“Ayah, jangan diangkat dulu!”
Suaraku pecah ketika Ayah berlutut di samping Pak Arif. Ibu gemetar mencari ponsel, sementara aku menelepon ambulans dan mengikuti arahan petugas. Mataku terus tertuju pada rantang yang terguling dekat pintu. Nasi yang baru kuantarkan berserakan di tanah.
Beberapa menit sebelumnya beliau masih berdiri di belakangku.

Kini, setiap tarikan napasnya terdengar seperti perjuangan.
Sebelum kehilangan kesadaran, Pak Arif mencengkeram pergelangan tanganku.
“Jangan… percaya…”
“Siapa, Pak?”
Matanya bergerak ke arah Ayah.
Lalu genggamannya terlepas.
Di rumah sakit, aku duduk sejauh mungkin dari Ayah. Beliau berkali-kali mengusap wajah, sedangkan Ibu terus berdoa dengan bibir bergetar.
Ketika polisi datang meminta keterangan, aku menceritakan waktu mengantar makanan. Namun, soal kamar bawah tanah dan mantel hitam, lidahku mendadak kelu.
Aku takut salah menuduh. Lebih dari itu, aku takut dugaanku benar.
Menjelang subuh, dokter mengatakan operasi selesai, tetapi Pak Arif masih harus dipantau ketat. Ibu meminta Ayah pulang mengambil pakaian.
“Aku ikut,” kataku.
Ayah menoleh, lalu mengangguk.
Sepanjang perjalanan, aku memperhatikan tangannya di kemudi. Tangan itu dulu mengajariku mengikat tali sepatu. Sulit membayangkan tangan yang sama menyembunyikan sesuatu yang begitu mengerikan.
Sesampainya di rumah, Ayah langsung menuju gudang.
Aku mengikutinya.
“Ayah mencari siapa?”
Langkahnya terhenti.
“Apa maksudmu?”
“Aku sudah masuk ke bawah.”
Wajahnya pucat.
Sebelum ia menjawab, bunyi batuk terdengar dari balik pintu gudang.
Aku mundur selangkah.
Ayah mengeluarkan kunci.
“Dengarkan dulu, Fan. Setelah itu kamu boleh marah.”
Di bawah gudang, seorang lelaki duduk di tepi dipan. Tubuhnya kurus, rambutnya hampir seluruhnya putih. Kaki kanannya dibantu penyangga.
Aku mengenal wajah itu dari foto lama di ruang tamu.
“Pak Darma?”
Adik Ayah yang katanya meninggal dalam kebakaran bengkel sembilan tahun lalu.
Lelaki itu menunduk.
“Maaf kamu harus mengetahuinya begini.”
Aku memandang Ayah, lalu kembali kepadanya.
“Selama ini kalian berbohong?”
Ayah duduk di kursi dekat meja.
“Darma pulang tiga minggu lalu. Selama bertahun-tahun kami juga mengira dia meninggal.”
Pak Darma menarik napas panjang.
Ia bercerita tentang kebakaran di bengkel milik Pak Raden. Sebelum kejadian itu, ia menemukan catatan penjualan kendaraan curian. Ia hendak melapor, tetapi seseorang mengetahui rencananya.
“Paman selamat, tetapi seorang pekerja meninggal. Barang-barang Paman ditemukan di dekatnya. Setelah keluar dari rumah sakit di kota lain, Paman justru menerima ancaman. Katanya, kebakaran itu akan dituduhkan kepada Paman.”
“Kenapa tidak pulang?”
“Paman takut ancamannya sampai kepada kalian.”
“Lalu sekarang?”
“Orang yang membantu menyembunyikan Paman meninggal. Paman tidak punya tempat lagi.”
Aku menatap mantel hitam di dinding.
“Itu dipakai orang yang memukulku.”
Ayah berdiri perlahan.
“Darma tidak bisa berlari, Fan.”
Pak Darma mengangkat ujung celananya sedikit, menunjukkan penyangga pada tungkai yang mengecil.
“Tapi mantel itu?” desakku.
“Itu punya Arif,” jawab Ayah. “Dia membawakan pakaian waktu Darma datang.”
Nama Pak Arif membuat tengkukku dingin.
Aku teringat bagaimana beliau muncul tanpa suara di belakangku. Tatapannya ketika melihat rantang. Lalu perkataannya sebelum pingsan.
Jangan percaya.
“Apa Pak Arif tahu semuanya?”
Ayah mengangguk.
“Dia yang menemukan Darma. Dia bilang bisa membantu menghubungi penyidik yang menangani perkara Raden.”
Pak Raden ditemukan meninggal sebulan sebelumnya. Pak Banu, mantan penjaga bengkelnya, sudah ditahan setelah mengaku.
Aku mendadak mengerti mengapa rahasia ini bisa membahayakan banyak orang.
“Kenapa makanannya selalu pukul dua?”
“Arif meminta begitu,” kata Ayah. “Katanya, ada orang mengawasi rumah. Dia baru bisa berjaga setelah ronda selesai.”
Aku menatap pintu.
“Jadi semua aturan datang dari Pak Arif?”
Ayah tidak menjawab.
Ponselku bergetar. Pesan Ibu masuk.
Pak Arif sudah sadar sebentar. Beliau meminta Ayah datang sendirian.
Kuperlihatkan pesan itu.
Untuk pertama kalinya, Ayah terlihat ragu.
Aku menelepon Ibu dan meminta beliau tidak meninggalkan ruang tunggu. Kemudian kuceritakan kamar bawah tanah kepada petugas yang tadi memberiku nomor kontak. Kali ini tidak ada yang kusembunyikan.
Dua penyidik datang sebelum siang.
Pak Darma dibawa ke tempat aman untuk dimintai keterangan. Mereka juga memeriksa mantel itu. Di saku dalamnya ditemukan sebuah kartu memori kecil, dibungkus plastik dan dijahit pada lapisan kain.
Pak Darma tampak terkejut.
“Arif pernah merobek jahitannya waktu mencari sesuatu. Saya kira hanya sobek biasa.”
Isi kartu itu mengubah arah penyelidikan.
Ada foto buku transaksi bengkel dan rekaman suara Pak Raden. Dalam rekaman tersebut, ia bertengkar dengan seseorang yang meminta uang agar tidak membocorkan jaringan kendaraan curian.
Suara kedua itu milik Pak Arif.
Aku mendengarkannya dengan perut terasa melilit.
Penyidik tidak langsung menarik kesimpulan. Mereka mencocokkan rekaman dengan keterangan saksi, memeriksa komunikasi Pak Arif, dan menelusuri transaksi lama.
Beberapa hari kemudian, seorang lelaki ditangkap. Dialah yang menyerang Pak Arif malam itu, setelah keduanya bertengkar mengenai pembagian uang.
Penyerangan tersebut nyata. Namun, Pak Arif bukan sekadar korban yang kebetulan berada di rumah kami.
Ia mengetahui Pak Darma masih hidup dan mendekatinya untuk mencari bukti yang mungkin disimpan. Ia juga mengancam Pak Banu agar mengaku membunuh Pak Raden.
Ketika kutanya mengapa ia memukulku malam itu, Pak Arif menunduk di hadapan penyidik.
“Saya kira kamu menemukan kartu itu.”
Dadaku terasa sesak. Selama ini, orang yang kutakuti di bawah gudang justru sedang berlindung dari orang yang kami beri makan di meja sendiri.
Ayah meminta maaf kepadaku setelah memberikan kesaksian.
“Ayah pikir, kalau kamu tidak tahu, kamu akan aman.”
Aku menggeleng.
“Aku hampir tidak melapor karena takut Ayah pelakunya.”
Beliau menangis. Aku belum pernah melihatnya menangis seperti itu.
Beberapa bulan kemudian, kamar bawah gudang dikosongkan. Pak Darma tinggal bersama kami sambil menjalani pemeriksaan lanjutan dan memulihkan kesehatannya.
Suatu malam, aku terbangun pukul dua. Dari dapur terdengar bunyi piring.
Ayah berdiri membawa nampan.
Aku terdiam di ambang pintu.
Beliau menatapku, lalu tersenyum canggung.
“Pamanmu belum makan. Obatnya membuat mual tadi.”
Aku mengambil segelas air dan meletakkannya di nampan.
“Kita antar bersama, Yah.”
Kali ini, Ayah menungguku.
