MERTUA KESAYANGAN — BAGIAN 9

Ponsel Ibu bergetar ketika tangisnya mulai reda. Nama Pak Sofyan muncul di layar.

Ibu menjauhkan benda itu seolah takut menyentuhnya.

“Jangan diangkat, Almira. Ibu tidak sanggup.”

Aku membalik ponselnya, lalu mengambilkan air. Belum sempat Ibu minum, Mas Fahri pulang. Wajahnya berubah melihat kami duduk berimpitan di kursi rotan.

“Ibu kenapa?”

Kuceritakan kedatangan Bu Syarifah. Mas Fahri langsung berbalik menuju pintu, tetapi Ibu memanggilnya.

“Jangan datang dalam keadaan marah.”

“Dia sudah menghina Ibu!”

“Dan kamu mau membuat orang semakin ramai menonton?”

Mas Fahri berhenti. Perlahan ia menutup pintu, lalu duduk di hadapan kami.

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak pulang, ia tidak sibuk membela dirinya. Ia mendengarkan Ibu bercerita dengan kedua tangan mengepal di atas lutut.

Pagi berikutnya, Pak Sofyan datang bersama istrinya dan Pak RT. Aku mengajak mereka duduk di teras. Ibu memilih tetap berada di sampingku.

“Saya minta maaf,” kata Pak Sofyan. “Ikan di kolam sudah saya jual kepada pengepul sebelum berangkat. Istri saya belum tahu karena beberapa hari ini kami sedang bertengkar.”

Bu Syarifah menatap lantai.

“Lalu kenapa nama Ibu saya dibawa-bawa?” tanya Fahri.

“Orang melihat saya mengantar ikan ke sini, kemudian menyambungkan cerita sendiri.”

“Tapi Bapak juga perlu berhenti datang malam-malam,” kataku. “Bantuan memasak bisa diminta siang hari. Ibu yang menanggung akibatnya.”

Pak Sofyan mengangguk, tampak malu.

Bu Syarifah akhirnya mengangkat wajah.

“Saya salah, Bu Nindi. Saya panik setelah melihat kolam kosong.”

Ibu meremas ujung kerudungnya.

“Saya menerima permintaan maaf Ibu. Tapi tetangga mendengar tuduhan kemarin. Tolong jelaskan kepada mereka juga.”

Suaranya lirih, tetapi tidak goyah.

Pak RT menyanggupi untuk membantu meluruskan kabar itu. Setelah mereka pulang, Ibu menyandarkan tubuh dan mengembuskan napas panjang.

Mas Fahri menggeleng.

“Kasihan Ibu. Dituduh macam-macam cuma karena potongan cerita.”

Aku menatapnya.

“Iya, Mas. Karena itu aku juga ingin mendapat cerita yang utuh darimu.”

Ia terdiam.

Aku tidak mendesaknya saat itu. Namun, sore hari, sebuah pesan dari Rahmat masuk ke ponselku.

Maaf baru membalas. Fahri menelepon tadi malam. Dia marah sekali. Saya tidak ingin menambah masalah, tetapi saya bersedia menjelaskan bersama Rasti.

Kubaca pesan itu dua kali, lalu kutunjukkan kepada suamiku.

“Kita bicara lewat panggilan video. Bersama-sama.”

“Untuk apa membawa orang luar?”

“Karena namanya sudah masuk ke pernikahan kita.”

Fahri menatap layar, kemudian mengusap wajah.

Akhirnya ia mengangguk.

Pukul delapan malam, kami duduk menghadap ponsel yang kusandarkan pada gelas. Ibu berada di kursi sebelah. Di layar, Rahmat duduk di warung sederhana bersama seorang perempuan berkerudung cokelat.

Rasti.

Wajahnya tampak lelah. Ia tidak tersenyum.

“Sebelum bicara, saya ingin memastikan,” katanya. “Mbak Almira benar istri Mas Fahri?”

Dadaku berdebar.

“Iya.”

“Mas Fahri bilang kalian sudah berpisah.”

Ruangan terasa menyempit.

Aku menoleh. Fahri menunduk, sementara Ibu memejamkan mata.

“Bukan begitu maksudku,” gumamnya.

Rasti mengangkat ponselnya, menunjukkan percakapan. Beberapa tangkapan layar kemudian dikirimkan kepadaku.

Aku membaca kalimat yang ditulis suamiku sendiri.

Kami tinggal satu rumah hanya demi Ibu. Hubungan kami sudah selesai sejak lama.

Tanganku mendadak dingin.

“Sejak kapan, Mas?”

Fahri menggosok kedua telapak tangannya.

“Awalnya cuma sering makan di warung.”

“Aku bertanya sejak kapan kamu mengatakan pernikahan kita selesai.”

Tidak ada jawaban.

Rasti yang menjawab.

“Sekitar empat bulan lalu. Dia mulai mendekati saya setelah warung tutup. Katanya ingin serius, tapi perlu waktu membereskan keluarga.”

Rahmat menunduk.

“Saya pernah menegurnya, Mir. Setelah itu dia justru bilang saya mengincar Rasti.”

Aku teringat betapa yakin Fahri menyebut Rahmat iri karena belum menikah. Rupanya ia sudah menyiapkan alasan agar siapa pun yang bicara tidak dipercaya.

“Apakah kalian sudah menikah?” tanyaku.

“Belum,” jawab Rasti cepat. “Saya meminta bertemu keluarganya dulu. Dia selalu menunda.”

Aku mengangguk, menahan sesuatu yang terasa merobek dadaku.

“Terima kasih sudah menjelaskan.”

Rasti menatapku dengan mata basah.

“Saya sungguh tidak tahu.”

“Aku percaya. Sekarang aku perlu bicara dengan suamiku.”

Panggilan berakhir. Tidak ada yang bergerak beberapa saat.

Lalu Ibu berdiri.

“Fahri, lihat Almira.”

Suamiku mengangkat kepala.

“Tadi pagi kamu marah karena Ibu dituduh berdasarkan cerita yang tidak benar. Malam ini kamu tahu rasanya membiarkan orang lain hidup di dalam kebohonganmu?”

“Ibu, aku khilaf.”

“Empat bulan itu banyak kesempatan untuk berhenti.”

Fahri menangis. Ia meraih tanganku, tetapi aku menariknya perlahan.

“Aku belum bisa disentuh, Mas.”

Ia tampak terkejut, lalu mengangguk.

Malam itu aku tidur bersama Ibu. Menjelang Subuh, beliau membelai rambutku seperti menenangkan anak kecil.

“Kalau kamu ingin pulang ke rumah orang tuamu, Ibu antar.”

Aku menangis semakin keras.

“Ibu tidak akan menyuruhku bertahan?”

“Ibu ingin kamu selamat. Keputusanmu jangan dibuat karena takut meninggalkan Ibu.”

Dua hari kemudian, aku tinggal sementara bersama kakakku. Fahri berkali-kali meminta pulang, tetapi aku hanya menyetujui percakapan pada waktu yang kami sepakati. Aku membutuhkan jarak untuk mendengar pikiranku sendiri.

Ia mulai menemui konselor. Aku bersedia mengikuti beberapa sesi, tanpa menjanjikan bahwa semuanya akan kembali seperti semula.

Rasti memutus komunikasi dengannya. Rahmat tetap bekerja bersamanya, tetapi hubungan mereka canggung. Fahri harus menghadapi akibat yang selama ini hendak ia limpahkan kepada orang lain.

Sebulan kemudian, Ibu datang membawa tas besar.

Aku panik melihatnya berdiri di pagar.

“Ibu bertengkar dengan Mas Fahri?”

“Tidak.”

Beliau membuka tasnya. Isinya loyang, celemek, dan buku resep lusuh.

“Kakakmu bilang dapur belakang boleh dipakai. Pesanan pepes kita besok dua puluh kotak.”

Aku menatapnya, lalu tertawa sambil menangis.

Beberapa hari sebelumnya, aku memang mengusulkan usaha kecil untuk mengisi waktu. Kupikir Ibu hanya menghiburku ketika menyetujuinya.

Ternyata beliau sudah mencatat pesanan.

“Fahri tahu Ibu ke sini?”

“Tahu. Dia membantu mengantar belanja.”

Aku terdiam.

Ibu menggenggam tanganku.

“Dia sedang belajar memperbaiki dirinya. Biar dia mengerjakannya. Kita juga punya pekerjaan.”

Pagi berikutnya, kami berdiri berdampingan di dapur, membungkus ikan dengan daun pisang. Ponselku menyala. Pesan Fahri masuk, menanyakan apakah aku sudah sarapan.

Aku membacanya tanpa buru-buru menjawab.

Di sebelahku, Ibu menyisihkan satu pepes yang paling rapi ke piringku.

“Makan dulu, Nak. Yang ini untukmu.”

Kali ini, aku tidak perlu menebak apakah kasih sayang itu sungguh ditujukan kepadaku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang