Adikku menghamili seorang asisten rumah tangga dan berjanji akan menikahinya

“Saya Sabrina,” katanya. “Boleh bicara sebentar?”

Aku membuka pintu lebih lebar. Dari ruang tengah terdengar Sabiru menggeser kotak krayon.

Sabrina duduk dengan tas tetap di pangkuan. Ketika kuletakkan segelas air di meja, matanya tertuju pada gambar pesawat di karpet.

“Itu anakmu?”

“Namanya Sabiru.”

Ia mengangguk, lalu mengeluarkan ponsel.

“Maaf kalau kedatangan saya membuatmu tidak nyaman. Saya datang karena penjelasan Althaf dan kenyataan yang saya lihat berbeda.”

Aku duduk perlahan.

“Ia bilang kalian sudah lama sepakat berpisah. Katanya, kamu hanya menunggu rumah yang sedang disiapkan.”

Aku tertawa kecil. Suaraku terdengar asing.

“Pagi tadi saya masih menyetrika bajunya. Saya bahkan belum pernah diajak membicarakan perpisahan.”

Wajah Sabrina berubah. Ia menatap layar ponselnya, kemudian mematikannya.

“Jadi, kamu juga belum tahu kami berencana menikah?”

“Dia memberitahu saya kemarin. Katanya, dia tidak sedang meminta izin.”

Sabrina menarik napas panjang.

Sebelum ia menjawab, Sabiru mendekat membawa gambarnya.

“Tante tadi naik mobil Papa, ya?”

Aku membeku.

Sabrina menatapnya, lalu mengangguk.

“Iya.”

“Papa sibuk apa sampai nggak bisa datang ke sekolah?”

Pertanyaan itu membuat Sabrina menoleh kepadaku.

Aku merangkul Sabiru.

“Biru masuk kamar dulu, ya. Mama sedang bicara.”

Ia menurut, tetapi meninggalkan gambar pesawat di atas meja.

“Ada apa di sekolah?” tanya Sabrina setelah pintu kamar tertutup.

Aku tidak berniat mengadu. Namun, ketika mulai bercerita, kata-kataku mengalir begitu saja. Tentang batu yang dilemparkan, telepon yang diputus, dan anak kecil yang hanya ingin dipercaya saat mengatakan papanya seorang pilot.

Sabrina menutup mulutnya.

“Siang tadi kami di restoran. Dia bilang telepon dari rumah cuma soal belanja.”

Aku menunduk. Rupanya, untuk hadir selama lima belas menit pun Sabiru harus kalah dari makan siang.

Bel pintu kembali berbunyi.

Mas Althaf berdiri di teras dengan wajah tegang.

“Sabrina, kenapa kamu ke sini? Aku mencarimu.”

“Aku ingin mendengar cerita Naima.”

“Sudah kubilang, hubungan kami rumit.”

“Yang rumit hubungan kalian. Anakmu tadi hanya butuh ditemani.”

Rahang Mas Althaf mengeras.

“Dia bukan anak saya.”

Kalimat itu diucapkannya terlalu keras.

Di ujung lorong, pintu kamar terbuka sedikit. Sabiru berdiri di baliknya.

Aku segera bangkit, tetapi anakku sudah bertanya.

“Kalau bukan Papa, Biru harus panggil apa?”

Tidak ada yang menjawab.

Aku memeluknya. Tubuhnya kecil dan kaku dalam pelukanku.

“Mama di sini, Sayang.”

Malam itu, setelah Sabrina pergi tanpa menerima tawaran diantar, aku mengemasi pakaian kami. Mas Althaf berdiri di pintu kamar.

“Kamu mau membuat masalah ini makin besar?”

Aku memasukkan buku gambar Sabiru ke dalam tas.

“Aku mau membawanya ke tempat dia tidak perlu meminta maaf karena menganggap seseorang sebagai ayah.”

“Aku tidak pernah menyuruhnya memanggilku begitu.”

Tanganku berhenti.

“Dia mendengarnya dari kita semua sejak bayi, Mas. Kamu membiarkannya tumbuh dengan panggilan itu. Jangan sekarang seolah dia yang salah memahami.”

Untuk pertama kalinya, Mas Althaf tidak membalas.

Mama datang sebelum kami selesai berkemas. Barangkali Sabrina menghubunginya, atau mungkin ia merasa ada sesuatu yang tidak beres setelah telepon sore tadi.

Begitu melihat koper, Mama memegang lenganku.

“Kamu ke rumah Mama dulu.”

Aku menggeleng.

“Kalau tinggal di sana, aku akan terus merasa sedang menunggu dia berubah.”

Mama mengusap pipi Sabiru yang tertidur di kasur, lalu berkata pelan, “Ada sesuatu yang harus diselesaikan sebelum kamu pergi.”

Dadaku berdebar. Aku tahu apa yang dimaksudnya.

“Ma, jangan malam ini.”

“Lima tahun kita menundanya, Naima.”

Mas Althaf memandang kami bergantian.

“Apa yang kalian sembunyikan?”

Mama mengeluarkan amplop kusam dari tasnya.

“Surat Arkan. Mama menemukannya di antara dokumen lama minggu lalu.”

Aku duduk di tepi kasur.

Arkan pernah mengirim foto surat itu kepadaku sebelum kecelakaan. Ia bilang sudah tidak sanggup meneruskan kebohongannya. Aku memintanya bicara langsung kepada kakaknya.

Ia tidak pernah sempat.

Mas Althaf membuka amplop. Wajahnya berubah ketika membaca.

“Ini maksudnya apa?”

Aku menatapnya.

“Mas ingat malam sebelum berangkat pelatihan ke Makassar?”

Matanya membesar.

Kami pernah menjalin hubungan diam-diam. Ketika aku hamil, ia langsung menyangkal. Ia menuduhku memanfaatkan kedekatan kami agar bisa meninggalkan pekerjaan sebagai asisten rumah tangga.

Arkan yang mengetahui semuanya berusaha membujuknya. Pertengkaran mereka berakhir dengan ancaman Mas Althaf akan mengusirku.

“Arkan mengaku sebagai ayah bayi itu supaya aku tidak dibuang,” kataku. “Dia pikir setelah Mas tenang, kalian bisa bicara.”

“Kenapa kamu tidak menjelaskan setelah kami menikah?”

“Aku mencoba. Malam pertama di rumah ini, aku menyebut soal kehamilanku. Mas bilang tidak mau mendengar cerita perempuan pembohong.”

Air mataku jatuh, tetapi suaraku tetap jelas.

“Akhirnya aku menyimpan semua hasil pemeriksaan. Aku menunggu saat Mas mau mendengarkan. Lama-lama, aku sendiri takut berharap.”

Mama menutup wajah.

“Mama juga bersalah. Mama menyuruhmu bersabar, padahal kamu membutuhkan bantuan.”

Mas Althaf memandang Sabiru yang tidur memeluk guling.

“Jadi dia…”

“Kita periksa,” kataku. “Supaya setelah ini tidak ada lagi tuduhan.”

Pemeriksaan dilakukan dengan persetujuan bersama. Selama menunggu hasilnya, aku tinggal bersama Sabiru di kontrakan dekat rumah sepupuku.

Ketika hasil itu akhirnya keluar, Mas Althaf datang membawa lembaran yang terlipat di tangannya.

Sabiru adalah anak kandungnya.

Ia menangis di ruang tamu kecilku.

Aku hanya duduk. Lima tahun tidak runtuh menjadi lima menit hanya karena akhirnya ia percaya.

“Aku ingin kalian pulang,” katanya.

“Aku belum mau.”

Ia mengangguk perlahan.

Sejak itu, ia mulai datang sesuai waktu yang kami sepakati. Kadang Sabiru mau mengobrol, kadang bersembunyi di belakangku. Aku tidak memaksanya memeluk atau memaafkan.

Beberapa bulan kemudian, Sabiru memberikan gambar baru kepada ayahnya.

Ada pesawat, aku, dan dirinya di dalamnya. Mas Althaf digambar berdiri di dekat tangga.

“Papa belum naik?” tanyanya lirih.

Sabiru menggeleng.

“Tunggu Mama bilang boleh.”

Mas Althaf memandangku, lalu melipat gambar itu dengan hati-hati.

“Iya,” jawabnya. “Papa tunggu.”

Untuk pertama kalinya, ia tidak memutuskan sendiri ke mana kami harus pergi.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang