KUBALAS YANG MENGHINA SUAMI DAN IBU MERTUA (7)

Pelukan itu belum terlepas ketika ponsel di saku Jelita bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenalnya.

Hebat sekali menantu orang kaya. Sudah merusak barang, menghina tuan rumah pula. Jangan kira uang bisa membeli harga diri warga sini.

Di bawahnya ada video singkat. Wajah Jelita terlihat jelas ketika ia berkata bahwa biaya hajatan itu belum seberapa dibandingkan uangnya.

Bagian saat Tantri menghina Murni tidak ada.

Jelita menatap layar dengan perut mengencang.

“Ada apa, Neng?” tanya Murni.

“Tidak apa-apa, Bu. Ayo pulang. Tangan Ibu perlu dibilas.”

Namun, menjelang sore, Wira pulang membawa kegelisahan yang sama. Ia meletakkan tas perkakas di dekat pintu, lalu menunjukkan video dari grup warga.

“Ini yang terjadi tadi?”

Jelita mengangguk.

“Tapi sebelumnya—”

“Aku mau dengar dari kalian,” potong Wira pelan. “Bukan dari video.”

Kalimat itu membuat pertahanan Jelita luruh. Ia menceritakan semuanya, termasuk tuduhan tentang kehamilan, piring yang pecah, dan ucapannya sendiri yang telanjur merendahkan.

“Aku marah, Mas. Tapi aku tahu kalimat terakhirku salah.”

Wira duduk di hadapannya.

“Terima kasih sudah membela Ibu.”

Jelita mendongak, terkejut.

“Tapi orang yang mencuci piring tetap pantas dihormati, meskipun tidak punya uang untuk mengganti apa pun.”

Jelita menunduk. Di tengah kemarahannya, ia memang masih memakai kekayaan sebagai senjata.

“Aku mengerti.”

Dari dapur, terdengar gelas diletakkan terlalu keras. Murni berdiri sambil memegang nampan.

“Sudah, jangan diperpanjang. Besok Ibu ke rumah Tantri, minta maaf.”

“Untuk apa, Bu?” tanya Wira.

“Supaya selesai.”

“Kalau selesai berarti Ibu harus menerima dihina, itu belum selesai.”

Murni terdiam.

Malam itu, ketukan keras terdengar di pintu. Tantri datang bersama Sukma dan Pak Hadi, ketua RT. Di tangannya ada kertas bertuliskan angka.

“Uang istrimu kurang,” katanya sebelum dipersilakan duduk. “Piringnya barang sewaan. Pemiliknya minta ganti satu set. Satu juta delapan ratus.”

Jelita mengingat uang lima ratus ribu yang ditinggalkannya.

“Boleh lihat tagihan dari tempat persewaannya?”

Tantri menyodorkan kertas itu.

Tidak ada nama usaha, hanya angka dan tulisan tangan.

“Bisa kita hubungi pemiliknya?” tanya Wira.

“Jadi sekarang saya dituduh bohong?”

“Tidak. Kami ingin membayar sesuai kerusakannya.”

Sukma mendengus.

“Tadi siang bisa membanggakan uang, sekarang tiga piring saja dihitung.”

Jelita merasakan wajahnya panas, tetapi ia tidak menyahut.

Pak Hadi akhirnya meminta nomor pemilik persewaan. Setelah berdebat beberapa menit, Tantri memberikannya dengan gerakan kesal.

Telepon tersambung.

“Piring pecah tiga? Yang putih pinggir biru?” terdengar suara seorang laki-laki.

“Iya, Pak.”

“Tujuh puluh lima ribu semuanya. Saya sudah bilang kepada Bu Tantri tadi.”

Ruangan mendadak hening.

Pak Hadi menatap kertas di tangannya.

“Lalu satu juta delapan ratus ini?”

“Belum termasuk kerugian lain,” jawab Tantri cepat. “Pekerjaan terbengkalai. Saya harus mencari orang pengganti.”

Jelita menarik napas.

“Kalau begitu, kita rinci bersama. Termasuk uang saya yang sudah Ibu terima.”

Tantri berdiri.

“Sudahlah! Saya tidak butuh uang kalian!”

“Ibu tadi datang menagih,” kata Pak Hadi, kali ini lebih tegas. “Duduk dulu. Kita bereskan.”

Saat itulah Murni keluar dari kamar membawa buku tulis bersampul cokelat.

“Ibu juga ingin membereskan sesuatu.”

Wira mengernyit.

Buku itu berisi catatan kecil. Tanggal hajatan, nama pemilik rumah, uang yang dijanjikan, dan jumlah yang sudah diterima.

Di samping nama Tantri, ada tiga tanggal berbeda. Semuanya diberi tanda belum dibayar.

“Dulu saya diam karena katanya uangnya belum ada,” ujar Murni. “Tapi hari ini Ibu bilang upah saya dipotong. Jadi saya ingin tahu, upah yang mana?”

Tantri menatap buku itu tanpa berkedip.

Sukma yang sejak tadi lantang mulai menggeser kursinya.

“Kenapa Ibu tidak pernah cerita?” suara Wira terdengar berat.

Murni mengusap pinggir buku.

“Kamu sudah banyak pikiran. Ibu juga malu menagih. Takut nanti dibilang tidak ikhlas membantu.”

Jelita menatap tangan ibu mertuanya yang pecah-pecah. Mendadak ia memahami bahwa kepergian Murni ke hajatan bukan sekadar untuk mengisi waktu. Ada penghasilan kecil yang diperjuangkannya diam-diam.

Pak Hadi memeriksa catatan itu bersama Murni. Tantri beberapa kali membantah jumlahnya, tetapi percakapan lama di ponsel Murni menunjukkan janji pembayaran yang sama.

Malam itu, mereka menghitung semuanya. Sisa uang pengganti piring harus dikembalikan, begitu pula upah yang tertunggak.

Sebelum pulang, Pak Hadi meminta video di grup diluruskan.

“Saya yang akan jelaskan hasil pertemuan ini,” katanya. “Tidak perlu ada tambahan cerita.”

Namun, Jelita meminta waktu sebentar.

Ia mengambil ponsel, lalu menulis di grup warga dengan tangan masih gemetar.

Ia mengakui telah memecahkan tiga piring dan meminta maaf atas ucapan yang menyombongkan kekayaan. Ia juga menjelaskan bahwa pembayaran sudah diselesaikan dan meminta tuduhan tentang dirinya serta penghinaan kepada Murni dihentikan.

Tidak ada kalimat ancaman.

Setelah pesan terkirim, ia mematikan layar.

Beberapa hari berikutnya terasa canggung. Ada warga yang menghindar, ada pula yang datang meminta maaf. Seorang perempuan yang ikut menertawakannya di dapur membawa pisang dari kebun.

“Saya dengar dari Sukma, lalu ikut bicara. Seharusnya saya tanya dulu.”

Jelita menerima permintaan maaf itu tanpa memaksakan senyum.

Sementara itu, Murni mulai menolak ajakan yang tidak jelas pekerjaannya.

“Kalau hanya membantu sebentar, saya bisa,” katanya suatu pagi melalui telepon. “Kalau dari pagi sampai malam, kita sepakati upahnya dulu.”

Sesudah menutup telepon, ia tertawa malu melihat Jelita dan Wira memperhatikannya.

“Ibu terlalu galak?”

“Belum, Bu,” jawab Wira. “Baru jelas.”

Sebulan kemudian, Jelita membantu Murni membuat daftar pesanan nasi kotak. Dua tetangga bergabung, dengan pembagian tugas dan bayaran yang dicatat terbuka.

Pesanan pertama datang dari Pak Hadi.

Pada pagi pengantaran, Jelita berdiri di depan bak cuci. Ia memegang piring erat-erat, menggosoknya perlahan, lalu membilas.

Tidak pecah.

Ia mengangkatnya dengan bangga. Murni tertawa dari dekat kompor.

“Nah, sudah bisa.”

Jelita ikut tertawa. Setelah delapan piring, lengannya mulai pegal. Ia memandang tumpukan berikutnya, lalu teringat halaman belakang Tantri.

“Bu,” katanya lirih, “maaf waktu itu aku bilang Ibu tidak perlu mencuci piring lagi.”

Murni menoleh.

“Aku seharusnya bilang Ibu tidak perlu diperlakukan buruk saat bekerja.”

Murni menghampirinya, lalu mengambil kain pengering.

“Kalau begitu, Neng cuci. Ibu lap.”

Mereka berdiri berdampingan di depan bak kecil itu. Untuk pertama kalinya, Jelita tidak merasa sedang belajar hidup di rumah orang lain.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang