
“Jangan sebut nama dulu,” kataku. “Seberapa kuat buktinya?”
Asap mulai menutupi lampu darurat. Aku merunduk di balik meja beton dekat dinding, menahan batuk yang membuat dadaku nyeri.
“Jadwal operasi dikirim dari akun Kapten Selma. Namun, kami masih memeriksa siapa yang mengaksesnya.”
“Berarti belum pasti dia pelakunya.”
“Benar, Direktur.”
Aku menatap pintu yang tertutup rak. Selma mungkin pengkhianat. Mungkin juga seseorang sengaja meninggalkan namanya sebagai jejak. Dalam keadaan seperti ini, dugaan yang diperlakukan sebagai kepastian bisa membunuh orang.
“Hubungi komandan lapangan. Beri tahu ada orang terjebak di sisi barat. Saya melihat saluran bongkar muat di belakang, tapi belum tahu apakah bisa dilewati.”
“Kami koordinasikan dengan pemadam dan tim evakuasi. Tetap terhubung.”
Dari luar terdengar sirene. Jauh lebih dekat daripada yang kuduga.
Aku menggeser tubuh menuju celah cahaya di bawah pintu besi. Baru beberapa langkah, suara ketukan terdengar dari balik dinding.
Tiga kali. Berhenti. Dua kali lagi.
“Ada orang?” seruku.
“Tolong!”
Suara laki-laki, lemah.
Aku mengikuti suara itu sampai menemukan ruang penyimpanan kecil. Kait pintunya dipasang dari luar. Ketika kubuka, seorang lelaki berseragam petugas kebersihan tergeletak dengan tangan terikat.
Jadi saksi itu benar-benar ada.
Aku membebaskan tangannya dengan pecahan plastik keras dari lantai, lalu membantunya bergeser mendekati celah udara.
“Nama?”
“Yusuf.”
“Bisa berjalan?”
Ia mengangguk, tetapi langsung terbatuk.
“Jangan bicara dulu.”
Di telepon, petugas pusat menyampaikan bahwa tim sudah mencapai dinding luar. Aku memberi tahu ada dua orang yang harus dievakuasi.
Beberapa menit berikutnya terasa panjang. Suara benturan datang dari sisi lain pintu bongkar muat. Ketika pintu akhirnya terbuka sebagian, cahaya sore masuk bersama semburan air dan teriakan petugas.
Aku mendorong Yusuf lebih dahulu.
Lalu seseorang meraih lenganku.
Untuk pertama kalinya sejak ledakan, aku membiarkan diriku ditolong.
Di dekat ambulans, Farhan berdiri dengan wajah tertutup jelaga. Begitu melihatku, ia berlari.
“Dina!”
Petugas medis menghalanginya ketika mereka memasangkan masker oksigen ke wajahku.
“Aku kembali ke pintu servis,” katanya cepat. “Rak itu menutup jalan. Aku memanggil tim untuk membukanya.”
Aku menatapnya. Ada luka di telapak tangannya, darah mengering di sela jari.
Mungkin ia memang kembali.
Tetapi aku masih mengingat mata kami bertemu sebelum ia pergi.
Seorang lelaki berjaket lapangan menghampiri ambulans. Wajahnya lebih tua daripada terakhir kali kulihat, tetapi suaranya tetap sama.
“Dina.”
“Pak Hendra.”
Mantan wakilku itu mengangguk kepada petugas medis, kemudian menatap Farhan.
“Kami perlu mengamankan lokasi dan semua perangkat komunikasi yang berkaitan dengan operasi.”
Farhan menegakkan tubuh.
“Dengan siapa saya berbicara?”
“Hendra Wibowo. Garuda.”
Tatapan Farhan berpindah kepadaku.
“Kenapa Garuda datang untukmu?”
Aku belum sempat menjawab ketika radio Hendra berbunyi.
“Merpati Hitam sudah dievakuasi?”
“Sudah,” jawabnya.
Wajah Farhan berubah perlahan. Ia menatap telepon hitam yang masih kugenggam, lalu kembali menatapku.
“Tidak mungkin.”
Aku terlalu sesak untuk menjelaskan bahwa orang yang dikaguminya dan istri yang diremehkannya memiliki wajah yang sama.
Di rumah sakit, setelah pernapasanku membaik, Hendra masuk membawa tablet. Farhan menunggu di luar.
“Yusuf bersedia memberi keterangan,” katanya.
Lelaki itu ternyata pengemudi gudang. Ia mengetahui sejumlah pengiriman tidak sesuai dokumen dan menghubungi petugas melalui nomor pengaduan. Selma menerima laporannya, tetapi Yusuf diculik sebelum pertemuan lanjutan.
“Dia melihat siapa yang menahannya?”
“Seorang penghubung perusahaan logistik. Namanya muncul dalam komunikasi dengan Selma.”
Aku menatap layar. Ada catatan transfer, percakapan, dan perubahan titik masuk yang dilakukan pagi tadi.
“Semua ini sudah diverifikasi?”
“Sebagian. Tim sedang mengamankan bukti aslinya.”
Menjelang malam, Selma dibawa untuk pemeriksaan. Ia tidak ditangkap karena senyumnya, kedekatannya dengan Farhan, atau firasatku. Perangkatnya menyimpan percakapan tentang pemindahan barang sebelum penggerebekan. Rekaman kamera jalan juga menunjukkan pertemuannya dengan penghubung gudang.
Belakangan, ia mengakui bahwa jaringan itu membayarnya untuk mengalihkan perhatian tim. Ia mengira gudang akan dikosongkan, bukan diledakkan.
Keserakahannya bertemu kekejaman orang yang lebih berbahaya.
Farhan baru kuizinkan masuk keesokan pagi.
Ia duduk jauh dari ranjang.
“Sejak kapan?” tanyanya.
“Aku keluar dari dinas aktif sebelum kita menikah.”
“Direktur?”
“Jabatan terakhirku. Pusat masih mengenaliku dengan sebutan itu.”
Ia mengangguk, menunduk menatap tangannya yang diperban.
“Aku menghabiskan bertahun-tahun membaca analisismu.”
“Dan tidak sampai satu menit mendengarkan peringatanku.”
Farhan memejamkan mata.
“Aku salah.”
“Bukan karena ternyata aku Merpati Hitam, Farhan.”
Ia mengangkat wajah.
“Kalau aku hanya penerjemah yang kebetulan melihat sesuatu, peringatanku tetap pantas diperiksa.”
Air matanya jatuh tanpa suara.
“Aku membawa Selma keluar karena dia hampir roboh. Aku pikir kamu masih bisa bergerak. Setelah menyerahkannya ke petugas, aku kembali.”
“Aku percaya kamu kembali.”
Ia tampak hendak meraih tanganku, tetapi berhenti.
“Namun aku tidak tahu apakah aku masih bisa merasa aman bersamamu,” lanjutku.
Pemeriksaan operasi berlangsung berbulan-bulan. Farhan mengakui telah mengabaikan laporan awal dan membiarkan warga sipil terlalu dekat dengan lokasi. Ia menerima konsekuensi penugasannya tanpa memintaku berbicara kepada Hendra.
Aku tinggal bersama Ibu selama pemulihan. Kami tidak langsung berpisah, juga tidak berpura-pura semuanya selesai setelah permintaan maaf. Ada percakapan sulit yang harus dilakukan, berkali-kali.
Suatu sore, Hendra datang membawa tawaran kembali bekerja sebagai penasihat analisis.
“Ada satu hal lagi,” katanya sambil menyerahkan salinan permintaan personel.
Dokumen itu ditandatangani Farhan tiga minggu sebelum kebakaran. Ia memang meminta Merpati Hitam dilibatkan.
Namun, di bagian alasan, ada kalimat yang belum pernah kulihat.
Saya membutuhkan seseorang yang berani mengatakan bahwa saya salah.
Aku membaca kalimat itu lama sekali.
Ketika Farhan datang menjenguk malamnya, kuletakkan dokumen itu di antara kami.
“Orang itu sudah ada di rumahmu,” kataku.
Ia mengangguk, lalu menarik kursi.
Kali ini, ketika aku mulai berbicara, ia tidak menyela.
