“Ayahmu.”
Satu kata itu membuat tanganku membeku pada gagang telepon.
“Tidak mungkin.”

Pak Banu menatapku dengan mata merah. “Dia datang membawa foto anak saya pulang sekolah. Katanya, kalau saya mengaku, keluarga saya tidak akan diganggu.”
“Bapak melihat Ayah membunuh Pak Raden?”
“Tidak. Saya menemukan Pak Raden sudah tergeletak di kantornya. Ayahmu ada di sana. Bajunya berlumuran darah.”
Sebelum aku sempat bertanya lagi, pintu ruang kunjungan terbuka. Pak Ahmad berdiri di ambangnya.
“Waktunya selesai.”
Pak Banu langsung menunduk. Ketika dibawa pergi, ia tidak sekali pun menoleh.
Di luar, Juan menanyakan hasil pertemuan. Aku hanya menggeleng. Uang yang kuserahkan kepada ayahnya tadi pagi mendadak terasa seperti pintu yang kubuka sendiri untuk seseorang mengawasiku.
Sepanjang perjalanan pulang, aku memandangi pesan Ayah di ponsel.
Sudah makan, Fan?
Untuk pertama kalinya, pertanyaan sederhana itu membuatku takut.
Malamnya, aku berpura-pura tidur. Pukul dua kurang beberapa menit, terdengar langkah melewati kamarku. Dari celah pintu, kulihat Ayah membawa nampan menuju halaman belakang.
Aku menunggu, lalu mengikutinya.
Di dalam gudang, Ayah menggeser rak perkakas. Sebuah pintu rendah terbuka. Cahaya kuning menyinari tangga sempit di bawahnya.
Aku mendekat ketika suara percakapan terdengar.
“Banu masih diam?” tanya seseorang.
“Sejauh ini.”
“Arif bisa meninggal.”
“Aku tahu.”
Darahku berdesir. Aku mundur, tetapi tumitku menyenggol ember.
Ayah muncul di ujung tangga.
“Irfan?”
Aku mengangkat ponsel dengan tangan gemetar.
“Jangan mendekat. Aku sudah tahu tentang Pak Banu.”
Wajah Ayah berubah.
“Kamu menemuinya?”
“Ayah mengancam keluarganya?”
Ayah menunduk. Keheningan itu terasa seperti pengakuan.
Dari bawah, seorang perempuan bersuara lemah.
“Surya, biarkan dia turun. Sudah cukup banyak orang celaka karena kita terus bersembunyi.”
Di ruangan itu, aku menemukan seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahun. Tungkai kirinya dibalut, wajahnya pucat. Di samping kasur terdapat laptop dan tumpukan berkas.
Aku mengenalinya dari foto di kantor desa.
Bu Ratih, bendahara koperasi yang kabarnya melarikan uang anggota.
“Ibu tidak kabur,” katanya sebelum aku bertanya. “Saya menemukan transaksi palsu pembelian tanah. Pak Raden mau menyerahkan buktinya, lalu beliau meninggal. Saya berikutnya.”
Ia menunjukkan bekas luka di pelipisnya.
“Arif membawa saya ke sini setelah mobil saya didorong keluar jalan. Dia tidak percaya saya aman kalau kembali ke rumah.”
“Kenapa tidak melapor?”
“Arif sudah mencoba,” jawab Ayah. “Keterangan yang dia berikan sampai kepada orang yang justru kami curigai.”
“Pak Ahmad?”
Ayah menatapku tajam.
Aku merasakan lututku lemas.
“Tadi aku memberinya uang untuk menemui Pak Banu.”
Ayah segera meraih ponselnya. Pada saat bersamaan, suara mobil berhenti di halaman.
“Irfan!” panggil Pak Ahmad dari luar. “Ayahmu ada?”
Ayah memadamkan lampu gudang.
“Bawa Bu Ratih lewat pintu belakang. Ibumu menunggu di rumah tetangga.”
“Ayah ikut.”
“Nanti.”
Aku mencengkeram lengannya.
“Jangan suruh aku percaya sebelum Ayah menjelaskan.”
Dalam gelap, suaranya pecah.
“Ayah menemukan Raden masih bernapas. Ahmad datang sesudahnya. Dia menyuruh Ayah pergi, katanya akan memanggil bantuan. Besoknya, Banu ditangkap.”
“Lalu ancaman itu?”
“Ahmad menyuruh Ayah menyampaikannya. Dia menunjukkan rekaman Ayah di kantor Raden, dengan darah di baju. Katanya, kalau Ayah menolak, Ayah yang akan ditahan dan kamu berikutnya.”
Aku melepaskan lengannya perlahan.
Ayah tidak membunuh Pak Raden. Namun, ia telah membantu menghancurkan hidup orang lain untuk menyelamatkan hidup kami.
Ketukan di pintu gudang terdengar keras.
“Surya. Buka.”
Bu Ratih menyodorkan sebuah kantong berisi flashdisk dan berkas.
“Arif menyimpan salinan lain. Kalau kami tidak keluar, cari pengacara bernama Dina. Nomornya ada di sini.”
Aku membantunya berdiri. Kami baru mencapai pintu belakang ketika sorot senter menyapu wajahku.
Pak Ahmad berdiri beberapa langkah di depan.
Di tangan kirinya ada kain pembalut. Persis di bawah pergelangan, terlihat luka yang masih baru.
Aku teringat tetesan darah menuju pohon kelapa.
“Bukan semuanya darah Pak Arif,” gumamku.
Pak Ahmad melirik tangannya, lalu mengulurkan telapak.
“Berikan kantong itu, Fan. Ini urusan orang dewasa.”
Dari dalam gudang, Ayah berlari dan berdiri di antara kami.
“Sudah selesai, Mad.”
“Pikirkan anakmu.”
“Justru itu.”
Pak Ahmad mencoba meraihku. Ayah menahannya hingga mereka membentur kusen. Aku menarik Bu Ratih ke halaman samping sambil berteriak meminta tolong.
Lampu rumah tetangga menyala satu per satu.
“Polisi! Jangan ikut campur!” bentak Pak Ahmad.
Namun, suara Ibu terdengar dari depan rumah.
“Saya sudah menelepon penyidik kabupaten! Jangan biarkan dia pergi!”
Ibu datang bersama beberapa warga. Rupanya, sejak penyerangan Pak Arif, ia diam-diam menghubungi saudara Bu Ratih dan pengacaranya. Malam itu mereka memang sedang menyiapkan pemindahan Bu Ratih ke tempat aman.
Pak Ahmad berhenti melawan ketika warga mulai merekam.
Setelahnya, semuanya berjalan lebih lambat daripada yang kubayangkan. Tidak ada satu pengakuan yang langsung menyelesaikan perkara.
Berkas koperasi diperiksa. Rekaman kamera dari bangunan di dekat kantor Pak Raden ditemukan. Pak Arif akhirnya sadar dan menyebut orang yang menyerangnya. Luka di tangan Pak Ahmad berasal dari perlawanan Pak Arif malam itu.
Beberapa minggu kemudian, Pak Banu dibebaskan setelah keterangannya diperiksa ulang dan bukti baru dikumpulkan.
Ayah juga menjalani proses hukum atas ancaman yang ia sampaikan.
Saat menjenguknya, aku bertanya mengapa ia tidak mempercayaiku sejak awal.
“Ayah ingin kamu tetap menganggap Ayah orang baik.”
Aku menatap tangannya di atas meja.
“Seandainya Ayah jujur, aku masih bisa membantu.”
Ia menangis tanpa suara.
Beberapa bulan kemudian, Bu Ratih datang ke rumah membawa nampan. Di atasnya ada nasi hangat dan sayur kesukaan Ayah.
Aku spontan melihat jam dinding.
Pukul dua siang.
“Sekarang makan di depan saja,” katanya.
Ibu membuka pintu lebar-lebar. Untuk pertama kalinya, aku melihat Bu Ratih duduk dekat jendela, makan tanpa menoleh ketakutan setiap kali terdengar langkah.
