
Pagi berikutnya, pengacaraku meletakkan dua lembar mutasi rekening berdampingan.
“Transfer besar ini ternyata bukan satu-satunya, Bu Rania.”
Ada enam pembayaran lain selama delapan bulan terakhir. Nominalnya lebih kecil, sehingga selama ini tenggelam di antara pengeluaran rumah tangga.
Aku mengenali salah satu tanggalnya.
Hari itu aku membatalkan pembelian laptop untuk bekerja karena Arga mengatakan pengeluaran kami sedang terlalu besar.
“Bisakah uangnya diminta kembali?” tanyaku.
“Kita perlu mengetahui dasar transaksinya dulu. Investasi, pinjaman, atau pemberian. Saya akan meminta penjelasan dan dokumen pendukung.”
Aku mengangguk. Kali ini aku tidak ingin menebak-nebak.
Siang itu, nomor asing yang mengirim foto kembali menghubungiku.
“Maaf kalau foto semalam membuat Ibu terkejut. Saya Dewi, mantan pengelola toko. Saya ingin memastikan apakah Ibu mengetahui penggunaan uang tersebut.”
Kami bertemu di kedai dekat kantornya.
Dewi membawa salinan percakapan yang memang pernah ditujukan kepadanya sebagai pengelola.
“Pak Arga mengatakan modalnya berasal dari tabungan keluarga. Katanya Ibu setuju.”
Tanganku berhenti mengaduk teh.
“Dia menyebut namaku?”
Dewi mengangguk, lalu menunjukkan sebuah pesan.
Istri saya yang menyarankan. Dia juga ingin toko ini berkembang.
Aku membacanya dua kali.
Selama ini, bukan hanya uangku yang dipakai tanpa izin. Persetujuanku pun diciptakan.
“Kenapa baru memberi tahu sekarang?”
“Saya mengundurkan diri bulan lalu. Waktu serah terima, saya bertanya apakah Ibu akan ikut rapat pembukaan. Bu Nadira bilang Ibu belum perlu dilibatkan karena sedang sibuk.”
Dewi menatapku ragu.
“Saya ingat Ibu pernah mengerjakan desain toko. Rasanya aneh kalau Ibu tidak diundang.”
Aku menyimpan salinan pesan itu setelah meminta izinnya.
Malam kedua sebelum keberangkatanku, Arga pulang lebih awal.
Dia melihat koper di dekat lemari.
“Perjalanan dinas?”
“Aku pindah ke Surabaya. Mulai kerja hari Senin.”
Ia terdiam, lalu tertawa kecil.
“Kamu serius menerima tawaran itu?”
“Serius.”
“Kapan kamu berencana memberitahuku?”
“Kita membicarakannya dua minggu lalu. Kamu bilang nanti saja karena Nadira menelepon.”
“Itu bukan berarti kamu bisa memutuskan sendiri.”
Aku menatapnya.
“Bagaimana dengan modal toko roti?”
Wajahnya berubah.
“Dari mana kamu tahu?”
“Rekening bersama.”
Arga meletakkan tasnya perlahan.
“Itu investasi. Uangnya akan kembali.”
“Kenapa kamu tidak bertanya?”
“Aku tahu kamu akan keberatan.”
“Lalu kenapa kamu bilang kepada pengelola toko bahwa aku yang menyarankan?”
Ia diam.
Aku kembali melipat pakaian.
“Pengacaraku akan meminta dokumennya. Tolong berikan penjelasan lewat dia.”
“Pengacara?”
Aku menunjuk map salinan di meja kerja.
“Baca berkas yang kamu tanda tangani.”
Untuk pertama kalinya, Arga meraih dokumen itu tanpa tergesa-gesa.
Ia membaca halaman pertama, lalu duduk di tepi ranjang.
“Perceraian?”
“Itu pernyataan dan kesepakatan awal. Prosesnya belum selesai.”
“Kamu menjebakku.”
“Aku memintamu membaca.”
“Kamu tahu aku sedang terburu-buru.”
Aku menutup koper.
“Selama berbulan-bulan, aku selalu menunggu saat yang tepat untuk bicara. Ternyata tidak pernah ada saat yang lebih penting daripada telepon Nadira.”
Arga berdiri dan mengambil ponselnya.
“Aku akan menyuruhnya menjelaskan.”
“Yang memakai tabungan kita adalah kamu. Jelaskan keputusanmu sendiri.”
Pagi ketiga, dia mengantarku ke bandara tanpa kuminta.
Di perjalanan, ponselnya bergetar. Nama Nadira muncul di layar mobil.
Arga menolaknya.
Dulu tindakan kecil itu mungkin cukup membuatku berharap. Pagi itu aku hanya memandang jalan.
“Aku bisa menjual bagianku di toko,” katanya.
“Bicarakan dengan pengacaraku.”
“Aku bisa berhenti menemuinya.”
Aku menoleh.
“Aku tidak sedang menawarkan syarat supaya kamu memilihku.”
Matanya memerah.
“Jadi sudah tidak ada yang bisa kulakukan?”
“Ada. Berhenti membuat keputusan tentang hidupku tanpa mendengarkanku.”
Di pintu keberangkatan, ia mencoba memegang tanganku. Aku membiarkannya sebentar, lalu melepaskannya.
Aku menangis setelah melewati pemeriksaan keamanan.
Keputusan yang benar ternyata tetap bisa terasa seperti kehilangan.
Seminggu setelah aku tiba di Surabaya, Nadira menelepon.
“Aku ingin menjelaskan soal toko.”
“Silakan.”
“Arga bilang kalian sudah sepakat berpisah sejak lama. Katanya masih tinggal bersama sambil menunggu urusan rumah selesai.”
Aku duduk perlahan.
“Kapan dia mengatakan itu?”
“Sekitar enam bulan lalu.”
Enam bulan lalu, aku masih mengurus makan malam ulang tahun pernikahan kami.
Nadira menarik napas.
“Aku tahu dia menikah. Seharusnya aku tidak menerima penjelasannya begitu saja. Apalagi setelah kamu mulai jarang datang.”
Aku memejamkan mata.
“Apakah hubungan kalian hanya soal usaha?”
Hening panjang.
“Awalnya iya.”
Jawaban berikutnya keluar nyaris berbisik.
“Belakangan tidak.”
Aku tidak meminta rincian. Ada batas antara mencari kejelasan dan menyakiti diri sendiri dengan setiap detail.
“Tolong berikan dokumen investasinya melalui pengacaraku,” kataku.
Nadira menyetujuinya.
Dokumen yang datang beberapa hari kemudian mengungkap sesuatu yang tidak kuduga. Dana dari rekening bersama dicatat sebagai pinjaman kepada usaha, bukan pembelian kepemilikan atas nama Arga.
Namanya di spanduk adalah nama pengelola.
Namun, dalam percakapan dengan Nadira, Arga menjanjikan bahwa pinjaman itu kelak bisa dianggap sebagai modal mereka bersama.
Ia telah menjual dua cerita berbeda kepada dua perempuan.
Ketika diminta menjelaskan, Arga akhirnya mengakui bahwa ia ingin terlihat sebagai orang yang mampu menyelesaikan semuanya.
“Aku pikir toko itu akan cepat untung,” katanya dalam pertemuan daring. “Setelah uang kembali, tidak ada yang perlu terluka.”
Aku memandang wajahnya di layar.
“Untuk membuat rencanamu berhasil, aku harus terus tidak tahu.”
Dia menunduk.
Penyelesaian keuangan berlangsung berbulan-bulan. Ada dokumen yang diperiksa, angka yang dikoreksi, dan pembayaran yang dijadwalkan. Nadira bekerja sama mengembalikan dana sesuai kesepakatan, sedangkan Arga menanggung kekurangannya dari bagiannya sendiri.
Aku melanjutkan proses perceraian.
Di Surabaya, hidupku tidak langsung indah. Aku beberapa kali makan malam sambil menangis. Pada minggu pertama memimpin tim, aku salah mengirim revisi dan harus memperbaikinya sampai larut.
Namun, setiap hari ada sesuatu yang kembali terasa milikku.
Waktuku. Penghasilanku. Keputusan-keputusan kecil tanpa rasa bersalah.
Setelah perceraian selesai, Arga mengirim pesan panjang. Ia meminta maaf tanpa menyalahkan Nadira, pekerjaan, atau kesibukan.
Kubaca sampai akhir.
Lalu kubalas, “Terima kasih sudah mengakui semuanya.”
Beberapa bulan kemudian, aku menandatangani kontrak proyek pertamaku sebagai kepala tim.
Klien menunggu di seberang meja.
“Boleh saya baca sekali lagi?” tanyaku.
“Tentu.”
Aku membaca setiap halaman, mengajukan dua pertanyaan, lalu menuliskan namaku.
Kali ini, aku tahu persis apa yang sedang kupilih.
