Gagang pintu bergerak perlahan.
Mika menahan jeritan dengan kedua tangan. Kunci yang tadi diputar dua kali kini menjadi satu-satunya benda yang membuatnya berani tetap duduk di ranjang.
“Mika?”

Suara Tante Sari terdengar dari lorong.
“Jangan dibuka. Apa pun yang kamu dengar, tetap di kamar.”
Langkah berat itu menjauh. Sesaat kemudian, terdengar bisikan tantenya, terlalu lirih untuk dipahami, lalu bunyi pintu ditutup.
Mika tidak tidur sampai pagi.
Ketika matahari masuk melalui sela gorden, ia menelepon ibunya. Namun, sebelum panggilannya tersambung, pintu diketuk.
Tante Sari membawa bubur dan teh.
“Kamu pucat. Tidak bisa tidur?”
“Tadi malam ada laki-laki, Tante.”
Sendok di atas nampan bergetar.
“Itu suara televisi.”
“Gagang pintu Mika bergerak.”
Sari menunduk, merapikan serbet yang sebenarnya sudah rapi.
“Rumah tua kadang mengeluarkan bunyi aneh.”
Mika ingin percaya, tetapi ketakutan di wajah tantenya lebih jelas daripada penjelasannya.
Hari itu ia berangkat bekerja dengan kepala berat. Kantor tempatnya menjadi pegawai administrasi hanya berjarak dua halte bus dari rumah. Sepanjang perjalanan, ia menghitung sisa uang dalam rekening.
Tidak cukup untuk membayar kamar kos sekaligus uang jaminan.
Menjelang siang, ibunya membalas telepon.
“Om memang sudah meninggal, kan, Bu?”
“Tentu. Ibu datang waktu pemakamannya. Kenapa bertanya begitu?”
Mika menceritakan kejadian semalam.
Ibunya terdiam lama.
“Nanti Ibu bicara dengan Tante. Kamu jangan menuduh macam-macam.”
“Aku tidak menuduh. Aku takut.”
Sore itu, sebuah pesan dari nomor tidak dikenal masuk.
Jangan makan makanan yang disisakan di meja malam ini.
Mika berdiri kaku di depan gerbang rumah.
Ia menelepon nomor tersebut, tetapi tidak aktif.
Di ruang makan, Tante Sari sedang berbicara dengan seorang lelaki berkemeja putih. Di atas meja terletak map dan beberapa lembar dokumen.
“Ini Mika,” kata Sari. “Keponakan Tante.”
Lelaki itu tersenyum.
“Bagas. Saya mengurus toko keluarga ini.”
Tatapannya tertahan pada ponsel Mika.
“Kamu pulang kerja jam segini terus?”
“Biasanya.”
“Bagus. Jangan terlalu malam. Tante kamu mudah cemas.”
Mika memperhatikan sepatu hitam di kakinya. Sol sebelah kiri hampir lepas. Ketika Bagas melangkah ke teras, terdengar bunyi seretan yang sama dengan langkah semalam.
Malamnya, Mika mengatakan sudah makan bersama teman kantor. Ia masuk kamar, tetapi tidak langsung mengunci pintu.
Melalui celah sempit, ia melihat Tante Sari duduk di ruang makan.
“Tante?” panggil Mika pelan.
Sari buru-buru meletakkan sebuah botol kecil di belakang tempat tisu.
“Kamu belum tidur?”
“Obat apa itu?”
“Obat Tante. Dari Pak Bagas. Supaya tidak gelisah.”
Di meja ada segelas susu yang belum diminum.
Mika teringat pesan tadi.
“Jangan diminum dulu, Tante.”
Sari menatapnya, bingung.
“Tante sudah berapa lama minum itu?”
“Sejak sulit tidur setelah Ommu meninggal.”
“Yang meresepkan dokter siapa?”
Sari membuka mulut, kemudian terdiam.
Sebuah ketukan terdengar dari jendela dapur.
Mika tersentak. Di balik kaca berdiri seorang perempuan tua yang memberi isyarat agar ia mendekat.
“Bu Ratih?” bisik Sari.
Perempuan itu masuk melalui pintu samping setelah memastikan gerbang depan tertutup.
“Saya yang kirim pesan,” katanya kepada Mika. “Dulu saya bekerja di sini. Nomormu saya dapat dari ibumu setelah bilang ingin menitipkan kabar.”
Ia mengeluarkan ponsel, memperlihatkan video buram. Bagas tampak membuka pintu samping rumah pada malam hari.
“Dia bilang kepada saya Bu Sari perlu istirahat dan tidak boleh ditemui. Tapi saya beberapa kali melihatnya masuk lewat belakang.”
Sari mulai gemetar.
“Bagas cuma membantu.”
“Kalau begitu, kenapa dia melarang Ibu menyalakan lampu?” tanya Mika.
Air mata menggenangi mata tantenya.
“Katanya Om tidak suka cahaya terang sekarang.”
Tidak ada yang segera menjawab.
Bu Ratih duduk di samping Sari.
“Bu, Pak Hendra sudah meninggal.”
Sari menutup wajah. Bahunya berguncang.
“Saya tahu,” katanya terputus-putus. “Saya tahu dia meninggal. Tapi saya mendengar suaranya. Bagas juga bilang pernah mendengar. Saya pikir mungkin…”
Mika menggenggam tangannya. Tiba-tiba rumah itu terasa menyedihkan, bukan menyeramkan.
Mereka menghubungi ibu Mika, lalu meminta bantuan Pak RT. Malam itu, Mika dan Sari menunggu di kamar depan bersama Bu Ratih. Pak RT berjaga di rumah tetangga sambil menghubungi polisi.
Pukul sembilan lewat, lampu lorong dibiarkan padam seperti biasanya.
Setengah jam kemudian, terdengar kunci diputar dari pintu samping.
Langkah berat memasuki rumah.
“Sari…”
Suara laki-laki itu membuat tangan tantenya mencengkeram lengan Mika.
“Kamu harus tanda tangan. Bagas akan mengurus semuanya.”
Mika merasakan bulu kuduknya berdiri. Suara itu berasal dari dekat ruang makan.
Lalu terdengar bunyi kursi tersenggol, disusul umpatan pelan.
Suara Bagas.
Lampu menyala.
Bagas berdiri dengan sebuah pengeras suara kecil di tangan. Di belakangnya, Pak RT dan petugas yang masuk melalui pintu depan menghalangi jalan keluar.
Ia sempat berkata sedang memeriksa rumah. Namun, rekaman suara dan kunci duplikat di sakunya membuat penjelasannya sulit dipertahankan.
Penyelidikan kemudian menemukan pemindahan uang usaha yang tidak sesuai laporan. Dokumen di meja sore itu ternyata berkaitan dengan penjualan salah satu toko. Bagas membutuhkan tanda tangan Sari dan terus meyakinkannya bahwa almarhum suaminya menghendaki penjualan tersebut.
Rekaman yang dipakainya diambil dari video keluarga lama.
Dokter juga memeriksa obat yang diberikan kepada Sari. Penggunaannya tidak diawasi dengan baik dan membuatnya sering mengantuk serta sulit berkonsentrasi. Pemulihannya membutuhkan waktu, termasuk pendampingan untuk menghadapi duka yang selama ini ditanggung sendirian.
Sebulan kemudian, aturan rumah berubah.
Lampu boleh dinyalakan. Jendela dibuka setiap pagi. Pintu samping dipasangi kunci baru, dan laporan toko diperiksa bersama akuntan.
Suatu malam, Mika pulang lembur dan mendapati sepiring nasi di meja.
Ia berhenti.
Sari muncul dari dapur, membawa dua gelas air.
“Untuk kamu. Tante belum makan juga.”
Mika duduk. Untuk pertama kalinya, mereka makan tanpa kursi kosong yang harus diperhatikan dengan takut.
“Tante masih kangen Om?” tanyanya.
“Setiap hari.”
Sari tersenyum tipis.
“Tapi kalau kangen, sekarang Tante putar videonya sendiri.”
Sesudah makan, Mika hendak mematikan lampu ruang makan. Tantenya menahannya.
“Biarkan menyala dulu.”
“Kenapa?”
Sari mengambil piring kosong mereka.
“Tante masih ingin duduk bersamamu sebentar.”
