
Dan ternyata tangan itu milik Bu Maryam.
Kerudungnya basah kuyup. Di tangan kirinya ada senter yang cahayanya bergetar, menyoroti jemariku yang penuh lumpur.
“Berhenti menggali,” katanya.
Aku mundur dengan napas tersengal.
“Kenapa Ibu ada di sini?”
Bu Maryam menatap gundukan tanah di belakangku. Wajahnya perlahan berubah.
“Jadi benar,” bisiknya. “Kamu menyembunyikannya di sini.”
Aku mencoba bangkit, tetapi kakiku tergelincir.
“Bukan aku yang membunuhnya.”
“Siapa yang kamu kubur?”
Pertanyaan itu menghantamku lebih keras daripada suara petir.
“Aku tidak tahu.”
Bu Maryam mencengkeram lenganku.
“Lalu kenapa dikubur?”
Aku menangis. Rahasia yang sejak semalam menyesakkan dada akhirnya tumpah di antara gemuruh hujan.
Aku menemukan tubuh itu terbungkus seprai di kamar Salia. Di lantai ada gunting bernoda dan gelang milik putriku. Salia tidak ada. Aku terlalu takut membayangkan polisi datang dan membawanya pergi. Dalam kepanikan, aku menyeret tubuh itu dengan gerobak kebun, lalu menguburnya.
“Aku hanya ingin melindungi anakku.”
“Dengan mengubur anak orang lain?”
Aku tertunduk.
Bu Maryam melepaskan lenganku. Tangisnya pecah, tetapi ketika berbicara lagi, suaranya terdengar tegas.
“Anela juga anakku. Dan siapa pun di bawah tanah ini punya keluarga yang menunggu.”
Dari balik pepohonan, terdengar langkah mendekat.
Bu Maryam segera mematikan senter.
Kami membeku.
Cahaya lain menyapu batang pohon, lalu sebuah suara laki-laki terdengar.
“Ratih?”
Darahku serasa berhenti mengalir.
Hendra.
Ayah Salia yang pergi tujuh tahun lalu.
Ia muncul mengenakan jas hujan hitam. Dalam cahaya senternya, wajahnya tampak lebih kurus, tetapi bekas luka di dagunya masih sama.
“Syukurlah kamu di sini,” katanya. “Aku mencarimu.”
“Di mana Salia?”
“Dia aman.”
Aku hendak mendekat, tetapi Bu Maryam menahan pergelangan tanganku.
“Suruh dia datang,” kataku.
Hendra melirik gundukan tanah. Hanya sebentar, tetapi cukup membuatku sadar bahwa ia tidak terkejut melihatnya.
“Kita bicara di rumah.”
“Kamu yang masuk ke rumahku?”
Ia tidak menjawab.
“Kamu menyobek buku harian Salia?”
“Anak itu menulis macam-macam.”
Bu Maryam bergerak mundur. Hendra langsung mengarahkan senter kepadanya.
“Ibu mau ke mana?”
“Mencari bantuan.”
Tangan Hendra masuk ke saku jas hujannya.
Seketika Bu Maryam mendorongku.
“Lari!”
Kami berlari menuruni jalan setapak. Di belakang, Hendra memanggil namaku, lalu mengumpat. Sandalku terlepas, tetapi aku terus berlari sampai melihat cahaya rumah warga di seberang kali.
Bu Maryam berteriak meminta tolong.
Beberapa laki-laki yang masih membereskan tenda keluar membawa senter. Ketika aku menoleh, Hendra sudah menghilang ke dalam hutan.
Malam itu, untuk pertama kalinya, aku mengatakan semuanya kepada polisi.
Tentang tubuh yang kukubur. Tentang gunting. Tentang Salia yang menghilang. Aku menyerahkan ponsel dan membiarkan seorang petugas memotret buku hariannya yang rusak.
“Ada hal lain?” tanyanya.
Aku teringat pesan terakhir Salia sebelum menghilang.
Kalau Ayah datang, jangan percaya apa pun sebelum dengar penjelasanku.
Pesan itu sengaja tidak kubalas. Aku marah karena ia kembali menemui laki-laki yang meninggalkan kami.
Kini kalimat itu membuatku gemetar.
Menjelang subuh, polisi menemukan sebuah tas tersangkut akar dekat makam. Di dalamnya ada dompet dan kartu identitas seorang perempuan bernama Ningsih.
Foto pada kartu itu menunjukkan wajah yang samar-samar kuingat dari balik seprai.
Bu Maryam menutup mulutnya.
“Itu perempuan yang datang mencari Hendra minggu lalu.”
Menurut Maryam, Ningsih pernah menanyakan sebuah rumah kosong di dekat kebun. Ia mengaku sedang mencari suaminya yang lama tidak pulang.
Hendra ternyata tidak kembali untuk memperbaiki keluarga kami.
Ia sedang bersembunyi.
Pukul enam pagi, ponselku berdering dari nomor asing.
“Ibu.”
Aku langsung berdiri.
“Salia? Kamu di mana?”
“Jangan pulang dulu. Ayah punya kunci rumah.”
Suara putriku kecil dan serak.
Aku menyalakan pengeras suara atas permintaan petugas.
“Salia, dengarkan Ibu. Ada polisi di sini. Kamu aman sekarang?”
“Aku di rumah Bu Yani. Dekat pasar lama.”
Tangisku pecah sebelum ia selesai menyebutkan alamat.
Satu jam kemudian, aku memeluknya di ruang tamu perempuan penjual jamu yang pernah menjadi tetangga kami. Lengan Salia memar, bibirnya pecah. Namun ia hidup.
“Aku lihat Ayah bertengkar dengan seorang perempuan di rumah,” ceritanya di hadapan petugas. “Perempuan itu bilang mau melaporkan Ayah karena membawa uangnya.”
Salia bersembunyi ketika pertengkaran berubah menjadi kekerasan. Setelah rumah sunyi, ia keluar dan menemukan Ningsih tidak bergerak.
Ia menelepon Anela.
“Aku takut Ibu pulang dan ketemu Ayah. Jadi aku minta Anela bantu.”
Mereka hendak keluar mencari bantuan ketika Hendra kembali. Salia berhasil melarikan diri melalui pintu dapur. Anela tertangkap.
Aku memejamkan mata. Lemari itu berada di kamar Salia, tepat di samping jendela yang rusak kaitnya.
“Aku menjatuhkan ponsel waktu lari,” lanjutnya. “Aku sembunyi sampai pagi. Lalu Bu Yani menemukanku dekat pasar. Aku demam. Baru tadi bisa bangun.”
“Kenapa tidak langsung menelepon Ibu?”
Salia menunduk.
“Ayah bilang kalau aku cerita, Ibu yang akan masuk penjara. Katanya Ibu sudah membantu menyembunyikan mayat.”
Ruangan mendadak sunyi.
Ia telah mengawasiku.
Hendra tahu aku akan lebih dahulu mencurigai putriku daripada memanggil bantuan. Ia meninggalkan gunting dan gelang itu agar ketakutanku bekerja untuknya.
Siang harinya, polisi menangkap Hendra di terminal. Di dalam tasnya ditemukan ponsel Anela dan potongan halaman buku harian Salia.
Aku tetap harus menjalani pemeriksaan atas perbuatanku. Tidak ada pelukan atau penyesalan yang dapat menghapus apa yang kulakukan kepada jasad Ningsih.
Beberapa hari kemudian, aku datang ke rumah Bu Maryam bersama Salia.
Kami meminta maaf tanpa mencari pembenaran.
Bu Maryam memandangi putriku lama sekali, lalu menyerahkan sebuah kantong kecil.
“Ini ditemukan di saku baju Anela.”
Di dalamnya ada gelang Salia.
Aku tertegun. Gelang yang kutemukan malam itu berwarna biru. Milik Salia berwarna hijau.
“Aku tukaran sama Anela sore itu,” bisik putriku.
Lututku melemas.
Seandainya aku bertanya. Seandainya aku menelepon polisi saat menemukan tubuh pertama.
Bu Maryam menggenggam gelang biru di tangannya.
“Anak saya sempat datang untuk menyelamatkan anakmu,” katanya lirih.
Aku tidak sanggup mengangkat wajah.
Selama ini aku mengira seorang ibu harus melakukan apa saja untuk melindungi anaknya.
Kini aku harus hidup dengan kenyataan bahwa ketakutanku telah membantu orang yang justru ingin mencelakakannya.
