“Kalau itu baru sebagian kecil,” bisikku, “sebenarnya berapa hak Emak?”
Bu Niluh tidak langsung menjawab. Ia menoleh kepada Yuna yang tertidur dengan infus di tangan, lalu menggeser kursi agar kami bisa berbicara pelan.

“Sebelum membicarakan angka, ada sesuatu yang harus kamu tahu. Emas itu bukan hadiah dari saya.”
Dari tasnya, ia mengeluarkan foto hitam putih. Seorang lelaki berdiri di depan bangunan bertuliskan nama usaha penggilingan padi. Di sebelahnya, seorang gadis berkepang tersenyum malu.
Aku mengenali mata gadis itu.
“Emak?”
Bu Niluh mengangguk.
“Tanah dan penggilingan itu milik ayahnya. Setelah beliau meninggal, pengelolaannya dititipkan kepada ayah saya karena ibumu masih muda.”
“Lalu?”
“Ayah saya menjualnya tanpa menyerahkan seluruh bagian ibumu.”
Aku menatap perempuan itu. Suara roda troli di lorong mendadak terdengar begitu keras.
“Emak tahu?”
“Belakangan. Waktu itu dia sudah menikah dan pindah ke sini. Dia datang membawa surat, tetapi selalu diminta menunggu. Setelah beberapa kali, dia berhenti datang.”
Aku teringat kebiasaan Emak menyimpan kuitansi belanja di dalam kaleng biskuit. Bahkan uang dua ribu yang dipinjam tetangga selalu dicatatnya.
Ternyata, ada kehilangan jauh lebih besar yang tidak pernah ia ceritakan.
“Saya baru menemukan berkasnya tahun lalu, setelah ayah saya meninggal,” lanjut Bu Niluh. “Saya menelusuri keluarganya. Hampir enam bulan sampai akhirnya bertemu ibumu.”
“Kenapa Emak tidak bilang kepadaku?”
Bu Niluh menunduk.
“Mungkin karena dia belum percaya semuanya akan selesai.”
Ia menyerahkan map. Di dalamnya ada salinan dokumen lama, perhitungan, dan surat kesepakatan yang ditandatangani Emak.
Jemari telunjukku berhenti pada sebuah angka.
“Tiga miliar delapan ratus juta?”
“Itu nilai penyelesaian yang kami sepakati setelah memperhitungkan bagian tanah dan hasil usahanya. Sebagian sudah diberikan dalam bentuk emas sesuai permintaan ibumu. Sisanya belum sempat diserahkan.”
Aku menutup map.
Tiga hari lalu, aku masih menghitung recehan untuk membeli sarapan Raka. Pagi tadi, aku menunda membalas pesan bagian administrasi rumah sakit karena takut membaca jumlah tagihan Yuna.
“Kenapa harus emas?”
“Katanya, supaya tidak mudah dihabiskan. Dia ingin kamu punya pegangan kalau suatu hari perlu pergi.”
Kalimat terakhir itu membuatku mengangkat wajah.
Bu Niluh mengamatiku dengan hati-hati.
“Ibumu pernah bercerita tentang Imran.”
Aku spontan menarik lengan baju menutupi pergelangan tangan, meski bekas memarnya sudah memudar.
Raka berhenti melipat pesawat kertas.
“Bu, Ayah nanti datang lagi?”
Aku menggeleng, tetapi belum sempat menjawab ketika pintu terbuka.
Mas Imran berdiri di sana.
Tatapannya langsung tertuju pada map di pangkuanku, kemudian beralih kepada Bu Niluh.
“Pantas teleponku tidak diangkat. Rupanya sedang ada pertemuan penting.”
Aku berdiri.
“Mas tahu aku di sini dari siapa?”
“Rini bilang ada kerabat kaya mencarimu.”
Ia mendekat sambil tersenyum kepada Bu Niluh.
“Saya suaminya Hayu. Kalau urusan keluarga, seharusnya dibicarakan dengan saya juga.”
Bu Niluh tidak membalas senyumnya.
“Saya sedang berbicara dengan Hayu.”
Imran menarik kursi.
“Ya, saya cuma tidak mau istri saya ditipu. Kemarin ada orang menaksir emas peninggalan ibunya sampai ratusan juta. Saya bilang jangan sembarangan menjual.”
Aku menatapnya tak percaya.
“Mas justru menyuruhku menyerahkan semuanya kepada teman Mas.”
“Karena dia bisa dipercaya.”
“Dia menawarkan dua puluh juta.”
Wajah Imran menegang. Bu Niluh perlahan merapatkan map di atas meja.
“Besok kita bisa periksa ke tempat resmi,” katanya kepadaku. “Tidak perlu memutuskan malam ini.”
Imran mengulurkan tangan hendak mengambil map itu.
“Biar saya lihat dulu.”
Aku menahannya.
“Ini punyaku.”
Dua kata itu membuat ruangan mendadak sunyi.
Selama delapan tahun menikah, aku selalu menyerahkan uang karena Imran bilang aku tidak pandai mengatur keuangan. Bahkan gaji menjahitku masuk ke rekeningnya. Ketika Yuna sakit, aku harus memohon agar ia mengirim biaya pemeriksaan.
“Jangan mempermalukan aku,” desisnya.
“Aku tidak sedang mempermalukan siapa pun.”
Tangannya mencengkeram lenganku. Raka langsung berdiri.
“Jangan sakiti Ibu!”
Suara anakku membuat perawat membuka pintu. Lelaki yang tadi menunggu di luar ikut mendekat, tetapi Bu Niluh lebih dulu berdiri di antara kami.
“Lepaskan tangannya.”
Imran memandang orang-orang di pintu, lalu melepaskanku.
“Kita bicarakan di rumah.”
“Aku dan anak-anak akan tinggal di rumah Emak setelah Yuna pulang.”
Ia tertawa pendek.
“Sekarang sudah merasa kaya?”
Aku memeluk Raka yang gemetar.
“Sekarang aku tidak mau dia ketakutan lagi.”
Imran pergi setelah perawat memintanya menenangkan diri di luar.
Malam itu, aku akhirnya menceritakan semuanya. Tentang cicilan yang memakai namaku, tabungan yang tidak pernah boleh kupegang, dan Emak yang diam-diam menyelipkan uang setiap kali aku pulang.
Bu Niluh mendengarkan tanpa menyuruhku bersabar.
Besoknya, ia mengantarku memeriksa emas itu. Nilainya hampir empat ratus juta rupiah. Aku menjual secukupnya untuk kebutuhan pengobatan dan menyimpan sisanya dengan aman.
Untuk dokumen warisan dan utang atas namaku, aku mencari bantuan pendamping hukum. Penyelesaiannya tidak singkat, tetapi kali ini aku membaca setiap lembar sebelum menandatangani.
Seminggu kemudian, Yuna diizinkan pulang.
Di dapur Emak, Mbak Rini membantuku memindahkan lemari yang rapuh. Di belakangnya terselip kaleng biskuit berkarat.
Isinya surat-surat lama dan sebuah amplop bertuliskan namaku.
Hayu, kalau kamu menemukan ini, jangan marah karena Emak tidak segera bercerita. Emak masih menunggu urusannya jelas. Emak takut kamu berharap, lalu kecewa seperti Emak dulu.
Air mataku jatuh ke kertas.
Emak tidak pandai bicara ketika melihat kamu pulang dengan mata sembap. Emak cuma tahu menyiapkan nasi. Tapi kalau kamu perlu pulang, rumah ini tidak pernah terlalu sempit untuk kamu dan anak-anak.
Di bawah surat itu ada bukti permohonan penghentian bansos.
Tanggalnya sehari setelah Emak menerima emas.
Aku menangis lebih keras. Perempuan yang kukira tidak punya apa-apa itu bahkan sudah memikirkan agar bagiannya tidak mengambil hak orang lain.
“Rumah Nenek mau dijual, Bu?” tanya Raka dari pintu.
Aku memandang dapur reyot, kendi kosong, dan meja tempat Emak biasa menungguku makan.
“Tidak,” jawabku sambil membuka jendela. “Kita perbaiki. Lalu kita tinggal di sini.”
Raka berlari mengambil pesawat kertasnya. Untuk pertama kalinya sejak berhari-hari, ia bermain tanpa bertanya kapan ayahnya datang.
