Di Malam Ulang Tahun Suamiku, Aku Memergoki Asistennya Memakai Kimono

Aku membaca pesan pengacaraku sekali lagi, memastikan mataku tidak salah menangkap nama yang tertera di layar.

Maya Lestari.

Perempuan yang lima hari lalu mengenakan kimono pribadiku kini tercatat sebagai penerima sebagian saham perusahaan yang dibangun keluargaku.

Aku mengangkat wajah dan memandangnya.

Maya masih berdiri di samping mobil, berpura-pura menghapus air mata. Sementara Reza terlihat semakin kesal karena aku tidak segera masuk.

“Nadira, sampai kapan kamu mau mempermalukan orang di pinggir jalan?” tanyanya.

Aku memasukkan ponsel ke tas.

“Tidak lama lagi.”

Reza mengerutkan kening.

“Apa maksudmu?”

“Nanti kamu juga tahu.”

Taksi yang kupesan tiba beberapa menit kemudian. Aku masuk tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada mereka.

Sepanjang perjalanan menuju rumah keluarga Pradana, aku menghubungi pengacaraku, Dini.

“Berapa banyak saham yang dialihkan?” tanyaku begitu panggilan tersambung.

“Lima belas persen saham PT Pradana Mahendra Logistik. Pengalihannya tercatat enam bulan lalu melalui transaksi jual beli.”

Aku menegakkan tubuh.

“Itu perusahaan patungan keluarga kami.”

“Benar. Saham yang dialihkan sebelumnya tercatat atas nama Reza.”

Aku terdiam.

Dini melanjutkan, “Secara administratif, transaksi itu terlihat seperti pengalihan biasa. Tetapi kami menemukan ketidaksesuaian pada dokumen persetujuan internal. Ada tanda tangan yang menyerupai tanda tangan Anda.”

Dadaku mendadak sesak.

“Aku tidak pernah menyetujui transaksi apa pun.”

“Itulah yang harus kita buktikan. Saya sudah meminta salinan dokumen resmi melalui prosedur yang berlaku. Jangan menandatangani apa pun sebelum kita memeriksa semuanya.”

Aku menutup telepon tepat ketika mobil memasuki halaman rumah mertuaku.

Bu Ratih menyambutku dengan pelukan hangat.

“Nadira, akhirnya kamu datang. Mama kangen sekali.”

Aku membalas pelukannya.

Selama tiga tahun menikah, perempuan itu tidak pernah memperlakukanku sebagai menantu yang harus selalu mengalah.

Justru karena itulah aku merasa berat menghadapi makan malam tersebut.

“Kamu kelihatan kurus,” katanya sambil mengusap pipiku.

“Cuma banyak pekerjaan, Ma.”

Kami baru duduk ketika mobil Reza tiba.

Maya turun lebih dulu.

Aku mengira Reza akan mengantarnya pulang, tetapi ternyata perempuan itu ikut masuk ke rumah.

Bu Ratih menatap mereka dengan heran.

“Maya? Kamu juga datang?”

Maya tersenyum manis.

“Maaf, Tante. Mas Reza bilang saya boleh ikut karena ada beberapa dokumen pekerjaan yang harus diselesaikan.”

Aku memperhatikan perubahan wajah ibu mertuaku.

“Ini makan malam keluarga,” katanya datar.

Reza segera menyela.

“Ma, Maya cuma sebentar.”

Bu Ratih tidak menjawab. Ia justru menggandeng tanganku menuju ruang makan.

Sepanjang makan malam, Maya beberapa kali mencoba melibatkan diri dalam percakapan keluarga.

Ia mengambilkan air untuk Reza, mengingatkan bahwa suamiku tidak menyukai makanan terlalu pedas, bahkan menawarkan diri membantu Bu Ratih memilih dekorasi untuk acara ulang tahun perusahaan.

Aku hanya makan dengan tenang.

Sampai akhirnya Pak Surya, ayah mertua, membicarakan rencana ekspansi perusahaan.

“Bulan depan kita perlu mengadakan rapat pemegang saham. Ada beberapa perubahan struktur kepemilikan yang harus dibahas.”

Tanganku berhenti bergerak.

Reza langsung menjawab, “Semuanya sudah saya urus, Pa.”

Aku meletakkan sendok.

“Termasuk pengalihan lima belas persen saham kepada Maya?”

Suasana ruang makan seketika membeku.

Maya menjatuhkan sendoknya.

Reza menatapku tajam.

“Kamu bicara apa?”

Aku menatapnya tanpa tersenyum.

“PT Pradana Mahendra Logistik. Enam bulan lalu. Lima belas persen saham atas namamu dialihkan kepada Maya Lestari. Apa aku salah?”

Pak Surya langsung menoleh kepada putranya.

“Reza, apa ini benar?”

Reza mengusap wajah.

“Itu transaksi investasi pribadi.”

“Investasi pribadi?” ulang Pak Surya. “Kamu mengalihkan saham perusahaan keluarga tanpa memberitahuku?”

Reza tampak gelisah.

“Aku punya hak atas saham itu.”

“Memiliki saham tidak berarti kamu boleh mengabaikan anggaran dasar perusahaan dan perjanjian para pemegang saham.”

Maya tiba-tiba berdiri.

“Tante, Om, sepertinya saya lebih baik pulang.”

Bu Ratih menatapnya dingin.

“Duduk dulu, Maya. Kalau namamu memang tercantum dalam transaksi itu, kamu juga perlu memberikan penjelasan.”

Untuk pertama kalinya, Maya kehilangan senyum manisnya.

Reza memandangku dengan amarah yang tidak lagi disembunyikan.

“Kamu sengaja datang untuk merusak makan malam keluarga?”

Aku menggeleng.

“Aku datang karena Mama mengundangku. Tapi sepertinya memang sudah waktunya semua orang mengetahui apa yang selama ini kamu lakukan.”

Pak Surya meminta Reza menjelaskan transaksi tersebut.

Awalnya Reza mengaku telah menjual saham kepada Maya sebagai bagian dari skema penghargaan karyawan.

Namun ketika ditanya mengapa seorang asisten yang baru bekerja kurang dari setahun menerima kepemilikan sebesar itu, jawabannya mulai berubah.

“Dia membantu banyak proyek penting.”

Pak Surya menatapnya tidak percaya.

“Lima belas persen saham perusahaan bukan bonus tahunan, Reza!”

Maya mulai menangis.

“Saya tidak pernah meminta semua ini. Mas Reza sendiri yang menawarkan.”

Aku memandangnya.

“Kalau begitu, berapa harga yang kamu bayarkan untuk saham tersebut?”

Maya terdiam.

“Dalam dokumen tercantum nilai transaksi beberapa miliar rupiah. Uangnya berasal dari mana?”

Ia menoleh kepada Reza.

Suamiku langsung berkata, “Itu bukan urusanmu, Nadira.”

Aku tersenyum tipis.

“Menarik. Ketika aku menemukan perempuan lain memakai kimono milikku, kamu bilang itu bukan masalah besar. Sekarang ketika saham perusahaan keluargaku berpindah kepadanya, kamu juga bilang bukan urusanku.”

Reza berdiri dengan kasar.

“Cukup!”

Pak Surya membentak untuk pertama kalinya.

“Duduk, Reza!”

Seluruh ruangan terdiam.

Ayah mertuaku menatap putranya dengan wajah merah padam.

“Besok pagi, kamu datang ke kantor bersama seluruh dokumen transaksi. Sampai pemeriksaan selesai, jangan membuat keputusan tambahan terkait kepemilikan perusahaan.”

Reza tidak membantah.

Namun ketika kami keluar dari ruang makan, ia mendekat dan berbisik di telingaku.

“Kamu akan menyesali ini.”

Aku menatapnya.

“Ancamanmu sebaiknya disimpan. Mungkin nanti dibutuhkan sebagai bukti tambahan.”

Wajahnya langsung berubah.

Keesokan paginya, Dini datang ke kantorku membawa hasil pemeriksaan awal.

Kami menemukan bahwa pembayaran pembelian saham Maya berasal dari sebuah perusahaan investasi bernama PT Cakrawala Sentosa.

Perusahaan tersebut ternyata baru berdiri delapan bulan sebelumnya.

Direktur utamanya adalah seorang pria bernama Damar Wijaya.

Aku mengenal nama itu.

Damar pernah menjadi penasihat keuangan Reza sebelum kami menikah.

Namun, dua tahun lalu ia diberhentikan dari salah satu proyek keluarga karena ditemukan ketidaksesuaian laporan pengeluaran.

“Ada yang lebih menarik,” kata Dini.

Ia memperlihatkan struktur kepemilikan PT Cakrawala Sentosa.

Pemegang saham pengendalinya tercatat melalui perusahaan lain yang memiliki hubungan dengan Reza.

Aku memandangi layar laptop.

“Jadi uang untuk membeli saham Reza mungkin berasal dari jaringan perusahaan yang dikendalikannya sendiri?”

“Itu salah satu kemungkinan yang perlu diperiksa. Kami belum bisa menyimpulkan aliran dananya tanpa dokumen bank dan catatan transaksi lengkap.”

Aku mengangguk.

“Lalu kenapa saham itu ditempatkan atas nama Maya?”

Dini menatapku.

“Pertanyaan itulah yang paling penting.”

Tiga hari kemudian, jawabannya mulai terlihat.

Seorang staf keuangan lama menghubungi Dini melalui saluran pelaporan internal perusahaan.

Ia menyerahkan informasi mengenai beberapa instruksi pembayaran yang dibuat Reza.

Dari pemeriksaan tim audit, muncul dugaan bahwa dana sejumlah proyek pernah dipindahkan ke perusahaan perantara dengan alasan pembayaran jasa konsultasi.

Sebagian transaksi tersebut tidak memiliki bukti pekerjaan yang memadai.

Nilainya mencapai miliaran rupiah.

Aku merasa tubuhku dingin.

Selama ini aku tahu Reza menyukai investasi berisiko. Tetapi aku tidak pernah membayangkan ia mungkin menggunakan perusahaan keluarga untuk menutupi kerugian bisnis pribadinya.

Pada pertemuan berikutnya, Pak Surya memperlihatkan hasil audit awal kepada Reza.

“Kamu harus menjelaskan semuanya.”

Reza duduk dengan wajah pucat.

“Aku bisa mengembalikan uangnya.”

Pak Surya memejamkan mata.

“Berarti memang ada dana yang kamu gunakan tanpa dasar yang jelas?”

Reza menunduk.

“Aku mengalami kerugian besar dalam investasi properti. Awalnya kupikir bisa kututup sebelum ada yang mengetahui.”

Aku menatapnya.

“Lalu Maya?”

Reza tidak menjawab.

Pak Surya memukul meja.

“Reza!”

Akhirnya suamiku mengaku bahwa ia telah menjalin hubungan pribadi dengan Maya selama hampir satu tahun.

Ia juga menjanjikan perempuan itu kepemilikan saham sebagai jaminan masa depan mereka.

Namun, pengalihan tersebut sekaligus berkaitan dengan rencananya memindahkan sebagian aset melalui jaringan perusahaan yang terhubung dengan Damar.

Maya mengetahui sebagian rencana itu, meskipun ia mengaku tidak memahami seluruh transaksi keuangan.

Aku mendengarkan tanpa menangis.

Yang terasa bukan lagi sakit hati.

Melainkan kekecewaan yang begitu dalam sampai hampir tidak menyisakan emosi.

“Kamu menikahiku karena apa, Reza?” tanyaku akhirnya.

Ia mengangkat wajah.

“Nadira…”

“Karena aku, atau karena keluargaku memiliki saham yang kamu butuhkan?”

Reza tidak menjawab.

Keheningannya membuatku mendapatkan jawaban yang selama ini kutakuti.

Aku berdiri.

“Mulai sekarang, semua urusan perceraian dan pembagian aset kita lakukan melalui pengacara.”

Reza mencoba memegang tanganku.

“Aku masih mencintaimu.”

Aku menarik tanganku perlahan.

“Mungkin kamu pernah mencintaiku. Tapi cinta tidak membuat seseorang berhak mengkhianati kepercayaan pasangannya.”

Aku meninggalkan ruang rapat.

Beberapa minggu kemudian, perusahaan mengambil langkah hukum atas temuan audit yang telah diverifikasi.

Transaksi saham yang dipersoalkan diperiksa melalui mekanisme korporasi dan proses hukum yang sesuai.

Reza diberhentikan dari jabatan direktur operasional berdasarkan keputusan organ perusahaan yang berwenang.

Sementara itu, penyelidikan terhadap penggunaan dana dan dokumen transaksi masih berlangsung.

Aku tidak ikut menentukan hukuman apa pun.

Aku hanya memastikan hakku terlindungi dan seluruh dokumen diserahkan secara benar.

Bu Ratih datang menemuiku di rumah orang tuaku beberapa hari setelahnya.

Begitu melihatku, ia langsung menangis.

“Maafkan Mama, Nadira.”

Aku memeluknya.

“Mama tidak melakukan kesalahan.”

“Tapi anak Mama yang menyakitimu.”

Aku menggeleng.

“Reza sudah dewasa. Dia bertanggung jawab atas pilihannya sendiri.”

Bu Ratih menggenggam tanganku.

“Kalau perceraian kalian selesai, Mama berharap kamu tidak merasa harus memutus hubungan dengan kami.”

Aku tersenyum dengan mata berkaca-kaca.

“Mama tetap orang yang pernah memperlakukanku seperti anak sendiri.”

Enam bulan kemudian, proses perceraianku selesai.

Aku kembali memusatkan perhatian pada pekerjaanku di perusahaan keluarga Mahendra.

Ayah sempat menawarkan jabatan direktur pengembangan bisnis, tetapi aku meminta waktu untuk membuktikan kemampuanku melalui proyek yang kutangani sendiri.

Aku tidak ingin seluruh hidupku terus dikaitkan dengan pernikahan yang gagal.

Setahun kemudian, proyek ekspansi perusahaan ke Surabaya berhasil diselesaikan.

Aku membeli sebuah rumah kecil tidak jauh dari kantor cabang.

Rumah itu tidak sebesar rumah yang pernah kutinggali bersama Reza.

Tidak ada tangga marmer atau lampu gantung mahal.

Namun setiap sudutnya kupilih sendiri.

Pada suatu sore, ketika sedang menyusun buku di ruang tamu, ponselku menerima pesan dari nomor yang tidak kusimpan.

Pesan itu berasal dari Maya.

Ia menulis bahwa hubungannya dengan Reza sudah berakhir. Ia juga telah memberikan keterangan dan menyerahkan dokumen yang dimilikinya kepada pihak yang menangani perkara.

Di akhir pesan, ia meminta maaf karena pernah mengenakan kimono milikku dengan sengaja.

Aku berhenti membaca.

Jadi benar.

Malam itu, Maya memang tidak sekadar meminjam pakaian karena kehujanan.

Ia ingin aku melihatnya.

Ia ingin menunjukkan bahwa dirinya sudah memiliki tempat dalam kehidupan suamiku.

Aku membalas singkat.

Terima kasih sudah mengakui perbuatanmu. Semoga kamu belajar menghormati batas orang lain.

Setelah itu, aku menghapus percakapan tersebut.

Aku tidak merasa menang.

Namun, aku juga tidak lagi merasa kalah.

Beberapa hari kemudian, aku menemukan kotak hadiah hitam yang dahulu kubuang pada malam ulang tahun Reza.

Ternyata sopir keluarga sempat mengambilnya dari tempat sampah dan menyimpannya di gudang rumah orang tuaku.

Kotaknya sedikit rusak, tetapi jam tangan di dalamnya masih utuh.

Aku membawanya ke toko tempat membelinya.

Pegawai menawarkan layanan penjualan kembali melalui mitra mereka.

Aku menyetujuinya.

Uang hasil penjualan jam tersebut kemudian kugunakan untuk mendanai pelatihan keterampilan bagi beberapa perempuan yang sedang membangun usaha kecil.

Salah seorang peserta bernama Lina pernah bertanya mengapa aku memilih membantu program itu.

Aku tersenyum.

“Karena aku tahu rasanya ketika seseorang membuat kita merasa tidak memiliki kendali atas hidup sendiri.”

Lina mengangguk tanpa bertanya lebih jauh.

Malam itu, setelah kegiatan selesai, aku pulang dan duduk di teras rumah.

Angin membawa aroma tanah basah setelah hujan.

Aku teringat malam ketika pertama kali menemukan Maya mengenakan kimono sutraku.

Dulu, aku mengira kejadian itu adalah penghinaan terbesar dalam pernikahanku.

Namun ternyata, penghinaan sebenarnya bukanlah pakaian yang dikenakan perempuan lain.

Melainkan kenyataan bahwa suamiku menganggap kesetiaanku, kepercayaanku, dan keluargaku sebagai sesuatu yang bisa dimanfaatkan tanpa konsekuensi.

Aku berdiri dan masuk ke kamar.

Di dalam lemari, ada sebuah kimono baru berwarna biru tua yang kubeli untuk diriku sendiri.

Aku mengenakannya, kemudian berdiri di depan cermin.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tersenyum melihat perempuan yang berdiri di hadapanku.

Dia tidak lagi menjadi istri Reza Pradana.

Dia juga bukan perempuan yang harus bersaing dengan asistennya untuk mendapatkan perhatian.

Dia adalah Nadira Mahendra.

Seseorang yang pernah kehilangan kepercayaan terhadap orang yang paling dekat dengannya, tetapi tidak kehilangan kemampuan untuk membangun kehidupan baru.

Aku mematikan lampu kamar dan berjalan menuju jendela.

Dari sana terlihat cahaya kota Surabaya yang mulai menyala satu per satu.

Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti aku akan kembali jatuh cinta.

Namun, aku tahu bahwa kebahagiaanku tidak lagi bergantung pada keputusan seseorang untuk tetap tinggal.

Dan ketika mengenang malam ulang tahun Reza, aku akhirnya memahami sesuatu.

Pesan singkat yang kukirim kepada pengacaraku malam itu bukanlah awal kehancuran rumah tanggaku.

Rumah tangga itu sudah lama retak oleh kebohongan dan pengkhianatan.

Pesan tersebut justru menjadi awal ketika aku berhenti mempertahankan sesuatu yang selama ini hanya kuselamatkan seorang diri.

Aku pernah datang lebih awal dari perjalanan bisnis untuk memberikan kejutan ulang tahun kepada suamiku.

Namun tanpa kusadari, malam itu aku justru mendapatkan hadiah yang jauh lebih berharga.

Kesempatan untuk menemukan kembali harga diriku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang