Setelah Ujian Terakhir, Sahabat Masa Kecilku Pergi Bersama Gadis Baru—Malam Itu Aku

Pesan Keisya berikutnya membuatku menutup laptop.

“Aku belum baca suratnya. Ini pribadi, kan?”

Aku menatap kalimat itu lama sekali sebelum membalas.

“Iya. Tolong masukkan kembali.”

“Maaf, Nad. Arga bilang isinya kenang-kenangan sekolah. Aku tidak tahu.”

Untuk pertama kalinya malam itu, aku menangis. Bukan karena Keisya membuka kotak tersebut, melainkan karena seseorang yang baru mengenalku enam bulan justru memahami batas yang diabaikan sahabatku sendiri.

Keesokan paginya, aku membayar biaya pendaftaran ke Yogyakarta. Bukti pembayaran kusimpan dalam folder baru, lalu kukirim pesan kepada Bu Ratna, guru yang memberiku rekomendasi.

“Bu, saya jadi mendaftar.”

Balasannya datang beberapa menit kemudian.

“Bagus. Sekarang siapkan seleksinya. Pilihan yang kamu buat perlu kamu perjuangkan.”

Aku mulai belajar sore itu juga.

Arga pulang hari Minggu. Aku tahu dari suara motornya yang berhenti di depan pagar, disusul panggilannya seperti biasa.

“Nad! Oleh-oleh!”

Dulu aku pasti langsung berlari keluar. Kali ini kuselesaikan satu paragraf latihan esai sebelum menemuinya.

Dia membawa kantong keripik dan kotak biru tua.

“Aku sudah baca,” katanya.

Aku menerima kotak itu tanpa menatapnya.

“Seharusnya kamu membukanya sendiri.”

“Keisya cuma lihat sebentar.”

“Aku tahu. Dia yang memberitahuku.”

Arga mengusap tengkuk.

“Maaf soal perjalanan kemarin. Aku benar-benar bingung harus bagaimana. Keisya menangis, terus—”

“Kamu bisa mengirim pesan.”

“Iya. Aku salah.”

Aku menunggu, tetapi ia hanya menggoyangkan kantong keripik.

“Jadi, kita masih berangkat bareng nanti?”

“Ke mana?”

“Bandung, lah.”

“Aku mengubah pilihan kuliahku.”

Tangannya berhenti.

“Ke Yogyakarta.”

Arga tertawa kecil, seolah aku baru mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal.

“Kamu serius?”

Aku mengangguk.

“Cuma karena aku pergi sama Keisya?”

“Karena aku ingin kuliah di sana.”

“Tapi selama ini rencana kita Bandung.”

Aku memandang kotak di tanganku.

“Rencana kita ke gunung juga.”

Ia terdiam.

Dari dalam rumah, Ibu memanggilku makan. Aku pamit, tetapi Arga menahan pagar sebelum kututup.

“Soal suratmu…”

Dadaku berdebar, meskipun aku benci mengakuinya.

“Aku belum pernah memikirkan kita seperti itu,” katanya perlahan. “Kamu orang paling dekat denganku. Aku tidak mau kehilangan kamu.”

Aku menelan rasa sakit yang sebenarnya sudah kuduga.

“Aku mengerti.”

“Tapi bukan berarti tidak mungkin. Mungkin nanti, setelah kuliah…”

“Jangan, Ga.”

Ia menatapku bingung.

“Kalau kamu tidak punya perasaan yang sama, bilang saja. Aku akan sedih, tapi aku bisa menerimanya. Jangan memberiku kemungkinan hanya supaya aku tetap menunggu.”

Wajahnya berubah. Untuk pertama kalinya, ia tidak menemukan jawaban cepat.

Aku menutup pagar pelan-pelan.

Minggu berikutnya terasa aneh. Arga mengirim foto makanan, menanyakan latihan soal, bahkan menawarkan mengantarku membeli buku. Semua hal kecil yang dulu selalu kutunggu mendadak datang sekaligus.

Aku membalas seperlunya.

Di sela belajar, aku bertemu Keisya untuk mengambil catatan yang pernah kupinjamkan. Kami duduk di warung bakso dekat sekolah.

“Aku sudah bicara sama Arga,” katanya.

Aku mengaduk kuah tanpa bertanya.

“Dia bilang kalian tidak jadi pergi. Katanya kamu sibuk urusan keluarga.”

Sendokku berhenti.

Keisya mengeluarkan ponsel, memperlihatkan percakapan mereka sehari sebelum ujian terakhir. Di sana Arga memang mengatakan rencana perjalanannya denganku batal.

Jadi bukan keputusan mendadak.

Ia sudah tahu ketika menyuruhku menunggu di minimarket.

“Aku tidak tahu kamu ada di terminal,” kata Keisya. “Kalau tahu, aku tidak akan ikut.”

Aku mengangguk pelan. Selama ini aku sibuk membandingkan diriku dengannya, padahal yang berjanji kepadaku adalah Arga.

“Kamu tidak perlu meminta maaf untuk kebohongannya.”

Keisya meremas tisu.

“Masalah di rumahku memang benar. Orang tuaku akan berpisah. Tapi itu tetap bukan alasan untuk meninggalkanmu tanpa kabar.”

Kami menghabiskan bakso yang mulai dingin. Sebelum pulang, ia memelukku dengan canggung.

“Aku harap kamu diterima di Yogya.”

“Aku juga.”

Sebulan kemudian, harapan itu terwujud.

Aku membuka pengumuman bersama Ibu di meja makan. Ketika namaku muncul sebagai calon mahasiswa yang diterima, Ibu menjerit sampai Ayah berlari dari kamar mandi dengan wajah penuh busa cukur.

Malamnya, Arga menelepon.

“Aku diterima di Bandung,” katanya.

“Selamat, Ga.”

“Kamu benar-benar akan ke Yogya?”

“Iya.”

Hening cukup lama.

“Aku pikir setelah marahmu reda, kamu bakal berubah pikiran.”

Aku memejamkan mata. Rupanya selama berminggu-minggu ia mendengar keputusanku sebagai hukuman sementara, bukan keinginan yang sungguh-sungguh kumiliki.

“Aku tidak sedang menghukummu.”

“Terus kita bagaimana?”

“Kita akan kuliah. Di kota masing-masing.”

Ia mengembuskan napas berat.

“Sekarang kamu terdengar seperti orang lain.”

“Mungkin ada bagian diriku yang belum pernah kamu dengarkan.”

Dua minggu sebelum keberangkatan, Bu Ratna memintaku datang ke sekolah. Ia menyerahkan map berisi salinan tulisanku yang pernah dimuat majalah pelajar.

“Bawa. Bisa untuk mendaftar pers mahasiswa.”

Di halaman pertama, ada esai yang hampir kulupakan. Kutulis saat kelas sepuluh, tentang seorang anak perempuan yang ingin tinggal di Yogyakarta dan bekerja sebagai penyunting buku.

Tanggalnya setahun sebelum Arga mengajakku memilih Bandung.

Aku tertawa sambil mengusap mata.

Ternyata aku tidak sedang menciptakan impian baru setelah kehilangan seseorang. Aku sedang menemukan kembali impian yang pernah kusisihkan.

Pada hari keberangkatan, Arga datang ke stasiun. Ia membantuku mengangkat koper, lalu menyodorkan gantungan kunci berbentuk rumah dari kotak biru itu.

“Aku tidak pantas menyimpannya,” katanya.

Aku menerimanya.

“Maaf karena membuatmu menunggu.”

Kali ini tidak ada alasan setelah permintaan maafnya.

“Terima kasih sudah bilang begitu.”

Pengumuman keberangkatan terdengar. Arga mundur agar aku bisa memeluk Ibu dan Ayah.

“Nad,” panggilnya sebelum aku masuk. “Nanti kalau aku ke Yogya, boleh ketemu?”

“Kabari dulu. Kalau aku ada waktu.”

Ia tersenyum tipis, lalu mengangguk.

Di dalam kereta, kupasang gantungan kunci itu pada ranselku. Surat lama kusimpan tanpa kubaca lagi.

Beberapa bulan kemudian, aku menggunakan kamera bekas yang dulu kubeli untuk memotret teman-teman pers mahasiswa di depan sekretariat. Mereka berebut meminta hasilnya, tertawa sambil mengatur posisi.

“Fotografernya ikut!” seru seseorang.

Aku menyerahkan kamera kepada mahasiswa yang lewat, lalu berlari masuk ke barisan.

Ketika rana berbunyi, aku sedang tertawa.

Foto pertama dalam album kehidupan baruku akhirnya tercetak.

Dan kali ini, aku ada di dalamnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang