
“Jangan bilang kamu menyerahkan uangku kepada Kirana.”
Arga menatap bukti transfer itu seperti baru pertama kali membacanya.
“Dia bilang kamu minta dibantu mengurus rekening baru.”
“Kamu punya nomorku. Kenapa tidak memastikan?”
Ia membuka mulut, lalu menutupnya kembali.
Di luar lobi, hujan mulai turun. Aku meletakkan kardus di bangku dekat satpam dan meminta Arga menunjukkan seluruh percakapannya dengan Kirana.
Enam bulan lalu, Kirana mengirim pesan bahwa rekening lamaku sedang bermasalah. Ia melampirkan surat kuasa dengan tanda tanganku, salinan kartu identitas, dan nomor rekening atas nama Maya Puspitasari.
Namaku Maya Larasati.
“Kamu tidak melihat nama lengkapnya?” tanyaku.
“Aku cuma membaca nama depannya.”
Aku memejamkan mata. Seratus delapan puluh juta rupiah berpindah tangan karena orang yang kupercaya tidak merasa perlu memeriksa dua kata.
“Surat kuasa ini palsu.”
Arga menelan ludah.
“Tapi tanda tangannya—”
“Bisa disalin dari dokumen kantor. Kirana pernah mengurus berkas penggantian biaya perjalananku.”
Aku memotret kedua dokumen tersebut, lalu mengirim pesan kepada Bu Ratih. Aku meminta waktu bertemu esok pagi mengenai dugaan penyalahgunaan dokumen pribadi.
Arga duduk di ujung bangku.
“Aku benar-benar mengira sudah melunasinya.”
“Kalau begitu, bantu mencari tahu ke mana uangnya. Jangan meminta aku menganggap persoalannya selesai.”
Ponselnya berdering. Nama Kirana muncul di layar.
“Jawab,” kataku.
Arga mengangkatnya tanpa pengeras suara. Namun, lobi cukup sunyi untuk membuatku mendengar nada tinggi dari seberang.
“Kamu menemui Maya?”
Arga memandangku.
“Aku menunjukkan bukti pelunasan.”
Hening beberapa detik.
“Pulang sekarang. Kita bisa membicarakannya besok.”
“Rekening siapa yang kamu berikan kepadaku?”
Kirana memutus panggilan.
Untuk pertama kalinya, Arga tidak mengejarnya dengan telepon kedua.
“Sekarang jelaskan kalimatmu tadi,” kataku. “Tentang pernikahan yang tidak terjadi seperti pikiranku.”
Ia mengusap wajah.
“Kami sudah dekat delapan bulan. Aku ingin memberitahumu, tapi Kirana bilang kamu tahu dan meminta agar aku tidak membahasnya langsung.”
Dadaku terasa ditusuk.
“Dan kamu percaya?”
“Dia menunjukkan pesan.”
Aku mengulurkan tangan.
Dalam tangkapan layar itu, namaku tercantum di bagian atas. Pesannya pendek: aku turut bahagia, sedang dekat dengan orang lain, dan tidak ingin hubungan kami menjadi pembicaraan kantor.
Aku tidak pernah menulisnya.
“Aku tidak tahu soal pernikahan kalian sampai sore ini.”
Arga menunduk.
“Kirana bilang kamu sengaja tidak datang.”
Aku meraih kardusku.
“Dia bisa memalsukan pesan. Tetapi keputusan untuk tidak bertanya kepadaku tetap keputusanmu.”
Malam itu aku pulang dengan taksi. Arga tetap di lobi, memegang map biru yang ternyata tidak berisi jawaban yang bisa menyelamatkan kami.
Keesokan paginya, Bu Ratih memeriksa dokumen yang kubawa.
“Ini urusan pinjaman pribadi,” katanya, “tetapi jika data perusahaan dipakai tanpa izin, kami perlu menelusurinya.”
Aku menyerahkan surat perjanjian asli, riwayat rekening, dan pesan Arga. Setelah itu, aku menemui pengacara untuk menentukan langkah berikutnya.
Siang harinya, Kirana meminta bertemu.
Kami duduk di ruang rapat kecil dengan Bu Ratih sebagai pendamping. Kirana datang memakai cincin baru, tetapi wajahnya pucat.
“Kak Maya salah paham.”
“Rekening itu milik siapa?”
“Sepupuku.”
“Kenapa uang pelunasan utang Arga masuk ke sana?”
Ia meremas tali tas.
“Aku pinjam dulu.”
“Kepadaku?”
Tidak ada jawaban.
Kirana mengaku memakai uang itu untuk menutup utang keluarganya. Ia berniat menggantinya sebelum aku menagih.
“Lalu surat kuasa palsu?”
Air matanya mulai jatuh.
“Aku panik.”
“Pesan palsu tentang aku yang sudah tahu hubungan kalian?”
Ia memandang pintu.
Aku menunggu.
“Aku tahu Kakak menyukai Arga,” katanya akhirnya. “Aku takut kalau kalian bicara, dia akan memilih Kakak.”
Aku menatapnya lama.
“Jadi kamu mengambil uangku dan memutus percakapan kami?”
“Aku cuma ingin punya kesempatan.”
“Kesempatanmu tidak memberimu hak melakukan itu.”
Aku tidak berteriak. Justru ketenanganku membuat Kirana menangis semakin keras.
Pertemuan tersebut dicatat. Persoalan uang dan pemalsuan ditangani melalui pendampingan hukum, sementara kantor memeriksa akses Kirana terhadap dokumen pegawai.
Aku tetap menyiapkan keberangkatan.
Visa, serah terima pekerjaan, pemeriksaan kesehatan. Kesibukan itu menolongku melewati hari-hari ketika pikiranku ingin terus mengulang kejadian yang sama.
Seminggu kemudian, Arga datang ke rumah bersama ibunya.
Beliau memelukku begitu pintu terbuka.
“Maafkan Tante. Selama ini Tante melihat kamu selalu ada, lalu menganggap kamu akan selalu ada.”
Aku menangis di bahunya. Itu kalimat pertama yang benar-benar membuatku merasa terlihat.
Arga menunggu sampai ibunya duduk di ruang tamu.
“Aku akan melunasi pinjamanku langsung kepadamu. Pengembaliannya dari Kirana akan kuurus terpisah.”
Kami menyusun kesepakatan tertulis. Sebagian dibayar sebelum keberangkatanku, sisanya dicicil melalui transfer berkala.
Ketika urusan itu selesai, ia mengeluarkan formulir beasiswa lama.
“Aku terus memikirkan apa yang akan terjadi kalau dulu aku tahu.”
Aku menerima kertas tersebut.
“Barangkali tidak berubah apa-apa.”
“Kamu tidak bisa yakin.”
“Benar. Sama seperti aku dulu tidak bisa yakin menunggumu akan membawaku ke mana-mana.”
Ia menatap cincin di jarinya.
“Kalau aku menyelesaikan semua ini—”
“Jangan menjadikan aku alasan untuk memutuskan pernikahanmu, Ga.”
Suaraku bergetar, tetapi aku melanjutkan.
“Aku tidak mau lagi tinggal di antara kemungkinan.”
Pada hari keberangkatan, Ayah mengantarku ke bandara. Sebelum masuk pemeriksaan, ia menyerahkan map biru yang kukira tertinggal di rumah.
“Ini ada amplop terselip di kantong belakang. Ayah tidak membukanya.”
Di dalamnya terdapat surat penerimaan beasiswa lima tahun lalu dan catatan kecil dari diriku sendiri.
Daftar hal yang ingin kulakukan di luar negeri.
Belajar bahasa. Bekerja dengan orang-orang baru. Mengirim uang untuk memperbaiki rumah Ayah. Melihat salju.
Tidak ada nama Arga.
Aku membaca daftar itu sambil tertawa dan menangis bersamaan.
Selama ini aku mengira Hamburg adalah tempat untuk melarikan diri dari seseorang.
Ternyata, jauh sebelum menunggunya, aku sudah pernah ingin pergi.
Ketika pengumuman penerbangan terdengar, aku memeluk Ayah, memasukkan map ke tas, lalu berjalan menuju gerbang keberangkatan.
Kali ini, aku tidak sedang meninggalkan kesempatan untuk dicintai.
Aku sedang menepati janji kepada diriku yang pernah terlupakan.
