
“Jangan ditampilkan,” kataku ketika Kirana menoleh ke proyektor.
Semua orang memandangku, termasuk Riska.
Aku meletakkan mikrofon di meja.
“Kalau pesannya memang perlu diperiksa, cukup Bu Ratih dan panitia. Kita sedang membicarakan tuduhan soal penilaian, bukan membuka kehidupan pribadi orang bergantian.”
Bu Ratih langsung mencabut sambungan proyektor. Foto Kirana dan Pak Arga menghilang, menyisakan layar biru yang terasa lebih menenangkan daripada wajah-wajah penasaran di hadapanku.
“Kegiatan istirahat tiga puluh menit,” katanya. “Riska, Naya, Pak Arga, dan Mbak Kirana, ikut saya.”
Kami masuk ke ruang administrasi di samping aula. Riska berjalan paling belakang. Tangannya masih menggenggam ponsel, tetapi kini jemarinya gemetar.
Bu Ratih menutup pintu.
“Pertama, saya perlu tahu apakah pesan itu berkaitan dengan pelatihan.”
Pak Arga mengangguk.
“Awalnya Riska menanyakan materi. Saya menjawab seperti kepada peserta lain. Setelah pesannya menjadi pribadi, saya meminta komunikasi berikutnya melalui grup.”
Dengan izinnya, Bu Ratih membaca percakapan tersebut.
Aku hanya melihat beberapa kalimat ketika ponsel diletakkan di atas meja.
Riska mengajak Pak Arga makan setelah pelatihan. Ia menulis bahwa dirinya belum punya pacar dan ingin mengenalnya di luar kegiatan. Pak Arga menjawab singkat bahwa ia sudah bertunangan serta tidak menerima ajakan pribadi dari peserta.
Tanggal pesan itu dua malam sebelumnya.
Malam sebelum Riska mulai menyebutku mendapat perlakuan khusus.
“Apa percakapan ini utuh?” tanya Bu Ratih.
Riska menatap lantai.
“Iya.”
“Kamu merasa ditolak, lalu menuduh Naya?”
“Bukan begitu, Bu.”
“Kalau begitu, jelaskan.”
Riska mengangkat wajah. Matanya basah, tetapi suaranya justru meninggi.
“Saya sudah ikut tiga kegiatan relawan. Saya bantu menyiapkan pelatihan ini dari awal. Naya baru datang, langsung masuk tiga besar. Saya cuma ingin tahu kenapa.”
Aku menatapnya.
“Kakak bisa meminta rincian nilai.”
“Semua orang tahu instruktur lebih memperhatikanmu.”
“Memperhatikan atau menambah nilaiku?”
Ia terdiam.
Bu Ratih membuka laptop. Panitia sudah menyiapkan lembar penilaian untuk rapat akhir. Ada hasil tes tertulis, catatan keterampilan, dan penilaian simulasi kelompok dari beberapa instruktur.
“Saya juga perlu menjelaskan hubungan keluarga ini,” katanya kepada Pak Arga.
Beliau mengeluarkan jadwal pembagian penguji.
“Sebelum kegiatan dimulai, saya sudah memberi tahu koordinator bahwa Naya keponakan saya. Saya tidak menilai ujian praktik akhirnya.”
Bu Ratih mengangguk, membenarkan.
Aku baru mengetahui pengaturan itu saat pengarahan peserta. Pak Arga tetap mengajar kelompok besar, tetapi nilaiku pada ujian praktik diberikan dua instruktur lain.
Riska mencondongkan tubuh.
“Kenapa kami tidak diberi tahu?”
“Kami mengatur penguji untuk mencegah benturan kepentingan,” jawab Bu Ratih. “Namun, pertanyaan tentang keterbukaan prosesnya boleh kamu ajukan. Itu berbeda dengan menyimpulkan ada hubungan tidak pantas dari foto.”
Kirana yang sejak tadi diam akhirnya bersuara.
“Saya juga minta maaf. Tadi saya menyebut pesan itu di depan peserta. Seharusnya saya langsung mengajak bicara di ruang tertutup.”
Riska menatapnya, tampak tidak siap menerima permintaan maaf.
“Aku tidak tahu kalian benar-benar akan menikah,” bisiknya.
“Arga sudah mengatakannya dalam pesan.”
Riska menunduk lagi.
Keheningan berlangsung cukup lama sampai terdengar suara kursi diseret dari aula.
“Aku kira dia cuma mencari alasan untuk menolakku,” katanya akhirnya. “Lalu aku lihat dia pergi dengan Naya.”
Dadaku terasa sesak. Begitu sederhana awalnya. Sebuah penolakan, dugaan, lalu aku dijadikan jawaban yang paling mudah.
“Aku bukan penyebab Kakak ditolak,” kataku.
“Aku tahu sekarang.”
“Tapi orang-orang di luar sudah mendengar tuduhan Kakak sebelum tahu faktanya.”
Riska mengusap pipinya. Kali ini ia tidak membantah.
Bu Ratih memutuskan pengumuman peserta terbaik ditunda sampai penilaian ditinjau kembali. Aku setuju. Lebih baik menunggu daripada menerima penghargaan yang setiap kali dilihat akan mengingatkanku pada bisikan orang.
Kami kembali ke aula tanpa Kirana. Ia memilih menunggu di ruang tamu.
Di depan seluruh peserta, Riska berdiri dengan mikrofon yang tadi dipakainya menuduhku.
“Foto yang saya tampilkan tidak membuktikan adanya kecurangan,” katanya terbata. “Saya membuat kesimpulan sendiri dan menyampaikan tuduhan yang tidak bisa saya pertanggungjawabkan. Saya minta maaf kepada Naya dan Pak Arga.”
Tidak ada tepuk tangan.
Bu Ratih kemudian menjelaskan pembagian penguji dan proses pemeriksaan ulang. Ia juga meminta peserta tidak menyebarkan foto maupun rekaman yang dapat memperpanjang tuduhan.
Namun, satu potongan video sudah telanjur masuk grup kampus.
Malam itu aku menerima pesan dari teman yang bahkan tidak mengikuti pelatihan.
“Kamu baik-baik saja?”
Aku baru menangis setelah membaca pertanyaan tersebut.
Ibu menelepon dan mendengarkan tanpa menyuruhku memaklumi Riska.
“Kamu boleh marah,” katanya. “Tidak harus langsung merasa lebih baik hanya karena dia sudah minta maaf.”
Dua hari kemudian, hasil peninjauan keluar. Nilai dari penguji yang berbeda sesuai dengan rekaman ujian. Namaku tetap berada di urutan pertama.
Tetapi ada satu catatan yang membuatku berhenti membaca.
Pada simulasi kelompok, nilai tertinggiku berasal dari laporan pengamat peserta. Pengamat itu adalah Riska.
Sebelum semua tuduhan terjadi, ia menulis bahwa aku membagi tugas dengan jelas, memeriksa ulang jumlah anggota, dan tidak meninggalkan peserta yang kesulitan mengikuti instruksi.
Aku membaca namanya berkali-kali.
Sore itu Riska menemuiku di depan perpustakaan.
“Aku sudah melihat catatan simulasi,” kataku.
Ia mengangguk.
“Kenapa Kakak tidak percaya penilaianmu sendiri?”
Riska duduk di ujung bangku.
“Karena waktu itu aku masih bisa melihatmu sebagai teman satu tim,” jawabnya. “Setelahnya, aku cuma ingin menemukan sesuatu yang salah.”
Jawaban itu tidak memperbaiki semuanya, tetapi setidaknya tidak menyalahkan orang lain.
“Aku sudah menghubungi pengurus grup untuk memasang klarifikasi,” lanjutnya. “Aku juga menyerahkan daftar akun yang sempat menerima videonya.”
“Terima kasih.”
“Kamu belum memaafkanku, ya?”
“Belum sepenuhnya.”
Ia mengangguk dan tidak mendesak.
Seminggu kemudian, sertifikat penghargaan diserahkan dalam pertemuan kecil. Pak Arga berdiri di belakang bersama Kirana, sementara Bu Ratih memanggil namaku.
Sebelum maju, aku melihat Riska duduk di barisan kedua. Ia bertepuk tangan tanpa mengangkat ponsel.
Aku menerima sertifikat itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar.
Kali ini, bukan karena takut orang lain mengetahui siapa pamanku. Aku hanya sedang belajar menerima bahwa kemampuanku tidak menjadi kurang nyata karena seseorang sempat berusaha meragukannya.
