan layar. Kamu masih punya akses ke rekening bersama?”

Aku mengangguk.

Dengan tanganku sendiri, aku membuka aplikasi perbankan dan memeriksa mutasi rekening yang memang dapat kuakses.

Transaksi itu benar-benar ada.

Jumlahnya tepat seratus delapan puluh juta rupiah.

Namun ada sesuatu yang lebih mengejutkan.

Selama delapan bulan terakhir, Arjuna telah memindahkan uang ke rekening yang sama sebanyak enam kali.

Totalnya mencapai empat ratus dua puluh juta rupiah.

Aku menutup mulut.

“Rina, uang sebanyak itu untuk apa?”

Rina tidak menjawab. Dia hanya menggenggam tanganku.

“Ayu, kamu harus bicara dengan Arjuna.”

Aku menggeleng.

“Belum. Aku ingin tahu kebenarannya sebelum dia punya kesempatan menyiapkan alasan.”

Sore itu, ketika Arjuna sedang melakukan operasi, aku menghubungi Dewi melalui nomor yang masih tersimpan di ponselku.

Kami sudah hampir sepuluh tahun tidak berbicara secara pribadi.

Panggilan tersambung setelah dering keempat.

“Ayu?”

Suaranya terdengar terkejut.

“Dewi, aku ingin bertemu.”

Hening beberapa saat.

“Tentang apa?”

“Tentang rumah yang dibayar Arjuna.”

Aku mendengar sesuatu terjatuh di seberang telepon.

“Ayu, kamu tahu dari mana?”

“Jadi benar ada rumah itu?”

Dewi menarik napas panjang.

“Kita sebaiknya bicara langsung.”

Kami sepakat bertemu keesokan harinya di kafe dekat rumah sakit.

Dokter yang merawatku mengizinkan aku keluar sebentar karena kondisiku cukup stabil, asalkan tetap didampingi dan tidak memaksakan diri.

Rina mengantarku menggunakan mobilnya.

Ketika kami tiba, Dewi sudah menunggu.

Dia mengenakan kemeja biru muda dan celana panjang hitam. Rambutnya yang dulu selalu panjang kini dipotong sebahu.

Melihatku berjalan perlahan dengan bantuan Rina, wajahnya berubah sedih.

“Ayu, aku dengar kamu sakit. Tapi aku tidak tahu kondisimu sampai seperti ini.”

Aku duduk di hadapannya.

“Tidak perlu berbasa-basi, Dewi. Aku ingin tahu untuk siapa Arjuna membeli rumah.”

Dewi menunduk.

“Rumah itu bukan untukku.”

Aku menatapnya.

“Lalu untuk siapa?”

Dia membuka tas dan mengeluarkan sebuah foto.

Dalam foto itu terlihat seorang perempuan tua duduk di kursi roda di depan rumah sederhana.

Aku tidak mengenalinya.

“Ini ibuku,” kata Dewi.

Aku mengerutkan kening.

“Kenapa Arjuna membelikan rumah untuk ibumu?”

Air mata Dewi langsung jatuh.

“Karena ibuku pernah menyelamatkan hidupnya.”

Aku terdiam.

Dewi kemudian menceritakan kejadian yang tidak pernah kudengar sebelumnya.

Enam belas tahun lalu, ketika kami masih menjalani pendidikan dokter muda, Arjuna pernah mengalami kecelakaan sepeda motor saat pulang dari rumah sakit.

Dia mengalami luka serius dan membutuhkan transfusi darah dalam penanganan darurat.

Saat itu, ibu Dewi merupakan salah satu pendonor yang memenuhi persyaratan dan membantu menyediakan darah melalui proses transfusi resmi rumah sakit.

“Arjuna tidak pernah melupakan bantuan Ibu,” kata Dewi.

Aku mencoba memahami penjelasannya.

“Jadi selama ini dia mengirim uang sebagai tanda terima kasih?”

“Sebagian, iya. Tapi bukan cuma itu.”

Dewi menatapku dengan ragu.

“Tiga tahun lalu, rumah Ibu hampir disita karena utang peninggalan ayahku. Arjuna mengetahui masalah itu dan menawarkan bantuan. Aku sudah menolaknya berkali-kali.”

“Lalu kenapa uangnya tetap kamu terima?”

“Karena Ibu mengalami stroke dan kami tidak punya tempat tinggal lain.”

Aku memandang foto perempuan tua itu.

Untuk sesaat, kemarahanku mulai bercampur dengan kebingungan.

Namun satu pertanyaan masih menggangguku.

“Kalau semua itu benar, kenapa dia menyembunyikannya dariku?”

Dewi menggeleng.

“Aku pernah menyuruhnya bercerita. Tapi dia bilang tidak ingin menambah beban pikiranmu.”

Aku tertawa pahit.

“Jadi dia lebih memilih membuatku berpikir bahwa dia berselingkuh?”

Dewi terdiam.

Aku mengeluarkan foto dirinya bersama Arjuna di depan restoran.

“Kalau yang ini?”

Dewi memperhatikannya.

“Itu malam ketika kami menemui notaris untuk membicarakan dokumen rumah Ibu. Setelahnya kami makan karena sejak siang belum sempat makan.”

Aku menatapnya lama.

“Dan foto yang selama lima belas tahun disimpan Arjuna di saku jasnya?”

Wajah Dewi berubah.

Dia menunduk begitu dalam hingga aku tidak bisa melihat matanya.

“Ayu, soal foto itu, aku memang pernah punya perasaan kepada Arjuna.”

Dadaku kembali sesak.

“Pernah?”

Dewi mengangguk.

“Dulu, sebelum kalian menikah. Tapi Arjuna memilihmu.”

Aku memandangnya tanpa berkedip.

“Lalu kenapa dia masih menyimpan fotomu?”

“Aku tidak tahu.”

Untuk pertama kalinya, Dewi terlihat benar-benar tidak mampu menjelaskan sesuatu.

Aku meninggalkan kafe dengan perasaan lebih kacau dibandingkan ketika datang.

Sebagian rahasia telah terungkap, tetapi bagian terpenting masih belum terjawab.

Malamnya, Arjuna datang membawa bubur ayam kesukaanku.

Aku menunggu sampai dia selesai menyiapkan makanan.

Kemudian aku mengeluarkan laporan mutasi rekening.

“Arjuna, aku sudah bertemu Dewi.”

Tangannya berhenti bergerak.

Dia menatap dokumen di hadapanku.

“Ayu…”

“Aku tahu tentang ibunya. Aku tahu tentang rumah itu. Aku juga tahu kamu sudah mengirimkan empat ratus dua puluh juta rupiah.”

Arjuna duduk perlahan.

“Kenapa kamu tidak langsung bertanya kepadaku?”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Aku pernah bertanya tentang foto itu. Kamu bilang aku membuat masalah menjadi rumit.”

Dia menunduk.

Aku melanjutkan.

“Selama bertahun-tahun, kamu mengatakan kita harus menghemat uang demi pengobatanku. Tapi kamu diam-diam mengirimkan ratusan juta kepada keluarga Dewi.”

“Aku menggunakan sebagian tabunganku sendiri, Ayu.”

“Sebagiannya berasal dari rekening bersama. Aku berhak tahu.”

Arjuna tidak membantah.

Setelah beberapa saat, dia mengangguk.

“Kamu benar. Aku salah karena menyembunyikannya.”

Aku menarik napas panjang.

“Sekarang jelaskan foto itu.”

Arjuna merogoh saku kiri jasnya.

Dia mengeluarkan foto kecil yang sudah usang.

Untuk pertama kalinya, dia menyerahkannya kepadaku tanpa berusaha menghindar.

“Balik fotonya,” katanya pelan.

Aku membaliknya.

Di bagian belakang terdapat tulisan tangan yang sudah hampir memudar.

Jangan berhenti menjadi dokter yang baik, meskipun suatu hari kamu kehilangan keberanian.

Dewi.

Aku mengangkat wajah.

Arjuna menatap foto itu dengan mata berkaca-kaca.

“Foto ini diberikan Dewi setelah kejadian yang hampir membuatku berhenti menjadi dokter.”

Aku terdiam.

Dia melanjutkan.

“Waktu itu aku masih dokter muda. Ada pasien yang kondisinya memburuk ketika tim kami sedang bertugas. Aku tidak melakukan kesalahan medis, tetapi aku terus menyalahkan diriku karena merasa tidak cukup cepat membantu.”

Arjuna menarik napas.

“Aku hampir mengundurkan diri dari pendidikan. Dewi tahu karena kami satu kelompok saat itu. Dia memberikan foto ini dan menuliskan pesan di belakangnya.”

“Jadi kamu menyimpannya sebagai pengingat?”

Arjuna mengangguk.

“Awalnya begitu.”

Aku menggenggam foto tersebut.

“Lalu setelah kamu menikah denganku?”

Dia terdiam lama.

“Aku seharusnya memberitahumu. Tapi semakin lama aku menyimpannya, semakin sulit bagiku menjelaskan. Aku takut kamu menganggap aku masih mencintainya.”

Aku menatapnya.

“Apakah kamu masih mencintainya?”

Arjuna menutup mata.

Untuk beberapa detik, dia tidak menjawab.

Keheningan itu terasa begitu panjang.

Kemudian dia berkata,

“Aku pernah mencintai Dewi.”

Aku merasakan sesuatu pecah di dalam dada.

“Tapi aku memilih menikah denganmu karena aku mencintaimu, Ayu. Bukan karena Dewi menolakku atau karena aku tidak punya pilihan lain.”

Aku menggeleng perlahan.

“Kalau begitu kenapa dia masih selalu berada di antara kita?”

Arjuna memandangku dengan mata merah.

“Karena aku tidak pernah benar-benar menyelesaikan masa laluku. Aku pikir selama aku tidak berselingkuh, semuanya baik-baik saja.”

Aku menunduk.

Air mataku jatuh ke atas foto kecil tersebut.

“Selama lima belas tahun, aku merasa sangat dicintai setiap kali melihat kamu menyentuh saku itu.”

Arjuna mengusap wajahnya.

“Ayu, maafkan aku.”

“Dan sekarang aku mengetahui bahwa gerakan itu bahkan tidak pernah ada hubungannya denganku.”

Dia ingin menggenggam tanganku, tetapi aku menariknya perlahan.

“Aku butuh waktu.”

Arjuna mengangguk.

Namun ketika aku mengatakan telah menerima program perawatan di Bandung, wajahnya langsung berubah panik.

“Kamu mau pergi?”

“Iya.”

“Kenapa tidak bicara denganku dulu?”

Aku menatapnya.

“Karena selama ini aku selalu menunda keputusan penting demi mempertimbangkan perasaanmu. Sekarang aku ingin memikirkan kesehatanku sendiri.”

Arjuna terdiam.

Tujuh hari kemudian, aku benar-benar pindah ke Bandung.

Rina membantuku mengurus kepindahan. Arjuna menawarkan diri untuk mengantar, tetapi aku menolak dengan baik.

Aku tidak membencinya.

Aku hanya membutuhkan ruang untuk memahami apakah pernikahan kami masih memiliki kepercayaan yang cukup untuk dipertahankan.

Selama tiga bulan pertama, aku menjalani perawatan secara teratur.

Kondisiku perlahan menjadi lebih stabil.

Aku mulai berjalan lebih jauh tanpa merasa terlalu lelah. Aku kembali membaca jurnal kedokteran dan mengikuti diskusi daring bersama beberapa rekan sejawat.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, kehidupanku tidak hanya berputar di sekitar obat, kamar rumah sakit, dan jadwal operasi Arjuna.

Suatu sore, ketika sedang duduk di taman pusat medis, aku menerima sebuah paket.

Pengirimnya Arjuna.

Di dalamnya ada sebuah album foto kecil.

Aku membukanya perlahan.

Halaman pertama berisi foto pernikahan kami.

Halaman berikutnya menampilkan perjalanan kami ke Yogyakarta, ulang tahunku yang ketiga puluh, dan foto kami tertawa di dapur ketika mencoba membuat kue untuk pertama kalinya.

Di halaman terakhir terdapat sebuah surat.

Ayu, selama ini aku menyimpan satu foto sebagai pengingat bahwa aku tidak boleh menyerah sebagai dokter. Namun aku lupa bahwa ada seseorang yang selama lima belas tahun terus mengajariku bagaimana menjadi manusia yang lebih baik. Orang itu adalah kamu.

Aku membaca surat itu sambil menangis.

Namun ada satu kalimat yang membuatku terdiam cukup lama.

Aku tidak mengirim album ini supaya kamu pulang. Aku mengirimnya karena kamu berhak tahu bahwa kehidupan kita bukan sekadar bayangan dari masa laluku.

Aku menutup album tersebut.

Untuk pertama kalinya, aku merasa Arjuna mulai memahami sesuatu yang selama ini tidak mampu kujelaskan.

Sebulan kemudian, dia datang ke Bandung.

Kami bertemu di taman yang sama.

Arjuna terlihat lebih kurus.

Dia duduk di sampingku dengan jarak yang sopan.

“Aku sudah berhenti menyimpan foto Dewi di saku jas,” katanya.

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

“Karena aku akhirnya sadar, keberanianku sebagai dokter tidak seharusnya bergantung pada satu foto dari masa lalu.”

Aku diam.

Arjuna melanjutkan.

“Aku juga sudah menyelesaikan urusan keuangan dengan keluarga Dewi. Semua pembayaran dicatat dengan jelas. Bagian uang bersama yang kugunakan tanpa membicarakannya denganmu sudah kukembalikan ke rekening kita.”

Aku mengangguk pelan.

“Bagus.”

Dia menarik napas.

“Ayu, aku tidak meminta kamu langsung percaya lagi. Tapi kalau kamu bersedia, aku ingin kita menjalani konseling pernikahan.”

Aku memandang wajahnya.

Lima belas tahun bersama tidak mungkin dihapus begitu saja.

Namun luka yang tercipta juga tidak bisa disembuhkan hanya dengan satu permintaan maaf.

“Aku mau mencoba,” jawabku akhirnya. “Tapi aku tidak mau kembali menjadi perempuan yang selalu mengalah.”

Arjuna mengangguk.

“Aku mengerti.”

Kami tidak langsung berpelukan.

Tidak ada janji dramatis.

Hanya dua orang yang akhirnya mulai berbicara dengan jujur setelah terlalu lama menyembunyikan hal-hal penting.

Enam bulan kemudian, kondisiku semakin membaik.

Aku mulai bekerja paruh waktu sebagai konsultan pendidikan medis di Bandung.

Arjuna masih bekerja di Jakarta, tetapi kami sepakat menjalani hubungan dengan lebih terbuka.

Setiap akhir pekan, dia datang berkunjung.

Kadang kami memasak bersama.

Kadang berjalan di taman.

Kadang hanya duduk sambil berbicara tentang hal-hal kecil yang dulu sering kami abaikan.

Suatu hari, sebelum kembali ke Jakarta, Arjuna mengeluarkan sebuah foto baru dari dompetnya.

Foto kami berdua di taman pusat medis Bandung.

Aku tertawa kecil.

“Mau disimpan di saku kiri lagi?”

Arjuna menggeleng sambil tersenyum.

“Tidak. Yang ini mau kutaruh di meja kerja.”

Aku mengangkat alis.

“Kenapa?”

“Karena aku tidak mau lagi menjadikan foto sebagai pengganti percakapan dengan orang yang kucintai.”

Aku tersenyum.

Namun sebelum dia pergi, aku bertanya satu hal.

“Arjuna, kalau dulu kamu tidak pernah bertemu Dewi, menurutmu hidupmu akan bagaimana?”

Dia berpikir sebentar.

“Mungkin aku tetap menjadi dokter. Mungkin tidak. Aku tidak tahu.”

“Dan kalau kamu tidak menikah denganku?”

Arjuna menatapku lama.

“Aku mungkin tetap punya karier yang baik. Tapi aku tidak akan mengenal kehidupan yang pernah kita bangun bersama.”

Aku mengangguk.

Untuk pertama kalinya, jawaban itu terasa cukup.

Bukan karena semua luka telah hilang.

Melainkan karena aku tidak lagi membutuhkan kepastian bahwa aku adalah satu-satunya perempuan yang pernah memiliki tempat di hatinya.

Aku hanya ingin memastikan bahwa dalam pernikahan kami, aku tidak lagi menjadi seseorang yang harus bersaing dengan kenangan.

Setahun setelah menemukan foto Dewi, aku kembali mengunjungi rumah sakit tempat Arjuna bekerja.

Hari itu dia baru selesai melakukan operasi panjang.

Ketika keluar dari ruang operasi, dia melihatku berdiri di ujung koridor.

Wajahnya langsung berbinar.

“Ayu? Kamu datang?”

Aku tersenyum.

“Iya. Ada seminar medis di Jakarta. Sekalian mampir.”

Arjuna berjalan mendekat.

Aku memperhatikan tangannya.

Sebelum memasuki ruang operasi tadi, dia tidak lagi menyentuh saku kiri jasnya.

Aku bertanya sambil bercanda,

“Sekarang ritual keberuntunganmu apa?”

Dia tertawa.

“Memeriksa persiapan tim, membaca ulang catatan pasien, lalu berdoa sebentar.”

Aku ikut tertawa.

Kami berjalan berdampingan menuju kantin rumah sakit.

Di sepanjang koridor, beberapa perawat menyapaku dengan hangat.

“Bu Ayu, sekarang terlihat lebih sehat!”

Aku mengangguk.

“Alhamdulillah, jauh lebih baik.”

Seorang perawat kemudian berkata,

“Dokter Arjuna sekarang juga berbeda, Bu. Lebih sering pulang tepat waktu.”

Arjuna tersenyum malu.

Aku menatapnya.

Laki-laki ini masih memiliki kekurangan.

Aku pun demikian.

Namun kini kami sama-sama memahami bahwa cinta tidak cukup hanya ditunjukkan melalui pengorbanan yang terlihat besar.

Cinta juga membutuhkan kejujuran dalam hal-hal kecil.

Tentang uang.

Tentang masa lalu.

Tentang perasaan yang belum selesai.

Dan tentang keberanian untuk mengakui kesalahan sebelum kebohongan berubah menjadi luka.

Sore itu, ketika kami duduk di kantin, Arjuna menggenggam tanganku.

“Ayu, terima kasih karena mau mencoba lagi.”

Aku tersenyum.

“Aku juga berterima kasih karena kamu akhirnya mau mendengarkan.”

Di luar jendela, hujan turun perlahan.

Aku teringat hari ketika menemukan foto Dewi di saku kiri jasnya.

Saat itu aku mengira seluruh pernikahan kami hanyalah kebohongan.

Kini aku tahu kenyataannya lebih rumit.

Arjuna memang pernah mencintai perempuan lain.

Dia memang menyembunyikan bantuan keuangan yang seharusnya kami bicarakan bersama.

Dan dia telah membuatku merasa tidak cukup berarti.

Namun selama lima belas tahun, ada pula kasih sayang nyata yang tidak bisa dihapus begitu saja.

Aku tidak memilih melupakan semuanya.

Aku memilih melihatnya dengan jujur.

Karena memaafkan bukan berarti berpura-pura tidak pernah terluka.

Dan mempertahankan pernikahan bukan berarti kembali menerima semua hal seperti sebelumnya.

Aku memandang tangan Arjuna yang menggenggam tanganku.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak lagi bertanya siapa yang ada di saku kiri jasnya.

Aku justru bertanya kepada diriku sendiri apakah aku merasa dihargai, didengar, dan aman berada di sampingnya.

Jawabannya kini perlahan menjadi iya.

Dan bagiku, itulah awal yang jauh lebih berharga daripada sebuah foto yang disimpan selama lima belas tahun.

Sebab cinta yang sehat tidak seharusnya membuat seseorang hidup dalam bayangan orang lain.

Cinta yang sehat memberi ruang bagi dua manusia untuk hadir sepenuhnya, dengan masa lalu yang telah diterima, kesalahan yang dipertanggungjawabkan, dan masa depan yang dibangun bersama.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang