Suara kunci diputar membuatku tersentak. Aku belum sempat mengikat kembali kantong itu ketika Ibu muncul di ambang pintu.
Wajahnya berubah begitu melihatku berjongkok di samping ranjang.
“Lia, jangan dipegang.”
Aku bangkit dengan tangan gemetar.

“Ini punya siapa, Bu?”
Ibu meletakkan tas belanja perlahan. Untuk beberapa detik, ia hanya memandangi kantong hitam di lantai.
“Cuci tangan dulu. Pakai sabun.”
“Jawab dulu.”
“Punya Ibu.”
Jawaban itu membuat tenggorokanku tercekat.
“Tapi Ibu sudah tidak haid.”
“Ibu tahu.”
Ada sesuatu dalam suaranya yang menghentikan semua pertanyaanku. Bukan kemarahan karena aku menggeledah kamar. Ibu terdengar seperti orang yang akhirnya kehabisan tempat bersembunyi.
Setelah mencuci tangan, aku menemukannya duduk di tepi ranjang. Tas belanjanya masih tergeletak dekat pintu. Isinya hanya sebungkus pembalut dan roti tawar.
“Sudah berapa lama?”
Ibu meremas ujung bajunya.
“Hampir dua bulan.”
Aku duduk di kursi meja rias.
“Kenapa tidak bilang?”
“Awalnya cuma sedikit. Ibu pikir nanti berhenti sendiri.”
“Lalu kenapa disimpan?”
Ibu menunduk semakin dalam.
“Bu Ratna pernah melihat bungkusnya di tempat sampah. Dia bertanya macam-macam. Ibu malu. Jadi Ibu kumpulkan dulu di sini, mau dibuang sekalian kalau kamu tidak ada.”
Bu Ratna adalah tetangga yang sering membantu mengambil sampah dari halaman. Aku teringat beberapa minggu lalu ia bercanda menanyakan apakah Ibu akan menikah lagi.
Saat itu kami ikut tertawa.
Kini aku ingin menarik kembali tawaku.
“Sudah periksa?”
Ibu menggeleng.
Aku mengambil ponsel, mencari rumah sakit terdekat. Ibu segera memegang lenganku.
“Jangan sekarang. Kamu ada wawancara besok.”
Wawancara kerja di Jakarta. Setelah hampir setahun menganggur, akhirnya aku mendapat kesempatan yang benar-benar kuharapkan.
“Wawancaranya bisa kuatur. Ibu harus diperiksa.”
“Jangan sampai gagal gara-gara Ibu.”
Aku menatapnya. Wajah yang setiap pagi kulihat ternyata jauh lebih pucat daripada yang kuingat. Selama ini aku menganggapnya lelah karena kurang tidur.
Hari itu kami pergi ke fasilitas kesehatan, kemudian mendapat rujukan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Aku menunggu di luar ruang pemeriksaan sambil menggenggam tas Ibu.
Di dalamnya kutemukan buku tabungan.
Saldonya tinggal seratus delapan puluh ribu rupiah.
Padahal bulan lalu Ibu menjual gelang terakhir peninggalan Nenek. Katanya untuk memperbaiki atap dapur.
Atap itu belum diperbaiki.
Aku membuka percakapan kami. Ada bukti transfer biaya kursus, ongkos tes kerja, dan pembelian laptop bekas untukku.
Jumlahnya mendekati hasil penjualan gelang.
Ketika Ibu keluar, aku tidak sanggup bertanya. Aku hanya meraih tangannya.
Dokter meminta beberapa pemeriksaan tambahan. Ada jaringan yang perlu diambil untuk mengetahui penyebab perdarahan itu. Aku mendengarkan penjelasannya, tetapi Ibu hanya menatap ujung sepatunya.
Di perjalanan pulang, ia tiba-tiba bertanya, “Kalau ternyata penyakitnya berat, kamu tetap berangkat, ya?”
Aku menghentikan langkah.
“Kenapa Ibu bicara begitu?”
“Supaya hidupmu tidak berhenti di rumah ini.”
Malamnya, aku mengirim surel meminta wawancara dilakukan secara daring. Tanganku gemetar ketika menekan tombol kirim. Aku takut kehilangan kesempatan itu, lalu merasa bersalah karena masih sempat memikirkan pekerjaan.
Pagi berikutnya, Ibu bangun lebih awal dan menyetrika kemejaku.
“Biar di layar tetap rapi,” katanya.
Aku menangis di belakang pintu kamar mandi.
Menunggu hasil pemeriksaan terasa lebih lama daripada dua puluh tiga tahun hidupku. Setiap kali Ibu ke kamar mandi, aku menoleh. Setiap ia memejamkan mata di sofa, aku mendekat untuk memastikan ia hanya tertidur.
Pada hari ketiga, Bu Ratna datang membawa sayur.
“Kemarin ke rumah sakit, ya? Ada apa?”
Aku hendak menjawab ketika Ibu buru-buru menyela.
“Cuma pemeriksaan biasa.”
Tatapan Bu Ratna turun ke bungkus pembalut di meja.
“Oh, masih keluar juga? Jangan-jangan—”
“Ibu sedang sakit, Bu,” potongku.
Suaraku lebih keras daripada yang kurencanakan.
“Kalau mau bertanya, silakan. Tapi jangan dibuat bahan tebakan.”
Bu Ratna terdiam. Ibu menyentuh lututku, meminta tenang.
Sesudah tetangga itu pulang, Ibu berkata lirih, “Tidak usah bertengkar karena Ibu.”
“Aku tidak bertengkar. Aku cuma tidak mau Ibu terus merasa harus malu.”
Hasil pemeriksaan keluar seminggu kemudian.
Di ruang dokter, Ibu menggenggam tanganku begitu erat hingga kuku-kukunya menekan kulitku.
Dokter menjelaskan bahwa jaringan yang diperiksa menunjukkan kanker pada lapisan rahim. Pemeriksaan berikutnya diperlukan untuk menentukan sejauh mana penyakit itu dan menyusun pengobatan.
Aku mencatat setiap kalimat karena takut lupa.
Ibu justru bertanya, “Dok, anak saya bisa tetap bekerja, kan? Dia tidak harus menjaga saya setiap hari?”
Dokter berhenti sejenak, lalu menjelaskan bantuan apa yang mungkin dibutuhkan selama pengobatan.
Aku menunduk. Bahkan ketika mendengar penyakitnya sendiri, Ibu masih sibuk mencarikan jalan keluar untukku.
Di rumah, ia mengeluarkan map dari lemari.
“Ada surat rumah, kartu keluarga, sama dokumen lainnya. Kamu harus tahu tempatnya.”
“Bu, tolong.”
“Dengarkan dulu.”
“Aku mau tahu obat Ibu disimpan di mana. Jadwal kontrolnya kapan. Aku belum mau membicarakan rumah.”
Bibir Ibu bergetar. Untuk pertama kalinya sejak kantong itu ditemukan, ia menangis.
“Ibu takut, Lia.”
Aku memeluknya.
“Aku juga.”
Kami duduk di lantai sampai malam, tanpa berusaha saling meyakinkan bahwa semuanya pasti baik-baik saja.
Pengobatan dimulai beberapa minggu kemudian. Ada hari ketika Ibu kuat bercanda, ada hari ketika ia hanya ingin berbaring. Aku diterima bekerja dengan masa awal secara daring. Bibi datang bergantian membantu setelah aku akhirnya menelepon dan menceritakan keadaan sebenarnya.
Ternyata bantuan mulai datang setelah kami berhenti menyembunyikan kebutuhan kami.
Bu Ratna juga kembali. Kali ini ia membawa bubur dan permintaan maaf.
Beberapa bulan kemudian, aku membantu Ibu merapikan kamar. Kolong ranjang sudah kosong. Tempat sampah bertutup berdiri di sudut, tidak lagi disembunyikan.
Di dalam laci, kutemukan amplop bertuliskan namaku.
Isinya uang dan sebuah catatan.
Untuk ongkos ke Jakarta. Jangan bilang Ibu, nanti kamu menolak.
Aku menoleh. Ibu berdiri di pintu dengan senyum malu, ketahuan menyimpan rahasia lagi.
“Bu, ini kapan ditulis?”
“Sebelum kamu menemukan kantong itu.”
Aku meletakkan amplop kembali, lalu menggandengnya menuju ruang makan.
Di meja, aku membuka kalender dan menyodorkan pena.
“Ibu yang tulis jadwal kontrol berikutnya, ya. Biar aku tidak salah.”
Ibu memakai kacamatanya. Di bawah tanggal pemeriksaan, ia menambahkan sesuatu dengan tulisan kecil.
Makan siang sama Lia.
Aku membacanya, lalu mengangguk.
“Kita datang ke dua-duanya.”
